
Daffin dan Mira mendominasi percakapan usai menghabiskan hidangan makan siang yang mereka pesan. Erine hanya sebatas mendengarkan dan sesekali menjawab saat pertanyaan dilontarkan padanya.
Daffin pria yang tampan dengan tubuh yang tegap. Benar-benar cocok dengan Mira, pikir Erine.
"Eh, Rin. Kenapa diem? Ikutan nimbrung lah, biar nyambung. Iya kan, Daf?" sahut Mira tiba-tiba.
Daffin mengangguk setuju.
"Aku lagi cek pesan, takut anak-anak nyariin." ujar Erine memperjelas statusnya.
Daffin mengernyit bingung, "Kau sudah menikah?"
Mira memotong dengan cepat saat Erine hendak menjawab. "Lebih tepatnya. Sudah lama bercerai—bukan begitu?" ujarnya menatap Erine lekat.
Erine mendengus kesal, sedangkan Daffin mengangguk paham menatap Erine canggung mendengar penuturan Mira terkesan tanpa filter.
"Oh, Benarkah? Sudah punya anak, Rin?"
"Hm, sudah."
Daffin mengangguk tidak ingin bertanya lebih dalam, Mira kembali bersuara mengisi kecanggungan yang sempat ia perbuat.
"Kamu bakal lama tinggal di Indonesia, Daf?"
"Belum bisa dipastikan, tunggu urusan di sini selesai, setelahnya—aku balik." jawab Daffin sambil menyeduh espresso yang sempat ia pesan setelah makan siang mereka habis.
Mira mengangguk dan kembali menatap Erine yang sejak tadi fokus pada layar ponselnya.
"Rin, malah diem beneran. Anak-anak kenapa? Minta di jemput? Tumben banget nggak betah sama Ibu."
Erine menatap Mira kemudian bergantian menatap Daffin.
"Ng, bukan. Cuma minta dibawain makanan. Biasa, anak-anak." Jawab Erine sekenanya.
Setelah melihat wajah penasaran Daffin, Mira mulai bercerita mengenai Alan dan Alin, Bagaimana tingkah nakal Alin dan sifat dingin Alan yang mengisi hari-hari mereka di apartemen.
Keinginan Mira mengenalkan Erine bukan hanya candaan, mengingat Daffin berasal dari keluarga baik-baik. Bukan pilihan buruk untuk menjodohkan Erine dengannya.
"Erine punya anak kembar fraternal, usia 5 tahunan lah. Pinter-pinter lagi, kamu pasti suka, Daf." ujar Mira terlampau semangat.
"Benarkah?! Berhubung aku menyukai anak-anak, boleh aku bertemu mereka di lain waktu? Untuk saling mengenal mungkin. Boleh?" ujar Daffin melirik Erine meminta persetujuan.
"Tentu. Mereka pasti senang melihatmu. Iyakan, Rin?" Jawab Mira cepat tanpa persetujuan Erine.
"Hah, Ah... Iya, Tentu." ujar Erine tidak fokus.
Erine enggan menimpali percakapan Mira dan Daffin terlalu jauh. Saat ini prioritasnya bukan untuk mencari pasangan melainkan bagaimana rencananya bisa berjalan dengan lancar.
Sekitar 2 jam lamanya mereka berbincang bersama Daffin, bukan mereka—hanya Mira. Mira terlihat sangat menikmati pertemuannya bersama Daffin, mengabaikan Erine yang sejak awal menilai kecocokan mereka sebagai sepasang kekasih.
Daffin menawarkan diri untuk mengantar pulang kedua wanita tersebut. Namun, dengan halus Erine menolak tawaran baik Daffin, mengingat mereka juga membawa kendaraan.
Dalam perjalanan Mira kembali membahas Daffin yang membuat Erine jengah. Bagaimana tidak, Mira mengungkit masalah perjodohan yang sejak awal tidak Erine gubris.
"Gimana? Kamu suka? Aku yakin kalian cocok, kau harus mencobanya, Rin." Ujar Mira antusias.
"Siapa? Aku? Aku rasa kamu lebih cocok." ujar Erine balik bertanya.
"Hei! Kenapa aku?! Kau lebih membutuhkannya, hidupku terlalu bebas untuk sebuah pernikahan."
Erine menatap Mira malas, "Aku nggak berminat. Berhentilah menjodohkan ku. Kau harus ingat pesan ibu. Ibu menginginkan cucu darimu, Mir."
Mira merengut kesal mendengar jawaban Erine, "Aku pernah mencobanya, tapi laki-laki itu memilih wanita lain. Kau ingin aku mencoba sekali, lagi?"
"Bukan mencoba, tapi mulai mempercayai bahwa tidak selamanya laki-laki jahat. Kau mengatakan Daffin baik, kenapa tidak kau coba saja?"
Mira menggeleng tidak menyetujui pendapat Erine, "Daffin berbeda. Aku mengenalnya sejak kuliah, itu karena Dimas. Tidak ada cinta, kami murni hanya berteman."
Tepat di lampu merah, Erine mengalihkan tatapannya dari kemudi ke wajah Mira.
"Oh, jadi kamu berhubungan dengan teman baji***n itu. Kamu nggak berinisiatif nyari kabar Dimas, kan?"
"Apa maksudmu, haa?! Aku tidak sebodoh itu! Lagian, Daffin berbeda, Rin. Dia baik, dewasa, dan aku yakin mampu mengayomi kamu dan anak-anak. Apa aku salah?"
"Kenapa tidak kau saja, Mir? Kalian terlihat sangat serasi! Sungguh! Aku terlalu abu-abu untuk hubungan yang merah jambu. Kau paham maksudku, kan?" Ucap Erine jujur.
"Tidak! Yang benar saja, kami tidak akan cocok. Aku juga tidak ingin dikatakan piala bergilir."
"Mengapa kau begitu yakin? Kau belum mencoba. Piala bergilir apanya, kalian tamat kuliah sudah 8 tahun lalu. Jika bertemu kembali itu yang disebut jodoh." Tukas Erine tidak ingin dibantah.
Mira mencerna ucapan Erine. Tidak ada yang salah jika ia bersama Daffin, mengingat mereka sudah lama tidak berkomunikasi. Dimas hanya akan menjadi masalalu, tidak ada takdir yang menyatukan meraka di masa depan.
"Mir... Are you okay?" Ujar Erine melihat Mira terdiam. "Mir, kenapa kau diam. Kau kesambet setan lampu merah?!" Ucap Erine cukup kencang guna menyadarkan Mira.
"Astaga, Erine! Kau mengagetkan ku!"
"Tidak ada yang memintamu melamun disaat aku bicara. Kau mendengarkan ucapan ku, tidak?"
"Aku mendengarnya, kau puas?"
"Ya!" Singkat Erine ikut kesal, kembali mengemudi karena lampu telah hijau.
"Lupakan! Bagaimana dengan misi kita? Apa sudah bisa dilaksanakan?" ujar Mira mengalihkan topik.
"2 minggu lagi. Aku harap... Kau bekerja dengan baik kali ini."
Mira mengangguk paham, "Jangan khawatir, aku mahir dalam strategi."
"Benarkah? Aku meragukan hal itu."
"Aiishh... Aku bisa menghadang dua anggota tauran, asal kau tau."
"Itu cerita lalu, Mir. Hanya dua kelompok remaja bukan mafia." sindir Erine.
Mira yang fokus pada jalanan melirik Erine sekilas dan kembali menatap jalanan.
"Remaja pada masanya, bisa jadi sekarang ketua mafia, Rin. Setidaknya, aku pernah menang melawan perusuh sekolahan." ujar Mira membanggakan dirinya.
"Sesuka kamu, Mir. Kamu yang jalanin, kan? Asal kami tidak kembali masuk ke rumah sakit, itu sudah cukup. Aku tidak ingin lagi repot-repot mendoakan mu."
"STOP IT! Jangan katakan itu lagi, Rin. Sungguh, memalukan!"
Erine tertawa melihat Mira, gadis tomboy yang perlahan mulai terkikis usia.
"Sabtu depan aku mulai hubungin, Mas Arman. Tadi aku udah sempat pastiin itu nomer dia atau bukan. Dan benar saja, dia tidak pernah mengganti nomernya."
"Serius?! Kau yakin ini akan berhasil? Bagaimana kalau itu bukan dia? Aku takut jika pria itu hanya mata-mata sama seperti Ires." tanya Mira memastikan.
"Jangan khawatir, Mir. Itu bukan hal yang sulit, kita hidup di zaman modern. Ponsel ada, sosial media ada, asal terus berkomunikasi satu sama lain... tidak sulit, kan?" Erine menjeda kalimatnya beberapa detik. "Lagian, Aku hubungin Mas Arman pas kamu lagi CLBK. Bukan begitu, cantik?" Sontak Mira menatap Erine kesal dan mencubit perutnya ringan, membuat Erine menghentikan mobilnya di pinggir jalan.
Suatu keberuntungan mereka berada di jalan yang terbilang sepi hingga menghindari terjadinya kecelakaan.
"Astaga! Kau ingin membunuhku, Mir? Atau kau memang ingin mengakhiri hidup mu juga?" Tanya Erine kesal.
"Kau yang memulainya, Erine. Siapa yang kau sebut CLBK?"
"Hanya karena itu kau bersikap berlebihan seperti ini? Kau sungguh menyebalkan! Jika ingin mati jangan mengajakku, Mir. Aku ada anak yang harus dibesarkan dan dendam yang belum terbalaskan! Kau benar-benar!" Sungut Erine.
Mira mendengus kesal, "Kau selalu menyalahkan ku. Bukankah kau yang lebih dulu memfitnah ku?" balas Mira tak terima.
"Aiish... baiklah-baiklah. Aku hanya mengatakan yang sebenarnya, mengapa kau bereaksi seakan aku memergoki aibmu."
"Aku tidak—sudahlah, lupakan saja! Apa kau masih ingin membahasnya?!"
"Tidak. Maafkan aku. Okay? Bisakah kita melanjutkan perjalanan? Aku rasa anak-anakku sangat ingin memakan ini." ujar Erine melirik pizza yang tadi sempat ia beli dari cafe tempat ia dan Mira berbincang.
Erine kembali menjalankan mobil membelah jalanan, saat diterpa keheningan pertanyaan bodoh meluncur dari mulut Mira.
"Sejak kapan kau menyadarinya?"
Erine bertanya tak paham, "apa?"
"Kau tau jawabannya, Rin."
"Bukannya kau tidak ingin membahasnya? Lalu, mengapa?"
"Aku hanya ingin tau jawabannya, Erine! Bisakah langsung ke intinya, saja?" tanya Mira tidak ingin berdebat.
"Saat pertama kali kau melihatnya—aku tidak pernah melihatmu menatap Dimas seperti itu sebelumnya."
Mira merutuk dalam hati karena memang benar bahwa Mira menyukai Daffin dan mengetahui setiap cerita tentang dirinya selama 4 tahun pertemanan mereka semasa kuliah dulu.
"Dia menyukaimu."
"Kau bercanda? Orang bodoh juga pasti menyadari perasaannya padamu,bukan padaku, Mir." jujur Erine.
"Tidak mungkin! Dia menanyakan tentangmu akhir-akhir ini." ungkap Mira tidak ingin membenarkan prasangka Erine.
Walaupun begitu, memeng tak bisa dipungkiri, Mira masih normal, kadang dia juga butuh sosok pria untuk mengisi kekosongan hatinya.
Hasrat memang tidak mudah untuk dipendam, bahkan setiap pagi Mira merindukan kehangatan sepasang kekasih membina rumah tangga.
Ini peringatan agar Mira harus lebih rajin bekerja dan terus bekerja hingga mengalihkan pikirannya. Hal positif, bukan? Sementara, Mira tidak ingin mengejar percintaan tanpa akhir yang baik, "I don't need a man to run my life." gumamnya pasti.
Erine enggan mengkritik pilihan Mira dalam menyikapi hidupnya, mengingat problem asmaranya yang cukup pelik hampir sama seperti Mira.
🕸️🕸️🕸️
Ammar berjalan keluar ruang rapat bersama beberapa klien diikuti Ires di belakangnya. Pembahasan sederhana, seputar penjualan yang cukup baik.
Ammar melirik Ires sedikit, "Hubungi Arman segera, katakan Aku menunggunya dalam 10 menit." ujar Ammar singkat dan jelas.
"Baik, Pak."
Ammar menuju ruang kerjanya, dokumen yang ia terima dari Arman belum sempat ia pindahkan kedalam ruang khusus yang sudah ia buat 5 tahun belakangan setelah perceraiannya bersama Erine.
Ruangan yang tidak terlalu besar, didesain kedap suara, terdapat beberapa CCTV tersembunyi dan penyadap suara. Pintu yang didesain khusus menggunakan finger print.
Ruangan ini termasuk ruang rahasia, karena pintu yang tak terlihat jika tidak diperhatikan dengan teliti.
Pernah beberapa kali Karina mencoba menyusup masuk keruang kerjanya mencari sesuatu, mengecek private room, semua laci, bahkan lemari tak luput dari pencariannya.
Namun nihil, Karina tidak menemukan apa pun. Ia pergi dengan tangan kosong dan raut kesal.
Ammar pernah kecolongan sekali oleh Erine, ia tidak ingin terjadi untuk yang kedua kalinya.
Sekitar 10 menit berlalu, Ammar menunggu Arman di ruang kerjanya.
Tok.. Tok... Tok...
"Masuk!"
kreek.
Terdengar suara seseorang memutar handle pintu. Menampilkan sosok Arman dengan keringat mengucur deras dari pelipisnya.
"Kau terlambat 10 detik!" seru Ammar.
"Maafkan saya, Pak. Saya sudah berusaha secepat mungkin."
Ammar menatap wajah Arman yang kesulitan bernafas, "Aku tidak sedang ingin membunuhmu, ambil ini!"
Ammar melempar sebotol air mineral, dengan cepat Arman menangkap dan meminumnya hingga tandas.
"Bagaimana? Apa kau mendapatkannya?"
Arman mengangguk, "Saya mendapat rekaman CCTV itu, Pak. Hanya saja, seseorang telah lebih dulu menghapus sebagian."
"Bagaimana mungkin?! Siapa yang melakukannya?!" sentak Ammar.
"Pengawas di sekitar hanya mengatakan... seorang pria berjubah coklat dengan topi menutup wajahnya."
"Berhenti bercanda! Kau pikir ini dunia dongeng? Stop kidding with me, Arman! Bagaimana bisa orang lain masuk tanpa koneksi yang jelas. Kecuali—dia salah satu orang berpengaruh di kota ini." ucap Ammar tajam.
Arman menunduk tidak ingin memancing emosi Ammar yang siap meledak kapan saja.
"Aku mencurigai ada sesuatu di balik ini semua. Apa Karina berada di dalamnya?" tanya Ammar memastikan kecurigaannya.
"Tidak, Pak. Kali ini Ibu Karina tidak terlibat. Hanya saja—cepat atau lambat Ibu Karina juga akan melibatkan diri. Saya melihat pergerakan beberapa orang dari mereka menemuinya di sebuah gang kecil."
"Ah... Mereka mulai tidak sabaran. Lanjutkan rencana berikutnya."
"Baik, Pak."
"Bagaimana dengan anak kembar itu, kau menemukannya?"
"Mengenai itu... Silahkan anda lihat data ini. "
"Saya sudah mencari sesuai nama dan informasi yang sebelumnya anda berikan, Pak. Mereka anak dari seorang single parent. Kemungkinan besar, mereka yang memungut foto itu." ungkap Arman.
"Single parent? Yaa... Aku mengingat mereka berdebat saat itu. Lalu, di mana letak masalahnya?"
"Saya merasa, mereka sedikit—tidak. Maksud saya, mereka terlalu mirip dengan Anda."
"Langsung ke intinya!"
"Mungkin anda harus melihat datanya sendiri, Pak." Ujar Arman cepat.
Ammar membuka amplop coklat di hadapannya, membaca setiap kata dengan seksama.
Sesekali terlihat kerutan di kening dan juga mata yang membulat sempurna.
"Kau sedang bercanda, Arman? Bagaimana mungkin?! Mirip bukan berarti dia anakku!" Tanya Ammar menahan emosi.
"I—ini mungkin benar, Pak. Mereka terlihat sering bersama Nyonya, bahkan memanggilnya dengan sebutan bunda."
"Tidak! Erine tidak pernah hamil. Kau yang mengatakan Mira yang memiliki anak, kenapa sekarang Erine?!"
Arman mengusap tengkuknya yang meremang. "I—itu keteledoran saya, Pak. Saya salah mendapat informasi pada hari itu. Tetangga sekitar hanya memberi jawaban menurut persepsi mereka. Pada kenyataannya, anak itu bukanlah anak dari Mira melainkan anak Nyonya yang dilahirkan 5 tahun lalu di dalam sel."
Ammar mengernyit bingung, "God**m! Apa yang kau katakan! Kau sungguh tidak becus!"
"Ma—maafkan saya, Pak. Saya sudah memerintahkan beberapa orang dari jaringan gelap untuk mengambil test DNA anda dengan anak itu. Hasilnya dapat memastikan kebenaran."
"Aku tidak mau mendengar kesalahan sekecil apa pun lagi. Aku tidak menggaji mu untuk terus meminta maaf dan mengulang kesalahan. Bekerja dengan becus dan perbaiki kesalahanmu. Untuk anak itu. Jika benar mereka anak Erine, aku yakin mereka berasal dari benihku. Berikan hasilnya tidak lebih dari 2 jam."
Arman tertunduk, kecerobohannya sungguh fatal beberapa hari belakangan. "Ba—baik, Pak."
"Bagaimana kehidupan mereka, apa mereka makan dengan cukup? Siapa yang mengurus mereka saat Erine berada di tempat kerkutuk itu?!" Tanya Ammar menuntut jawaban.
"Mereka hidup dengan layak, Mira mengurus semua kebutuhan yang mereka perlukan. Saat melahirkan mereka, Nyonya mengalami pendarahan hebat. Kondisinya kritis, saat itu ia membutuhkan beberapa kantong darah, seseorang menutup rapat identitasnya dan membantu secara diam-diam hingga nyonya dapat tertolong."
Ammar memukul meja keras, "Da*n it! Apa yang aku lakukan selama ini. Hanya berdiri diam seperti orang bodoh?! Sedangkan wanitaku, ia bertaruh nyawa. Kau pantas mati Ammar!" murka Ammar pada dirinya sendiri.
Arman memilih diam tak berkutik.
Ammar mengusap wajah kasar. "Selidiki, siapa pendonor yang membantu Erine. Siapa pun dia, kita harus tetap berhati-hati. Kau bisa Pergi!"
"Baik, Pak."
Arman berlalu pergi meninggalkan ruang kerja Ammar. Meninggalkan Ammar dengan begitu banyak pertanyaan dan rasa bersalah yang kian menumpuk.
Perasaan bahagia mengetahui ia memiliki anak bersama Erine tidak sebanding dengan rasa ketidakmampuannya di masalalu yang menjerumuskan Erine juga anaknya dalam jurang penderitaan tak berdasar.
Ammar mengambil kunci mobil di atas meja, bergegas meninggalkan kantor Membelah jalanan dengan kecepatan di atas rata-rata menuju toko bunga yang Erine kelola.
Happy Reading!
Terus dukung author dengan like and comment. "Kak double update dong!" gampang, kalian tinggal comment sebanyak-banyaknya dan share cerita ini ke temen-temen kalian nanti aku pastiin buat double update 😊
Terima kasih.