INFIDELITY

INFIDELITY
Chapter 16



...



Flashback on...


5 tahun lalu.


Ammar memasuki kamarnya yang tampak temaram, faktor cuaca yang tiba-tiba mendung. Ia mencari keberadaan ponsel yang sejak tadi menghilang entah kemana. Ammar ingat terakhir kali ia meletakkan ponsel di atas nakas, namun kemana benda pintar itu menghilang.


Ceklek.


Suara pintu terbuka. Menimbulkan sosok Karina yang menggendong Echa sambil memegang ponsel miliknya.


"Kenapa ponselku ada padanya? Kau sengaja memberikannya, haa?!"


"Kamu lupa, Mas. Echa pandai merangkak, apa lagi menggapai benda sebesar ini. Bukannya wajar? Aku nggak sengaja nemuin ponsel kamu di tangga. Seharusnya kau berterima kasih, aku berbaik hati memungut benda rongsokan ini." Ujar Karina kelewat santai.


Ammar mengambil ponsel yang saat ini dijilati putrinya. Terlihat retakan parah di bagian tengah layar ponsel tersebut, bahkan ponsel itu pun tidak dapat dihidupkan kembali.


"Kau mengutak-atik ponselku?" 


"Tidak."


"Benarkah?


"Tentu saja. Kau menuduhku?"


"Kenapa ponsel ini bisa hancur?"


"Bagaimana aku bisa tau, tanyakan padanya. Itu ulah anakmu." Elak Karina tidak terima.


"Kau terlalu bodoh! Bagaimana mungkin Echa menghancurkan ponselku hingga seperti ini. Jelas-jelas ini karna heels mu!"


"Aku tidak— kenapa kau terus menuduhku! Apa kau punya bukti?!"


Ammar menatap Karina tajam, "jangan main-main denganku, Karina."


Karina terkekeh mengejek Ammar, "kau yang berhenti bermain-main denganku, Ammar. Sekali saja kau berbuat kesalahan, akan kupastikan wanita itu menerima akibatnya. Kau paham maksudku, kan?"


"Erine tidak ada hubungannya dengan ini. Kenapa kau selalu menyangkut-pautkan masalahku dengannya. Tidak cukup dengan hanya menghancurkan hidupku? Kenapa harus melibatkan dia?"


"KARNA KAU MENCINTAINYA!! Kau mencintainya, sedangkan denganku, tidak!"


Ammar mendorong tubuh Karina yang menggendong Echa menghantam dinding tepat di samping pintu.


"Karna dia layak untuk itu. Tidak seperti kau! Kau merusak rumah tangga ku, kau rusak hidupku, kau rusak semua impianku. Bagian mana dari dirimu yang layak untuk cintaku?!"


Karina tersenyum meremehkan, "kau lupa, ha? wanita itu. Wanita yang sangat kau agungkan, di depanku saat ini. Dia tidak lebih baik dariku, Mas. Dia mandul, kau dengar? MANDUL!"


"Tutup mulutmu, sialan!" Murka Ammar hampir menampar wajah Karina.


"AMMAR!!" Karina menunjuk wajah pria di hadapannya. "Kau berani menamparku, haa?!. Jangan pernah kau lakukan itu padaku, Ammar! Kau ingin aku berbuat gila?!"


"Aaghh... Aku muak melihatmu, sialan! Enyah kau! Pergi kau dari hadapanku!"


"Sekarang kau berani mengusirku?!, jaga mulut sialanmu itu, Ammar. Kau tidak bodoh, kan? berhenti bertingkah diluar kendalimu! Kau tidak bisa melawanku!"


"Kau pikir aku takut?!"


Karina menatap sengit, "kau akan takut, Ammar. Bahkan lebih dari itu. Camkan itu baik-baik! KAU AKAN TAKUT DENGAN KENYATAAN YANG TELAH KUBUAT! SEKALIPUN KAU MEMINTAKU BERHENTI, AKU TIDAK AKAN SUDI! TIDAK AKAN PERNAH!!"


Terdengar suara tangisan bayi menggema seisi ruangan, menyadarkan kedua pasang suami istri yang terlibat perang dingin tanpa mempedulikan sekitarnya.


Karina berlalu pergi meninggalkan Ammar yang menatapnya tajam, "**** YOU *****!! Enyah kau dari hidupku, sialan! ENYAH KAU!!"


Perasaan Ammar kembali dilanda kegelisahan, sejak kebohongannya sedikit demi sedikit mulai tercium oleh Erine. Ia merasa sesuatu yang buruk cepat atau lambat akan terjadi.


'Tuhan... Tolong!, apa yang harus ku perbuat sekarang. Wanita ular itu benar-benar membuatku sulit bernafas.'


Ammar ingin menghubungi Erine, juga mengecek setiap sudut CCTV rumah yang terhubung langsung dengan ponselnya dan memastikan Erine dalam keadaan baik-baik saja. Namun nahas, kenyataan seakan mempermainkannya.


Terakhir kali Erine menelpon cukup membuatnya kaget, kemunculan Karina yang tiba-tiba membuat seluruh tubuh Ammar terasa kaku.


'Bagaimana jika Erine mendengarnya?'


Sejak pagi itu, segala hal berjalan tanpa mampu ia komando. Hingga malam kedatangan Erine membuat keadaan semakin mencekam, menguak tabir kebohongan Ammar dengan hebatnya.


Kehancuran sesungguhnya baru dimulai.


Ammar jatuh sakit selama seminggu penuh, kehabisan cukup banyak darah mengharuskan ia opname karena kondisi yang terus menurun.


Sepulang Ammar dari rumah sakit, ia kembali ke rumah yang ia tempati bersama Erine. Ammar memukul dinding berkali-kali. Kondisi rumah sungguh berantakan. Dari ruang tengah, dapur, bahkan kamarnya, tak luput dari amukan Erine.


"Maafkan Mas, Dek. Maaf." Isak tangis Ammar terdengar parau sambil menatap nanar foto pernikahan mereka yang tergeletak tak berdaya.


🕸🕸🕸


Dalam kondisi yang belum pulih sepenuhnya, Ammar memaksakan diri kembali beraktivitas di kantor. Menyibukkan diri dengan berkas-berkas yang selama ini menunjang karirnya.


Tiba-tiba kedatangan Ires yang masuk tanpa mengetuk pintu cukup mengejutkan Ammar—terlalu berani.


Ires langsung mengutarakan maksud dan tujuan atas ketidaksopanan pada Ammar yang tampak ingin memprotes kelakuannya.


Kata demi kata mengalun bak irama, apa yang terjadi saat Ammar tidak berada di tempat serta usaha keras Ires yang terus menghubungi Ammar agar segera menemui Erine tidak sekalipun mendapat jawaban pasti dari atasannya, hingga ponsel itu benar-benar tidak dapat dihubungi lagi.


Ammar memijit pangkal hidungnya, keram pada otak membuat Ammar harus mengontrol emosi secara ekstra.


Satu hal yang membuat Ammar bingung, kapan Ires menghubunginya? Bukankah ponselnya sudah mati sebelum Ires memberi tahunya apa pun—Mustahil.


Ammar yakin, semua yang terjadi pasti hasil buah tangan wanita keparat, Karina. Ires menangis tersedu, bahkan meminta Ammar mengecek CCTV, karena ia tidak tau apa yang dilakukan Erine sebelum kedatangannya ke ruangan Ammar saat itu.


Cerita Ires mengguncang dirinya, ia sangat ingin menemui Erine. Memeluk bahkan memberikan seluruh perhatiannya untuk menguatkan wanita itu.


Namun, jika ia berani menemui Erine. Tidak hanya wanita itu yang dalam bahaya tapi juga Echa putrinya. Ancaman dari Hamdan yang akan membunuh bahkan merusak nama baik Erine membuat Ammar mundur, sedangkan Karina mengancam akan membunuh Echa darah dagingnya sendiri—Wanita gila.


Awalnya Ammar mengabaikan ancaman Karina, namun dengan mata kepalanya sendiri ia melihat Karina dengan berani menusukkan garpu pada paha putrinya yang saat itu berusia satu tahunan.


Jalan terbaik yang bisa ia ambil, hanya diam. Bergerak gegabah hanya akan menyakiti semuanya.


'Sudah tepatkah ini?'


Flashback off


🕸🕸🕸


...



...


"Apa yang kau lakukan di sini?!"


"Tenanglah, Mas. Apa kau tak merindukanku?"


Ammar menarik sudut bibirnya ke atas, "Bermimpilah dalam tidurmu!" ketus Ammar.


"Ok, fine. Kenapa aku tidak boleh masuk ke ruanganmu? Aku istrimu, kau lupa?!"


"Hanya di atas kertas."


"Kau— lupakan. Sekretaris mu, wanita itu sungguh menyebalkan. Dia membuatku kesal setengah mati. Pecat dia! Aku bisa mencari yang lebih baik darinya!"


"Kau sama denganku, Kar! Aku juga sangat muak melihatmu! Bisakah aku membunuhmu saja?!"


Karina melangkah mendekati Ammar yang sejak tadi bersandar di dinding, dengan tangan berada di dalam saku celana.


Raut wajah Karina yang semula manja kini berubah suram. "Jaga ucapanmu, Mas! Aku sudah cukup, bersikap baik padamu!. Mudah untukku menghancurkan mu, tanpa harus repot-repot menyentuh kulitmu." Karina mengetuk pipi Ammar dengan jari telunjuknya.


Sontak Ammar menepis tangan Karina mendorong tubuhnya menjauh. "Apa yang ingin kau lakukan? Membunuhku? Lakukanlah! Aku berharap mati lebih cepat, sejak bertemu denganmu!"


"Ammar-Ammar, kau masih begitu naif. Aku tidak akan membiarkanmu mati! Tidak akan pernah. Kau tau itu, Sayang." Karina berjalan mendekati salah satu kursi, mendudukkan dirinya dengan pandangan lurus menatap suaminya. "Tapi—menyakiti wanita itu, bukankah itu menyenangkan, Ammar? Itu lebih memacu adrenalin ku." ujar Karina tersenyum devil.


"Kau terlalu meremehkan ku, Kar. Takkan ku biarkan seujung kukumu menyentuhnya lagi. Akan ku pastikan. Kali ini, tidak hanya kau yang mati, tapi juga orang-orang dibalikmu!!" tukas Ammar mengintimidasi.


"Kau berusaha begitu keras, Ammar. Bisakah... Aku mendapatkan semua kepedulian itu? Tidak-tidak, kau memang milikku, bukan begitu suamiku?!" ujar Karina tersirat ejekan mendalam.


"Berkaca lah Karina, kau tetap orang asing bagiku! Untuk saat ini dan seterusnya!"


"Aku tidak mendengarnya, Sayang. Sekalipun kau berteriak, aku tetap akan menulikan telingaku! Pada kenyataannya, kau hanya sapi penurut yang tunduk padaku." ujar Karina tak peduli.


"Kau benar-benar menjijikkan! Kotoran jauh lebih baik darimu."


"Apa maksudmu, haa?! Kau—" ujar Karina tepotong oleh dering ponselnya yang menandakan sebuah panggilan masuk.


"Ya, Hallo? Ada apa?!"


" ....."


"Bagaimana bisa?! Terus awasi mereka!" ujar Karina tak senang.


"....."


"Anak kecil? Kau jangan bodoh. Mana mungkin!"


"....."


"Hmm, aku tidak menyukai kegagalan! Kau tau, kan? Berhati-hatilah."


Tut... Tut...


"Sekarang, bisa kau pulang?! Perusahaanku, tidak menginginkan kehadiranmu!" ketus Ammar.


Karina kembali melirik Ammar yang menatapnya sangar, "Kau menakutiku, Mas. Seharusnya aku yang memintamu pulang. Pulanglah. Kau tidak merindukanku? Aku lebih baik dalam hal melayani. Apa lagi di rumah. Bukan begitu, suamiku?" ujar Karina menggoda.


"Sampai matipun, aku tak akan menyentuhmu! Tidak untuk yang kedua kalinya!" sergah Ammar memperlihatkan urat-urat lehernya.


Karina berdiri menatap Ammar yang berada sepuluh langkah di hadapannya. "Aku merindukanmu. Bukan hanya aku, tapi juga Echa. Kau merindukannya juga, kan? Darah dagingmu. Mungkin kau lupa, aku wajib mengingatkanmu. Ohiya, kau berhentilah berpuasa. Aku rasa— memberi adik untuk Echa bukan ide yang buruk. Bagaimana? Kau setuju? Aku akan membeli lingerie terbaik bulan ini."


Ammar membuang muka malas, "Pintu ada di depan! Aku rasa kau belum pikun, Kau tidak lupa cara membuka pintu, kan?!" ketus Ammar tak mempedulikan ucapan wanita di depannya.


"Kau benar-benar mengabaikan ku, haa?!"


"SILAHKAN. KELUAR!"


Karina berjalan keluar ruangan, membanting pintu kuat menimbulkan bunyi dentuman keras.


Ammar menatap pintu yang tertutup rapat, mengambil ponselnya membaca salah satu pesan masuk. Tanpa menunggu lama, Ammar langsung menghubungi seseorang di sebrang telepon.


"Kau sungguh menemukannya? Bagaimana keadaannya?!"


"Benar, Pak. Nyonya tinggal di sebuah apartemen bersama temannya yang memiliki dua orang anak."


"Temannya... memiliki anak? Apa Erine menumpang di rumah seseorang yang memiliki suami?!" tanya Ammar tak senang.


"Tidak, Pak. Warga sekitar mengatakan, wanita itu seorang single mom bernama Mira." jawab Arman dari sebrang sana.


"Mira?! Apa kau yakin? Wanita itu sungguh berpengaruh buruk untuk wanitaku, bagaimana bisa Erine tinggal bersamanya." ujar Ammar tak habis pikir.


"Itu semua informasi yang saya dapatkan, Pak." jujur Aska.


"Percepat gerakmu! Sepertinya— iblis itu menyadari kebebasan Erine. Perketat penjagaan, kirim orang untuk mengawasi Karina juga keselamatan Erine."


"Baik, Pak."


"Terus awasi dia. Jangan lakukan kesalahan sekecil apapun, Kau mengerti?!" ujar Ammar memperingati.


"Baik, Pak."


Tut... Tut..


Ammar berjalan keluar, meminta seseorang membersihkan ruangan yang sempat di singgahi Karina dan menyemprotkan disinfektan untuk menghindari virus yang mungkin dibawa Karina ke kantornya.



...🕸️🕸️🕸️...


Happy Reading 🤍


Yuk! tinggalkan jejak, jangan cuma jadi silent readers ya. Like and comment untuk update lebih banyak.


"Tanpa readers author bukanlah apa-apa."


Terima kasih.