
Pagi hari menyapa, orang-orang sibuk dengan aktivitas masing-masing. Jalanan kota dipadati oleh banyaknya kendaraan-kendaraan. Astan memasang senyum saat keluar dari kamar dan menyapa Rei yang tengah menyediakan sarapan. Dia mendudukkan diri tepat di depan Rei yang tengah menunggu dirinya. Satu detik kemudian, mereka mulai menyantap nasi goreng dalam diam. Sesekali Astan memberikan lirikan kepada Rei. Akan tetapi, Astan sama sekali tidak berani untuk memulai pembicaraan. Setelah menyelesaikan suapan terakhir, Astan memberanikan diri untuk membuka suara. Memberikan pertanyaan yang membuat Rei menghentikan langkahnya. Tanpa menjawab pertanyaan Astan, Rei melangkah menuju tempat pencucian barang dapur.
“Apa kakak marah padaku? Aku tidak akan memberikan hantu-hantu itu makanan lagi,” ucap Astan dengan wajah penuh penyesalan.
Mendengar ucapan Astan, Rei menghentikan pergerakan tangan. Mengakhiri kegiatan mencuci piring dan beberapa peralatan dapur. Rei membalikkan badan dan melangkah mendekati Astan yang tengah berdiri. Rei mengulurkan tangan menuju kepala Astan, memberikan usapan pelan dengan senyuman di wajah. Akan tetapi, Astan hanya memasang wajah cemberutnya.
“Kamu ini sudah besar, tidak usah pasang cemberut seperti itu. Aku hanya ada sedikit masalah,” ucap Rei menarik tangannya.
“Yakin hanya itu?” tanya Astan lagi.
“Ya, hanya itu. Lebih baik kita pergi, ini hari pertamamu kerja bukan.” Rei berucap dengan pelan dan meninggalkan Astan.
Dengan senyum mengembang Astan berjalan cepat menyusul Rei yang telah memakai sepatu kerja. Astan berjalan tepat di samping kiri Rei dan terus membuntutinya seperti anak ayam yang selalu mengikuti sang induk. Mereka berjalan bersama melewati jalanan yang cukup ramai hingga di halte bus. Mereka berdiri di sisi halte dan tidak berselang lama bus berwarna biru muda bernomor tujuan C-3. Astan berpamitan terlebih dahulu kepada Rei untuk pergi dan berjalan masuk, dia menempelkan sebuah kartu pembayaran di sebuah alat persegi empat yang berada di dekat sang sopir. Di semua kendaraan umum dapat menerima pembayaran menggunakan Koin Weal ataupun Kartu Weal.
Dia duduk tepat di samping jendela, membuatnya dapat melihat Rei yang masih berdiri di sisi halte. Astan memilih diam melamun, menaruh tas ransel hitam tepat di pangkuannya. Lamunan Astan seketika hilang ketika terdengar suara dering ponsel di dalam tas. Astan mengambil ponsel dan memainkan jari-jari di atas layar datar tersebut. Pesan dari Endra tertera jelas, Astan mulai menyibukkan diri membalas pesan. Disimpannya kembali ponsel saat bus berhenti, dia melangkah keluar meninggalkan halte, menyusuri jalanan yang dipenuhi oleh gedung-gedung tinggi. Dia harus melewati dua blok bangunan sampai di depan sebuah perkantoran yang memiliki dinding kusam dan terlihat telah menua. Bangunan ini dikelilingi oleh gedung yang tinggi dan bagus, membuatnya terlihat sangat-sangat mencolok.
Astan masuk dan berdiri di depan lift bersama dengan beberapa orang, hingga suara ‘Ting’ berbunyi keras, mereka semua melangkah masuk. Astan memilih untuk berdiri di paling belakang. Lift bergerak ke atas dan berhenti di lantai empat. Dia keluar dan mencari kantor pengacara hingga berada di depan sebuah pintu dengan nomor empat belas. Papan kecil terpasang di dinding sebelah kiri yang bertulisan nama dari kantor tersebut yaitu CV. Harapan. Astan mengatur napas lalu mendorong pintu yang terbuat dari kaca. Seorang perempuan yang berdiri di balik meja kayu memberikan sapaan kepada Astan dengan senyum lebar. Astan berjalan mendekati meja resepsionis dan dia memberikan beberapa pertanyaan. Dia meminta Astan untuk mengikutinya hingga mereka berada di ruang tengah dari kantor.
Sofa berwarna hitam tertata rapi lengkap bersama meja persegi panjang. Para pegawai kantor tengah duduk dengan begitu santai, berbagai macam makanan sarapan tertata di meja. Mereka mengalihkan pandangan menuju Astan dan memberikan senyuman hangat. Begitu pula Endra yang memasang senyum paling lebar. Perempuan resepsionis itu meninggalkan Astan begitu saja. Dengan bingung Astan tidak bergerak sama sekali dari posisinya hingga Endra berdiri dan mengajak dia untuk bergabung. Meski masih merasa bingung, Astan mengikuti semua arahan dari Endra.
Mereka semua saling memberitahu nama beserta usia masing-masing dan melanjutkan menyantap makanan. Astan hanya dapat diam melihat mereka mengunyah makanan hingga suara laki-laki yang terdengar berat membuat semuanya terdiam. Laki-laki tersebut memberikan beberapa omelan kepada semua karyawan yang masih menyantap sarapan. Setelah beberapa saat, sang laki-laki menghentikan omelannya dan membiarkan mereka menghabiskan semua makanan.
Beberapa detik kemudian, mereka telah menyelesaikan santapan pagi. Mereka menuju meja kerja masing-masing dan Endra memberitahu ruang kerja Astan. Mereka berada di sebuah ruangan yang berada paling belakang. Terdapat toilet, tempat pencucian alat dapur, dan tidak tertinggal juga sebuah lemari es yang harus ada.
“Tidak masalah kan, jika kamu bekerja jadi seorang office boy?” tanya Endra.
“Aku hanya lulusan ATD (Akademi Tingkat Dua), menurutmu aku bisa bekerja apa lagi?” tanya balik Astan.
“Kenapa tidak lanjut ke ATT (Akademi Tingkat Tiga)? Aku juga bekerja sambil sekolah. Jadi, kamu juga bisa.” Endra kembali bertanya dan memberikan sedikit saran kepada Astan.
“Aku baru saja lulus, mungkin aku akan bekerja dulu. Baru setelah aku siap, aku akan melanjutkan kuliah.” Astan menjawab dengan santai.
Mereka melanjutkan obrolan sejenak hingga suara perempuan memanggil Endra. Endra lekas meninggalkan Astan setelah memberikan beberapa penjelasan mengenai pekerjaannya. Dia berada di ruang pengacara Hendrik yang berumur 39 tahun dan merupakan pemilik dari CV. Harapan. Endra hanya berdiri di depan meja Hendrik yang tengah membuka laci meja. Hendrik menaruh amplop cokelat di meja dan memberikan tugas untuk Endra. Tanpa bertanya Endra mengambil amplop dan bergegas pergi.
Diambilnya jaket hitam dan Endra bergegas pergi dengan menaiki bus berwarna hijau. Di bus Endra sesekali melihat ke luar jendela, menatap jalanan yang selalu dipenuhi kendaraan-kendaraan. Para pedagang kaki lima memenuhi trotoar, bahkan anak-anak kecil menjual tisu di jalanan. Endra menghela napas pelan, mengakhiri kegiatan melihat pemandangan luar. Akan tetapi, dia terdiam, menundukkan kepala hingga suara dengkuran pelan terdengar. Membuat orang-orang di dalam bus hanya menatap Endra dan menghiraukannya.
Bahkan Endra tidak terusik dengan suara kendaraan hingga bus berhenti. Membuat Endra membuka kedua kelopak mata, mengangkat kepala, dan menguap dengan lebar. Endra keluar dan berjalan mengambil arah kiri dari halte, dia berhenti melangkah saat sampai di depan sebuah gapura yang bertulisan ‘Distrik D-6’. Distrik ini merupakan tempat berbahaya, bahkan pemerintah ataupun kepolisian tidak ada yang berani mendekat dan menyentuh. Jika mereka melakukan itu, maka hal buruk akan terjadi. Endra berjalan melewati gerbang begitu saja, tanpa harus menunjukkan identitas dirinya.