
..."Jika cinta adalah luka, lalu kusebut apa buah cinta ini?"...
...-Erine Artinka...
Happy Reading!! 🤍
...🕸️🕸️🕸...
Dunia yang Erine lalui sungguh kejam mengujinya. Di mana ia terpaksa menyusuri jalan yang gelap tanpa arah tujuan. Terombang-ambing dalam kesedihan, membawa dua nyawa lain yang bergantung pada ketangguhan dirinya.
Erine merebahkan tubuh di atas ranjang bersama Alin. Menatap hampa langit-langit kamar dengan pikiran berkecamuk.Â
Ceklek.
Suara pintu terbuka.
"Bunda..." sahut suara di ambang pintu.
Erine beranjak dari ranjang, mendekati Alan yang masih terjaga dengan kening berkerut.
"Sayang, kenapa belum tidur? Ada sesuatu yang mengganggu tidurmu?" tanya Erine lembut.
Alan menggeleng, setetes air mata mengalir dari pelupuk matanya. "Bunda... apa teljadi cesuatu?"
Erine menyipitkan mata, memahami maksud putranya. "Sesuatu, sepertinya tidak. Kenapa? Alan ada masalah? Ceritakan pada, Bunda."
"Bunda—apa yang teljadi?!" Tanya Alan serius.
"Alan... Tidak terjadi apa pun, sungguh. Alan mengkhawatirkan keterlambatan bunda pulang, 'kan? Bunda baik-baik saja, lihat?"
"Belhenti belbohong, Bunda!"
Erine menggendong Alan dan menutup pintu, membawa Alan kedepan meja rias dan mendudukkannya.
Tidak ada yang memulai percakapan, Erine menatap Alan yang terisak. Pikiran Erine semakin berkecamuk, tidak ada angin tidak ada hujan, Alan seakan menghakiminya di tengah malam.
"Apa yang terjadi, Alan. Mengapa marah pada, Bunda? Apa Bunda berbuat kesalahan?"
Alan mengusap wajahnya, menatap wajah Erine lekat, "Di mana ayah, Bunda? Di mana ayahku?"
Erine tercekat ludahnya sendiri, pertanyaan Alan seakan menampar dirinya. "Ke—kenapa menanyakan itu? Maksudku, mengapa dengan ayah?."
"Katakan caja! Di mana ayahku berada, Bunda?" tanya Alan lagi, tak mengindahkan sedikitpun pertanyaan Erine.
"Tidak. Dia tidak ada."
"Dia ada!"
"What happened to you, Alan?, Ini bukan kamu. Berhenti mendebat, bunda."
"Tidak akan. Sebelum bunda mengatakan yang sebenalnya."
"Kalian—maksudku, kita hanya bertiga. Tidak ada ayah di antara kita, Alan. Apa Bunda saja tidak cukup? Berhenti menanyakan hal ini lagi." Ujar Erine menyentuh dagu putranya.
Alan menepis tangan Erine. "Tidak. Aku memilikinya! Bunda, belbohong!"
"Dari mana kamu tau? Siapa yang meberitahumu, haa?"
"Aku mendengalnya sendili. Just tell me where my father is. Apa itu sulit?!"
"Alan. Berhenti bertanya tentangnya! Dia sudah mati. Jauh sebelum dia mengetahui kalian ada. Apa ini cukup?! Kau puas sekarang?!" jawab Erine tak suka.
Alan menggeleng, "Bunda, ayahku belum mati! Belhenti menyumpahinya! Jangan membohongiku, lagi! Bunda bisa membohongi Alin tapi tidak dengan, Alan."
"Alan. Cukup! Sekarang tidurlah. Ini takdir kita. Kalian sungguh tidak memerlukan, ayah. Kalian hanya milik, Bunda!" ungkap Erine tak bisa dibantah.
"Alan melindukan ayah, Bunda! Bisakah bunda mengerti itu?! Aku menginginkannya!" jujurnya penuh luka.
Erine menutup mulutnya, bagaimana bisa Alan merindukan sosok yang tidak pernah ia lihat? Bagaimana bisa terjadi hal seperti ini? Sejak kapan.
Mustahil.
"Tidak, Alan. Bunda tidak mendengarnya. Kembalilah tidur ke kamarmu! Ini sudah larut." perintah Erine tidak ingin dibantah, berbalik dan hendak kembali berbaring.
"Kenapa?! Apa yang calah di cini?! kenapa ayah, begitu mengganggu bunda? KENAPA AKU DAN ALIN TIDAK BOLEH MELIHAT AYAH?! JELASKAN PADAKU. KENAPA KITA TIDAK BERSAMA AYAH?!" Tanya Alan tak mau kalah.
Alin terbangun mendengar suara kencang saudara kembarnya dan menatap Erine yang berdiri kaku menatapnya.
Erine berbalik kembali menatap Alan, "Kanapa?... Baji***n itu tak pantas mendapatkannya! Dia tidak berhak mendapat kasih sayang, kalian! Apa Bunda salah melindungi mu dan Alin?! Apa bunda harus berbagi anak setelah berbagi suami?! KAU INGIN ITU, HA?!" Bentak Erine lantang dengan menahan tangis di pelupuk mata.
"Bu—Bunda. Apa yang teljadi? Dan kau. Kau sungguh berisik, Kak." ujar Alin kesal dengan wajah bangun tidur.
"Aku hanya ingin tau. Di mana ayahku, mengapa orang lain memilikinya, tapi kami tidak?! Apa kehadiran kami sebuah dosa?"
"Apa maksudmu? Kau bukan dosa. Kalian hidupku. Cobalah mengerti maksudku, Alan. Is that so hard for you to understand?"
"Jika bukan dosa. Lalu kenapa ayah meninggalkan kita?!"
"Dia sudah mati. Kau dengar?! DIA SUDAH MATI!"
"Benalkah. Di mana kubulannya? Alan ingin melihatnya! Biarkan Alan melihatnya sendili." ujar Alan tak mau kalah.
Erine memijat pangkal hidungnya, "Untuk apa kau mengetahuinya? Apa itu begitu penting bagimu?!"
"Alan hanya ingin mengetahuinya, tidak lebih."
"Bunda, apa yang terjadi?! Kalian sungguh mengabaikan ku?!" Alin merangkak turun mendekati Erine setelah cukup banyak mencuri dengar.
"Bukankah kau ingin melihat ayah, Alin? Katakan pada Bunda! Katakan kau juga ingin beltemu dengannya." ujar Alan dengan niat yang tidak Erine mengerti.
"A—ayah? Sungguh? Aku bisa melihatnya? Alin ingin ayah, Bunda. Di mana ayah?" tanya Alin antusias, masih belum memahami situasi.
"ALAN! BERHENTI MENGHASUT ADIKMU! APA KAU SUNGGUH INGIN MEMBUNUH BUNDA DENGAN SEMUA INI?!" Bentak Erine dengan suara menggelegar.
Alan melompat turun dari atas meja rias berjalan mendekati Erine.
"Ayahku belum mati! Aku mendengalnya sendili. Dia masih hidup! Aku juga melihatnya dengan mataku! Dia sehat dan tidak cacat! Kebohongan mana yang halus Alan pelcaya?! Ayah yang mati atau Bunda yang telus berbohong?!"
"Ka—kau melihatnya? Di—di mana. Di mana, Alan?!" Tanya Erine gugup.
"Itu tidak penting. Apa ini benal—ayah? Dia sungguh ayahku? Katakan, Bunda. Benarkah dia ayah kandung ku?!" tanya Alan memberikan sebuah foto lecek pada Erine.
Erine membulatkan mata sempurna, tak percaya menatap foto di tangannya. Foto saat Ammar memeluk tubuhnya dari belakang dengan mengecup pipinya mesra.
Alan menggeleng, "sudah Alan katakan. Itu tidak penting. Benalkah dia ayah?! Jawab, Bunda!"
Alin meraih foto di tangan Erine, matanya membulat sempurna. "A—Alan, Apa ini benal?! Sungguh dia..." ujar Alin terisak menatap foto di tangannya.
Alin berjalan mendekati Alan, menggoyang lengannya dengan kuat meminta kepastian. "Alan, jawab aku. Tidak-tidak, Kakak! Katakan padaku, benalkah ini?!"
Alan seakan bungkam seribu bahasa.
"Mengapa jika itu 'benar? Apa yang terjadi jika dia ayahmu, haa? Apa kalian berniat meninggalkan, Bunda? Benar begitu?! JAWAB BUNDA!! Kalian ingin bersama baji***n itu, benar begitu?!"
Erine tak sanggup menopang berat tubuhnya lagi, hingga perlahan terjatuh ke lantai, menangis terisak bersama kedua anaknya yang menatapnya tak percaya.
"Kalian ingin bersamanya, benar? Katakan! Kau sungguh ingin?! Maka—pergilah."
"Bu—Bunda..." Alin semakin terisak.
Erine menatap datar kedua anaknya. "Jangan pedulikan, aku. Pergilah. Temui ayahmu dan jangan mencari ku lagi."
"Bunda. Ak—aku tidak..." Ujar Alan tercekat ludahnya sendiri.
"KENAPA MASIH DI SINI?! PERGILAH! KALIAN INGIN MENINGGALKAN BUNDA, BUKAN?! SEKARANG JUGA, PERGI! CARI BAJI***N ITU!"
Mira yang mendengar keributan dari luar kamarnya, terkejut saat membuka pintu kamar Erine yang menjadi sumber keributan.
"Astagfirullah, apa yang terjadi? Apa ada maling?!" ujar Mira terkejut melihat semua orang menangis.
Alin berlari memeluk kaki Mira, bertanya banyak hal mengenai ayahnya.
"Tante, benarkah ini, ayah? Mengapa ayah tidak bersama kita? Apa ayah membenci aku dan Alan? Tante, mengapa ayah meninggalkan kami?!" tanya Alin bertubi-tubi sambil terisak.
Mira terdiam, menatap Erine dan Alan bergantian. "Alin, jangan menangis lagi. Ay—Ayah sedang bekerja, bisakah kita bicarakan ini saat pagi? Ini terlalu larut untuk berdebat."
Mira menggendong Alin, mengusap air matanya yang terus mengalir, "Alin ingin tidur bersama, Tante?"
Alin mengangguk, menangis sesegukan.
"Baiklah... Alan, kemari!" Alan berjalan perlahan kearah Mira, baru beberapa langkah Alan berbalik dan memeluk tubuh ibunya.
"Maaf, Bunda. Maafkan, Alan." ujarnya terisak penuh penyesalan.
Tidak ada pergerakan yang Erine lakukan, hanya terisak memandang dinding kamar. Merasakan hangat tubuh kecil Alan yang memeluknya erat.
Mira menurunkan Alin, memberi mereka waktu menyelesaikan masalahnya. Perlahan Alin melangkah, ikut memeluk tubuh Erine.
"Bunda. Maaf. Maafkan Alin, Bunda!"
Erine yang kembali tersadar lantas mendekap tubuh kedua anaknya, Ia menyadari tidak ada yang bisa disalahkan dari keinginan kedua buah hatinya.
Yang salah bukanlah anak-anak. Tapi, mereka orang dewasalah yang memulainya sejak awal.
🕸️🕸️🕸️
Pagi hari. Ammar menyantap sarapan dengan cepat, melirik Echa yang terus menatap wajahnya.
"Ada apa, Sayang?" tanya Ammar selesai meminum air hingga tandas.
"Papa... berhentilah bekerja hingga larut! Aku merindukanmu, bisakah kita berlibur bersama? Teman-temanku melakukan itu bersama Papa dan Mama mereka!"
Karina tersenyum tipis, "Papamu terlalu sibuk, Sayang. Mana mungkin meluangkan waktu untuk berlibur bersama kita. Benarkan, Mas?"
"Benarkah, Papa? Mengapa?"
Alan menatap Echa, "Papa akan menelpon mu, nanti. Berlibur lah bersama Mama, perusahaan dalam keadaan sibuk akhir-akhir ini. Papa tidak bisa untuk berlibur bersama." jawab Ammar mengabaikan Karina.
Echa membanting sendok kesal, "Aku ingin bersama, Papa!"
"Echa... mengertilah! Papa bekerja untuk memenuhi kebutuhanmu."
"Papa yang harus, mengerti! Papa bisa meminta sekretaris atau asisten pribadi papa yang mengurusnya 'kan? Kenapa selalu Papa?!" Echa memberi perlawanan.
"Echa, nikmati makananmu, Sayang." ujar Karina tida berniat menasehati putrinya.
"Papa! Echa ingin berlibur bersama, berhentilah bekerja! Kita memiliki cukup uang untuk memenuhi kebutuhan Echa, itu tidak akan habis."
"Ayolah, Mas. Libur tiga sampai empat hari tidak akan membunuh perusahaan mu." ujar Karina membela Echa.
Ammar terdiam, semakin hari Karina membawa pengaruh buruk pada Echa. Ammar khawatir, Echa menjadi seperti ibunya.
"Papa! Dengarkan, aku!"
"Echa! Berhentilah bertingkah! Jadilah gadis penurut." Ammar mengusap wajahnya kasar, "Sekolah yang benar, liburan di jam sekolah tidak baik untuk pendidikan mu." ujar Ammar berlalu pergi.
Karina menatap punggung Ammar yang semakin menjauh.
"Echa, kemari lah!" ujar Karina pada putrinya yang merengut. "Kamu ingin liburan bersama papa, bukan?"
Echa mengangguk antusias, "Itu gampang, sekarang dengarkan, Mama!"
Karina menjadikan putrinya tameng di balik pernikahannya bersama Ammar.
Memupuk keburukan ... merusak jiwa putrinya.
'Lihat saja Ammar, kau bisa apa setelah ini? Melawan dan mencampakkan ku? Tidak semudah itu! Lihat dan nantikan. Permainan baru saja dimulai.'
...
..."Kebiasan dan tabiat buruk tidak akan hilang hanya karena sebuah nasehat. Sesuatu dalam diri akan berubah jika diri sendiri yang berniat merubahnya."......
...-NonaotinMichisu...
...🕸🕸🕸...
Hallo! 🤍
Please, beri dukungan dengan Like and comment.
Terima kasih.
"Tanpa readers author bukanlah apa-apa."