
Seperti, saran bara kini Agra menjalankan misinya pagi ini,ia memerintahkan anak buahnya untuk melihat letak posisi Angel pagi ini, setelah mendapatkan lampu hijau dari bawahannya itu dengan cepat ia meminta asistennya itu menaburkan paku di jalanan.
"cepat lakukan jangan sampai ketahuan." ucapnya di balik telponnya.
"Ya, Tuhan apa dosa ku, hingga harus berurusan dengan wanita menyeramkan itu dan pria dingin itu." keluh Even yang terhimpit dua orang yang tak dapat ia singgung.
Mau tidak mau Even memilih melakukan perintah Agra, orang yang tidak mungkin ia khianati.
Angel yang menyetir mobil dengan bahagian bercanda tawa dengan sang anak membuat raut wajahnya berubah saat merasakan sesuatu dengan mobilnya, Angel menjalankan mobilnya dengan lambat dan memarkirkannya ke tepi jalan.
"Ada apa mom? " tanya bara berpura tidak tau.
"Sepertinya ban mobil mommy pecah." ucap Angel dan turun memeriksa ban mobilnya.
"Bagaimana bisa ada paku di sana." pikir Angel yang tak biasanya, Agra yang berada di dekat situ perlahan lahan mendekati Angel dan pura pura tidak tau apa yang telah terjadi.
"Apa yang kamu lakukan disini? " ucap Agra bersikap dingin.
"Apa kamu tidak lihat." ucap Angel mengerutkan alisnya.
"Hem, naik lah ke mobil ku! aku akan mengantar kalian." ucap Agra.
"Tidak perlu." balas Angel dingin.
"Baiklah, kalau begitu aku pergi duluan." ucap Agra yang bersiap siap masuk ke mobilnya.
"Papa," ucap bara.
"Iya sayang." ucap Agra.
"mommy, kita berangkat dengan papa aja, jika kita nungguin yuli bala bisa terlambat." ucap Bara membuat Angel mau tak mau menganggukkan kepalanya.
"Mommy telpon yuli agar tidak datang." ucap Angel dan berbalik menghubungi yuli, Agra dan bara terlihat mengedipkan mata tanda misi mereka berhasil.
"Tinnnn... tin... tin.., " bunyi suara klekson mobil mengalihkan perhatian mereka semua, Angel yang ingin mengubungi yuli di urungkannya.
"Nona, mobil sudah sampai." ucap jasen yang turun dari mobil, sebenarnya jasen tidak sengaja lewat jalur jalan yang diambil Angel.
"Ayo bara!, Jasen minta! bawahanmu memperbaiki mobil saya, dan kamu cepat segera menyusul saya" ucap Angel, Agra yang melihatnya putus asa, rencananya hampir saja berhasil, namun semuanya gagal gara gara jasen, itu lah umpatnya.
Suara ketukan jari bermain di atas meja, seorang pria bertopeng menampilkan senyum yang susah diartikan.
"Jadi putri Mahkota masih hidup? " tanya pria bertopeng itu,di lihat dari balik setengah topeng pria itu terlihat masih muda, dan mungkin seumuran Agra.
"Benar tuan, kami sudah memastikan kalau wanita itu benar putri Mahkota yang ditinggalkan Ratu." ucap salah satu bawahan yang ia percaya.
"Baiklah, kamu cukup awasi saja dia, jangan bertindak! " ucap pria bertopeng itu sambil tersenyum penuh arti.
Seperti biasa Angel mengantar sang putra lalu meninggalkannya di sekolah, kali ini Angel tidak pergi kekantor melainkan ke markas Red Phoenix.
Sesuatu yang belum ia selesaikan,akan ia selesaikan, Angel kali ini tidak bermain main lagi dengan musuhnya.
"Sial, siapa pria itu? merusak rencana ku saja." umpat Agra mengacak acak rambutnya kesal.
"Bagaimana? " tanya Even menghampiri Agra.
"Bagaimana apanya kamu gak lihat mereka pergi." ucap Agra melampiaskan kekesalannya kepada sang asisten.
"Uh, salah lagi, salah sendiri kamu lambat sekali." batin Even mana berani dia berkata langsung.
"Ayo, kembali kekantor menyusun rencana yang lebih bagus.
"Selamat datang di markas Queen." ucap semua para mafioso.
"Hem." ucap Angel singkat.
"Orangnya sudah ada di ruang penyiksaan Queen. " ucap yuli.
"Apa dia sudah buka mulut? " tanya Angel, dingin.
"Belum Queen, dia sangat bersikeras untuk tidak membocorkan identitas orang yang menyuruhnya." ucap Yuli memberitahu Angel.
"Kelihatannya aku yang akan bertindak sendiri. " ucap Angel dengan sorot mata mengerikan.