Hold Me Tight

Hold Me Tight
09| Kembali ke Indonesia dan Rencana B



Sudah hampir tiga tahun lamanya Saga tidak menginjakkan kakinya di negara ke lahirannya, dia turun dari pesawat pribadi miliknya. Kacamata hitam bertengger indah di hidung mancung miliknya, dia melangkah angkuh menuju mobil yang sudah di siapkan untuknya. Saga memasuki mobil setelah Reynad membukakannya pintu. Saga menatap kembali ke arah luar dia ternyata sangat merindukan Indonesia dan yang paling dia temui pertama kali adalah wajah wanita yang masih setia berada di lubuk hatinya yang paling dalam, Saga sudah tidak sabar untuk menemuinya.


“Kita langsung ke Kafe Aellys!” perintah Saga yang langsung di laksanakan oleh Reynad, mobilnya melaju ke daerah tempat Aellys mendirikan sebuah Kafe. Saga juga sudah membangun rumah di kota ini dan dia akan tinggal di sini.


Saga sudah menyiapkan segalanya, dia sudah dewasa dan dia ingin lebih serius lagi membawa hubungan mereka ke jenjang pernikahan. Umurnya hampir sua puluh empat tahun dan dia rasa ini sudah cukup matang baginya, apalagi selama dia di luar negeri banyak hal-hal baru yang dia dapat dan bisa membuatnya lebih dewasa. Dia berterimakasih kepada papihnya yang sudah membuatnya sadar dan menjadi lebih dewasa, dia sudah berbeda dari Saga yang dulu.


“Kita sudah sampai, tuan,” suara Reynad menyadarkan Saga, dia menatap kafe di hadapannya dan tersenyum kecil. Dia sungguh tidak sabar melihat wajah yang sudah sangat di rindukannya itu. Saga dan Reynad memasuki kafe yang masih cukup sepi, mungkin baru buka, pikir Saga. Dia menyuruh Reynad menanyakan keberadaan Aellys kepada pekerja di kafe ini dan dia enggan untuk mengeluarkan suaranya, dia hanya memberitahu Reynad lewat tatapan yang sudah di mengerti Reynad. Saga mendesah kecewa, karena Aellys belum tiba-tiba sampai dia mendengar suara yang sangat di rindukan itu, jantung Saga langsung berdebar kencang.


“Leo siapa?” gumam Saga dengan jantung yang terus berdebar, pikirannya mulai kemana-mana, dia sangat takut Aellys sudah memiliki lelaki lain di hidupnya. Saga tidak mau itu terjadi, Aellys hanya untuknya dan Aellys hanya mencintai dirinya, bukan orang lain itu.


“Bunda!” seru anak kecil memenuhi gendang telinga Saga, sungguh dadanya mulai sesak dan dia sangat susah untuk bernafas. Reynad memberitahu Saga kalau anak kecil tersebut memanggil Aellys dengan sebutan bunda dan Aellys sedang menggendongnya. Dunia Saga terasa runtuh seketika, jadi benar Aellys sudah melupakan dirinya, apakah ini akhir dari perjuangannya? Pikirnya.


“Enggak kok Ma, lagi pula aku sudah kangen sama anakku yang makin gembul ini.  Mama duduk dulu! Aku mau ambil pesanan Mama, Leo disini sama Oma dulu  ya! Bunda mau ambil makanan buat Leo!” ucapan Aellys bagaikan tombak untuk Saga.


“Iya, Bunda,” sahut anak Aellys membuat jantung Saga berdebar, hatinya terasa tenang mendengar suara kecil itu. Seperti suara yang ada di dalam mimpinya, iya Saga sangat yakin. Dia sangat penasaran untuk melihat bocah itu dan Saga membalikkan tubuhnya, Saga melebarkan matanya saat melihat wajah anak itu. Saga mengusap matanya untuk memperjelas penglihatannya, dia yakin wajah Leo persis dengannya waktu kecil dulu.


 “Kita di ruangan Bunda saja ya sayang, di dalam ada mainan banyak,” Aellys membawa Leo ke dalam ruangannya dan Saga memperhatikan keduanya, hatinya begitu nyeri. Saga memberi instruksi kepada Reynad untuk menyelidiki Leo dan keberuntungan Saga, Leo mau di ajak ke luar olehnya dan Saga mengambil kesempatan untuk mengecek dna milik Leo dan dirinya, dia menyuruh Reynad mengerjakan semuanya.


“Kamu menyukai bermain di sini?” tanya Saga mengusap lebut rambut hitam Leo.


“Iya, Om,” balas Leo membuat Saga tersenyum kecil, entak kenapa hatinnya sakit mendengar sebutan itu dan dia belum bisa marah sebelum laporan dari Reynad sampai.


 “Leo!” pekik Aellys berlari menghampiri Leo dan Saga, Saga mengalihkan pandangannya. Saga mendengar suara tangis Aellys, dia sangat ingin memeluknya dan menenangkan. Dia sangat tidak senang melihat Aellys menangis seperti itu.


“Bunda, jangan nangis,” ucap Leo dengan nada sedih sambil menghapus air mata Aellys.


“Bunda takut, bunda takut kamu hilang sayang. Kenapa kamu sampai disini?” Tanya Aellys yang tangisannya sudah reda.


“Aku cari bunda, tapi tidak ketemu. Terus aku ketemu sama Om ini dan diajak main kesini,” jawab Leo sambil menunjuk Saga yang sudah menatap ke arah mereka, Aellys segera berdiri dan menggendong Leo.


“Dia anakku kan?” tanya Saga yang sudah tidak bisa di tahannya lagi.


“Sa—Saga!” seru Aellys terkejut saat melihat Saga, Saga ingin sekali memeluk Aellys. Tapi, dia harus menahannya.


“Aellys! Jawab aku! Apa benar Leo anakku?” nada marah terdengar dari suara Saga saat Aellys tak kunjung membuka suaranya. Dia lepas kendali dan membentak Aellys tanpa sadar, Saga memejamkan matanya dan merasa bersalah melihat wajah terkejut Aellys.


“Bukan!” jawab tegas Aellys dan memeluk erat Leo.


“Hah? Bukan katamu? Kalau memang bukan—kenapa wajahnya sangat mirip denganku?” tanyanya lagi sambil menatap tajam Aellys yang memalingkan wajahnya.


“Tidak mungkin Aellys, bahkan aku adalah anak tunggal dan sepupuku tidak ada yang semirip itu denganku,” ucap Saga tepat di telinga Aellys.


“Apapun yang kamu pikirkan itu tidak penting, yang jelas ini anakku bukan anakmu!” ungkap Aellys dengan menatap mata Saga, Aellys sangat rindu menatap mata indah milik Saga yang selalu membuatnya tenggelam.


“Sebentar lagi semuanya akan ku ketahui,” ucap Saga saat merasakan ponselnya bergetar, dia membaca sederet pesan dan foto hasil tes DNA dirinya dengan Leo dan, gotcha—Saga memang ayah kandung dari Saga. Saga tersenyum dalam hati, Aellys tidak memiliki lelaki lain dan dia masih mempunyai kesempatan untuk membuat Aellys kembali.


“Kamu bisa baca sendiri!” Saga memberikan ponselnya kepada Aellys dan langsung di baca pesan yang tertera di layar itu. Aellys gemetar dan menatap benci Saga yang tersenyum di depannya itu.


“Meskipun benar, aku tak kan membiarkanmu untuk dekat ataupun merebut Leo dariku. Dia adalah hartaku yang berharga,” ucap Aellys yang mulai menangis, Saga tidak tega melihat, tapi dia cukup marah Aellys tidak mengijinkan dirinya.


“Bagaimana pun aku ayahnya dan juga ada darah ku yang mengalir dalam diri Leo!” seru Saga yang tak terima dengan ucapan Aellys.


“Tapi—kamu ingin melenyapkannya. Kamu membuangku saat aku ingin mengakatakan bahwa aku sedang mengandung. Kamu bahkan memanfaatkan diriku saja, kamu adalah manusia paling biadab yang pernah aku temui. Kamu tidak menginginkanku dan juga Leo,” teriak Aellys di depan wajah Saga.


“Kapan aku bilang begitu? Bahkan aku tidak tahu kalau ka—” perkataan Saga langsung terpotong oleh Aellys.


“Kamu hanya memanfaatkanku saja, aku mendengar semuanya! Aku hanya wanita murahan, kamu berbicara seperti itu kepada Rachel. Kamu ingin menghancurkanku, karena Rachel yang memintanya. Aku  memang tidak pernah tahu salahku apa kepada Rachel sampai dia membenciku dan menggunakanmu untuk menghancurkanku! Jadi, sebaiknya kamu jangan pernah muncul di hadapanku ataupun Leo. Karena, kamu sendiri yang bilang bahwa tidak ingin melihat wajahku. Ku mohon untuk ini saja kamu mengerti dan tidak merebut kebahagiaanku,” jelas Aellys yang berjalan mundur kemudian pergi meninggalkan Saga yang masih terdiam.


“Kenapa aku sebodoh ini? Seharusnya aku menemuimu dulu dan mengatakan semuanya,” gumam Saga sambil menatap kepergian Aellys dan putranya.


***


“Tuan ini rumah nona Aellys,” ucap Reynad membuat Saga menatap rumah di hadapannya. Saga melihat pintu terbuka dan terlihatlah sosok Aellys yang sedang menyuapi Leo dipangkuannya. Dia dapat melihat pancaran bahagia di wajah Aellys, dia tidak ingin kebahagian itu hilang.


“Batalkan surat hak asuh itu!” perintah Saga kepada Reynad.


“Tapi—tuan—.”


“Kamu paham bahasaku kan Reynad!”tegasnya membuat Reynad itu terdiam dan menghubungi pengacara untuk membatalkan surat hak asuh Leo.


“Sudah, tuan,” lapor Reynad yang di balas anggukan saja oleh Saga. Saga kembali melihat interaksi Leo dengan Aellys yang terlihat begitu bahagia, dia menatap dua orang itu dengan tatapan sedih. Dia menahan sesak di dadanya yang mulai menjalar ke seluruh tubuhnya. Saga menatap lantai dua yang lampunya menyala,  dia yakin bahwa itu kamar Aellys. Setegah jam lamanya dia masih tetap menatap lantai dua sampai dia melihat Aellys berdiri di balkon kamarnya dengan buku di tangannya.


“Kita lakukan rencana B!” perintah Saga kepada Reynad yang mulai menatapnya khawatir.


“Anda yakin tuan?” tanya Reynad memastikan. Saga tahu ini berisiko untuknya, tapi dia ingin ada orang yang selalu mengawasi Aellys. Dengan Azka yang dia kirimkan mungkin bisa membuatnya lebih mudah lagi untuk mengatakan semua kebenarannya, tapi dia harus berhati-hati. Saat dia kembali ke Indonesia, dia melihat penampilan dan gaya Azka yang hampir menyerupai dirinya.


“Sangat yakin.”