Ghost Hunt: Panic in the Country

Ghost Hunt: Panic in the Country
Vol. 1: Destiny | 28. Pulau Pengasingan Peolani




Pulau Pengasingan Peolani



Setelahnya mereka segera memasang pembatas keamanan yang bertujuan agar dapat mendeteksi jika ada entitas asing masuk. Dengan masih penuh kekesalan, Gabe terus berceloteh. Akan tetapi, mereka sama sekali tidak menanggapinya. Meski telah terpasang pembatas keamanan, Endra dan Gabe tetap bekerja untuk menjaga dalam beberapa hari ke depan. Sedangkan Astan dan Synta, mereka kembali untuk istirahat. Sekarang Astan berada di dalam kamarnya, tertidur dengan tangan kanan yang berada di atas jidat. Astan kembali mengingat perjalanan pulang ke markas. Meski Synta mengenakan topeng, Astan seakan tahu perasaan yang tengah dirasakannya.


“Apa yang sedang dia lakukan sekarang, ya?” ucap Astan. Bertanya kepada diri sendiri, hingga suara Bena membuat Astan mengalihkan pandangan. Menuju lemari pakaian, di sana Bena kecil tengah berdiri dengan menyilangkan tangan.


“Jika kamu sangat khawatir, hubungi saja dan hibur dia. Mungkin, saat ini dia butuh sandaran.” Bena berucap dengan serius.


“Ini sudah malam, dia pasti sudah tidur. Aku tidak ingin mengganggunya,” balas Astan.


“Sepertinya, dia tidak akan bisa tidur. Atau mungkin, dia akan melakukan hal yang ekstrim.” Bena kembali berucap dengan memberikan sedikit kata-kata provokasi.


“Apa maksudmu? Tidak mungkin itu terjadi,” sanggah Astan.


“Coba bayangkan, dia menghadapi nenek moyangnya yang termakan oleh entitas gelap. Jika kamu menjadi dia, apa yang akan kamu lakukan? Jika itu aku, tentu akan pergi ke pulau itu atau menemui kerabat dan menyelidiki apa yang tengah terjadi. Tanpa melibatkan orang lain, itu karena telah memasuki ranah pribadi.” Bena kembali menjelaskannya.


“Kamu benar,” ucap Astan.


Ketika Astan tengah berpikir, ponsel pintarnya berbunyi dengan nyaring. Sebuah nama yang dikenalnya tertera jelas, yaitu Endra. Yang meminta bantuan kepada Astan untuk mengecek tempat tinggal Synta. Setelah panggilan usai, Astan mengambil jaket dan pergi menuju alamat yang telah dikirimkan. Perjalanan dari apartemen tempat Astan tinggal tidak memakan waktu yang banyak. Hanya perlu berjalan kaki, melewati beberapa gang, dan Astan sampai di depan sebuah bangunan bertingkat. Terdapat sebuah papan kayu bertuliskan ‘Sewa Kamar Khusu Perempuan’. Astan mengambil ponsel dan memanggil nomor Synta. Beberapa kali dia menelepon, tetapi sama sekali tidak dijawab. Astan kembali mencoba, tetapi saat dia baru akan mengarahkan ponsel ke telinga. Terdengar suara gerbang terbuka, Astan melihat Synta yang mengenakan pakaian tidur.


“Ada apa? Kenapa terus menelepon?” tanya Synta dengan kesal.


“Endra yang memintaku untuk mengecek keadaanmu. Sepertinya, dia takut jika kamu melakukan hal yang aneh.” Astan menjawab pertanyaan Synta dengan senyum canggung.


“Dia sangat berlebihan, aku baik-baik saja dan tidak akan melakukan hal aneh. Ini sudah jam 1 malam. Memang aku akan melakukan apa?” ucap Synta lagi dengan kekesalan.


“Ah, baiklah. Maaf sudah mengganggu waktu istirahatmu,” ucap Astan, sedikit membungkukkan kepala.


Namun, setelah mendengar perkataan Synta. Astan sama sekali tidak pergi dari depan tempat sewaan kamar tersebut. Astan hanya berdiri di sisi jalan dan menyandarkan badan ke dinding. Sesekali Astan melihat jam di ponsel, dia menahan diri untuk tidak tertidur. Baru saja Astan menaruh kembali ponsel ke dalam saku celana, pintu gerbang kembali terbuka. Astan menangkap Synta yang telah mengenakan pakaian rapi, topi hitam, dan membawa tas ransel hitam. Astan berjalan mendekat dan berdehem cukup keras. Hal tersebut membuat Synta terkejut.


“Kenapa kamu masih di sini?” tanya Synta.


“Untuk berjaga-jaga jika kamu melakukan hal aneh. Terus, kamu sendiri mau ke mana? Dengan membawa tas ransel dan pakaian rapi?” tanya Astan.


“Itu bukan urusanmu, aku hanya akan pulang kampung saja. Aku juga tidak akan melakukan hal aneh,” jawab Synta.


“Pulang kampung jam 1:30 pagi hari? Bukankah dermaga belum buka,” balas Astan. Membuat Synta terdiam dan tidak dapat berkata-kata lagi.


“Ah, baiklah. Aku hanya akan menyelidiki apa yang terjadi di pulau pengasingan, tidak lebih. Seharusnya, roh leluhurku tetap di sana. Sejak kapan dia termakan entitas gelap, masalahnya, sejak aku berumur 11 tahun. Aku tidak pernah ke sana, lebih tepatnya, aku memberontak dan mengatakan akan hidup sendiri. Tentu dengan usaha sendiri, tapi, pamanku tetap membantuku,” jelas Synta dengan masih memasang wajah kesal. Astan yang mendengarkan cerita dan penjelasan dari Synta hanya mengangguk paham.


“Kalau begitu, kamu ikut denganku. Aku yakin, Endra melakukan ini karena pamanku juga. Tolong bawakan tasku.” Synta kembali berucap dengan melepas tas ransel dan memberikannya kepada Astan.


Tanpa berkata apa pun, Astan hanya mengikuti langkah Synta dengan membawakan tas ransel. Mereka kini tengah menunggu di sebuah jalanan yang sepi. Hanya terdapat beberapa kendaraan yang berlalu-lalang. Beberapa menit mereka menunggu, hingga sebuah mobil berwarna hitam berhenti. Membawa mereka pergi dari Kota Jayapa menuju pelabuhan Talika. Di sepanjang perjalanan sunyi, Astan diam-diam mengirimkan laporan kepada Endra. Tiga jam kemudian, mereka telah sampai di tujuan. Sebuah pelabuhan yang selalu ramai dan beroperasi mulai jam 5 pagi. Sekarang mereka berada di sisi tergelap pelabuhan, tempat yang menjadi jalur ilegal dalam melakukan transaksi apa pun.


Astan hanya berdiri di samping sebuah perahu kecil yang hanya memiliki satu mesin. Astan terus memperhatikan Synta yang tengah membuat kesepakatan dengan sang pemilik perahu. Tidak lama, pemilik perahu dan Synta kembali. Tanpa menunggu lagi, mereka segera meninggalkan pelabuhan. Satu jam lebih mereka melewati lautan yang berombak tenang. Perahu pun menepi dan mereka pergi setelah memberikan biaya jasa antar. Sekarang mereka berjalan menuju sebuah pintu tersembunyi. Seorang pelayan perempuan telah menunggu dan memberikan pakaian.


Dengan bergantian, mereka mengganti pakaian. Setelahnya, Astan dan Synta melakukan pekerjaan sebagai pelayan. Dengan Synta yang menggunakan rambut palsu berwarna hitam. Astan bertugas untuk membantu para koki memasak. Sedangkan Synta mempersiapkan ruang makan. Astan melakukan pekerjaan memotong dengan senang, dirinya dapat belajar memasak beberapa resep dari sang koki. Tidak terasa, waktu berjalan dengan cepat. Matahari telah menyapa senang, bertepatan dengan kesibukkan dapur yang usai. Para pelayan perempuan sibuk membawa semua sajian ke meja makan. Semua keluarga Suku Paua yang hanya berjumlah 10 orang, jika Synta tidak dihitung. Setelah semua tersaji, mereka menyantap sarapan dalam diam. Hanya suara jarum jam, gesekkan antara garpu dan piring.


Namun, salah satu di antara mereka yang terduduk di kursi ketiga sebelah kanan mulai bersuara. Menceritakan berita atau rumor yang didapat dari asisten pribadinya. Masing-masing dari mereka saling memandang, memberikan komunikasi melalui mata.


“Bukankah sudah ada aturan, bahwa tidak boleh membicarakan berita dari luar, Aruna.” Seorang yang terduduk di depan Aruna memberi tahu kembali peraturan tidak tertulis tersebut.


“Sepertinya kamu sangat takut, jika Synta akan datang dan mengambil alih tempatmu. Sebagai penerus tetua di pulau ini, dilihat dari segi potensi. Synta memiliki lebih besar darimu. Bukankah itu benar, Arieli.”Aruna berucap dengan memberikan senyum mengejek. Dengan tidak dapat mengatur emosinya. Arieli menaruh sendok dan garpu dengan sadar, sehingga menghasilkan suara.


“Bisakah kamu tidak membuatku selalu emosi. Lalu, bagaimana denganmu? Kamu lebih menjijikan, selalu menjadi di bawahnya. Apa kamu memiliki impian menjadi bawahannya? Apa itu menyenangkan? Sepertinya, kamu sangat menikmatinya. Aku jadi merasa kasihan kepada Synta. Yang menjadi alatmu, apa aku benar?” ucap Arieli. Setelah mengatakan itu, Arieli meninggalkan ruang makan. Meski seorang laki-laki tua meminta dia untuk tetap duduk, Arieli sama sekali tidak mendengarkannya.