
Saga masih setia menjaga Aellys, dia sangat yakin istrinya itu akan segera membuka matanya kembali. Sudah sepuluh bulan lamanya dia menikahi Aellys dan Aellys masih tetap sama belum membuka mata indahnya, Saga masih sangat yakin. Aellys pasti kelelahan dan ingin beristirahat sejenak setelah semua yang menimpa hidupnya itu. Saga menatap wajah cantik istrinya, dia mengecup beberapa kali tangan Aellys yang berada di genggamnya.
“Sayang, kamu pasti masih bermimpi indah ya? Sampai tidak ingin bangun,” gumam Saga dengan senyuman pedih di bibirnya, ini sangat menyakitkan berbicara kepada Aellys seperti ini. Dia ingin melihat senyuman manis dan mendengar suara lembut milik Aellys. Apalagi mata indah yang selalu menatapnya penuh cinta itu, sangat di rindukan Saga.
“Saga kamu sudah sarapan?” tanya mama Aellys kepada menantunya yang sedang berbincang dengan putrinya, beliau membawa kotak yang berisi sarapan untuk Saga. Beliau tahu, menantunya itu tidak akan makan kalau tidak di paksa dan di awasi, oleh sebab itu beliau membawakannya makanan untuk menjadi sarapan Saga di pagi ini. Papa Aellys datang bersama istrinya dan masih pergi ke ruangan dokter yang merawat putri mereka.
“Belum, Ma,” jawab jujur Saga tadi malam dia tidak makan apa pun dan sekarang perutnya mulai meronta. Apalagi saat mencium aroma nikmat dari makanan yang di bawa mertuanya itu membuat perutnya semakin tidak sabar untuk di masukkan makan lezat itu.
“Ya sudah kalau begitu kamu makan dulu, biar Mama yang jaga Aellys!” ujar mama Aellys yang di angguki Saga, dia mencium lama kening Aellys sebelum beranjak menuju sofa untuk sarapan. Mama Aellys menggantikan posisi Saga duduk di dekat Aellys dan mengusap lembut kepala putri kesayangannya. Beliau sangat merindukan suara
rengekan Aellys dan sifat manja Aellys. Tak terasa air mata mulai jatuh ke pipinya dan beliau langsung menghapus air mata itu, beliau tidak ingin putrinya melihatnya menangis. Aellys pasti akan sedih saat mengetahuinya.
“Nak, kamu harus bisa bertahan. Mama yakin kamu adalah putri Mama yang paling hebat dan kuat,” lirih mama Aellys menatap sedih ke arah putrinya, ibu mana yang tidak sedih melihat anaknya terluka. Mama Aellys sangat sakit melihat keadaan putrinya yang masih belum ada perkembangan lagi, saat bertanya kepada dokter. Dokter mengatakan mereka tidak bisa mengambil kesimpulan dan mereka tidak tahu Aellys mampu bertahan atau sebaliknya, hanya doa yang bisa mengabulkan semuanya. Semua orang selalu mendoakan Aellys dan berharap Aellys cepat sadar.
“Bagaimana kata dokter?” tanya mama Aellys membuat Saga yang baru selesai makan beranjak dari duduknya dan menghampiri ke dua mertuanya. Saga merasakan perasaan yang tidak enak dan dia menepis segala pemikiran yang tidak-tidak. Saga mencoba untuk berpikir dengan tenang, dia sudah banyak berubah. Dengan menjaga Aellys dan menatap wajah Aellys di setiap harinya membuat Saga semakin bisa mengontrol emosinya dan juga dia menjadi orang yang penyabar, meski pun tidak begitu sabar sih. Kadang dia juga suka khilaf saat berdua dengan Aellys.
“Dokter bilang Aellys tidak ada perkembangan dan kalau ini terus berlanjut Aellys sudah tidak ada harapa lagi,” ujar papa Aellys dengan saura kecilnya membuat Saga membeku dan jantungnya berhenti berdetak. Mama Aellys tak kalah terkejutnya dengan Saga, beliau sampai berdiri dari duduknya dan memengang lengan suaminya.
“Pa, kamu tidak bercandakan?” tanya mama Aellys yang mulai menangis. Papa Aellys membawa istrinya ke dalam pelukannya, beliau mencoba menenangkan sang istri.
“Tenang, sayang. Kita masih ada waktu untuk mendoakan putri kita,” gumam papa Aellys membuat Saga mendekat ke arah Aellys dan menggenggam erat tangan Aellys, dia gemetar saat menyentuh tangan Aellys. Saga tidak bisa kehilangan Aellys, dia tidak mau Aellys meninggalkan dirinya dan juga putra mereka. Saga tidak akan mengijinkan Aellys untuk pergi terlebih dulu, dia ingin Aellys menunggunya dan tetap hidup agar dia bisa mewujudkan kebahagiaan yang di impikan Aellys. Mereka harus menikmati hidup bersama dengan menjadi keluarga bahagia.
“Saga, kamu bisa meninggalkan Aellys. Kami akan menerimanya, kami tidak ingin masa mudamu di habiskan dengan menjaga Aellys yang harapannya sangat sedikit untuk hidup. Perjalananmu masih panjang dan jangan sia-siakan itu!” ujar papa Aellys saat melihat Saga yang terus menatap putrinya, beliau tidak tega melihat Saga yang terus-terusan mengurung dirinya di dalam ruangan Aellys dan selalu berbicara dengan Aellys yang sedang koma.
“Maaf, Saga tidak bisa meninggalkan Aellys. Saga sangat yakin Aellys akan kembali kepada kita semua dan tidak ada hal lain yang ingin Saga perjuangkan selain menunggu Aellys kembali sadar,” jelas Saga untuk ke sekian kalinya. Memang banyak sekali yang menyuruh dirinya untuk melepaskan Aellys dan mencoba untuk mencari orang lain. Tapi, Saga tidak bisa hatinya sudah terkunci dengan Aellys dan dia tidak bisa membuka kunci itu sampai nyawanya di cabut.