
Aellys dan Saga sedang menikmati waku santai mereka dengan menonton di ruang tengah. Leo sedang asik bermain dengan Choco, Saga tidak bisa diam. Dia terus Saga menciumi perut Aellys yang sedikit menonjol, kehamilan Aellys sudah memasuki bulan ke empat dan Aellys sering sekali mengidam, begitu pun dengan Saga yang kadang meminta sang papih untuk menuruti kemauannya.
“Sayang,” panggil Saga membuat Aellys yang sedang fokus ke tayangan yang di putar mengalihkan pandangannya menatap ke arah suaminya yang mulai memasang wajah imutnya. Aellys sudah mendengar bunyi sirine di kepalanya, dia sangat paham dengan tatapan itu.
“Enggak! Tadi malam sudah!” tegas Aellys yang tidak ingin menuruti kemauan suaminya, Saga memandang Aellys cemberut. Dia beralih duduk dan memeluk Aellys dari samping.
“Aku pengin,” rengek Saga membuat Aellys menarik hidung mancungnya.
“Aku masih lelah, Mas,” jawab Aellys yang memang masih lelah, dia kemarin pergi berbelanja bersama mamih Saga dan juga dia berkunjung di rumah ke dua orang tuanya.
“Yah, padahal aku ingin pergi ke laut mau main sama lumba-lumba,” ucap sedih Saga membuat Aellys mengelus dadanya, dia mencoba bersabar untuk menghadapi tingkah aneh suaminya yang mulai muncul kembali.
“Tadi malam kan sudah Mas, bahkan tempat sudah di tutup dan kita di usir sama penjaganya,” desah Aellys yang mengingat kejadian tadi malam. Saga tidak ingin pulang, dia masih ingin bermain dengan lumba-lumba. Padahal, itu sudah sangat larut dan tempatnya sudah mau di tutup, alhasil mereka di usir dan Saga marah-marah kepada penjaga tempat itu.
“Hm, ya sudah. Aku mau makan pizza saja,” lanjut Saga membuat Aellys tersenyum paksa.
“Mau rasa apa?” tanya Aellys yang mulai membuka menu-menu pizza di sebuah aplikasi di ponselnya, Saga mengambil alih ponsel Aellys dan membuka aplikasi telepon.
“Pih, Saga sama Aellys mau pizza. Tapi, yang buat harus Papih sendiri! Jangan lupa di videokan, biar Saga tahu yang buat memang benar-benar Papih!” seru Saga di panggilan yang terhubung, dia langsung memutuskan panggilannya, tanpa menunggu papihnya membalas. Saga mengembalikan ponsel Aellys dan tersenyum lebar.
“Mas, kasihan Papih,” ujar Aellys yang di balas gelengan dari Saga.
“Tidak perlu khawatir, sayang. Ini juga kemuannya si kecil, aku sangat ingin Papih yang membuatkannya spesial untuk kita bertiga, eh—bukan berempat,” sahut Saga membuat Aellys terdiam dan hanya menganggukkan kepalanya, dia juga merasa ingin pizza buatan papih mertuanya. Efek Saga sangat mempengaruhinya, buktinya dia langsung setuju dengan keinginan Saga.
“Sayang!” seru Saga lagi membuat Aellys menoleh ke arahnya dan melihat suaminya itu sudah memonyongkan bibirnya, Aellys gemas dan mengambil lipstik di sebelahnya. Dia langsung menahan wajah Saga dan memoleskan lipstik itu di bibir suaminya, Saga mendelik dengan apa yang di lakukan Aellys. Dia sudah berharap Aellys mengerti maksudnya dan menciumnya.
“Aku kan ingin kamu menciumku! Bukan malah memberiku ini!” kesal Saga mengambil tisu dan menghapus lipstik di bibirnya, tawa Aellys pun pecah seketika dan Saga hanya mendengus kesal.
“Kamu harus di hukum!” seru Saga sebelum dia meraup bibir Aellys, Saga mencium Aellys dengan lembut membuat Aellys terhanyut dan menikmatinya. Mereka terus berciuman dan tidak menyadari papih dan mamih Saga sudah datang dan melihat mereka, beliau berdua hanya menggelengkan kepala dan menutupi mata cucunya.
“Jangan lama-lama!” seru papih Saga mengagetkan mereka, Aellys mendorong tubuh Saga dan dia langsung berdiri. Saga merasakan sakit di bokongnya, karena jatuh dari sofa. Saga menatap tajam papihnya yang mengganggu dan sang papih hanya tersenyum mengejek kepadanya.
“Apa?” tanya papih Saga.
“Dasar!” umpat papih Saga saat putranya mengabaikannya dan langsung merampas pizza di genggamannya. Sungguh, putranya itu sangat menyebalkan. Untung Saga putranya, kalau bukan sudah di lempar ke sungai nil.
“Mana videonya, Mih?” tagih Saga sambil memakan pizza yang di bawakan ke dua oran tuanya. Saga tidak membiarkan sang papih mendekatinya atau pun istrinya, alhasil papihnya duduk di sofa cukup jauh dengan mereka, beliau merasa sudah tidak di anggap lagi. Ingin rasanya beliau marah dan menjerit keras. Tapi, beliau tidak bisa, karena Saga putra kesayangannya.
“Ini! Sudah full HD!” seru mamih Saga memberikan kamera yang sempat mereka kegiatan suaminya membuat pizza. Sungguh, istri dan anak sama saja. Tapi, dia tetap menyayangi mereka.
“Terimakasih Papih sudah rela buatin Saga dan Aellys pizza terenak ini,” ucap Saga membuat papihnya terkejut, tidak tapi sangat terkejut. Baru kali ini putranya itu mengatakannya dengan tulus, beliau jadi terharu dan tanpa terasa air matanya mulai ke luar, katakan saja beliau lebay. Tapi, memang itu kenyataannya, beliau memang sangat mudah tersentuh.
“Iya, maafin Aellys dan Saga yang sering buat Papih kerepotan,” sambung Aellys, menantunya. Membuat Papih Saga semakin nangis kejer, beliau berlari menghapiri mereka dan memeluk erat mereka.
“Tidak perlu berterimakasih dan meminta maaf, itu semua adalah kewajiban Papih,” ujar papih Saga setelah melepaskan pelukannya.
“Papih akan ke bagian gendong anak Saga setelah dia lahir, setelah Saga yang menggendongnya pertama, lalu Papa, Mama, Mamih dan yang terakhir Papih,” jelas Saga membuat papihnya yang sudah berharap lebih, kini kembali cemberut. Memang hanya Saga yang pintar membuatnya terbang dan jatuh seketika dengan ucapannya.