
“Sayang, biarkan aku saja! Kamu duduk santai di sofa!” Saga mengambil Aellys cucian di tangannya Aellys, suaminya itu yang menganggantikan pekerjaannya. Saga mencuci? Wah, pasti orang-orang kantor yang mengetahuinya akan terkejut. Tapi untuk Aellys itu sudah biasa, Saga tidak membiarkannya untuk melakukan aktivitas melelahkan. Kenapa mereka tidak menyuruh salah satu asisten rumah tangga untuk melakukan hal tersebut? Itu, karena Saga dan Aellys ingin mencoba melakukan semuanya sendiri dan mencoba untuk tidak menggantungkan semuanya kepada asisten rumah tangga atau semacamnya, mereka sudah berdiskusi untuk menjadi keluarga yang mandiri.
“Itu cuma sedikit, Mas. Aku tidak akan kelelahan hanya mencuci baju yang dapat di hitung dengan jari itu,” ujar Aellys yang di balas gelengan cepat dari Saga. Wajah galak yang di buat-buat Saga membuat Aellys tertawa, wajah suaminya itu sangat konyol.
“Tidak! Kamu harus banyak istirahat, biar nanti malam tenagamu banyak untukku,” Saga menaikkan sebelah alisnya menatap Aellys dengan tatapan yang sangat menyebalkan.
“Tidur sama Chcoco sana!” kesal Aellys memilih pergi ke halaman belakang untuk melihat bunga-bunga dan putranya yang sedang bermain di taman bermain yang ada di halaman belakang.
“Istriku kalau marah tambah cantik saja, ingin rasanya aku makan sekarang juga!” bisik Saga di telinga Aellys, dia memeluk Aellys dari belakang dan mengusap pelan perut Aellys.
“Bahasanya di filter!” Aellys menabok mulut Saga membuat Saga meringis, istrinya benar-benar berubah menjadi ganas seperti singa betina, singa betina yang sangat sexy di mata Saga.
“Apa lihat-lihat?” tanya garang Aellys membuat Saga mengusap kepalanya yang tidak gatal, kenapa istri cantiknya itu begitu garang dan menakutkan ketika sedang hamil begini? Apa ini adalah karmanya yang sering menistakan papihnya di setiap ada kesempatan? Pikir Saga membuatnya ingin segera menemui sang papih dan meminta maaf atas segala perbuatan yang membuat papihnya sakit hati. Saga sekarang jera untuk mengusili papihnya, karena dia juga sering di usili sang istri.
“Muka kamu sangat lucu kalau lagi seperti ini,” bisik Aellys membuat Saga mendatarka wajahnya, benar kan? istrinya ini sedang mengusili dirinya dan sekarang istrinya malah tertawa kencang. Padahal dia sudah takut dengan perubahan sikap istrinya itu. Hampir saja Saga ingin menelpon papihnya dan meminta maaf, tapi dia urungkan niatnya itu. Kalau dia tidak mengusili papihnya, dia tidak akan merasa terhibur saat melihat wajah memelas papihnya.
“Kamu ini ya!” seru Saga memeluk erat tubuh Aellys dan menciumi pipi berisi Aellys, Saga sangat menyukai pipi Aellys dan selalu dia gigit, karena di sangat gemas.
“Sakit, Mas!” pekik Aellys saat Saga mengigit pipinya cukup keras.
“Itu hukuman untukmu, sayang,” ujar Saga yang beralih menciumi leher Aellys, Aellys memejamkan matanya dan mengigit bibirnya agar tidak mengeluarkan suaranya. Bisa bahaya kalau dia sampai bersuara, dia tidak akan lagi berada di luar melainkan di dalam kamar bersama Saga.
“Apakah kamar kalian hilang di bawa angin topan?” tanya papa Aellys membuat mereka menghentikannya, bukan mereka, tapi Saga. Aellys hanya terdiam dari tadi.
“Ini kenapa jadi nangis?” tanya papa Aellys membuat Saga mendekati mereka dan mengusap punggung istrinya yang bergetar.
“Sayang, kamu ada yang sakit? Katakan kepadaku!” panik Saga saat melihat Aellys tidak menghentikan tangisannya dan malah menangis dengan begitu keras.
“Anak Papa ini jangan manja, sudah punya suami dan anak,” ucap tenang papa Aellys membuat Saga mengerti, ternyata istrinya ini sedang ingin bermanja dengan papa mertuanya.
“Aellys kan kangen sama Papa,” balas Aellys dengan bibir manyunnya membuat Saga gemas dan ingin menciumnya, tapi dia menahannya, karena di sini ada mertuanya. Bisa-bisa dia di pecat jadi menantu tersayang kalau sampai membuat putri kesayangannya kehabisan nafas.
“Papa cuma pergi ke luar kota tiga hari sudah kangen? Dasar putri Papa yang sangat manja,” ujar papa Aellys sambil menarik pipi putri kesayangannya.
“Sudah sayang, biarkan Papa duduk dulu. Papa pasti masih lelah baru dari luar kota dan langsung ke sini,” jelas Saga. Aellys menatap wajah papanya yang tampak lelah, dia jadi tidak tega telah merengek meminta papanya untuk datang ke sini, padahal papanya banyak kerjaan di luar kota dan sekarang seharusnya beristirahat, tapi malah datang menemuinya. Aellys kembali menangis membuat Saga terkejut dan langsung memeluknya.
“Sayang, kamu ada yang sakit?” tanya panik Saga yang di balas gelengan dari Aellys.
“Terus kenapa?” tanya Saga lagi.
“Mas cerewet, Aellys jadi kesal mendengarnya,” kesal Aellys dan langsung masuk ke dalam rumah, Saga hanya mengerjap. Dia tidak tahu kenapa istrinya marah, padahal dia sedang mengkhawatirkan keadaannya.
“Kamu tenang saja, itu mungkin hormon kehamilannya, kita sebaiknya masuk dan kamu bawa Leo sekalian. Mama sudah menyiapkan makan siang untuk kita,” ujar papa mertuanya yang di angguki Saga, dia melangkah menghampiri Leo. Saga dan Leo masuk ke dalam rumah dan melihat Aellys sedang tertawa bersama ke dua orang tuanya, Saga tersenyum kecil dan hatinya sangat bahagia melihat Aellys yang terlihat bahagia. Dia berharap ini akan terus berjalan selamanya, Aellys dan dirinya hidup bahagia melihat anak, cucu dan cicit mereka besar nanti. Itu harapan Saga.