Ghost Hunt: Panic in the Country

Ghost Hunt: Panic in the Country
Vol. 0: I Lost | 23. Ingatan Yang Hilang



Sakhasi memberikan sebuah bola besar berwarna merah dan duduk tepat di samping kiri Astan. Beberapa detik kemudian, sebuah peristiwa di masa lalu tertampilkan di bola berwarna merah tersebut. Dengan wajah serius, Astan melihatnya tampilan ingatan tersebut.


Peristiwa tersebut terjadi pada tahun 2016. Pada saat itu, umur Astan baru saja menginjak 7 tahun. Di tahun itu, terjadi sebuah kudeta besar-besaran yang dilakukan oleh Suku Hau. Astan dapat melihat dengan jelas, kumpulan para roh yang tengah melakukan demo besar. Dengan terus menekan agar Sakhasi turun dari jabatannya, alasan paling utama yang mereka pertentangkan adalah karena dia melakukan kontrak bersama manusia. Itu merupakan hal yang sangat dilarang, tetapi banyak sekali roh melakukannya. Jika mereka ketahuan maka akan mendapatkan hukuman.


Sakhasi tengah duduk dalam diam dengan memainkan jari tangan yang saling bertautan. Sakhasi kembali teringat dengan pesan sang kakek, bahwa dirinya tidak boleh melanggar aturan. Meski seperti itu, dia tidak boleh mengganggu manusia. Akan tetapi, Sakhasi memiliki alasan tersendiri kenapa dia berani untuk melakukan kontrak dengan manusia. Kini Sakhasi terkepung di ruang singgasananya, tetapi dia tetap bersikap tenang dan menunggu dalang semua ini keluar.


“Aku tidak menyangka, kakak akan melakukan hal yang melanggar aturan. Ini sangat menjijikkan,” ucap seorang laki-laki yang berjalan masuk dan berhenti tepat 4 meter di depan Sakhasi.


“Aku juga tidak menyangka, bahwa kamu akan melakukan hal seperti ini. Ha, bukankah ini aneh. Aku mencoba untuk membuat dua dunia ini menjadi lebih akur. Meminimalisir kejahatan yang terjadi, tapi apa yang kamu lakukan ini? Kudeta? Yang benar saja,” ucap Sakhasi, menghela napas sebentar. Lalu dia melanjutkan apa yang ingin disampaikan.


“Bukankah itu adalah usulan darimu, aku membuat kontrak juga karena dirimu. Meski pada awalnya aku menolak, kamu terus berusaha keras membuatku melanggarnya. Kamu juga yang merencanakan pertemuanku dengannya. Apa kamu mencoba untuk membuat kesan baik? Itu lebih menjijikan. Tidak ada waktu untuk menyesali semuanya. Aku, akan melawan kalian.” Sakhasi berbicara dengan panjang lebar karena kekesalan dirinya.


“Kakak telah kalah, tidak ada satu pun yang memihakmu. Bahkan, jendral mu tidak dapat menolong. Ditambah, kamu tidak akan bisa menggunakan seluruh kekuatanmu. Bagaimana sekarang?” ucap laki-laki tersebut.


“Sepertinya, kamu tidak mengenalku dengan baik. Tidak perlu khawatir tentang diriku,” balas Sakhasi yang telah turun dari tempat singgasananya. Berjalan mendekati sang laki-laki hingga hanya tersisa 5 langkah saja.


“Karena seorang manusia yang bahkan tidak dapat melakukan sihir. Aku melanggar aturan tersebut. Dia memiliki kekuatan yang berasal dari kegelapan dan cahaya. Membuatnya dapat menembus dunia roh, pemikiran manusia tersebutlah yang membuatku memilih untuk melanggar aturan.” Sakhasi menceritakan sedikit tentang teman seorang manusia.


“Kenapa hanya menggunakan kontrak untuk hal buruk? Bagaimana jika untuk hal baik? Berkali-kali aku telah meminta untuk mengubah peraturan, tapi suku kalian menolaknya dengan keras. Kalian sangat menjengkelkan,” Sakhasi kembali mengeluarkan keluhannya dan sedikit cerita masa lalu.


Setelahnya, mereka semua menghajar Sakhasi bersama. Tanpa merasa takut, Sakhasi meladeni mereka semua. Awalnya, Sakhasi terlihat tenang, tetapi mereka semua tidak ada habisnya. Tidak ada cara lain, Sakhasi menggunakan salah satu teknik terkuatnya. Bernama ‘Ended Sak’, sebuah teknik pelepasan angin  yang menyerupai tombak dalam jumlah besar. Kini semua anak buah yang dibawa oleh laki-laki tersebut menghilang dan hanya tersisa mereka berdua.


“Benar, apa yang kamu katakan, bahwa aku telah kehilangan dukungan. Aku akan mengalah untuk saat ini.” Setelah mengatakan hal tersebut, Sakhasi menghilang begitu saja dan kini dia berada di tubuh seorang anak kecil yang tengah terbaring di atas beton keras nan dingin, bersama seorang perempuan. Yang merupakan ibu dari anak kecil tersebut. Dengan gerakan pelan, Sakhasi membangunkannya. Akan tetapi, perempuan bernama Atresia tersebut sama sekali tidak terkejut.


“Tuan, kenapa anda ke sini? Bagaimana dengan dunia roh?” tanya Atresia.


“Menyelamatkan pewaris kontrak selanjutnya, aku sudah melepasnya. Kalian lebih penting dari kekuasaan, aku bisa merebutnya kembali lain kali. Bagaimana bisa kalian berakhir di sini?” jawab Sakhasi dengan memberikan satu pertanyaan lainnya.


“Mereka berhasil menangkap kami. Bahkan mereka membunuh anak kecil yang dipekerjakan untuk menjaga Astan. Ini sangat kejam,” ucap Atresia dengan suara sedihnya.


Sakhasi mengembuskan napas harimaunya untuk mengecek adakah titik sensor atau tidak. Ternyata, terdapat beberapa titik sensor yang akan dapat mendeteksi pergerakannya. Titik sensor ini hanya bekerja untuk roh dan hantu. Setelah mengetahui titik sensor, Sakhasi mengeluarkan portal yang dapat terhubung dengan tempat tinggalnya. Dirinya merupakan dari Suku Hau yang tersebar di berbagai hutan.


Setelahnya, Sakhasi meminta Atresia untuk kabur sejauh-jauhnya. Pergerakannya tersebut dapat mudah diketahui karena dia tidak lagi menjadi Raja Roh. Melainkan buronan yang harus mendapat hukuman. Meski seperti itu, Sakhasi memberikan kloningan dirinya agar tetap di dalam tubuh Astan. Setelah kepergian mereka, Sakhasi kembali terkepung oleh jenderal yang kini berpihak kepada sepupunya. Terjadi sebuah pertarungan yang sangat ketat, tetapi Sakhasi terkalahkan dan terkurung dalam bongkahan batu permata.


Hal itu terjadi bersamaan dengan kematian Atresia yang mendapatkan luka di perutnya. Dengan cepat kloningan Sakhasi membuat Astan setengah sadar. Berusaha untuk mengunci ingatan Astan, tetapi hal tersebut hanya membuatnya tidak jelas. Setelah Sakhasi tidak dapat melakukan apa pun, batu merah yang dipegang Astan retak dan hancur berkeping-keping. Kini Astan telah mengerti dan menganggap sebagian dari ingatan tersebut merupakan miliknya. Ditambah dengan ingatan-ingatan yang mulai pulih, hanya sebatas mengetahui siapa pembunuh ibunya.


“Sekarang, kamu sudah mengetahui semua ingatan itu. Bukan karena kamu tidak ingat, tapi kamu tidak memiliki ingatan tersebut. Kamu hanya memiliki ingatan di awal dan saat ibumu tertusuk. Apa kamu ingat siapa laki-laki itu? Sebelumnya, kamu pernah bertemu dengannya. Dia juga telah mengacaukan dunia roh,” tanya Sakhasi.


“Pemilik rumah itu, sebelumnya aku pernah datang bersama seseorang. Yang diinginkannya adalah nyawaku, aku memiliki ide. Aku akan berpura-pura menyerahkan diri dan setelahnya, aku akan membunuhnya diam-diam,” jelas Astan.


“Tidak semudah itu kawan, ditambah kamu itu masih lemah.” Sakhasi dengan cepat membalasnya.


“Ah, kamu benar.” Setelah mendengar ucapan Sakhasi, Astan membenarkan hal tersebut. Saat ini, dirinya masih sangat lemah.


Setelah perbincangan yang panjang, Sakhasi mengantarkannya pulang dan Astan telah kembali. Kini Astan tengah memegang gelas berisi air putih. Pikirannya melayang sangat jauh. Bahkan panggilan Cakara dan Bena tidak dapat mengusik Astan. Astan menghela napas panjang nan kasar, dia meminum air dalam satu kali tegukan. Saat Astan akan berdiri, sepasang matanya menangkap Cakara dan Bena. Hal tersebut membuat Astan cukup terkejut.


“Apa yang kalian lakukan di sini? Apa kalian tidak beristirahat?” tanya Astan.


“Tadinya, kami akan pergi istirahat. Tapi, kamu terlihat sangat banyak pikiran. Ada apa?” tanya Cakara.


“Bukan apa-apa,” jawab Astan singkat.


“Apa kamu ingin membunuh mereka? Tua bangka itu, apa aku benar?” tanya Bena.


“Tidak, setelah dipikir. Aku akan menyerahkan diri,” jawab Astan.


“Tidak perlu, kami bisa membantumu. Ya, meski kekuatan kami tidak besar. Setidaknya, kita sudah mencoba,” ucap Cakara dengan memamerkan gigi putihnya. Astan yang mendengar perkataan Cakara hanya tersenyum senang.