
Flashback on.
Air mata Karina terus mengalir. Sesekali ia meringis merasakan gesekan antara jas dengan kulitnya yang terluka akibat sayatan sebilah pisau mini milik wanita bertopeng hitam yang telah menjebak suaminya.
Karina bersumpah akan membalas perbuatan wanita itu berkali-kali lipat lebih menyakitkan dari yang ia perbuat pada dirinya.
"Apa yang terjadi padamu?" ujar Qing Dotay melihat adiknya menangis.
"Seseorang melukaiku. Mereka menyakitiku, Kak!" adu Karina semakin terisak.
Qing Dotay berjalan mendekati Karina, memberikan sebotol air mineral untuk menenangkannya. "Siapa yang berani menyakitimu, hm? Kau tinggal menyebut nama samaran ku. Tidak akan ada yang berani menyentuhmu seujung kuku pun." Ucapnya belum mengetahui apa yang terjadi.
Karina menggeleng, "Aku tidak mengenalnya. Tapi kurasa mereka mengenalmu."
"Apa maksudmu? Siapa yang mengenalku, kau tahu sindikat gelap tidak mengekspos identitas asli mereka. Jangan bercanda, Kar!"
"Aku tidak bercanda. Mereka mengenal nama samaran mu dan tidak merasa takut sedikitpun. Mereka tetap berani menyiksaku dengan sangat kejam. Bahkan, mereka berani mengusik Ammar di depan mata kepalaku sendiri." Adu Karina.
Aura mencekam terasa mendominasi, urat-urat di leher Qing Dotay semakin menebal, "mereka tetap berani menyakitimu walaupun kau telah menyebut namaku? Mustahil. Kecuali, kau bermasalah dengan mafia besar lainnya."
Karine membuka jas hitam yang membalut tubuhnya, "Lihat! Mereka melakukan ini padaku! Ini sungguh menyakitkan. Kau harus membalasnya untukku, Kak! Sekarang kau percaya padaku, kan?!"
Pandangan Qing Dotay beralih menatap sayatan di bahu kanan Karina. Matanya membola sempurna, walaupun darah menutup bentuk sayatan tersebut, tapi bisa dipastikan itu sebuah bentuk simbol yang memiliki maksud tertentu.
Secepat kilat Qing Dotay berjalan mengambil kotak P3K di dalam apartemennya untuk menghentikan darah di bahu kanan Karina.
Qing Dotay menyumbat paksa mulut Karina menggunakan kain perca berwarna putih, dengan perlahan membersihkan luka tersebut menggunakan alk***l.
Sorot khawatir yang semula ia tunjukkan berubah tajam, terlihat urat-urat di sekitar wajah hingga leher telah menegang, saat simbol di bahu kanan Karina terlihat jelas oleh matanya
"Siapa yang berani melakukan ini padamu?! Katakan padaku!" tanya Qing Dotay dingin.
Karina membuka sumpalan pada mulutnya, melirik wajah kakaknya dengan mata sembab dan ingus naik turun.
"A—aku tidak tau. Aku tidak mengenal mereka, Kak. Mereka bertiga menggunakan topeng hitam." ujar Karina tersendat-sendat.
Brakk...
Qing Dotay membanting kotak P3K yang ia letak di atas nakas tepat di samping sofa. "Apa yang kau katakan pada mereka? Mereka tidak akan menyakitimu seperti ini jika kau tidak mengatakan sesuatu yang memancing emosi mereka." ujar Qing Dotay dengan emosi menguap.
Karina tercekat oleh ludahnya sendiri, "Ti—tidak ada, aku tidak mengatakan apa pun. Aku hanya memintanya menjauhi suamiku, apa aku salah? Kenapa kau terus membentak ku? Kau tidak menyayangi ku lagi, haa?!"
"Bagaimana mungkin? Aku tentu menyayangimu. Maafkan aku."
"Aku tidak akan memaafkan mu, sebelum kau membalas mereka untukku. "
Qing Dotay mengusap wajahnya kasar. "Baiklah, sekarang katakan padaku. Apa kau memiliki musuh dengan salah satu dari anggota mereka?"
Karina menggeleng.
"Astaga. Bagaimana mungkin!"
"Aku berani bersumpah. Aku tidak pernah mengusik mereka sekalipun."
"Lalu di mana mereka melakukan ini? Tidak mungkin di kediaman mu, kan?" selidik Qing Dotay tak mempercayai Karina sepenuhnya.
"Ti—tidak. Mereka menjebak Ammar di sebuah cl*b malam, dan menghubungiku untuk menjemputnya. A—aku hanya..." Karina mencari jawaban yang tepat untuk menyelamatkan dirinya, "Aku dan Mas Ammar hanya menghadiri acara lepas lajang temanku. Mana aku tahu di sana ada mereka." bohong Karina.
Qing Dotay menyadari kebohongan adiknya, "Karina-Karina, sindikat gelap bukan anggota yang bekerja sesuka hati! Kau jangan membodohi ku. Aku bertanya sekali lagi padamu. Mengapa kau bisa berada di sana dan menjadi seperti ini?"
Karina menegakkan duduknya, menatap takut wajah merah padam milik kakaknya.
"A—aku mendapat pesan dari ponsel Ammar. Aku sungguh tidak membohongi mu, kak. Seseorang mengirim fotonya dan menyuruhku menyelamatkannya segera..." Karina menjeda ucapannya, "Tapi tunggu, di sana begitu banyak wartawan, saat aku menerobos masuk. Tiga wanita itu terlihat menggoda suamiku. Aku hanya ingin membantunya! Sungguh!"
Kening Qing Dotay tampak berkerut, "Lalu?"
"Apa lagi?! Kau berniat membantuku atau mewawancarai ku?" Sergah Karina.
"Bagaimana bisa kau mendapatkan simbol ini?! Ini bukan sesuatu yang baik, kau akan dalam masalah jika ini diketahui mafia lainnya. Mereka bisa saja menargetkan mu setiap waktu. Sedangkan aku tidak bisa terus berada di sisimu untuk membantu, Kar. " Ujar Qing Dotay balik membentak.
Karina gemetar ketakutan, nafasnya mulai tidak beraturan. "K—kak, apa yang harus kulakukan? Aku sungguh tidak menyinggung mereka."
Qing Dotay mendekati Karina, menyelami mata adiknya. "Sekarang katakan, apa yang terjadi saat kau di sana."
Karina berpikir keras. Jika ia tidak mengatakan yang sebenarnya, masalah ini hanya akan membuat nyawanya terancam di waktu tak terduga. Perlahan ia menegakkan kepalanya menatap wajah serius Qing Dotay.
"Mereka yang terlebih dulu memakiku, Kak. Mereka memberi suamiku obat peran****g, mereka juga mel*c*hkannya, aku hanya membalas perbuatan mereka! Aku hanya membela diriku, sungguh!"
"Lalu?"
Karina menghirup udara cukup banyak, melirik kakaknya sekilas. "Aku sudah menyebutkan namamu. Tetapi mereka tetap tidak memberiku ampun. Kau lihat, mereka langsung melakukan ini padaku." ujar karina cepat.
Qing Dotay menjambak rambutnya kasar, "Kau tau mereka dari sindikat gelap? Mengapa kau berani menyebut namaku, Kar?!"
"Mana aku tau, Kak. Mengapa kau terus menyalahkan ku?! Aku mengira mereka hanya jal**g biasa. Siapa yang bisa menduga bahwa mereka bagian dari Mafia." ujar Karina membela diri.
Qing Dotay berjalan menjauhi Karina beberapa langkah, menyandarkan tubuhnya ke dinding.
"Apa ada yang mengikutimu sampai ke sini?"
"Tidak. Aku meminta anak buah Ammar memesankan ku taksi. Dia hanya mengantarku setengah jalan dan langsung pergi."
"Sekarang dengar aku. Jangan pernah tunjukkan luka ini pada siapapun! Itu berbahaya untukmu, kau mengerti?."
"Ke—kenapa? Aku bisa melakukan operasi, bukankah itu mudah?,"
Qing Dotay menggeleng pelan, "Pisau mereka dirancang khusus, Kar! Kau hanya akan memperburuk keadaan jika melakukan itu."
"Bagaimana mungkin? Jangan menakuti ku, Kak. Mengapa kau mengkhawatirkan simbol ini? Apa kau mengetahui apa maksdunya?" tanya Karina penasaran.
"Terserah. Aku sungguh lelah berdebat denganmu." ujar Karina kesal.
"Di mana, suamimu? Kau tidak pulang bersamanya, haa?! Jangan katakan, dia mencampakkan mu setelah kau menyelamatkannya."
"Aku tidak ingin menjawabnya. Kau tau semuanya, Kak." Karina memalingkan wajahnya dari Qing Dotay.
"Kenapa kalian tidak bercerai saja? Aku bisa mencarikan pria yang jauh lebih baik dan pastinya menyayangimu, Kar!"
"Tidak! Selamanya tidak akan pernah! Kau ingat apa yang dilakukan mantan istrinya pada kita, Kak?! Karna dia aku kehilangan hidupku!"
"Dia tidak bersalah, Kar. Itu keputusanmu!"
Dotay menatap sendu Karina, tampak luka masih membekas di hatinya.
"Aku akan membalasnya, aku akan membunuhnya perlahan. Sama seperti luka yang kau rasakan selama ini. Sekarang kau bisa istirahat di kamarku. Aku harus pergi memastikan sesuatu." Pinta Qing Dotay pada adiknya.
"Kau harus berjanji, jangan biarkan dia hidup bahagia, Kak. Aku tidak akan bisa tenang melihatnya bahagia!"
Qing Dotay kembali mendekati Karina, membawa tubuh gemetar Karina dalam dekapannya.
"Aku berjanji. Aku berjanji padamu." ujar Qing Dotay sedikit ragu.
Flashback off
🕸️🕸️🕸️
Ketika semua orang dan semua media tengah sibuk membicarakan anjloknya pasar saham yang melibatkan skandal pengusaha muda dari perusahaan Nawas Group. Erine malah tidak menyimak dan berkomentar sama sekali. Selain tidak berminat, Erine juga tidak memiliki rasa ingin tahu mengenai kelanjutan skandal mantan suaminya.
Seperti pagi yang cerah, seharusnya mencerminkan suasana hati yang senang. Sayangnya, kalimat itu sama sekali tidak mencerminkan suasana hati Erine yang saat ini termenung di depan pintu kamar Alan dan Alin.
Erine memutar knob pintu. Menatap wajah Alan dan Alin yang tertidur di atas ranjang, wajah teduh yang mampu menghilangkan sedikit beban di pikirannya.
Perlahan Erine berjalan mendekati anaknya, memilih duduk di pinggir ranjang tepat di sebelah Alan. Erine teringat kenangan saat Ammar menceritakan masa kecilnya dulu, sama persis seperti Alan saat ini—Bagai pinang dibelah dua.
Tangan Erine mengelus lembut kepala Alan, yang tidak Erine sadari ia membangunkan Alan dari tidurnya. Mata Alan terbuka perlahan, memperlihatkan pemandangan wajah Erine yang tersuguh indah di hadapan nya.
"Bunda..."
"Alan. Bunda mengganggu tidurmu, Nak? Maafkan, Bunda." Ujar Erine merasa bersalah.
"Tidak. Bunda kapan datang?"
"Baru saja. Alan merindukan, Bunda?"
"Ehm... Tentu, Bunda pelgi begitu lama."
"Hanya 3 hari, Alan. Sekarang Bunda di sini, kan?." Alan mengangguk mengiyakan.
Erine menatap wajah Alan yang menggemaskan, "Bagaimana jika siang ini kita ke taman hiburan. Alan mau?"
"Hanya kita, Bunda?"
Erine menggeleng, "Tidak. Tante Mira juga ikut bersama kita. Bagaimana, kamu setuju?"
Alan mengangguk cepat, menatap wajah Alin yang masih tertidur dengan pulas. Dapat dipastikan Alin sedang berkelana bebas di alam bawah sadarnya. Mencari kuda poni yang menari-nari di atas kayangan.
'Khayalan tidak penting yang dimiliki seorang gadis bodoh,' pikir Alan.
Alan menggoyang bahu adiknya untuk bangun dan bersiap. "Alin... Bangun. Bunda di sini, bukannya semalam kau mengeluarkan banyak ingus untuk menemui, Bunda? Sekarang, bangunlah!"
Alin menggeliat sedikit dan kembali tertidur. "Alin... Cepatlah bangun! Kau ingin menjadi kerbau bau?!" Ujar Alan lagi.
"Sebental, Kak. 5 menit lagi. Nanti saja kita mainnya. " ujarnya masih dengan mata terpejam.
Alan berjalan menuruni ranjang, meminta Erine menemaninya mandi. Rindu membuat bocah laki-laki ini sedikit manja dari biasanya. Suatu keajaiban Alan mau bermanis ria bersama ibunya.
Seusai memandikan Alan, Erine membangunkan Alin sekali lagi, menakutinya bahwa ia akan ditinggalkan jika tidak juga bangun dan segera bersiap. Sedangkan Alan, ia menunggu Erine di depan pintu kamar mandi dengan sebuah handuk bertengger di pinggangnya.
"Alin, bunda tidak akan membangunkan mu lagi. Jadi putuskan sekarang, Alin ingin bangun dan ikut Bunda. Atau, lanjutkan tidurmu dan tinggal bersama nenek di rumah?!." Ancam Erine yang langsung membuat Alin bangkit dari tidurnya.
Alin tampak merengut mendengar ancaman ibunya, "Ikut, Bunda."
"Come on! Sekarang giliran Alin untuk bersiap." Ujar Erine sambil merapikan anak rambut Alan yang sedikit berantakan.
Dengan malas Alin menuruni ranjang, wajah khas bangun tidur tercetak jelas di wajahnya yang sedikit chubby.
"Kita mau kemana, Bund?" ujar Alin menatap wajah ibunya.
"Mandi dulu, nanti juga tau. Kak Alan udah nungguin, Alin mandi sekarang, yaa."
Alin mengangguk. Merentang tangannya untuk diraih Erine dan meminta Erine menggendongnya hingga ke kamar mandi.
Dengan senang hati Erine meraih tangan mungil yang sejak beberapa hari lalu ia rindukan. Tangan yang selama ini menguatkannya untuk terus bertahan di tengah badai yang menerpa hidupnya.
Apa yang harus Erine lakukan jika Alan dan Alin tahu apa yang ia lakukan pada ayah mereka. Mungkinkah mereka akan membencinya? Atau bersikap biasa saja dan tetap menyayanginya?. Perjumpaan Alan dan Alin bersama ayahnya terekam jelas di benak Erine, rindu yang selama ini terpendam membuncah di saat yang tak terduga.
'Maafkan bunda, Nak. Bunda belum siap untuk sekedar memaafkan ayahmu.' Bathin Erine berkata lirih.
Hallo!
Apa kabar? Semoga pembaca setia infidelity selalu dalam keadaan sehat, Aamiin.
Terus dukung cerita ini dengan like, comment, dan Share cerita ini ke teman-teman mu.
Selamat beraktivitas.
Terima kasih 🤍