Ghost Hunt: Panic in the Country

Ghost Hunt: Panic in the Country
Vol. 0: I Lost | 10. Alasan



Setelah acara makan karyawan selesai, Astan bergegas pulang tanpa menumpang kepada temannya. Dia telah memesan taxi online duluan, tetapi hal tersebut tidak membuat mereka kesal atau marah. Sesampainya Astan di apartemen, dia berhenti ketika menangkap kabut asap berkumpul mengelilingi seluruh apartemen. Angin malam berembus dengan memberikan udara dingin. Dengan mencoba menghiraukan kabut-kabut tersebut, Astan berjalan masuk. Dia melangkah cepat dan menaiki lift. Ketika dia berada di depan pintu apartemennya. Dia bergegas masuk dan melepaskan sepatu cepat. Dia  mencari Rei di kamarnya, tetapi Astan sama sekali tidak menemukan. Astan terlihat sangat khawatir dan dia memutuskan menelepon Rei. Astan mencoba menghubungi beberapa kali, tetapi tidak ada jawaban sama sekali.


Setelahnya Astan ke kamar tidur dengan wajah lelah dan murung. Membuat Yeni ataupun Cakara memiliki banyak pertanyaan. Astan menghiraukan mereka dan menuju kamar mandi, dirinya menaruh handuk di cantelan. Astan melepas semua pakaian, membuat garis-garis kecil di perut terlihat. Suara air berjatuhan terdengar dengan begitu jelas. Tidak lama suara air berhenti bersamaan dengan pintu kamar mandi yang terbuka. Astan keluar dengan hanya menggunakan handuk di setengah badannya. Dia menuju kamar dan mengenakan piyama, dia duduk di tempat tidur dengan menyilang kedua kaki.


“Apa pekerjaan yang kamu kerjakan sangat melelahkan?” tanya Cakara dan hanya dijawab gelengan kepala oleh Astan.


“Apa kamu mencemaskan kakakmu?” tanya Yeni yang tengah terduduk di atas meja belajarnya dengan mengayunkan kedua kaki.


“Iya, entah kenapa aku memiliki firasat tidak enak. Kabut-kabut yang pernah aku lihat 11 tahun lalu, telah muncul kembali.” Astan menjawab dengan membaringkan diri di kasur.


“Aku yakin dia baik-baik saja,” timpal Cakara yang turun dari tempat tidur dan berjalan mendekati jendela. Astan menatap Cakara yang tengah melihat langit malam.


Astan  berjalan mendekati Cakara, ikut menatap langit-langit malam yang tidak lagi memperlihatkan sinar bintang ataupun bulan. Mereka terjatuh ke dunia lamunan, meski masih banyak orang yang mengatakan bahwa kegiatan melamun itu tidaklah bagus. Mungkin akan terjadi hal buruk.


Namun, itu tidak mempan untuk Astan. Meski diam dengan pikiran kosong, tetapi dia meyakinkan dirinya. Bahwa tidak akan ada hal buruk yang terjadi. Seakan Astan memiliki dinding kokoh sebagai pembatas yang tidak dapat dilewati oleh siapapun. Satu detik kemudian mereka tersadar karena suara pintu terbuka. Astan keluar cepat dan mendapatkan Rei yang tengah meneguk segelas air putih dingin. Astan berjalan menghampiri Rei dengan memberikan pertanyaan penuh kekhawatiran. Akan tetapi, Astan hanya menerima jawaban yang bahkan tidak dapat memuaskannya.


Setelah menjawab pertanyaan Astan. Rei pergi ke kamar tidur dan meninggalkan Astan begitu saja. Dilemparnya tas selempang tepat di ranjang berwarna merah muda. Rei berjalan menuju saklar dan menyalakannya. Seketika cahaya lampu menyinari ruang kamar. Rei menghela napas sejenak untuk menenangkan dan memantapkan diri. Setelah rasa yakin itu terkumpul, Rei menuju tempat tidur, berjongkok dengan mengulurkan kedua tangan menuju kolong tempat tidur. Sebuah kotak persegi panjang yang terbuat dari kayu diambilnya.


Rei membuka kotak persegi panjang yang berisi pakaian jubah, topeng berlukis kupu-kupu, dan sebuah pedang. Rei mengambil semua barang, mengenakan pakaian jubah dan topeng. Dia mengambil pedang dengan wadahnya  yang berwarna merah muda dan terukir bunga lili putih. Tidak lupa pula, sebuah kain dengan warna merah muda sedikit memiliki corak putih terikat di pegangan pedang. Tidak berselang lama, sebuah bayangan muncul tepat di belakang Rei. Dalam sekejap mata Rei telah menghilang, bersamaan dengan lampu yang padam.


Kini Rei telah berada di dalam pekarangan sebuah rumah besar dengan bangunan modern. Di sekeliling pekarangan terdapat beberapa pepohonan, aroma bunga lavender menyebar, dan beberapa permainan anak-anak. Langkahnya melewati pintu kayu yang terbuka secara otomatis. Rei berjalan pelan melewati tangga dan lorong yang gelap tanpa pencahayaan. Rei menghentikan langkah saat telah berada di depan sebuah pintu kayu.  Tanpa mengetuk terlebih dahulu, Rei membuka pintu dengan kasar. Rei berjalan masuk hingga berhenti tepat di depan sebuah meja yang penuh dengan buku. Di balik kursi terdapat seseorang laki-laki terduduk dengan penuh ketenangan.


“Kenapa kamu melakukannya? Astan, dia tidak seharusnya terlibat. Itu adalah perjanjiannya,” ucap Rei dengan suara yang tampak mengeluarkan sedikit amarah.


“Ah, itu. Bukankah Astan tengah membutuhkan pekerjaan. Jika pihakku tidak menerimanya, bagaimana perasaan Astan? Tenang saja, aku tidak akan melibatkannya.” Laki-laki itu menjawab dengan senyum tipis di wajah.


“Dengan kamu menerimanya, itu sudah termasuk melibatkannya.” Rei membalasnya dengan sangat ketus.


“Kamu membuat perjanjian dengan ayahku, bukan denganku. Apa kamu kira itu akan berpengaruh kepadaku? Tidak sama sekali. Dia kunci utama, tentu harus terlibat. Memangnya mau sampai kapan menyembunyikannya,” ucap laki-laki tersebut dengan wajah seriusnya.


“Dia masih muda, ditambah dia juga tidak memiliki pengalaman.” Rei kembali berucap.


“Aku tau, bukan itu alasan kenapa kamu membuat perjanjian dengan ayahku. Ha, semua ini karena kamu trauma dengan apa yang terjadi kepada adikmu. Bukankah seperti itu?” ucap laki-laki tersebut dengan memasang senyum kecil.


“Diam dan jangan lakukan apa pun!” ucap Rei dengan penuh penekanan di akhir kalimat.


Rei berjalan cepat keluar dari rumah besar tersebut hingga berada di depan pintu gerbang. Berdiri dengan menatap sejenak papan kayu di atas gerbang yang terukir sebuah tulisan besar. Tulisan besar tersebut adalah ‘Panti Asuhan Mawar’. Setelah puas memberikan tatapan, Rei meninggalkan panti asuhan tersebut. Hanya dengan menggunakan kemampuan yang dimilikinya yaitu Over-teleportasi. Dengan cara membuka gerbang khusus yang menghubungkan berbagai tempat, sekalipun itu dunia roh. Kemampuan tersebut merupakan milik salah satu roh yang membuat kontrak dengannya secara rahasia.


Sekarang Rei berada di atap sebuah gedung bertingkat dengan dua orang bertopeng lainnya. Rei berdiri tepat di sisi gedung, sedangkan kedua teman yang menjadi satu tim dengannya. Tengah terduduk di samping kiri Rei dengan sepasang kaki yang bergelantung. Angin malam cukup membuat jubah dan rambut mereka sedikit berterbangan. Mereka menatap bangunan-bangunan tinggi yang penuh kelap-kelip lampu. Di jam malam pun jalanan masih ramai oleh kendaraan pribadi, kesibukkan bagi kota besar yang tidak akan pernah ada selesainya. Dengan sangat jelas mereka dapat melihat kabut-kabut hitam menyelimuti hampir seluruh daerah itu.


“Ayo pergi!” ucap Rei dan dalam seketika mereka menghilang.