Hold Me Tight

Hold Me Tight
08| Pertemuan Aellys dan Calvin



Kehamilan Aellys sudah menginjak usia ke delapan bulan, dia mudah lelah dan kesehatan tubuhnya mulai berkurang akhir-akhir ini. Itu lah sebabnya dia memeriksakan kesehatannya di rumah sakit tempatnya biasa check up. Dia sendirian, karena mamanya sedang merawat neneknya yang kesehatannya juga sedang menurun. Aellys cukup tenang selama kehamilannya, buah hatinya sangat pengertian dan tidak terlalu merepotkannya, bahkan dia jarang sekali mengidam atau pun mual.


“Kamu sangat pengertian sama Bunda, sayang,” ucap Aellys sambil mengelus perutnya yang sudah membesar, dia sangat bangga kepada janin yang berjenis kelamin laki-laki di perutnya itu. Putranya sangat tahu dengan keadaanya dan selalu membuatnya tersenyum saat dia merasa kesepian, putranya akan melakukan pergerakan di perutnya, entah itu tendangnya atau apa, Aellys tidak tahu. Dia selalu bersyukur dirinya di kelilingi orang-orang yang sangat menyanyanginya, terutama orang-orang di kafe yang beberapa bulan ini dia bangun dengan uang tabungannya.


“Nona Aellys!” panggil seorang suster yang sering memberinya semangat saat menjalani pemeriksaan. Suster tersebut juga baru memiliki putra kecil yang berusia dua tahun.


“Wah, kamu semakin hari semakin cantik saja,” goda suster tersebut membuat Aellys menggelengkan kepalanya, dia memasuki ruangan dokter kandungan yang sudah dia temui sejak usia kandungannya menginjak minggu ke lima. Ternyata ada seorang dokter lain yang sedang berbincang dengan dokter kandungannya, Aellys menundukkan kepalanya dan duduk di kursi samping dokter yang sedang berbincang dengan dokter kandungannya.


“Kalau begitu, nanti kita diskusikan lagi, dokter Calvin,” ujar dokter kandungan kepada seorang dokter muda yang bernama Calvin mengakhiri diskusi mereka.


“Baik, dok  saya permisi dulu,” pamit dokter Calvin dengan sopan. Pandangan Aellys dan dokter Calvin sempat beradu dalam beberapa detik dan dokter Calvin tersenyum kecil kepadanya.


“Aellys bagaimana kandunganmu?” tanya dokter kandungan Aellys membuat Aellys tersenyum lebar, dia mengelus perut buncitnya dengan gerakan pelan.


“Seperti biasa, dia sangat pengertian kepadaku,” jujur Aellys membuat dokter di hadapannya ikut tersenyum. Dokter menyuruh Aellys untuk berbaring dan memeriksa keadaan janinnya, sekaligus melihat perkembangan buah hatinya itu.


“Wah, kandunganmu sangat kuat dan kamu hanya perlu mengurangi beban pikiranmu, tidak ada yang perlu di khawatirkan. Ini resep obat dan vitamin yang harus kamu minum,” dokter menyerahkan kertas yang berisi resep-resep obat dan vitamin untuknya.


“Terimakasih, dok,” pamit Aellys ke luar dari ruangan dokter kandungan. Dia harus mengantri di apotek rumah sakit untuk menebus obat-obatnya. Cukup ramai yang datang membuatnya kesusahan mencari tempat duduk kosong, dia lupa kalau sekarang hari senin dan banyak orang yang datang ke poli umum  atau poli dalam dan sebagainya untuk sekadar check up atau pun mengecekkan kesehatannya. Aellys mendesah saat melihat tidak ada kursi kosong yang tersedia, dia tidak bisa berdiri terlalu lama dan antriannya masih lama.


“Kamu butuh bantuan?” tanya seseorang menepuk pundak Aellys membuat Aellys terkejut dan menoleh, dia mendapati dokter Calvin yang tersenyum ramah kepadanya.


“Tidak perlu sungkan, sini biar aku yang mengambil resep obatmu!” dokter Calvin merebut kertas resep di tangan Aellys dan dia menarik Aellys untuk masuk ke dalam salah satu ruangan poli bedah. Ternyata dokter Calvin adalah dokter spesialis bedah, dia sangat hebat di usianya yang masih muda sudah menjadi dokter spesialis, Aellys cukup kagum kepadanya.


“Kamu tunggu di ruanganku dulu, biarkan aku yang mengambilnya!” dokter Calvin meninggalkan Aellys di dalam ruangannya dan Aellys menatap ruangan yang cukup rapi. Semua barang-barang tertata rapi dan tidak banyak kertas-kertas di atas mejanya. Aellys meilhat ada foto di bingkai kecil di atas meja dokter Calvin, di situ ada foto dokter Calvin yang menggunakan baju toga. Aellys akui memang dokter Calvin tampan, tapi tidak setampan lelaki yang masih dia ingat jelas di benaknya, tiba-tiba dada Aellys terasa sesak mengingat wajahnya, dia memejamkan matanya dan menghalau air mata yang hampir jatuh. Aellys menarik nafas untuk menengkan diri.


“Kamu kenapa?” suara dokter Calvin mengagetkannya.


“Tidak, hanya sedikit sesak tadi,” jelas Aellys membuat dokter Calvin tersenyum maklum.


“Itu, biasa dalam masa kehamilan,” ucap dokter Calvin membuat Aellys menganggukkan kepalanya. Dokter Calvin mengulurkan tangannya di hadapan Aellys.


“Kita belum kenalan, aku Calvin dan kamu?” tanyanya membuat Aellys tersenyum kiku dan menerima uluran tangan dokter Calvin dengan gugup.


“Aellys,” jawab Aellys dan melepaskan tangannya.


“Ini obatnya!” dokter Calvin menyerahkan obat kepada Aellys, setelah Aellys menerima obat-obat itu. Dokter Calvin melangkah membersihkan barang-barangnya, Aellys menatap bingung dokter Calvin dan dia hanya dia menunggunya, entahlah dia sangat nyaman berada di ruangannya.


“Mari aku antar kamu pulang, sekalian kita makan siang bersama!” ajak dokter Calvin membuat Aellys cukup terkejut, mereka baru saja kenal dan Aellys tidak bisa menolak ajakannya, dia menyetujuinya dan mulai saat itu mereka menjadi dekat. Bahkan dokter Calvin sering menjenguknya saat dia melahirkan dan datang ke rumahnya untuk melihat putra kecilnya. Beberapa kali dokter Calvin menyatakan perasaannya kepada Aellys, namun Aellys tidak bisa membuka hatinya kembali. Dia tidak ingin kembali terluka dan dia juga menikmati hidupnya bersama putra tercintanya, Leo.