Ghost Hunt: Panic in the Country

Ghost Hunt: Panic in the Country
Vol. 0: I Lost | 21. Secercah Kebenaran



Namun, sang laki-laki hanya diam dan berjalan menuju meja resepsionis. Duduk di meja dengan tenang tanpa mempedulikan Endra sama sekali. Endra yang melihat hal tersebut hanya menahan rasa kesal, menarik dan mengembuskan napas dengan perlahan.


“Bukannya ini tidak sopan, membiarkan tamu berdiri. Bahkan kamu tidak menjawab pertanyaanku,” ucap Endra. Akan tetapi, lagi-lagi tidak ada jawaban dari sang empu. Bukan Endra jika menyerah begitu saja.


“Apa boleh aku menebak umurmu? Diam artinya iya, baiklah. Menurut perkiraanku, kamu berumur 40 tahun. Kamu terlihat tua,” ucap Endra dengan wajah berpikirnya.


“Aku tidak setua itu tahu, umurku itu 32 tahun. Belum 40 tahun,” ucap sang laki-laki. Membalas perkataan Endra dengan wajah kesalnya. Tidak menyerah untuk menjahili sang laki-laki. Endra terus berceloteh begitu panjang, hingga Astan telah sampai di apartemen tersebut. Napasnya terdengar begitu terengah-engah.


Astan memberikan tatapan kepada laki-laki yang kini telah turun dari meja resepsionis, dia juga mencoba untuk menormalkan napas dan detak jantungnya. Astan juga melihat seorang perempuan berambut cokelat yang terkuncir dua bagian. Tatapan mata tajamnya terus terarah kepada mereka berdua.


“Di mana mereka? Teman-temanku,” tanya Astan.


“Ha, tidak perlu terburu-buru. Sebelum membahas itu, apa kamu mengingatku?” tanya sang laki-laki. Akan tetapi, Astan hanya diam dan tidak menjawab sama sekali.


“Baiklah, sepertinya kamu antara ingat dan tidak. Aku ingin membuat kesepakatan, jika kamu mau ikut denganku. Mereka akan aku bebaskan, aku serius,” ucap laki-laki tersebut.


“Jangan mau, itu hanya akal-akalan dia saja. Sudah membuat Rei meninggal dan sekarang masih menginginkan Astan. Apa yang sedang kalian rencanakan?” tanya Endra.


“Kami ini adalah agen ganda, jadi, kami tidak dapat memberitahukannya. Itu adalah rahasia pelanggan, mari kita saling menguntungkan satu sama lain. Aku hanya perlu membawamu ke tempat organisasi itu, tidak lebih. Jadi, tidak perlu perpanjang masalah ini,” ucapnya.


“Apa kamu yang membunuh ibuku?” tanya Astan, menimpali perkataan laki-laki tersebut.


“Ha, itu. Aku tidak dapat menjawab, jika kamu ikut denganku. Aku akan menceritakan semua dan melepas teman tidak kasat matamu. Untuk tambahan, kamu bisa bertemu seseorang juga di sana. Yang bisa menceritakan soal kematian Rei dan kedua orang tuamu. Jarang-jarang aku memberikan begitu banyak keuntungan seperti ini,” ucap sang laki-laki panjang lebar.


Astan berpikir beberapa saat, lalu mengiyakan apa yang diinginkan laki-laki tersebut. Meski Endra terus berusaha untuk melarangnya, Astan tetap kepada keputusan akhir. Setelah mendengar jawab Astan, sang laki-laki melepaskan Yeni, Hugo, Riano, dan Emily.


“Tenanglah, aku akan baik-baik saja. Tolong jaga mereka selagi aku pergi, aku janji, aku akan kembali.” Astan berucap dengan senyum kecil di wajah. Astan juga memberikan beberapa kata kepada mereka. Setelahnya, Astan ikut pergi bersama sang laki-laki tanpa perlawanan.


Sepanjang perjalanan dengan menaiki mobil, Astan hanya duduk dalam diam hingga kendaraan tersebut berhenti. Mereka kini telah berada di Distrik A-4 Kota Abagon. Sebuah kota pesisir yang hanya memiliki dua distrik pusat, Distrik A merupakan tempat penduduk, pemerintahan dan sebagainya. Sedangkan Distrik B hanya mencangkup pelabuhan kota.


Mereka berjalan di tengah malam yang sunyi hingga berada di depan rumah. Astan hanya mengikuti mereka, berjalan melewati pekarangan yang luas. Pintu kayu yang tinggi terbuka bersamaan dengan dua orang pelayan. Setelah masuk ke dalam rumah, mereka duduk dalam tenang. Tidak berapa lama, seorang laki-laki berumur bersama dengan laki-laki yang lebih muda, berjalan mendekati mereka dan duduk di sofa yang berseberangan. Laki-laki tersebut memberikan satu kantong ukuran sedang yang berisi koin.


“Itu bayaranmu. Sekarang kamu bisa pergi,” ucap sang laki-laki.


“Ah, sebelum aku pergi. Bagaimana jika anda membiarkan bocah ini untuk bertanya beberapa hal? Aku sudah terlanjur memberikan beberapa janji,” ucap laki-laki lain yang duduk di samping kiri Astan.


“Itu tidak ada di dalam perjanjian kerja, Lusya.” Laki-laki yang lebih muda membalas perkataan Lusya dengan memasang wajah kesalnya.


“Aku tahu, tapi aku sudah berjanji. Aku yakin, dia sangat ingin tahu beberapa hal. Katakan saja bahwa aku juga mendapatkan pekerjaan tambahan. Dia juga akan membayar mahal diriku ini, tidakkah kalian merasa kasihan. Ah, kalian ini kan suku yang sama sekali tidak memiliki perasaan. Aku lupa,” balas Lusya dengan senyum lebar di wajah. Saat laki-laki berusia muda akan membalas perkataan Lusya, sang pemilik rumah lekas menghentikannya dan tetap diam.


“Bolehkah aku mengetahui alasan, kenapa anda memintanya untuk membawa aku? Apakah anda mengetahui kejadian 11 tahun yang lalu? Aku tidak begitu ingat, ingatan itu masih sangat bias. Apa benar kalau ayah dan ibuku meninggal karena bunuh diri? Ataukah mereka dibunuh? ” tanya Astan.


“Alasan aku adalah agar kamu bergabung dengan kami. Untuk kejadian 11 tahun yang lalu. Itu benar, ayah dan ibumu dibunuh, tapi apa kamu tahu siapa yang mendapatkan pekerjaan membunuh mereka? Dia ada di sini. Kamu bisa bertanya kepastian kepadanya. Dan juga, mengenai kakakmu itu. Bukankah begitu, Lusya.” Laki-laki tersebut menjawab dengan menarik senyum tipis.


“Bukankah niatmu juga untuk membunuhnya. Bergabung dengan organisasimu? Sangat lucu sekali,” sergah Lusya.


Mereka berdua saling diam untuk beberapa detik, tetapi kemudian. Aura sekitar berubah menjadi sangat tegang. Dengan masing-masing asisten mereka yang berdiri untuk melindungi sang tuan. Sedangkan Astan hanya dapat melihatnya saja dengan wajah yang sangat memperlihatkan rasa takut dan gugup.


“Sepertinya, kamu mendapatkan permintaan lain. Ha, apa permintaan lain adalah untuk menjaga bocah ini?” tanya sang laki-laki.


“Ini adalah pekerjaanku, aku dapat memiliki beberapa pekerjaan dan permintaan. Aku tidak peduli, jika ada yang mengatakan bahwa aku ini bermain banyak kaki. Yang aku butuhkan adalah uang dan pekerjaan,” jawab Lusya, membuat sang laki-laki tertawa keras untuk beberapa menit.


“Maaf, maaf. Aku lupa untuk beberapa saat, jadi, kamu mau bagaimana untuk saat ini?” tanyanya.


“Mengambilnya lagi,” jawab Lusya dengan cepat. Mendengar jawaban Lusya, Astan hanya dapat memasang wajah bingung.


Berbeda dengan lawan bicaranya yang berwajah serius. Terjadi saling memberikan aura yang sangat besar, tetapi beberapa saat kemudian. Pihak pemilik kediaman tersebut mengalah dan membiarkan Lusya untuk membawa pergi Astan. Setelah obrolan panjang yang menegangkan tersebut. Mereka pergi dari kediaman sang laki-laki. Kabar baiknya adalah Astan tidak perlu bergabung dan dibunuh. Akan tetapi, fakta yang baru didengarnya. Membuat Astan diam seribu kata dan masih mencerna lagi.


Sepanjang perjalanan menuju apartemen, Astan  hanya diam dan diam. Sesampainya mereka di apartemen. Astan berdiri mematung dengan memberikan tatapan dingin kepada dua orang yang membuatnya emosi. Akan tetapi, Astan bersyukur juga mengenai bantuannya.


Namun, pada akhirnya Astan duduk di samping Endra yang tengah memasang wajah kesal.


“Maaf, telah membuat kalian kesal. Tapi, ini adalah pekerjaan kami. Kami menjadi agen ganda, jadi, kalian tidak perlu marah.” Lusya berucap dengan suara tenang.


“Namaku Ai, aku juga pernah bertemu denganmu, Astan. Saat itu, aku hanya diminta untuk memastikan apakah kamu ingat atau tidak. Maaf, telah mengagetkanmu waktu itu,” ucap Ai dengan wajah menyesalnya.


“Aku tahu, sekarang kalian pasti sangat emosi dan marah. Aku hanya akan menjelaskan apa yang disampaikan laki-laki tua itu. Si Bhirya itu. Pertama, memang benar, aku yang memiliki perintah untuk membawamu dan ibumu. Tapi, bukan aku yang membunuh kedua orang tuamu. Kedua, masalah kakakmu. Itu adalah salahku. Aku yang teledor dalam mengawasi asistenku, aku benar-benar minta maaf.” Lusya bercerita dan memohon dengan menundukkan kepala sedalam-dalamnya. Begitu pula dengan Ai yang memohon begitu dalam.


“Kalian yang membunuh Bena, saat kami berusaha untuk menjaga Astan dan ibunya,” sergah Emily dengan penuh kemarahan. Sedangkan sang empu, alias Bena. Tengah berdiri dengan tenang, menyandarkan badannya ke dinding.


“Aku juga minta maaf untuk kejadian yang itu. Semua karena kelalaian diriku sebagai ketua tim dan pengawas mereka,” ucap Lusya lagi.


Astan yang mendengarkan penuturan Lusya, kembali teringat akan peristiwa 11 tahun lalu. Beberapa pecahan dengan tidak sengaja datang dan Astan hanya memasang wajah terkejutnya. Mereka yang melihat Astan juga terheran. Beberapa kali mereka memanggil namanya, tetapi tidak ada sautan sama sekali. Astan mengabaikan suara-suara yang terus memanggilnya, hingga suara keras Cakara menyapa membuat ia tersadar.


“Kenapa kamu terus melamun dan memasang wajah terkejut? Apa jangan-jangan kamu telah merasakan bahwa aku akan pulang? Ah, lucu sekali.” Cakara berkata dengan merangkul Astan, tetapi senyum lebarnya hilang. Saat mendapatkan tatapan tajam dari mereka semua yang berada di apartemen.