
Matahari sudah menampakkan wujudnya tetapi tidak terlalu memancarkan sinar karena sudah masuki musim penghujan.
Ammar melirik jam tangan yang melingkar di tangan kirinya, jarum pendek sudah menunjuk angka lima. Bergegas, Ammar melangkah keluar meraih jas kantor beserta kunci mobil dan berjalan menuju parkiran kantor.
Kabar yang baru saja di sampaikan Arman membuat Ammar yang hendak mengumpat berubah bahagia. Bagaimana tidak? Erine secara pribadi menghubungi asistennya untuk bertemu dengannya di sebuah c**b.
Setelah drama kecil yang mereka lalui bersama anak-anak—kini mereka kembali bertemu. Bukankah ini disebut peluang? Ammar kesulitan menjelaskan gejolak hebat di hatinya.
Saat menaiki lift, senyum Ammar tak kunjung pudar, bak remaja yang sedang kasmaran. Membayangkan kebersamaannya bersama Erine membuatnya kehilangan akal sehat.
Astaga.
Pikiran-pikiran mereka akan kembali membina rumah tangga yang telah runtuh mengisi kepala Ammar. Sarapan pagi yang tersuguh rapi, kamar yang hangat, tawa yang nyaring, morning ki*s yang menemani paginya.
Sempurna.
Tidak ada keinginan yang lebih ia harapkan hanya kembali bersama wanitanya. Benarkah wanitanya? Ammar kembali tersenyum mengingat wajah cantik Erine tersenyum lembut menatapnya.
Wanita yang cantik.
Dering ponsel mengalihkan perhatian Ammar yang saat ini berada di parkiran kantor.
Karina is calling...
Wajah Ammar yang semula bak remaja jatuh cinta berubah suram saat mendapati nama Karina di layar ponselnya.
"S**t, bisakah Kau berhenti mengacau?!" umpat Ammar kesal.
Ammar mengabaikan panggilan Karina, berjalan masuk ke kursi kemudi. Tak berselang lama ponselnya kembali berdering. Dengan malas Ammar menggeser tombol hijau ke samping kanan.
"Apa?" ketus Ammar.
"Mas... Udah pulang? Kita pergi makan malam bareng, yuk!"
"Aku sibuk, Kar."
"Kenapa? Emang kamu lagi ngapain, Mas? Jangan bilang kalau kamu mau lembur, lagi."
"Berhentilah mencampuri urusanku, Kar! Harus berapa kali aku mengatakannya. Hubungan ini cuma sementara, tidak akan bertahan lama. Kau yang memaksa ku sejak awal. Berhenti lah menuntut lebih! Kau tau aku hanya mencintai, Erine." ungkap Ammar kesal.
Di sebrang sana Karina sempat tertegun selama beberapa saat sebelum pada akhirnya kembali berbicara, "Kenapa harus sementara? Kenapa tidak selamanya? Dan kenapa selalu Erine, Erine, dan Erine? Kenapa bukan aku, Mas? Aku bisa kasih kamu anak! Tidak seperti dia! Aku istri kamu, buk—"
"Karena kau bukan, Erine!" Sergah Ammar dengan nafas tak beraturan.
"Stop, Mas!"
"Aku cuma punya satu cinta, Kar. Jika bukan karena malam lak**t itu, aku tidak akan pernah meninggalkan Erine!" Ammar menarik nafas dalam, lalu kembali melanjutkan perkataannya, "Aku tidak akan pernah bisa melihatnya menanggung beban atas dosaku! Terutama menanggung luka dari ulah kotor mu."
"Aku tidak peduli tentangnya! Dia mati pun, aku tidak akan peduli! Gimana sama, aku? Kamu jangan lupa apa yang bisa aku perbuat sama jal**g itu, Mas! Sekarang dia udah di sini, aku bakal laporin kamu kalau kamu berani macam-macam sama aku."
"Berhenti bersikap semau mu, Karina! Kau selalu mengancam dan mengusik ketenangan ku. Apa Kau benar-benar wanita? Dimana nurani mu saat melukai wanita lain? Aku meragukan kewanitaan mu!"
Terdengar kekehan mendalam dari sebrang telepon, "Kau benar-benar berani, Mas. Aku pasti akan membuatmu bertekuk lutut dan memohon ampun atas ucapan mu hari ini! Aku akan melakukan itu, lihat saja! AKU AKAN MEMBUNUH JAL**G ITU UNTUKMU!" ujar Karina murka.
"Lakukan sesuka mu! Aku tidak akan pernah membiarkan kau kembali membuat kekacauan dihidup ku. Termasuk niat kotor mu, tidak untuk kedua kalinya!" Ammar berucap dingin, tanpa basa-basi langsung memutus sambungan telepon.
"Argh...!!!" Ammar melempar ponselnya asal lalu memukul stir kemudi menyalurkan rasa frustasi bercampur benci terhadap situasi yang ia alami saat ini.
Sekitar sepuluh menit menenangkan diri. Ammar melajukan mobilnya mengitari kota, melewati jalanan yang dipenuhi kendaraan yang mulai terjebak macet.
Ammar berhenti di seberang jalan tepat di depan toko Erine berada, niat Ammar menemui wanita itu pupus saat melihat tulisan terpajang di depan pintu toko.
CLOSED.
"Bukankah ini hari kerja? Mengapa Erine tutup begitu cepat?," gumam Ammar pada dirinya sendiri.
Ammar kembali melajukan mobilnya, mengambil jalur putar balik ke arah apartemen yang baru saja ia beli saat mengetahui Erine memiliki anak bersamanya.
Putra-putrinya.
🕸️🕸️🕸️
Erine menghela nafas untuk yang kesekian kalinya kala hari yang ditunggu tiba. Dengan sekali tarikan nafas, Erine menatap gedung tinggi nan megah dan melangkah memasuki ni**t c**b yang terletak di pinggir kota jakarta.
Suara musik berdentum kencang memenuhi ruangan, memekak gendang telinga, dengan pencahayaan yang minim. Hanya lampu kerlap-kerlip yang terus berganti mewarnai dance floor menambah gejolak para penikmat dunia malam.
Erine duduk di sisi bartender. Menatap nanar tubuh berlenggak-lenggok tanpa beban, suara bising bercampur des***n orang-orang tanpa urat malu melepas hasrat di tempat terbuka.
'Menjijikkan! Aku tidak akan menginjak tempat ini lagi,' bathin Erine.
Suara dering pesan berbunyi dari ponselnya, Erine melirik pesan singkat yang tertera nama orang yang saat ini ia tunggu.
Ammar
Dek, Mas udah di dalam. Kamu di mana?
Erine menatap malas pesan yang ia ketahui milik mantan suaminya—Ammar.
^^^Anda^^^
^^^Bartender. ^^^
^^^Send...^^^
Erine memesan satu gelas vod** mengambil salah satu obat di dalam tasnya yang akan melancarkan aksi gilanya pada malam ini.
Permainan dimulai.
Dengan smirk menghiasi bibirnya, Erine memutar sedikit gelas melarutkan obat menghilangkan jejak yang mungkin saja tertinggal.
Tidak menunggu lama. Ammar datang memakai kemeja berwarna navy dengan lengan yang digulung hingga siku, tampak wajah tampan yang kini ditumbuhi rambut halus di sekitar rahang tegasnya, sungguh penampakan yang menggoda pertahanan Erine.
Ammar sedikit berdehem menetralkan kegugupannya, "Ehm, sudah lama, Dek?" Tanyanya basa-basi.
"Tidak. Aku baru sampai."
"Mengapa memilih tempat ini? Bukankah ini pertama kalinya bagimu ketempat seperti ini?" ujar Ammar yang tampak penasaran.
Erine terkekeh ringan, masih dengan tangan yang memutar gelas. "Ini tidak terlalu buruk untuk wanita sepertiku. Di sini cukup menyenangkan."
"Apa maksudmu, Dek? Kamu bukan wanita seperti itu, jangan merendahkan dirimu."
"Lupakan. Minumlah, Aku sudah memesannya untukmu." Ujar Erine memberikan minuman di tangannya. "Ada baiknya, kita melupakan problem kita sesaat. Bukan begitu, Mas?" Sambungnya lagi meyakinkan Ammar.
Ammar menghela nafas gusar, Erine berubah 180 derajat dari yang ia kenal sebelumnya. Ini ulahnya yang tidak berkata jujur terkait masalah yang ia hadapi. Tapi salahkah jika itu demi kebaikan, Erine? Pada kenyataannya, cepat atau lambat semua tetap berakhir menyakiti wanita di hadapannya.
Hidup tidak sesederhana ujian ganda.
Ammar menerima gelas dari tangan Erine, sebelum meminum vod** dalam genggamannya, Ammar menatap Erine lekat.
Erine terlihat gelisah sesaat sebelum merubah mimik wajahnya tersenyum lembut seakan berkata—silahkan diminum.
Ammar meneguk habis vod** tersebut, kembali menatap wajah Erine yang sepersekian detik berubah datar seperti saat mereka bertemu terakhir kali.
"Ehm, Bagaimana kabar mu? Apa anak-anak sehat?" ujar Ammar ingin mencairkan suasana canggung di antara mereka.
"Tidak buruk. Juga tidak bisa dikatakan baik."
"Apa yang terjadi? Kamu sakit, Rin? "
Erine menatap Ammar sinis, "Apa yang ingin kau dengar? Kita masih memiliki sedikit waktu untuk bercerita. Aku rasa... Kau begitu peduli urusanku, Mas." ujar Erine penuh sindiran.
"Mas peduli, Rin! Bahkan sampai detik ini, Mas tidak pernah berhenti peduli." ujar Ammar menggebu-gebu.
"Benarkah? Kau terus menyanjungku setiap kali kita bertemu. Haruskah aku memberi aplaus untukmu?" Dengan gerakan cepat Erine bertepuk tangan. "Tapi... apa perselingkuhan termasuk salah satu dari bentuk peduli mu, Mas? Benar, begitu?"
Belum sempat menjawab, Ammar merasa pusing dan panas ditubuhnya meningkat.
"Apa yang terjadi." Ammar melirik Erine, "Kamu sengaja melakukan ini, Dek?" ujar Ammar tak percaya, membuka dua kancing teratas kemejanya.
Erine enggan menjawab, beranjak dari duduknya membopoh tubuh Ammar yang mulai lemas ke ruang VIP, yang sejak semalam sudah ia persiapkan.
Sepanjang perjalanan, Ammar beberapa kali mengendus leher jenjang Erine, membuat bulu di sekitar lehernya meremang.
"Bisakah kau berhenti melakukannya?!" sentak Erine yang tak dihiraukan Ammar.
"Kau yang memulainya, aku hanya sebagai korban di sini." ujar Ammar asal.
Erine melirik ruangan yang tak jauh dari tempatnya akan meletakkan Ammar, tampak Mira berjalan keluar bersama Liza temannya semasa di sel tahanan.
"Kalian sudah memastikan semuanya aman terkendali?" tanya Erine memastikan.
"Jangan khawatir, semua sudah siap. Tinggal giliran mu." sahut Mira yakin.
Mira membantu Erine meletakkan tubuh lemah Ammar di atas ranjang, dengan sengaja melepas satu buah kancingnya lagi, memperlihatkan otot-otot tubuh Ammar yang menggoda.
Ammar menatap Erine dan Mira yang tampak mengeluarkan borgol dan menggantung salah satu tangannya ke tiang besi di samping ranjang.
"A—apa yang akan kalian lakukan? Dek, jangan lakukan ini. Mas, mohon." ujar Ammar yang menggeliat kepanasan.
"Hanya permainan sederhana, bukankah ini adil? Aku yakin, kau menyukainya." ujar Erine mengambil ponsel Ammar, mengetikkan sesuatu dan mengirim pesan tersebut ke salah satu kontak di ponsel Ammar.
Tak lupa Erine menghidupkan siaran langsung menyorot mantan suaminya, ada perasaan ingin menghentikan aksi gilanya tersebut, namun semua sudah kepalang jauh ia lakukan.
Terngiang-ngiang larangan Alan yang menolak Erine membalas dendam pada ayahnya. Permintaan dewasa dari seorang anak yang tidak ingin melihat ayahnya terluka.
'Adakah yang mengerti kondisiku saat ini? Kurasa tidak.' gumam Erine tak jelas.
Erine menekan pangkal hidungnya, meletakkan kembali ponsel di nakas samping ranjang yang tak jauh dari tempat Ammar berada. Ia tidak bisa melakukan hal itu, bayangan Alan dan Alin sungguh menghantuinya.
'Bersyukurlah! Peringatan Alan menyelamatkanmu malam ini!' bathin Erine.
"Erine!" pekik Ammar dengan nafas naik turun.
"Ada yang ingin kamu sampaikan, Mas?"
"Jangan lakukan ini! Percaya padaku, kamu akan menyesalinya!"
Erine terkekeh sumbang, "Menyesalinya? Aku akan lebih menyesalinya jika tidak melakukan ini padamu! Pernahkah kau tahu rasanya di balik jeruji besi, Mas? Bagaimana aku bertahan hidup untuk menunggu hari, ini?," Erine menatap Ammar lekat-lekat, "Kau tidak akan pernah tau—atau mungkin kau memang tidak ingin tau."
Erine hendak meninggalkan ruang VIP tersebut, menyisakan tiga wanita bayaran yang secara khusus Erine siapkan untuk menemani Ammar bermain.
"Berdoalah seseorang tidak terlambat menolong mu!" ujar Erine di ambang pintu sebelum melangkah meninggalkan Ammar yang terus meneriaki namanya.
"Bagaimana dengan itu?," Erine melirik Liza yang tersenyum penuh makna.
"Jangan khawatir. Mereka sudah di bawah. Beri saja tips lebih untukku, bagaimana?" ujar Liza sambil menggerakkan jarinya meminta upah.
"Kau sungguh mata duitan." Ujar Erine sambil terkekeh ringan.
Liza menghela nafas kecil, "uang bukan segalanya, tapi segalanya membutuhkan uang."
Happy Reading!!
Terus ikuti ceritaku ya. Akan banyak rahasia yang terbongkar, pastikan kalian tidak melewatkannya.
Yuk, terus like dan comment cerita aku. Jangan lupa share juga ke teman-teman kalian untuk meramaikan cerita ini.
Terima kasih 🤍