INFIDELITY

INFIDELITY
Chapter 15



Di tempat lain. Erine mengelilingi setiap sudut toko bunga saat ia mengetahui kedua anaknya menghilang. Mira yang merasa bersalah lepas pengawasan pada si kembar, ikut mencari bocah yang tak pernah henti-hentinya membuat ia dan Erine khawatir.


"Gimana? Nemu, Mir?" tanya Erine panik saat bertemu Mira kembali.


Mira menggeleng, "nggak ada, Rin. Kemana lagi tu, bocah?"


"Kita mencar lagi aja, aku takut anak-anak nyasar." usul Erine.


Setelah sepakat untuk berpencar, Erine kembali mencari anaknya. Perasaan kalut mengetahui kedua anaknya tak ada di dalam toko membuat Erine takut hal-hal tak diinginkan terjadi.


Erine mengeluarkan ponsel, mencari foto kedua anaknya. Bertanya kesana kemari, memastikan mereka benar-benar melihat anaknya atau tidak. Saat hendak meninggalkan toko, Erine dikejutkan dengan sebuah tangan yang memeluk kaki jenjangnya dengan erat.


"Bunda." ujar Alin tanpa rasa bersalah.


"Alan-Alin. Kalian dari mana saja, Nak?" tanya Erine cepat, berjongkok memeluk kedua anaknya.


Erine melepas pelukannya, menatap wajah Alin yang terlihat sembab, kemudian menatap wajah Alan yang tampak murung. Kecemasan akan kehilangan dua bocah di hadapannya sedikit memudar saat dekapannya terasa nyata.


Setelah merasa tenang, kedua netra coklat milik Erine tak sengaja menatap plastik yang ditenteng Alin.


"Alin, dari mana kamu mendapatkan, ini? Sebentar, kamu habis menangis, Sayang?" tanya Erine cemas menatap wajah putrinya.


"Alin telcandung kakinya cendili, Bunda." jawab Alan cepat.


"Apa itu sakit?" tanya Erine khawatir.


"Tidak. Tidak cakit, Bunda." jawab Alin ikut berbohong.


Erine mengelus rambut Alin lembut, "Lalu, ini apa? Seingat Bunda, Bunda tidak memberi kalian uang." ujar Erine ingat dengan jelas tidak memberikan anaknya uang.


"Tad—" ujar Alin terpotong.


"Kami memenangkan dolplais (doorprize), Bunda." sambung Alan tak ingin memberitahu ibunya.


"Benarkah? Di mana? Bunda tidak melihat ada event atau kegiatan semacamnya di sini." Selidik Erine.


Alan menunjuk salah satu stand yang tak jauh dari toko boneka, tidak terlalu terlihat karena terhalang boneka besar di depan pintu toko. Erine melihat kearah yang ditunjuk Alan, benar-benar sedang mengadakan sebuah event dengan berbagai macam hadiah.


Erine yang awalnya ragu, kini mengangguk, mempercayai ucapan Alan yang ia tahu selalu bertanggung jawab atas ucapannya. "Jangan ulangi hal ini lagi, Sayang. Jika ingin sesuatu katakan pada, Bunda. Kalian tidak hanya membuat bunda khawatir, tapi juga Tantemu."


Alan dan Alin mengangguk paham, "Maafkan Alan-Alin, Bun." ujar keduanya serempak.


"Erine! Syukurlah. Nemu di mana nih, bocah dua ekor?" ujar Mira yang baru saja tiba. "Eh, tunggu-tunggu. Itu apaan?" tanya Mira lagi.


Erine melirik Mira sekilas, "Anak-anak ikutan event. Maaf, Mir, aku belum cukup baik mendidik, anak-anak." ujar Erine merasa bersalah.


"Aishh... Mereka terlalu pintar, tau bener yang gratisan. Nggak disuruh malah ikut duluan." ujar Mira tak merasa keberatan.


"Tante, lihat ini." ujar Alin bahagia memamerkan bonekanya.


"Wow, hoki bener si kuncir. Kamu dapat hadiah besar, Alin? Bisakah Tante meminjamnya?" tanya Mira menggoda Alin.


Alin memanyunkan bibir dan menggeleng cepat, "No-no, tidak boleh! Tante jolok! Boneka Alin bica itam. Kamal Tante caja, Bunda yang belcihkan." tolak Alin dengan suara cukup keras.


"Haruskah kau bicara sekeras itu, Alin? Kau benar-benar ingin aku menjadi perawan tua seumur hidupku, haa?" sungut Mira, Alin yang melihat wajah kesal Mira hanya terkekeh geli.


"Alan pikil— itu tujuan hidup, Tante." sela Alan.


"Alan, kau benar-benar melukai perasaanku. Apa kau ingin Bundamu serangan jantung mendengar berita ini?"


"Untuk kali ini, Aku sependapat dengan Alan, Mir."


"Kau—kau, ah sudahlah." kesal Mira.


"Bunda, pelawan tua itu apa?" tanya Alin tak paham.


Alan menarik Alin untuk menghentikan pertanyaannya, dan mendengar baik-baik penjelasan yang akan ia katakan "Itu sepelti Tante, kulangi beltanyamu Alin. Pelbanyaklah memahami, olang tua tidak sedelhana pikilanmu." ujar Alan memberi pemahaman pada adiknya.


Erine dan Mira mengikuti langkah kaki kedua bocah tersebut, mencuri dengar setiap kalimat yang diucapkan Alan.


"Apa Kau yakin— tidak pernah mengajarinya, Mir?"


"Aku berani bersumpah untuk itu, Rin. Kau tau sendiri, aku tidak sepintar itu, apa lagi mengajari mereka hal-hal baru. Maksudku, hal-hal penuh makna. Kau tau, itu bukan gayaku." jelas Mira.


"Bagaimana dia menjadi sepintar itu?"


Pletak


"Mira, bisakah kau tidak menjitakku? Aku sedang tidak membuat kesalahan, bodoh." sungut Erine.


"Kau lupa siapa, Ayahnya? Setidaknya menikahi bajingan itu, tidak sepenuhnya buruk. Kau lihat putramu, kadar kepintarannya melebihi anak-anak seusianya."


"Well, well, well. Aku tidak ingin membahas bajingan itu, Mir. Aku punya Alan dan Alin saat ini, setidaknya mereka bisa hidup layak tanpa kekurangan. Itu lebih dari cukup untukku."


"Terserah kau saja. Bagaimana dengan dendammu? Apa kau berniat melupakan dendam itu?" ujar Mira memastikan.


Erine menyeringai, "Kau bercanda? Aku hanya belum memulai, bukan berarti tidak akan memulai." jawab Erine penuh makna.


"Lakukanlah, aku akan membantumu!"


"Tidak, cukup jaga mereka untukku. Dendam ini, hanya aku yang bisa membalasnya sendiri!"


"Tapi itu bahaya, Rin. Kau ingin menanganinya sendiri? Berhenti bercanda!" ujar Mira tidak setuju.


Erine tertawa paksa, menatap Mira dengan sorot mata tajam, "Orang kuat mungkin bisa menang melawan yang kuat, tapi tidak mereka yang cerdik."


"Terserah kau saja. Berhati-hatilah, kau harus ingat putra putrimu. Lakukan dengan cerdik, seperti katamu barusan." ujar Mira mengakhiri perdebatan mereka.


Mira yang jengah, meminta Erine menuruti putranya untuk kali ini. Mengingat jarangnya Alan menolak untuk diajak makan di mana pun.


"Baiklah. Bunda mengalah, Alan ingin makan di mana?" tanya Erine menuruti putranya.


"Di mana caja, acal tidak di tempat ini."


"Baiklah, bagaimana kalau di cafe depan kios yang akan Bunda sewa? Kalian setuju?" tanya Erine memastikan.


"Cetuju." ujar Alan dan Alin serempak.


Mira seperti biasa berjalan sambil menggendong Alin, sedangkan Erine menggandeng tangan Putranya untuk berjalan beriringan.


Erine menatap Alan, keingintahuannya membuncah saat Mira menjauh. "Boleh, Bunda bertanya sesuatu, Alan?" tanya Erine saat Mira berjarak 2 meter darinya.


Alan menaikkan pandangannya menatap wajah Erine, "Ya, Bunda."


"Apa benar Alin hanya terjatuh? Kalian tidak berusaha menutupi sesuatu dari Bunda, bukan?" tanya Erine memastikan.


Alan menatap punggung Mira yang menjauh, beralih menatap wajah Alin yang juga menatapnya dari gendongan Mira.


"Bunda, Alin baik-baik caja."


"Apa kamu yakin?"


"Hmm, tentu." Alan kembali menatap manik mata ibunya. "Alin bukan gadis lemah, Bunda." sambungnya lagi.


"Jika terjadi sesuatu, katakan pada, Bunda. Bunda tidak ingin kalian merahasiakan apa pun. Alan mengerti maksud bunda, bukan?"


"Bunda jangan khawatil. Alan akan telus menjaga Alin." ujar Alan berjanji pada ibunya.


"Semampumu, Alan. Bunda tidak ingin kamu tertekan, kalian tanggung jawab, Bunda. Saat ini, Bunda yang harus menjaga Alan dan Alin. Kalian berusahalah untuk saling melindungi satu sama lain." nasehat Erine.


Alan mengangguk paham. Melihat wajah lembut Erine sedikit mengurangi beban di pundaknya. Anak yang akan berumur 5 tahun, bertahan ditengah peliknya kehidupan. Alan mengamati setiap inci wajah Erine, wajah yang selama ini berjuang untuknya dan Alin.


Erine meraih tubuh Alan, menggendongnya hingga ke mobil. Tak ada penolakan dari Alan, ia memeluk leher Erine kuat. Saat di mobil, Mira menancap pedal gas membelah jalanan menuju cafe tepat depan kios yang Erine sewa.


🕸️🕸️🕸️


Seminggu berlalu setelah pertemuan Ammar dengan bocah kembar di pusat perbelanjaan. Ammar mengalami banyak hal baik terjdi sejak hari itu, mulai dari meeting yang tertunda beberapa waktu lalu, membuatnya selamat dari sindikat penipuan.


Keteledoran yang dilakukan Ires tidak mengecek data perusahan dengan benar membuat perusahan Ammar terancam mengalami kebangkrutan. Ammar menyadari ada yang aneh dari file tersebut saat melihat poin-poin yang di nilai tidak sesuai persyaratan.


Ammar berniat mengganti Ires, namun mengingat selama beberapa tahun kebelakang. Ires mampu mengimbangi perkembangan perusahaan, mebuat Ammar mengurungkan niatnya.


Di ruang meeting NAWA'S Properti, Ammar memimpin jalannya rapat penting dengan berbagai divisi perusahaan terkait tender yang mereka menangkan akhir-akhir ini.


Resort juga taman hiburan yang pernah Ammar dirikan kini menjadi pusat keuntungan terbesar perusahaan, karena banyak menarik minat turis luar dan dalam negeri. Di akhir meeting, Ammar menyampaikan rasa syukur dan terima kasihnya atas, kerja keras divisi selama ini.


"Saya mengucapkan terima kasih, untuk kerja sama dan semangat kerja setiap divisi dalam kemajuan perusahaan. Berkat kerja keras kita, keuntungan perusahaan melebihi target yang kita harapkan."


Ammar melirik setiap anggota divisi. "Saya berharap, divisi rancangan kembali mengajukan ide baru dan bekerja sama dengan divisi lain untuk pengolahan dana, terutama divisi lapangan, dan hal-hal penting terkait ide baru tersebut." sambung Ammar lagi.


"Apa ada yang ingin ditanyakan?" ujar Ammar diakhir kalimat.


Seluruh divisi menggeleng, cukup terperangah melihat Ammar yang tidak seperti beberapa tahun belakangan.


"Tidak, Pak." ujar masing-masing ketua divisi.


Ammar mengakhiri meeting, satu persatu anggota keluar hingga menyisakan Ammar dan Ires.


"Permisi, Pak. Ada telpon dari Ibu Karina." ujar Ires takut.


"Matikan saja!"


"Tapi, Pak—"


"Sudah ku katakan, bukan? Matikan saja! Apa kurang jelas, Ires?!" sergah Ammar penuh penekanan.


"Ibu Karina sudah ada di depan, Pak. Ibu meminta saya menyampaikan pesan ini." ujar Ires cepat tak ingin terlibat konflik rumah tangga Ammar.


Ammar memukul meja kuat, terdengar dentuman meja kayu yang cukup keras membuat Ires terlonjak kaget.


"Pergilah! Jangan biarkan wanita itu menginjakkan kaki di ruang kerjaku!" perintah Ammar.


Ires mengangguk dan berlalu pergi mengikuti perintah Ammar.


Ammar yang akhir-akhir ini tenang, kembali merasakan sesak. Mendengar nama Karina membuat emosinya tidak stabil. "Kau yang memulai masalah denganku, Karina! Tunggu, Aku pasti akan membalas mu setelah semuanya selesai. AKU PASTIKAN ITU!" ujar Ammar menerawang jauh.


...



...🕸🕸🕸......


Happy Reading🤍


Selamat beraktivitas dan selalu dalam perlindungan Allah, Aamiin.


Jangan lupa like dan comment, untuk membantu aku lebih semangat update 🤍


"Tanpa readers author bukanlah apa-apa."


Terima kasih.