
Bismillahirrahmanirrahim
......
--2 Bulan kemudian--
Kamu sekarang ada di perpustakaan kampus meskipun kamu tahu waktu udah nunjukkin jam 7 malem. Dan ini udah hari ke berapa sejak kepergian Sehun ke New York buat ngelanjutin kuliahnya, kamu kayak gini.
Menghabiskan waktu di perpustakaan, toko buku, atau kafe deket kampus, Cuma buat ngerjain tugas dan semacemnya.
Gak ada hang out, gak ada seneng – seneng, gak ada lagi kamu yang ceria.
Semuanya bener – bener beda dan berubah sejak kepergian Sehun dua bulan yang lalu. Iya, kalian akhirnya pisah dua bulan lalu.
Bukan Cuma pisah dalam artian menjalin hubungan jarak jauh. Tapi pisahnya kalian, emang pisah yang sebenarnya. Alias kalian PUTUS.
GARIS BAWAHI.
KAMU DAN SEHUN P.U.T.U.S.
Semuanya beneran kayak mimpi buat kamu, bahkan sampek detik ini pun. Rasanya semua hampir bukan kenyataan.
--Flashback On--
"Jadi gimana keputusan kamu?" tanya sehun malam itu, tepat 3 hari sebelum berangkat. Dia nemuin kamu di apartemen kamu. Dan sengaja banget, setelah dia ngurusin semua berkas kepindahannya.
"Hun, aku minta maaf..." kata kamu dengan nahan air mata.
Sehun sendiri udah bisa nebak akhir dari omongan kamu barusan, semuanya udah keliatan banget dari gimana kamu nunduk dan gigit bibir bawah kamu buat nahan isakan tangis kamu malam itu.
"Kamu gak bisa, iya?" tanya Sehun dan kamu ngangguk.
"Kenapa (Yn), apa aku bukan alasan yang cukup buat kamu bisa ikut dan di ijinin pergi kesana?" tanya Sehun lagi.
"Hun, ini bukan sesepele yang kamu bayangin. Aku punya orang tua yang juga butuh aku disini, kalo aku di sana sama kamu. Nanti kalo ibu atau ayah aku sakit atau butuh sesuatu. Apa iya aku bisa langsung dampingin mereka? Enggak kan?" ujar kamu.
"Kamu kan bisa pulang kapan aja kamu mau." Jawab Sehun.
"Iya aku paham, aku tahu. Kamu gak akan halangin aku buat pulang. Tapi jadwal kuliah aku? Tugas aku? Urusan kampus yang lainnya? Apa mereka bakal kasih pengertian yang sama kayak yang kamu kasih ke aku?" tanya kamu lagi.
Sehun mejemin matanya, dia udah nyiapin hati buat ini. Tapi rasanya kamu terlalu kejam sekarang. Di mata Sehun.
"Kamu bukan prioritas aku sekarang Hun. Aku minta maaf, kalau di banding sama orang tua aku. Aku bakal lebih milih orang tua aku. Daripada kamu...." Ujar kamu sekali lagi.
Sehun senyum tipis, tapi juga miris.
Dia gak bisa nyalahin kamu ataupun keputusan kamu. Disini, dia ngakuin kalau dia juga salah udah nempatin kamu di posisi yang gak tepat. Sehun bukan suami kamu, atau mungkin belum. Dia masih menempati prioritas kedua di hati kamu setelah orang tua kamu.
Dan itu sama sekali gak salah, buat dia sekalipun. Orang tua pasti bakal jadi prioritas utamanya di atas kamu.
Sehun sekarang ngedeketin kamu, dia meluk kamu kenceng banget.
"Jadi, kita gimana?" tanya Sehun.
Tapi kenyataannya beda jauh dari apa yang Sehun bayangin selama ini.
"Kita putus aja, ya... biar kamu juga gak punya beban di sana selama kamu lagi belajar."
Itu kata – kata yang meluncur mulus dari bibir kamu dengan bodohnya, waktu sehun lagi meluk kamu dan mengisyaratkan dia gak mau pisah sama kamu sedikitpun.
"Kamu yakin?" tanya Sehun sekali lagi, dia tahu kamu nangis sekarang.
Bajunya basah dan nafas kamu pendek pendek, tanda kalo kamu lagi nahan banget sekarang.
"Iya, aku yakin..." ucap kamu dan Sehun ngehela nafasnya.
"Oke, kalau itu mau kamu. Kita Putus sekarang. Baik baik...." Suara sehun sekarang serak banget. Dan kamu tahu kenapa.
Malam itu, Sehun cium bibir kamu. Lama banget, dan peluk kamu, sampek pagi. Karena dia bilang, dia gak akan bisa begini lagi besok.
Dan ya...
Besoknya Sehun pergi, lebih cepat dari jadwal yang seharusnya.
Chanyeol bilang kalau sehun butuh waktu buat bisa jauh dari kamu, itu alasan dia pergi lebih cepat. Tapi apapun itu, kamu nyesel banget sekarang.
Karena kamu mutusin dia.
--Flashback Off--
,..........
One chapter done!
Alhamdulillah..
NOVEL TAKDIR udah sampai ke Korea buat ketemu Chanyeol... Huhuhuhu....