
..."Siapa yang pantas ku salahkan, takdir atau kesialan."...
...-Erine Artinka...
...🕸🕸🕸...
Di apartemen. Alan merasa tidak tenang, sebab sebuah mimpi buruk menghampiri tidurnya malam ini. Saat hendak keluar kamar. Ia dikejutkan dengan keberadaan Alin di depan pintu kamar dalam keadaan terisak.
"Alin, apa yang teljadi?"
Alin yang gemetar memeluk tubuh Alan cepat, "Aku ingin beltemu, Bunda."
"Tenanglah, Alin. Katakan padaku, kenapa kau menangis?"
"Aku belmimpi, Bunda menangis sendilian. Bunda membutuhkan kita. Ku mohon, antalkan aku beltemu Bunda, Kak. "
Alan menangkup kedua pipi Alin. "Bunda baik-baik caja, Alin. Kau ingat, saat kita pulang? Bunda sudah beljanji akan pulang dengan cepat. Jangan belpikil buluk. Ayo, ku temani kau tidul."
"Tidak, aku yakin tidak. Kak Alan, aku ingin Bunda." rengek Alin lagi.
"Baiklah. Ikut, aku." Alan meraih tangan Alin, membawanya ke ruang tengah.
Di ruang tengah, Alan menghubungi ponsel ibunya menggunakan telepon rumah. Sudah tiga kali percobaan, namun panggilan tak kunjung terhubung.
Alan ikut mencemaskan ibunya, mengingat mimpinya dan Alin serupa. Saat ini ia tidak bisa berkata jujur, itu hanya akan membuat Alin semakin terisak dan meminta bertemu Erine segera.
"Bagaimana?" tanya Alin memastikan.
"Bunda memintamu untuk segela tidul, dan langsung mematikan telponnya. Sudah ku katakan, bukan? Belhentilah belpikil buluk, Alin." ujar Alan berbohong.
Alin mengangguk paham, "Baiklah, temani Alin tidul, Kak. Alin takut." Jujurnya pada Alan.
"Hanya kali ini, besok tidak lagi. Kau cudah becal. Mengelti?" Peringat Alan.
Alin kembali menangis, dengan sangat terpaksa Alan mengikuti keinginan Alin untuk menemaninya tidur. Awalnya ia hanya berniat membujuk adiknya, siapa sangka Alin benar-benar meminta untuk ditemani tidur olehnya.
"Baiklah-baiklah. Jangan membuang waktuku. Cepat buang ingus mu, cuci kaki-tangan, dan beldoa. Kau tidak ingin diikuti kakek genderuwo saat tidulkan?"
Alin mencebikkan bibir, "Kakak, kau menakutiku. Aku tidak jadi tidul!" Rajuknya.
"Kau yakin tidak ingin tidul? Tidak takut ku tinggal sendili? Baiklah."
Alin kembali menangis, kali ini dengan suara cukup kencang. "Kau jahat, Kak!"
"Kau ini— cepat, lakukan pelintahku."
Alin menuruti perintah Alan untuk bergegas ke kamar mandi. Setelah 5 menit, ia kembali dan membaringkan tubuhnya di atas ranjang.
Jam menunjukkan pukul sepuluh lewat tiga puluh tiga menit, Alin sudah tertidur nyenyak di sebelah Alan. Sedangkan Alan, masih memikirkan Erine yang tidak menjawab panggilan telpon darinya.
Alan berbohong pada Alin agar gadis itu berhenti menangis dan segera beristirahat. Jika di biarkan, Alin bisa menghabiskan stok air matanya dengan sia-sia.
Alan berjalan keluar kamar dan kembali menghubungi Erine. Terdengar nada panggilan masuk, tak perlu menunggu lama Erine langsung mengangkat telepon tersebut.
"Hallo?" Sahut Erine dari sebrang sana.
"Bunda..."
"Alan, kamu belum tidur, Sayang? Kenapa menelpon, apa terjadi sesuatu di rumah?"
"Tidak, di cini baik-baik caja."
"Apa Alin sudah tidur?"
"Sudah." jawab Alan singkat.
"Alan lapar, Nak? ingin Bunda belikan sesuatu?"
Alan menggeleng, "Tidak."
"Alan, yakin? Selagi Bunda masih di jalan, nanti Bunda belikan. Katakan, Alan ingin sesuatu?" tawar Erine.
"Bunda— Tidak apa-apa. Hati-hati di jalan, Bund." ujar Alan sedikit aneh.
"Alan, kamu baik-baik saja 'kan? Apa terjadi sesuatu? Katakan pada, Bunda." tanya Erine memastikan.
"Tidak ada. Bunda, cepatlah pulang."
"Baiklah, Alan langsung tidur yaa. Jangan tidur terlalu larut. Good night, baby."
"Baik, Bunda. Good night too." panggilan berakhir.
Alan meletakkan telepon pada tempatnya, berdiri kaku menatap dinding apartemen. Berbagai pertanyaan menghampiri kepalanya yang sampai saat ini belum bisa tenang.
'Apa Bunda sungguh baik-baik saja? Apa yang sebenarnya terjadi?.'
Seingat Alan, ponsel Erine sempat sulit di hubungi. Selama itu, apa yang ibunya lakukan. Kecemasan terus menggerogoti hatinya, ia merasakan Erine sedang dalam suasana hati yang buruk.
"Bunda kenapa? Dan suala itu, apakah Bunda cedang menangis... Kenapa aku melasakan Bunda menyembunyikan cesuatu. Cebenalnya apa yang teljadi?" Ujarnya tak jelas.
Alan memutuskan kembali ke kamar, terlalu banyak berpikir membuat kepalanya berdenyut sakit. Perlahan ia menaiki anak tangga, sekelebat bayangan pria yang memberinya gantungan kunci tempo hari ikut mengusik pikirannya.
'Belhenti belpikil, aku lelah!" Ujarnya menarik sedikit rambutnya dengan kasar.
🕸🕸🕸
Erine berada di apartemen tepat pukul sebelas lewat empat puluh menit. Kaki jenjang dengan high heels putih yang ia kenakan melangkah gontai menuju ruang tengah yang terlihat remang-remang.
Malam semakin larut, namun mata Erine masih enggan terpejam. Sunyi dan tenang. Tidak dengan kondisi hati dan pikiran yang terus berperang.
Sial.
Kekhawatiran Erine—mimpi buruknya—terjadi.
Air mata lolos dari pelupuk matanya. Belum hilang sentuhan Ammar yang memabukkan, kini ketakutan si kembar diketahui Ammar semakin membuatnya frustasi.
'Haruskah aku pergi dari kota ini?'
Alan-Alin bukan objek yang harus Erine sembunyikan, Si Kembar berhak tau siapa ayah biologisnya. Tapi ini berbeda, mereka lahir dengan kondisi keluarga yang hancur berantakan.
Bahkan, tidak ada niat secuil pun menjadikan mereka sebagai umpan merebut Ammar kembali. Mereka juga bukan alat untuk melancarkan aksi balas dendam, mereka tidak berhutang apa pun. Dendam ini hadir jauh sebelum mereka melihat dunia.
Erine tidak ingin Alan-Alin memiliki kisah hidup serupa dengannya, tidak mendapatkan kasih sayang dari orang tua yang utuh.
Lalu apa yang harus Erine katakan, mereka lahir hanya dengan ibu yang berkemampuan khusus—Erine bukan ayam yang bisa bertelur dengan sendirinya.
'Katakan padaku, apa yang harus ku lakukan?. Ajari aku menjadi seperti yang kalian pikirkan, apa yang kalian lakukan jika ini terjadi. Bunuh diri? Sudah ku katakan aku tidak selemah ibuku'
Haruskah Erine mengatakan. Mereka memiliki ayah, seorang ayah yang menikah lagi tanpa sepengatuan ibunya, bisakah Erine memberitahu mereka tentang hal ini.
Ayah yang benar-benar bajingan.
Namun. Lebih dari pada itu, Erine tidak yakin pada dirinya sendiri bahwa dia akan menjadi orang tua yang baik. Mengingat watak anaknya yang terbilang cerdas melebihi rata-rata.
Erine ketakutan... pada kenyataan yang menghujam perasaan anak-anaknya.
Bisakah anak-anak bertahan dalam kenyataan yang membelenggu bundanya selama ini? Bisakah mereka terima kepahitan hidup di usia yang tidak seharusnya?
Erine tidak berencana melarikan diri membawa kabur anak-anak meninggalkan tanah kelahiran mereka. Itu hanya akan mempersulit keadaan.
Erine bergelut dengan pikirannya, mencari jalan keluar mana yang harus ia pilih, melanjutkan rencana balas dendam atau berakhir melupakan dan hidup damai bersama kedua buah hatinya.
Suara langkah kaki menuruni tangga menyadarkan Erine, memecah belah lamunan yang belum tersusun sempurna.
"Eh, Rin, baru pulang? Jam segini?" Tanya Mira dengan wajah baru bangun tidur.
"Hm," sahut Erine datar.
"Bentar-bentar," Mira meneliti wajah Erine, "habis nangis, Rin? Kenapa, lagi? Laba nggak sesuai?"
"Aku lelah, Mir. Boleh aku istirahat?" Ucap Erine tidak menanggapi pertanyaan Mira.
Mira mengangguk, "hm, silahkan. Ohiya. Rin, katakan jika kau siap. Ingat, aku selalu ada waktu untukmu. Tidurlah." Mira membuka jalan memberi Erine celah menaiki tangga.
Erine berlalu tanpa sepatah kata pun, tidak ada lirikan atau kata-kata selamat malam yang biasa ia lakukan. Seperti bukan Erine—tapi ini dia.
Mira cukup sadar diri, ia tidak ingin mencampuri masalah Erine sebelum keinginannya sendiri untuk bercerita. Sampai Erine merasa beban di pundaknya tak sanggup lagi ia pikul sendiri.
Sebelum benar-benar menghilang dari pandangan, Erine berkata lirih. "Mir... Bagaimana jika Ammar menemukan anak-anak?"
"Apa maksudmu?"
Erine berbalik menatap Mira lekat. "Kau tau maksudku. Jadi katakan, apa yang bisa ku lakukan jika itu terjadi?"
"Tidak akan terjadi!"
"Kenapa tidak? Itu bisa saja terjadi, Mir."
"Kau kenapa, Rin? Jangan katakan kau ingin hal itu terjadi. Kau bodoh, haa?" Cerca Mira.
"Ammar bukan pria sembarangan, Mir. Bukan hal sulit untuk mencari informasi tentang aku dan anak-anak!"
Mira menatap Erine kesal, "lalu apa urusannya? Dia mencampakkan mu! Aku tanya padamu, saat kau hampir mati melahirkan, apa dia datang menemui mu? Kau tinggal menolaknya saja, apa sesulit itu, haa?!"
Erine menggeleng, "tidak semudah itu, Mir. Kau lupa? Kasus 5 tahun lalu saja sulit kita atasi. Lalu, anak-anak. Mereka akan bertanya tentang ayah biologisnya. Apa yang bisa kukatakan? Apa, Mir?!"
"Katakan saja ayah mereka sudah mati, apa sulitnya?!"
Erine mengusap wajah kasar, "di mana kuburnya? Siapa namanya? Kenapa ia meninggal? Apa aku harus mengarang untuk itu juga?!"
"Katakan saja kau ingin mereka mengenal ayahnya!"
"Apa maksudmu, Mir?!"
"Kau sungguh bodoh, Rin."
"Lupakan—sebaiknya aku tidur."
"KAU DAN BAJINGAN ITU SAMA! KAU BODOH DAN DIA TO**L. KALIAN SAMA! KAU INGIN DICAP SEBAGAI PELAKOR DAN MEMPERMALUKAN DIRI SENDIRI?! PAKAI OTAKMU, RIN!!"
"STOP IT! Aku lelah. Kita tidak perlu membahasnya lagi!"
Hening. Erine berlalu meninggalkan Mira yang menatap sendu kepergiannya. Hingga punggung Erine hilang di anak tangga terakhir.
"Astaga, apa yang ku lakukan. Maafkan aku, Rin." Ujar Mira merasa bersalah.
...
...🕸🕸🕸......
Hallo🤍
Aku sengaja double update untuk pembaca setia Infidelity, semoga kalian suka dan selalu mendukung cerita ini.
Jangan lupa vote dan comment, semakin banyak Like dan comment dari kalian. Aku pastikan untuk double update lagi 🤍
"Tanpa readers author bukanlah apa-apa."
Terima kasih🤍