
"Tuan Agra." ucap wanita itu yang tak lain Anggi.
"Anda siapa? " ucap Agra yang pura pura tidak mengenalinya sedangkan Even hanya diam memperhatikan dari ujung kepala sampai ujung rambut.
"Saya Anggi tuan, yang tadi pagi di bandara." ucap Anggi gugup karena tidak percaya diri dengan penampilannya saat ini.
"Oh nona Anggi silahkan duduk, Ucap Agra dengan ciri khasnya yang dingin.
" Ada apa nona meminta bertemu? " tanya Agra seolah tidak tau tujuannya.
"Oh iya, saya mau memberikan ini." ucap Anggi sambil memberikan gelang yang di berikan Agra tadi pagi padanya.
"Kenapa anda mengembalikannya bukan kah ini gelang anda nona? " ucap Agra.
"Ah, i.. iya memang gelang saya cuman gelang ini sudah lama bersama anda tuan jadi saya kembalikan anggap saja sebuah hadiah untuk istri anda tuan. " ucap Anggi yang terlihat gugup.
"Oh tapi saya tidak memiliki istri. " ucap Agra.
"Oh anda bisa memberikannya kepada calon anda tuan." ucap Anggi.
"Hmm, baiklah gelangnya saya terima." ucap Agra.
"Jika begitu saya permisi tuan Agra, " ucap Anggi yang berlalu pergi meninggalkan Agra dan Even.
"Apakah kamu bisa menjelaskan apa maksudnya?"tanya Even yang hampir mati penasaran.
" ingat tidak saat tubuhku terdapat bintik bintik merah seperti cacar air? " ucap Agra.
"iya,lalu apa masalahnya dengan itu," ucap Even masih tidak mengerti.
"Ais, ya Allah kenapa aku punya sahabat lemot begini sekretaris pulak lagi. " ucap Agra mengelus dadanya.
"sial,Lo." umpat Even kesal.
"Gelang ini ada racunnya." ucap Agra sambil memperhatikan setiap bentuk gelang itu membuat Even terkejut.
"Apa... bagaimana bisa ada racunnya? " tanya Even tak percaya dengan cepat Even mengambil alih gelang itu dari tangan Agra dan memperhatikannya setelah Agra menyuruhnya untuk memakai sarung tangan terlebih dulu.
Sedangkan Angel sudah memasang wajah yang begitu menyeramkan, sampai semua bawahannya tidak berani mengangkat kepalanya.
"Rohan dan jasen ikut aku, kita akan membasmi hama." ucap Angel menyeringai.
Di lantai bawah bar Gemini dimana terdapat para muda mudi yang sedang menyangsikan tarian seksi gadis yang menari di atas panggung.
Terlihat seorang gadis cantik dengan rambut panjang di ikat satu berjalan menuju meja no tiga dimana sekelompok pria dan wanita penghibur di setiap sisi mereka, gadis itu tak lain Wulan yang membawa pesanan mereka namun wulan.
Wulan terlihat enggan untuk menghantarkan pesanan mereka, ia tau akan dilecehkan lagi oleh mereka cowok brengsek itu, namun demi untuk mendapatkan uang untuk membiayai ibunya yang sakit ia harus bekerja di tempat neraka ini.
"Tu.. tuan Fhair. " ucap nya dengan waspada.
Fhairsan Grasta, tuan muda Grasta nomor lima terkaya di indonesia, putra satu satunya Handika Grasta dan Mauratika.
"Hai, wulan kamu makin cantik aja malam ini."ucap Fhair yang sudah mulai mabuk.
" Te..... terimakasih, ini pesanannya saya permisi. " ucap Wulan dan ingin berlalu pergi namun Fhair tidak Terima dengan sikap Wulan yang acuh dan tidak pernah mau menatap pria itu membuat Fhair kesal.
"Jangan jual mahal lo,jika malam ini lo temani gue bermain,gue akan meminta bokap gue buat gratiskan pengobatan ibu lo dan juga gue bisa carikan dokter yang bagus asal kamu menjadi pacar ku." ucap Fhair di telinga Wulan, Wulan hanya bisa mengepalkan tangannya.
"Tidak perlu, terimakasih." ucap Wulan dan sambil berusaha melepaskan genggaman tangan Fhair.
Sedangkan di ruangan VIP terlihat pria itu begitu kesal melihat wanita dibawah dipermalukan, sampai ia tidak memperdulikan pria yang didepannya.
ya, ia tak lain Even yang terus memperhatikan seorang wanita yang ia kenal, Even pergi meninggalkan Agra di ruangan itu mau tidak mau Agra mengikuti temannya itu yang terlihat menahan amarah.
Agra hanya takut jika Even lepas kendali pasti bakal menghilangkan nyawa seseorang.
Kini tangan Fhair sudah melingkar di pinggang ramping Wulan dan Fhair mulai melancarkan aksinya ingin mencium Wulan paksa, Wulan berusaha menghindar dari ciuman Fhair sampai ia menginjak kaki Fhair membuat Fhair kesakitan dan terlihat marah.
Dengan tak tau malunya Fhair menghempaskan tubuh Wulan di sofa dan mencoba lagi dan lagi memaksa Wulan.
Even yang sedang menuruni tangga ingin memberi pelajaran pada pria itu, namun ia dan Agra terkejut melihat seorang wanita dengan berani memukul Fhair dengan botol bir.