
Hai
Lanjut
.
.
.
Ssrrttt
Hampir 15 menit berlalu dan kamu masih merasakan benda kenyal itu bergerak. Bukan.. bukan 15 menit, tapi entah sudah berapa lama sekarang.
Kamu hanya tahu bahwa matamu sudah terpejam dan tanganmu yang kini melemah, kamu letakkan di pangkuanku sementara tangan Sehun.. dosen mu itu sekarang merambat naik ke punggung mu dan menekan punggungmu mendekat ke arahnya.
Suara kecupan yang khas itu terdengar di telingaku tali entah kenapa kamu menyukainya.
Sampai...
Sehun akhirnya melepas ciumannya.
"Maaf.."
Ucap Sehun begitu dia memandang wajah mu yang sayu. Mengusap jalinan saliva di antara dua bibir kalian akibat ciuman itu.
"Maaf.. karena kamu melihat aku berciuman dengan wanita lain. Aku benar-benar minta maaf, aku gak tahu kalo kamu melihat itu semua dan menghindariku"
"P-pak.."
Sehun meletakkan telunjuknya ke bibirmu yang akan menjawab dan mendekatkan wajahnya lagi, membuat jantungku berpacu ribuan kali lebih cepat dari sebelumnya.
"Aku gak akan minta maaf soal ciuman ini. Karena ciuman ini, untuk menghapus noda bibir wanita gila yang dulu mencium ku secara kurangajar. Gak apa kan?"
Tanya Sehun dengan suara tegas dan nada bicara yang menghanyutkan
Dan bodohnya kamu yang langsung mengangguk menjawab ucapannya jingga senyuman itu mengukir di wajah Sehun sekarang.
"Masuk.. udah malam, tidur yang nyenyak dan jangan pikirin apapun lagi. Uhm.. makasih juga buat hari ini"
Ucapnya dan sekali lagi kamu hanya mengangguk, wajahmu panas dan kamu yakin memerah sekarang.
Klik!
Sehun melepas sabuk pengaman yang terpasang di tubuhmu dan membuka kunci pintu mobilnya hingga kamu keluar dan masih diam.
"Pak.."
Panggilmu pada Sehun sambil berbalik
"Ya?"
"Makasih.. tumpangannya"
Ucapmu lemas dan kembali berbalik lalu berlari dengan cepat memasuki gedung apartemen mu.
"Sehun gila! Tapi kenapa aku suka"
Gumam lelaki berwajah pucat yang kini mulai menyalakan mesin mobilnya dan berlalu dari tempat itu
.
--skiipp--
"Aaaaaaaaaaaarrrgghhh!!!!"
Kamu berteriak sangat kencang begitu masuk ke dalam apartemen dan mengunci pintu. Jari kecilmu kini menelusuri lekuk bibirmu yang masih basah...
Rasa itu masih begitu lekat dan terasa sangat nyata sampai rasanya kamu hampir gila.
Satu tangani menyentuh dada dan merasakan degup jantung mu yang menggila.
"Apa ini ya Allah.. kenapa dia nyium gitu? Emang aku siapa? Aku mahasiswanya kan? Dia cium mahasiswa nya? Kenapa? Dia gila? Aaarrgghhhh!"
Sumpah ini gila. Tapi ini nyata? Oh.. bukan, ini mimpi
Ahh.. sial! Kamu bahkan tak bisa membedakan mana mimpi dan mana yang kenyataan sekarang.
Tring!!
Sebuah pesan masuk ke dalam ponselmu dan nama itu membuat jantungmu hampir lepas dari tempatnya
You're MINE! Aku tidak menerima penolakan, dan mulai besok aku akan menjemputmu ke kampus
Tulisan itu begitu jelas dan membuat mu mengerjapkan matamu beberapa kali. Melihat nomor pengirim sekaligus tanggal dan waktu pengirimannya untuk memastikan lagi
'tuutt tuutt'
"Ha-halo.."
"Aku baru sampai rumah"
Ucap seseorang di seberang sana
"Ahh.. iya pak.."
"Pak?"
"Ya?"
"Panggil namaku saja, kita hanya berdua ingat?"
"Berdua?"
"Maksudnya, gak ada orang lain yang dengar sekarang.. lagipula, kamu sudah baca pesanku tadi kan? Kamu milikku"
Ucap Sehun tapi kali ini kamu justru seperti tersadar akan apa yang terjadi
"Maaf pak, tapi.. kita hanya sebatas dosen dan mahasiswa kan? Maksud saya.. saya.. gakmmengerti dengan maksud bapak di pesan tadi. Soal milik bapak atau apapun itu, dan.
Soal ciuman tadi...uhm.."
"Aku tahu, kamu masih bingung dan ragu. Tunggu besok pagi, dan aku akan jelaskan apapun"
"Maksud bapak?"
"Selamat tidur ya"
Bip
Kamu mengerjapkan matamu lagi dan menatap ke arah ponsel dengan tatapan aneh
"Astaga.. apa itu tadi..."
Gumam mu aneh
.
--meanwhile--
Sehun juga ikut memandang layar ponselnya dengan perasaan tak menentu. Mencari tahu apa yang sebenarnya, hati nya inginkan saat ini
"Ngapain aku cium dia tadi?"
Gumam nya. Tapi ingatannya saat mengetahui tentang rumor dirinya yang telah menyebar. Dan sahabat (Yn) sendiri yang menceritakan bagaimana mereka melihat Sehun kemarin...
"Aku benci hal semacam ini"
.
.
.
One chapter done!