
Bismillah
.
Kamu masuk ke dalam villa Sehun dan di antarkan oleh lelaki berkulit pucat itu ke dalam sebuah kamar di lantai dua.
"Kamu istirahat dulu aja ya. Kita omongin ini nanti." Ujar Sehun dan kamu berdecak. Dengan cepat tanganmu meraih lengan kemejanya dan menarik Sehun hingga lelaki itu hampir jatuh.
"Apa sih?!" Gertak Sehun kamu merengut.
"Kamu tuh yang kenapa! Udah kamu bilang mau berhenti jadi dosen, bilang kalau kamu mah pergi jauh, terus bilang kalau mau sekolah lagi biar pinter, sekarang kamu malah ajakin aku kesini dan tadi.. mamah kamu bilang kalau kamu gak jadi pergi. Kamu juga katanya mau jelasin sama aku. Tapi sekarang kamu malah mau pergi gitu aja?! Kamu tahu gak perasaan aku gimana? Dari kemarin hun, dari kemarin. Aku udah nahan semuanya dan nyiapin hati aku buat penjelasan yang terburuk. Tapi kamu malah enteng banget. Kamu gak mikir apa kalau aku--"
Cupp
Sehun menarik tubuhmu dan mendaratkan bibir tipisnya ke bibirmu. Awalnya memang hanya menempel dan itu sudah cukup membuatmu terkejut.
Dan kamu lebih terkejut lagi saat merasakan bibir itu mulai bergerak dan menyesap bibirmu secara bergantian. Jujur, kamu terlena... Belum lagi tangan Sehun yang menopang punggungmu dan menahan tengkukmu selama dia mencium lembut bibirmu.
"Hmmpphh.." entah itu suara desahan atau memang karena kamu yang sudah kehabisan nafas sekarang. Suara itu keluar begitu saja dan beruntungnya atau malah sial untukmu. Sehun melepaskan ciumannya, dan mengecup keningku lembut setelahnya.
"Maaf... Maafin aku.." ucap Sehun.
"Jangan bilang kalau kamu beneran mau pergi. Jangan minta maaf gitu, aku takut tahu.." ucapmu dengan air mata yang menggenang, tapi Sehun menggeleng.
"Kita udah mulai hubungan ini, tapi aku belum jujur sepenuhnya sama kamu selama ini. Itu sebabnya, aku sekarang mau jujur.. semuanya... Ke kamu." Kamu menelan salivamu kasar, bagaimana mungkin ini terjadi. Apa yang Sehun sembunyikan darimu selama ini?
--------
"Jadi kamu sama pak Chanyeol itu sebenarnya bukan dosen?" Tanya mu sekali lagi untuk meyakinkan apa yang baru saja kamu dengar, dan Sehun mengangguk.
"Terus.. kalian itu sebenarnya apa?" Tanyamu lagi.
"Chanyeol itu emang beneran, dia emang punya cita-cita sebagai dosen. Tapi dia jadi dosen itu karena dia mau ngejar seseorang yang emang dia sayang dari dulu banget. Sementara aku, cuma dia minta buat nemenin dia aja. Beruntungnya, aku emang punya otak yang encer dan pinter. Jadi ya gitu, selama ini aku jadi dosen di kampus kamu" jelas Sehun.
"Jadi pekerjaan kamu itu apa? Pengangguran gitu?"
"Ya enggaklah, kamu pikir muka aku ada tampang pengangguran apa? Lagian gak ada pengangguran yang gantengnya kayak aku kan yang?" Sergah sehun, dan kamu memutar bola matamu malas.
Sehun menghela nafasnya dulu sebelum mulai menghadapkan tubuhnya ke arahmu dan mengambil kedua tanganmu untuk dia genggam.
"Kamu.. tahu.. soal perusahaan televisi swasta tempat kamu dulu kunjungan itu kan?" Kamu mengernyit, mengingat memori saat kamu melakukan studi tour atau yang di sebut dengan kunjungan ke perusahaan tertentu untuk memenuhi nilai salah satu mata kuliah. Kamu mengangguk kecil begitu mengingat semuanya.
"Jadi.. perusahaan itu.. punya ayah aku. Dan aku.. penerus ayah nantinya. Gitu yang." Kamu mengangguk kecil mendengar penjelasan kekasihmu sampai akhirnya kamu tersadar.
"Apa?!! Kamu? Maksud kamu gedung yang gede banget itu sama semua orang yang pakai seragam tv itu yang aku bilang aku pengen banget kerja disana dan jadi penyiar di sana itu tuh punya kamu? Serius???!!" Kamu memekik tak percaya, ya iyalah... Kamu punya mimpi untuk bisa bekerja sebagai penyiar setelah kamu melakukan kunjungan ke tempat itu dulu. Dan kamu jelas menuliskan itu di salah satu angket kampus kala itu
Sehun mengangguk mantap dan kamu menutup mulut mu tak percaya.
"Astaga, kamu..." Ucapmu dan Sehun terlihat khawatir.
"Aku tahu aku udah bohongin kamu. Aku gak jujur dan aku minta maaf sama kamu. Maaf banget yang. Aku cuma pengen tahu kamu sama atau enggak kayak cewek lain. Yang suka sama aku, cuma karena harta aku, tampang aku, atau..."
Plakk!!
Kamu menampar Sehun, tidak kencang tapi cukup membuat Sehun terhenyak.
"Jadi selama ini kamu nyamain aku kayak cewek cabe-cabean itu? Iya?! Itu sebabnya kamu gak mau jujur sama aku? Kamu gak percaya sama aku, gitu?!!"
"Astaga, bukan.. bukan gitu maksudnya aku yang."
Kamu berdiri dengan air mata yang akhirnya mengalir setelah sebelumnya kamu berusaha keras untuk menahannya.
"Kalau kamu emang gak percaya sama aku, sampai harus bohong ke aku begini. Kenapa kamu nembak aku dan deketin aku waktu itu?" Ucapmu lagi
"Yang, dengerin dulu penjelasan aku. Aku mohon, ini gak kayak yang kamu pikirin.."
Kamunemhgeleng kencang dan segera pergi dari tempat itu sambil menyeret kopermu. Masa bodoh dengan orang tua Sehun yang akan menganggap dirimu kurang ajar. Kamu sakit.. kamu merasa di tipu..
Oh Sehun...
...............
One chapter done!