Ghost Hunt: Panic in the Country

Ghost Hunt: Panic in the Country
Vol. 1: Destiny | 30. Gugup, Marah, dan Kesal.



Beberapa jam telah berlalu dengan cepat. Sekarang jam menunjukkan pukul 16.00 sore hari. Semua pelayan sibuk membersihkan kamar dan mempersiapkan acara makan malam. Sedangkan para pemilik rumah tengah berada di ruang keluarga, berbincang dengan riang. Setelah puas, Ayah Synta yang bernama Siahn meminta waktu untuk berbicara berdua dengan tetua. Setelah kepergian tetua dan Siahn, para anggota keluarga meninggalkan ruang keluarga. Begitu pula dengan Synta yang telah berada di kamar.


Wajah gugup dan gelisah tidak dapat disembunyikan. Membuat Astan yang menonton aksi jalan mondar-mandir Synta, terheran-heran. Meski Astan mengetahui perasaan gugup dan gelisah yang Synta tunjukkan. Beberapa menit mereka hanya duduk diam di dalam kamar Synta hingga ketukan pintu terdengar. Synta segera membukanya dan terlihat asisten pribadi Siahn.


“Tuan meminta nona dan laki-laki itu untuk menghadap,” ucap sang asisten dengan wajah seriusnya.


“Baiklah.” Synta mengiyakan dengan cepat.


Sesudah kepergian asisten tersebut, Synta memberitahu Astan tentang permintaan ayahnya. Tidak lupa, Synta juga meminta Astan untuk diam dan biarkan dirinya yang berbicara. Setelah mempersiapkan diri, mereka bergegas menuju ruangan pribadi Siahn. Mereka duduk dengan menundukkan kepala dan kedua tangan di atas paha.


“Apa kabarmu, Synta?” tanya Siahn basa-basi terlebih dahulu.


“Aku baik, bagaimana dengan Ayah?” tanya balik Synta.


“Aku baik. Apa dia penjaga pribadi barumu? Biasanya kamu selalu datang dengan Endra,” tanya Siahn.


“Ah, itu. Endra sedang mendapatkan pekerjaan lain, jadi, dia mengirim anak ini untuk menggantikannya.” Synta menjawab dengan senyum di wajah.


“Biasanya, kamu akan datang sehari setelah aku datang. Apa ada sesuatu yang mendesak? Sampai kamu datang ke sini. Bukankah aku sudah bilang untuk tetap hidup bersembunyi. Jika kamu tidak ingin tinggal di pulau ini. Maka, tetap di dalam organisasi itu. Jangan terlalu sering menginjakkan kaki di sini,” ucap Siahn. Hal tersebut membuat Synta terdiam seribu kata, hingga detik kemudian dia membuka suara. Membalas perkataan Siahn yang tentu sangat menyakiti hatinya.


“Menurut ayah, kenapa aku memberontak? Semuanya karena perlakuan kalian. Kalian hanya peduli dengan pandangan orang lain, dan kekuasaan.” Synta berhenti sejenak dengan mengangkat kepala, memberikan tatapan penuh kemarahan kepada Siahn.


“Meski kami lebih memiliki darah Suku Paua, tapi kami dan suku Paua tidaklah seperti itu. Ayah bahkan tidak pernah mengetahui kebenarannya, tapi seakan mengetahui segalanya. Ribuan tahun yang lalu, bukan karena kami. Bahkan kami memiliki salinan hasil investigasi yang dilakukan seseorang di masa lalu.” Synta kembali melanjutkan ucapannya dengan tetap menatap Siahn.


“Aku memang tahu kebenarannya, tapi apa yang bisa kita lakukan? Seseorang dengan darah suku Paua yang hanya dipandang sebelah mata. Kamu akan tahu dan mengerti jika menjadi tetua di pulau ini. Aku punya rencana besar untuk pulau ini,” ucap Siahn dengan mengambil cangkir berisi teh dan menyeruputnya sedikit.


“Kenapa aku harus percaya ayah?” tanya Synta.


“Kamu tidak perlu percaya. Sebelum kamu kembali, ada satu hal. Berhentilah untuk mengusut hilangnya roh leluhur. Biarkan aku yang menyelesaikannya, tetap diam di tempatmu.” Siahn segera berdiri dari duduknya.


Synta keluar dengan tidak membantah, tetapi terlihat jelas bahwa dia sangat kesal dan marah. Tanpa berpamitan, Synta dan Astan kembali ke kota. Sesampainya di kota, Synta meninggalkan Astan tanpa berkata. Astan yang mengerti akan kondisi emosi Synta hanya pergi begitu saja. Sepanjang perjalanan pulang, Astan terus memainkan ponsel dengan sesekali melihat depan. Akan tetapi, suara isakan tangis membuat Astan berhenti melangkah. Mencari asal isakan tangis tersebut hingga Astan berada di depan sebuah rumah kecil yang terlihat gelap tanpa penerangan, dia menggunakan senter ponsel untuk meringankan penglihatannya.


Pekarangan rumah tersebut telah ditumbuhi rumput-rumput tinggi, dinding beton sudah terlihat tua dan mengelupas. Astan berjalan masuk dan mendapati seorang anak perempuan berambut hitam pendek dengan pakaian gaunnya, terduduk memegang sebuket bunga mawar putih. Wajahnya tenggelam di antara dua kaki dan tangan.


“He, kenapa kamu menangis?” tanya Astan yang kini jongkok.


Sosok anak perempuan itu mengangkat kepala dengan air mata membasahi pipi. Akan tetapi, sang anak perempuan sama sekali tidak menjawab dan tetap menangis. Dengan sabar Astan menunggunya tenang. Setelahnya, Astan kembali mengajukan pertanyaan yang sama.


“Beberapa bulan lalu, muncul seorang laki-laki dan membantu kami dari orang-orang jahat. Tapi, sejak satu bulan yang lalu, dia tidak pernah ke sini lagi. Bunga mawar putih itu adalah pemberiannya,” cerita salah satu anak.laki-lakk di antara mereka yang berambut hijau.


“Jika, aku boleh tahu. Seperti apa ciri pisiknya?” tanya Astan.


“Dia punya rambut putih, kulitnya seputih awan, matanya biru, dan juga tampan.” Seorang anak perempuan lain yang berambut merah muda menjawab dengan wajah panasnya.


“Apa kalian tahu namanya? Mungkin aku bisa bantu.” Astan melontarkan pertanyaan dengan senyum manisnya.


“Apa benar, kakak akan membantu mencarinya?” tanya sang anak perempuan berambut hitam yang tengah menatap Astan dengan wajah bengkak. Astan yang mendengar pertanyaan tersebut, mengangguk dan tersenyum lembut.


“Kak. Adnu,” jawab sang perempuan dengan suara seraknya.


“Lalu, siapa nama kamu? Namaku, Astan. Panggil Astan saja.” Astan bertanya sekaligus memperkenalkan diri.


“Vivi,” jawab sang perempuan yang bernama Vivi tersebut.


“Nama yang cantik. Baiklah, aku akan berusaha untuk membantu kalian menemukan Adnu. Apa kalian mau menunggu sedikit lama?” tanya Astan yang dijawab dengan anggukkan dan senyum lebar mereka. Setelahnya Astan segera pergi dari bangunan rumah tersebut.


Sesampainya Astan di apartemen, dia melihat Endra yang tengah duduk menunggu. Dengan segera mereka sibuk saling berbincang. Astan pun menceritakan pertemuannya dengan Vivi secara singkat. Tidak lupa, Astan juga meminta bantuan Endra untuk mencarikan seseorang bernama Adnu.


“Tidak mau,” jawab Endra menolak.


“Kenapa?” tanya Astan dengan memasang wajah heran.


“Aku mendapat pesan dari kakakmu, jangan sampai kamu membuat masalah hanya untuk menolong. Kamu memang baik, tapi tidak peka dengan perasaan perempuan. Meski dia bukan saudara kandungmu, dia tetap kakakmu. Memiliki perasaan sebagai saudara, berhentilah untuk menolong jika tidak mendapat bayaran.” Endra menjawab pertanyaan Astan dengan begitu panjang.


“Aku sudah janji pada Vivi,” balas Astan dengan mengembuskan napasnya.


“Kenapa juga harus berjanji? Jika kamu menolong sesama kita, akan ada balasan. Lah ini, kamu menolong hantu. Kamu tidak akan mendapatkan apa pun, Astan.” Endra kembali bicara dengan wajah kesalnya.


“Padahal, aku berharap kamu membantuku karena memiliki banyak koneksi. Sekarang, aku harus bagaimana,” ucap Astan dengan suara pelan dan tidak bertenaga.


Sedangkan Endra yang mendengarnya mencoba untuk tidak jatuh ke dalam rayuan Astan. Akan tetapi, Endra menyerah dan mengiyakan untuk membantu Astan. Astan yang sangat senang, terus mengucapkan terimakasih berkali-kali hingga Endra memintanya berhenti.