Ghost Hunt: Panic in the Country

Ghost Hunt: Panic in the Country
Vol. 0: I Lost | 7. Diterima



Setelah kepergian Nika, Astan mengubah wajah ramahnya menjadi sangat serius. Dia membalikkan badan, memberikan tatapan tajam kepada dua sosok yang telah duduk bersimpuh. Seakan keduanya telah menyesali sesuatu. Mereka memutuskan untuk  mencari tempat duduk di sekitar taman. Mereka duduk dengan Astan berada di tengah-tengah, dia mulai mengeluarkan suara bernada serius dan memberikan beribu-ribu pertanyaan. Dengan terpaksa Yeni menceritakan mengenai pekerjaannya di G-Hunt, tetapi tidak semua. Akan tetapi, tidak dengan buku note itu karena Yeni tidak merasa memilikinya. Anehnya, di note itu terdapat namanya. Astan mencoba untuk mengerti semua yang dijelaskan Yeni.


“Jadi, kamu adalah anggota organisasi G-Hunt. Bekerja agar para roh jahat tidak mengganggu. Kamu dibunuh karena menjadi mata-mata ganda, kenapa kamu melakukan hal yang berbahaya?” Astan berucap dengan paham.


“Kamu percaya?” tanya Yeni penuh tanda tanya di benaknya.


“Aku saja bisa melihat kalian,” jawab Astan dengan menghela napas sejenak.


“Baiklah, ayo kita pulang. Kita lanjutkan nanti di rumah.” Astan kembali bersuara dan segera berdiri dari duduknya.


“Ah, aku ingin jalan-jalan.” Yeni berucap dengan suara pelan, tetapi Astan masih dapat mendengarnya.


“Apa hantu juga suka jalan-jalan?” tanya Astan.


“Ya, dan juga. Aku ingin mengganti pakaian dan mengikat rambutku ini,” jawab Yeni.


“Aku tidak punya uang,” ucap Astan meninggalkan Yeni sendiri dan pergi bersama Cakara.


Dengan memasang wajah kesal Yeni berlari menghampiri mereka dan mengoceh ria, hingga Astan tidak lagi dapat menahan kekesalan atas semua ocehan Yeni. Astan masih dengan pendiriannya, begitu pula dengan Yeni. Hal tersebut membuat orang-orang yang berjalan melewati mereka heran. Astan yang menyadarinya, memutuskan untuk mengalah dan berakhir di bangunan berlantai lima yang merupakan salah satu mall terbesar di Distrik B.


Mereka berkeliling ke beberapa toko pakaian. Akan tetapi, belum mendapatkan yang sesuai hingga berakhir di salah satu toko khusus perempuan. Astan memamerkan senyum ramah saat seorang pelayan perempuan menyapa dirinya. Dia berjalan masuk dan berkeliling mengikuti langkah Yeni. Astan mengambil satu pasang pakaian dan membayarnya. Setelahnya mereka pergi dari mall, menaiki bus menuju distrik B-4. Sesampainya di apartemen, Yeni mencoba pakaian yang dibelikan oleh Astan. Mereka berada di ruang makan, menonton Astan yang sibuk dengan wajan di tangan.


Dengan senyum di wajah, Yeni sama sekali tidak mengedipkan mata. Hal itu membuat Cakara menggelengkan kepala karena kelakuan Yeni. Tidak berapa lama, Astan telah menyelesaikan memasak nasi goreng. Dia mendekati meja makan, menaruh nasi goreng di tiga piring berbeda. Mereka menyantap makan malam bersama, Cakara dan Yeni yang sangat menikmatinya.


Namun, tidak dengan Astan yang tengah sibuk. Tangan kanan untuk menyuap nasi dan kiri memegang buku note kecil. Dengan wajah serius Astan mencoba untuk memahami tulisan sandi tersebut hingga suara pintu terbuka. Membuat mereka berhenti mengunyah. Rei masuk dengan membawa plastik hitam di kedua tangan. Mereka terpaku begitu saja, sama sekali tidak bergerak dari duduknya.


“Kamu memberi makan mereka lagi, kita harus berhemat. Kamu memang terlalu baik menjadi orang,” ucap Rei.


“Kenapa Kak. Rei jam segini sudah pulang?” tanya Astan.


“Ah, aku minta izin untuk pulang cepat.” Rei menjawab dengan cepat, kedua tangannya mengeluarkan semua belanjaan dari plastik hitam.


“Kamu itu terlalu baik, berhentilah memberikan mereka makan. Karena kamu memberi makan, mereka semua lebih sering datang ke sini.” Rei berucap dengan memberikan tatapan kepada dua piring berisi nasi goreng di depan Astan.


“Lain kali aku tidak akan memberi mereka makan,” ucap Astan dengan suara pelan dan masih mengunyah nasi goreng.


Rei membersihkan semua sayur dan buah, sedangkan Astan kembali fokus untuk memahami isi buku note kecil di tangan hingga suara dering ponsel membuatnya menghentikan kegiatan makan. Dengan cepat Astan mengangkatnya, suara seorang perempuan terdengar begitu halus. Dia mendengarkan perempuan itu berbicara hingga senyum bahagia terlukis di wajah ovalnya. Astan mengatakan terimakasih berkali-kali, membuat Rei mengalihkan fokusnya.


Dengan sangat semangat Astan berdiri dari duduknya, memberitahu Rei berita yang sangat membahagiakan. Mereka berdua saling berpelukan, memamerkan senyum mengembang di wajah. Beberapa kali Rei memuji akan keberhasilan Astan. Rei memberikan beberapa nasihat untuk Astan dan pergi menuju kamarnya untuk beristirahat. Sedangkan Astan kembali duduk di kursi makan, senyum manis itu masih terpasang di wajahnya. Membuat kedua sosok hantu di depan Astan hanya menatap dengan wajah datar.


“Ya, aku benar-benar sangat senang. Akhirnya aku bekerja juga,” ucap Astan dengan sangat gembira.


“Memang kamu kerja di perusahaan apa?” tanya Yeni yang masih memakan nasi gorengnya.


“Sebuah kantor pengacara, aku tidak begitu mengetahui dengan jelas. Waktu itu, aku pertama bertemu Endra di Distrik C-3. Aku pernah melamar di salah satu kantor gedung itu, apa kantornya juga berada di bangunan itu?” Astan sedikit menjelaskan pertemuannya dengan Endra.


“Sebagai apa?” tanya kembali Yeni.


“Office Boy,” jawab Astan dengan senyum hangat di wajah.


“Kamu terlihat begitu bangga,” ucap Cakara.


“Tentu, aku hanya lulusan Akademi Tingkat Dua. Menurutmu aku bisa kerja apa, dengan ijazah itu?” ucap Astan, memasang wajah sedikit suram. Setelahnya Astan membereskan piring-piring di atas meja dan mencuci hingga bersih.


Setelah membersihkan semua barang. Astan berjalan mendekati meja makan lagi, mengambil ponsel dan buku note itu. Pergi menuju kamar tidurnya, duduk di atas tempat tidur dengan masih memegang buku note. Dibukanya buku note itu dan Astan kembali berpikir keras untuk mengerti, tetapi tidak ada satupun yang menyangkut di otak. Astan bahkan bertanya lagi kepada Yeni, tetapi sama sekali tidak mendapatkan apa pun. Dengan wajah menyerah Astan menjatuhkan badannya di tempat tidur, menaruh buku note itu begitu saja. Astan bahkan diam saat Cakara dan Yeni mulai berdebat lagi.


“Siapa yang membunuhmu?” tanya Astan.


“Dia sangat kuat,” jawab Yeni, terduduk di kursi belajar milik Astan.


“Apa organisasi G-hunt hanya menangani roh saja? Atau mereka juga mengurus manusia yang memanfaatkan roh?” tanya Astan lagi.


“Dua-duanya. Jika kamu lihat berita, banyak kejadian kesurupan. Sejak 11 tahun lalu, itu adalah awal dari semua itu. Ha ... pembunuhan yang terjadi kepada keturunan dari sang pelindung dunia roh di tanah ini alias Nyasa. Menyebabkan semua ini semakin parah, ditambah ada rumor bahwa keturunan yang masih hidup tidak  memiliki energi kuat." Yeni berucap dengan suara pelan.


Tanpa menimpali perkataan Yeni, Astan kembali membaringkan tubuhnya. Menarik selimut hingga menutup setengah badan, perlahan menutup mata cokelat gelapnya. Dengan melihat keadaan, Cakara menarik Yeni keluar dari kamar Astan. Sekarang mereka berada di lantai atap, berdiri saling bersebelahan. Sejenak mereka hanya terdiam hingga Cakara mulai mengeluarkan suara. Cakara  menceritakan masa lalu Astan yang diketahuinya. Tentu Yeni memasang wajah terkejut saat mendengar semua itu.


“Jadi, dia anak kecil itu?” tanya Yeni dengan masih dipenuhi tanda tanya.


Cakara mengiyakan cepat dengan wajah seriusnya. Mereka kembali terdiam, tidak ada satu pun yang membuka suara. Suara angin berembus membuat rambut mereka sedikit berterbangan. Cakara mengangkat kepala dan menatap langit malam dengan bintang-bintang yang bersinar. Bulan besar dengan sinar merah terangnya mulai tertutup oleh awan gelap.


“Sebenarnya, siapa kamu?” Yeni kembali bersuara dan memberikan satu pertanyaan yang dapat membuat Cakara tidak menjawab dengan cepat.


“Aku pelindung sementaranya," jawab Cakara, segera pergi. Yeni mencoba berjalan cepat untuk menyamai langkah Cakara.


“Apa dia sudah tahu ini? Tentang dirimu?” tanya Yeni kembali.


“Sudah,” jawab Cakara.