Hold Me Tight

Hold Me Tight
06| Rachel ingin melenyapkan Aellys



Saga membohongi papihnya, dia bilang ingin menenangkan diri dan pergi ke luar kota. Tapi, dia ke luar kota bukan untuk menenangkan diri, dia ingin mencari Aellys di kota kelahiran kekasihnya itu. Saga berharap dia cepat menemukan Aellys dan menjelaskan semunya, dia tidak bisa berdiam diri di rumah. Dia bertekad untuk membuat Aellys kembali kepadanya dan mereka bersama lagi. Saga tidak yakin kalau Aellys mau dengan ajakannya, tapi dia akan mencobanya.


“Kita langsung ke alamat rumah Aellys!” seru Saga kepada Reynad yang sedang menyetir, mereka baru sampai di kota tempat tinggal Aellys. Saga memang menyuruh Reynad untuk membawanya ke luar kota, dia sudah menyiapkan segalanya. Termasuk membohongi papihnya, dia sudah mengelabui orang-orang papihnya, dia berhasil kabur dari mereka.


“Baik, tuan,” jawab patuh Reynad yang langsung melajukan mobilnya ke suatu jalan yang cukup terkenal di kota ini. Saga menyandarkan punggungnya di sandaran jok mobil, dia menghela nafas kasar, dia cukup lelah dengan memikirkan segala kemungkinan yang akan di dapatnya nanti. Dia sangat takut Aellys tidak mencintainya lagi, Saga sangat takut Aellys memutuskan hubungan mereka.


Saga ingin tidur sebentar, tapi tidak bisa. Dia terus berpikir dan membuatnya susah untuk tidur, padahal dia sudah tidak tidur selama dua hari. Tubuhnya juga sangat lelah dan matanya sangat panas ingin di istirahatkan. Saga berusaha keras agar bisa tertidur dia harus mendapatkan tenaga untuk menghadapi kemungkinan nanti, dia harus mempersiapkan dirinya.


***


Aellys baru saja selesai membeli camilan di minimarket dekat perumahannya, dia berjalan sendiri di tengah sore yang cukup sepi, karena hujan baru saja mengunjungi bumi. Aroma hujan membuat pikiran Aellys sedikit tenang, dia sangat kacau setelah menceritakan keadaannya kepada ke dua orang tuanya. Ke dua orang tuanya sangat marah dan memintanya untuk menghilangkan nyawa di perutnya itu, tapi Aellys bersikeras untuk mempertahankannya. Dia yakin, ke dua orang tuanya berkata begitu, karena mereka sedang emosi. Buktinya, sekarang mereka selalu menasihatinya untuk tidak terlalu lelah dan menjaga pola makan, agar janinnya tetap sehat.


“Terimakasih Tuhan, kamu telah memberiku anugerah yang sangat indah. Aku akan menjaganya,” gumam Aellys manatap langit yang berwarna kelabu, tak terasa air mata menetes dari pelupuk matanya. Entah berapa banyak air mata yang dia keluarkan, dia tetap saja menangis mengingat kata-kata yang selalu memenuhi pikirannya itu. Hatinya begitu hancur, Aellys tidak menyangka semua ini akan terjadi kepadanya. Tapi, dia harus menerima takdir yang di berikan Tuhan kepadanya. Dia masih di kirimkan orang tua yang begitu pengertian dan menyayanginya.


Aellys menghentikan langkahnya, dia melihat seorang wanita yang dia kenal berdiri di depannya. Aellys menaikkan pandangannya dan melihat wajah Rachel yang tersenyum mengejeknya. Aellys meremas ujung bajunya, dia melangkah mundur saat Rachel melangkah mendekatinya. Aellys sangat tahu Rachel datang bukan untuk menyapanya, tapi untuk menyelakainya. Rachel memang sangat ingin menghancurkannya dan dia sudah berhasil menghancurkan Aellys, seharusnya Rachel merayakannya bukan malah repot-repot mengunjunginya seperti ini. Aellys yakin, pasti Rachel akan berbuat sesuatu kepadanya.


“Apa maumu?” tanya Aellys membuat Rachel tertawa sinis, dia mengeluarkan sebuah pisau yang terlihat sangat tajam. Aellys menatap hati-hati pisau yang di mainkan Rachel, perasaannya tidak enak dan dia tidak pernah ragu dengan apa yang dia rasakan. Aellys berdoa agar dirinya bisa pergi dari hadapan Rachel dengan selamat, apalagi janin di perutnya membuat Aellys harus lebih hati-hati lagi, dia tidak ingin janinnya kenapa-napa.


“Aku mendapat tugas dari Saga, kalau aku harus membunuh wanita murahan di hadapanku ini!” seru tenang Rachel membuat Aellys membulatkan matanya, dia tidak menyangka Saga begitu ingin melenyapkannya dan menyuruh Rachel untuk melakukan itu semua. Padahal Aellys tidak tahu apa kesalahannya sampai Saga sebegitu ingin menghancurkannya dengan cara seperti ini.


“Kamu jangan main-main!” seru Aellys dengan waspada, tempatnya berada sekarang sangat sepi dan membuat Aellys kesusahan untuk kabur dari Rachel, dia tidak bisa meminta tolong.


“Aku tidak main-main Aellys! Ini pisau sungguhan!” kekeh Rachel membuat Aellys gemetar, dia sangat takut. Dia harus mencari cara untuk kabur dari Rachel yang mulai melangkah mendekatinya. Aellys meraba saku celananya, dia biasanya menyimpan sebotol kecil air garam yang di taruhnya di tempat bekas parfume untuk berjaga-jaga demi keselamatannya.


“Tidak perlu takut Aellys! Kamu akan hidup tenang di alam sana nan—akh!” Aellys menyemprotkan bubuk garam tersebut di mata Rachel, dia tidak menyia-nyiakan kesemapatannya untuk kabur. Aellys berlari kecil dari situ, dia mencari tempat yang cukup ramai.


“Sial! Tidak akan ku biarkan kamu lari Aellys!” geram Rachel setelah matanya kembali bisa melihat. Saga berdiri di hadapan Rachel, dia sempat melihat Aellys yang sedang menyemprotkan sesuatu di mata Rachel. Saga ingin mengejar Aellys, tapi Rachel lebih penting. Karena, Rachel sudah berniat untuk melenyapkan Aellys, Saga tidak akan membiarkan hal itu terjadi.


“Bukan Aellys tapi dirimu yang akan tenang di alam sana!” ujar Saga dengan nada dinginnya membuat Rachel mendengus, dia menodongkan pisau yang di pegangnya ke arah Saga. Tapi, Saga mudur. Pandangan Rachel belum sepenuhnya kembali, sehingga dia tidak begitu jelas mlihat Saga dan tidak tahu kalau ada batu besar di depannya. Kakinya tersandung batu dan pisau yang di pegangnya mengenai uluh hatinya sendiri, Saga terkejut melihatnya. Dia hanya menghindari Rachel, dia tidak menyetuhnya sama sekali. Iya, Saga hanya mundur dan tidak menyentuh Rachel.