Hold Me Tight

Hold Me Tight
01| Pertemuan Saga dan Aellys



Sesuai janji im, sekarang im up flashback dari cerita ini. Selamat membaca ;)


***


Aellys berencana ingin mampir di sebuah tempat wisata yang baru di buka yang dekat sekolah elite yang juga cukup dekat dengan sekolahnya, dia dengan salah satu temannya yang juga berasal dari kota yang sama dengannya ingin melepas penat mereka setelah selesai ujian kanaikan kelas yang sedang berlangsung lebih dari satu minggu ini. Mereka sebentar lagi juga akan naik ke kelas 3 SMA, itu artinya mereka tidak akan terlalu sering menikmati momen-momen santai seperti ini, apalagi mereka merupakan anak rantau yang ingin mencoba hidup mandiri dengan bersekolah di tempat yang cukup jauh dari keluarga mereka, yaitu di luar kota.


“Semoga saja aku dapat menemukan salah satu jodoh masa depanku yang berada di sekolah elite itu, pasti akan banyak anak-anak sekolah seperti kita yang akan menghabiskan waktunya di tempat itu. Aku yakin jodoh masa depanku sudah menunggu di sana,” ujar teman Aellys tersebut membuat Aellys memutar bola mata jengah, temannya ini memang tidak pernah absen mengucapkan kalimat tersebut setiap hari, bahkan sehari bisa di hitung lima sampai tujuh kali mengucapkan kalimat yang sama itu.


“Ina, sebaiknya kamu minum dulu deh! Kalau bisa yang banyak, biar halunya bisa bertahan lebih lama lagi!” Aellys menyerahkan botol minuman miliknya kepada temannya itu, mereka sedang mengantri untuk masuk ke sebuah permainan labirin yang masih baru saja di buka.


“Wah kamu memang temanku yang paling pengertian! Aku sangat senang mendengarnya!” seru Ina, teman Aellys yang langsung mengambil botol dengan cepat dan meminumnya hingga tandas. Aellys hanya tertawa kecil dan menggelengkan pelan kepalanya, Ina adalah satu-satunya orang yang bisa membuatnya menjadi betah berada di kota ini. Di saat dia sangat merindukan ke dua orang tuanya, Ina yang selalu membantunya dengan cara menghiburnya.


“Sekarang giliran kita! Ayo, aku sudah tidak sabar!” Aellys menarik tangan Ina yang tidak fokus dengan antrian mereka, temannya itu terlihat mencari seseorang sekitarnya yang akan menjadi jodohnya kelak. Aellys ingin tertawa, tapi dia menahannya agar tidak menyakiti perasaan temannya yang memang sangat sensitif.


“Wah ini sangat luas, aku jadi takut ke sasar nantinya,” gumam Aellys dengan menatap labirin yang baru saja dia masuki bersama Ina, dia paling buruk dalam masalah mencari jalan ke luar atau pun alamat rumah seseorang. Tapi, dia juga sangat ingin mencoba permainan ini, dia ingin mencoba berhasil ke luar dari labirin ini dengan usahanya sendiri. Meski saat ini dia sudah mulai takut ke sasar dan tidak akan menemukan jalan ke luar.


“Kamu tenang saja tidak perlu takut seperti ini, di sini ada Ina yang tidak pernah tersesat meski pun berada di lubang semut!” seru Ina sambil menepuk dadanya bangga, Aellys hanya tertawa kecil mendengarnya dan mulai kembali menikmati perjalannya untuk mencari jalan ke luar.


Aellys menatap sekitarnya dan melihat banyak sekali orang-orang yang seumuran dengannya yang juga mencoba menyelesaikan tantangan dengan mencari jalan ke luar. Semakin lama semakin banyak orang yang mulai masuk, membuat Aellys kesusahan menerobos mereka semua, Aellys terkejut saat dirinya dan Ina terpisah. Mereka sempat terpisah tadi, tapi hanya sebentar. Namun, sekarang mereka benar-benar terpisah. Aellys mencoba mencari keberadaan Ina dengan kembali lagi ke tempat terakhir meraka bersama. Namun, Aellys tidak menemukan Ina di sana. Aellys sudah bolak-balik tempat itu sampai tiga kali dan masih tidak bertemu dengan Ina.


“Kemana perginya  Ina? Aku sekarang mulai pusing mencarinya,” resah Aellys, karena sudah tiga puluh menit lamanya dia mencari Ina dan mencoba menemukan jalan ke luar, tapi hasilnya nihil. Dia masih berada di dalam dan parahnya masih di tempat yang sama. Dia benar-benar ke sasar ternyata, Aellys mulai mengacak-acak rambutnya frustasi.


“Yah, baterainya pakai habis segala! Bagaimana aku menhubungi Ina?” tanya kesal Aellys manatap ponselnya yang tidak mau menyala, dia menyesal tidak men-charger ponselnya tadi pagi.


“Aku begitu lelah,” lirih Aellys dan mendudukkan dirinya di tanah, dia sudah lelah dan tidak ada lagi tenaga yang tersisa. Di dalam sudah mulai sepi dan dia tidak menemukan satu orang pun. Aellys menundukkan kepalanya menatap sepatu yang dia gunakan, cukup lama dia terdiam sampai sebua tangan besar terulur di depan wajahnya membuat Aellys menaikkan pandangannya, dia melihat sseorang lelaki tampan yang menatapnya datar mengulurkan tangannya.


“Kamu pasti tersesat! Ayo kita cari jalan ke luar bersama!” serunya membuat Aellys mengembangkan senyumnya, dia sudah putus asa dan berpikir akan berada di dalam sini sampai besok. Tapi, Tuhan mengirimkannya seseorang yang sangat tampan untuk membantunya dan menyelamatkannya. Aellys menerima uluran tangannya tersebut dan dia merasakan tubuh lelaki itu menjadi kaku saat dia menggenggam tangan besarnya.


Mereka menyusuri labirin tersebut dengan tangan yang saling menggenggam, tak lama kemudian mereka melihat sebuah pintu yang menunjukkan itu adalah pintu ke luar. Aellys bernafas lega, karena dia bisa ke luar dari labirin ini. Setelah ke luar Aellys melihat Ina yang langsung berlari menghampirinya.


“Aellys! Akhirnya kamu bisa ke luar juga,” ucap Ina sambil memeluk tubuh Aellys.


“Terimakasih sudah membantuku,” ucap tulus Aellys kepada lelaki yang menolongnya dengan senyuman manis terukir di wajah cantiknya membuat wajah lelaki itu menjadi memerah.


“Sama-sama, namaku Saga,” lelaki itu memperkenalkan diri dan mengulurkan tangannya.


“Ina, temannya Aellys,” Ina lebih dulu menyambut uluran tangan Saga.


“Aellys,” balas Aellys setelah menarik tangan Ina.


“Yah, ini sudah malam, sekali lagi aku berterimakasih padamu, Saga. Sudah menolongku, kami pergi dulu,” pamit Aellys sambil menarik Ina yang masih terdiam menatap saga tanpa berkedip. Saga menatap kepergian Aellys sambil tangannya terulur memegang dadanya sendiri yang berdebar begitu kencang, Saga mengembangkan senyumnya dan menatap tangannya yang sempat bergenggaman dengan Aellys. Saga menatap langit dan bergumam.


“Sepertinya aku mulai jatuh hati dengannya.”