Ghost Hunt: Panic in the Country

Ghost Hunt: Panic in the Country
Vol. 0: I Lost | 24. Pergi Dengan Nekat



Pagi-pagi buta, Astan bersama Mereka membutuhkan beberapa jam untuk sampai di Kota Abagon. Sesampainya mereka di depan kediaman laki-laki tua tersebut. Astan menekan tombol bel dan tidak lama gerbang besi itu terbuka dengan sendirinya. Sekarang Astan tengah duduk dalam diam di ruang tamu bersama dengan seorang laki-laki muda. Tidak lama setelahnya, laki-laki tua itu datang dan terduduk di depan Astan dengan senyum lebar di wajah.


“Aku tidak menyangka, kalau kamu akan datang ke sini lagi. Ada apa? Aku sudah baik mau melepasmu, tapi kamu datang lagi. Ah, kita belum berkenalan. Namaku Bhirya,” jawab Bhirya.


“Aku sudah ingat, semuanya. Kenapa anda melakukannya kepada ayah dan ibuku? Mereka tidak bersalah,” tanya Astan.


“Karena mereka menghalangi rencanaku, begitu pula denganmu. Dengan datangnya kamu ke sini. Itu artinya, kamu menyerahkan nyawamu begitu saja. Apa kamu tidak takut sama sekali?” tanya Bhirya. Astan terdiam untuk beberapa saat, hingga dia mengeluarkan pisau dan bergerak cepat mengarahkannya kepa Bhirya. Akan tetapi, niatnya tersebut dapat dicegah oleh asisten Bhirya. Suasana sekitar menjadi sangat kaku dan serius.


“Kamu benar-benar mudah sekali terbaca. Kemarin, aku pergi ke sebuah gua yang menjadi tempat penyimpanan Sakhasi. Tapi, dia sudah tidak ada. Jadi, kamu pasti sudah melepasnya. Itu bagus, ini akan semakin menarik. Aku tidak akan membunuhmu sekarang,” ucap Bhirya dengan senyum senangnya. Dia mengulurkan tangan kanan dan mengarahkannya menuju perut Astan. Dalam hitungan detik, Astan terpental hingga mengenai dinding dengan sangat keras. Cakara dan Bena segera membantu Astan untuk berdiri.


“Apa kamu kira dengan dirimu  yang sekarang dapat melawanku? Tidak, kamu terlalu lemah. Tapi, aku penasaran akan sesuatu. Jika aku hampir membunuhmu, akankah dia datang. Bukankah ini cukup menarik?” ucap Bhirya dengan senyum lebarnya. Yang terkesan sangat menyeramkan itu.


Cakara dan Bena telah bersiap untuk hal terburuk. Bena dengan pedang miliknya. Caraka hanya mempersiapkan tinju. Bhirya yang melihat mereka telah bersiap, hanya memasang wajah tenang. Dalam hitungan detik, Bhirya telah berada di depan Cakara dan Bena. Astan yang melihat hal tersebut memasang wajah terkejutnya. Sedangkan Cakara dan Bena tidak dapat bergerak sama sekali.


“Baiklah, ayo kita lihat.” Hanya dalam detik, Bhirya mengarahkan tangan ke kepala Cakara dan Bena. Mendorong dan melempar hingga membuat dinding di belakangnya hancur.


“Ah, kalian hanya mengganggu saja,” ucapnya.


Astan kembali bersiap dengan posisi kuda-kuda dan dua tangan yang mengepal keras. Dengan penuh kekesalan, Astan memberanikan untuk maju. Mengarahkan tinjunya kepada Bhirya. Hal tersebut dapat diterima dengan mudah dan tidak mengenai wajah Bhirya. Dengan cepat, Bhirya memelintir tangan Astan dan kemudian melemparnya hingga mengenai kaca. Dia mencoba untuk berdiri dengan susah payah, tetapi sepasang kakinya bergetar hebat. Badan Astan masih membungkuk dengan mata yang memandang tanah berumput tersebut. Astan dapat mendengar langkah kaki yang mendekatinya. Dengan memaksakan diri, Astan mengangkat kepala dan melihat Bhirya tengah berjalan mendekati dirinya.


“Kenapa dia tidak keluar? Kalau lama-lama, aku pasti akan membunuhmu. Ha, ini sangat membosankan,” ucap Bhirya. Yang berhenti melangkah tepat di tiga meter dari tempat Astan berdiri.


“Ah, baiklah. Aku akan mengabulkan keinginanmu,” ucap Bhirya.


Dengan cepat Bhirya memberikan serangan jarak dekat. Menggunakan kemampuan roh miliknya yang dapat mengeluarkan senjata tajam berbentuk pisau. Akan tetapi, serangan tersebut sempat terhenti sebentar karena Cakara yang berdiri di depan Astan.


Namun, hal tersebut tidak bertahan lama dan Cakara menghilang dengan perlahan. Astan yang melihat memudarnya jiwa Cakara, terlihat sangat terkejut dan khawatir. Akan tetapi, saat jiwa Cakara menghilang dengan sempurna. Bhirya telah menusuk perut Astan hingga mengeluarkan cairan merah yang banyak. Bhirya yang melihat darah mengalir dengan banyaknya, memasang senyum puas. Akan tetapi, Astan menggenggam senjata tajam tersebut. Menariknya dengan keras hingga dapat mendorong Bhirya menjauh. Astan mengangkat kepala, memberikan tatapan tajam kepada Bhirya. Dengan mata yang telah berubah menjadi putih kebiruan.


“Berani-beraninya kamu menyentuhnya,” ucap Astan dengan suara dingin dan beratnya. Yang kini tengah dirasuki oleh Sakhasi. Kedua tangannya terlumuri oleh cairan merah yang mengalir. Bhirya yang melihat sepasang mata Astan tertawa dengan sangat senang.


“Akhirnya kamu datang. Aku sangat yakin, kamu tidak akan membiarkanku untuk menghilangkan nyawanya. Ini semakin menarik,” ucap Bhirya dengan senyum senang.


“Jika aku tidak datang dengan cepat. Ini akan berakhir cepat,” ucap Sakhasi yang berada di tubuh Astan.


Dengan menyentuh perut yang keluar cairan merah. Saat dirinya tengah mengecek perut, Bhirya telah memberikan satu serangan berupa panah dari berbagai arah. Akan tetapi, kecepatan Sakhasi membuat panah-panah tersebut tidak dapat menembus dinding pertahanannya.


“Aku tidak ingin melawanmu. Aku harus membawa tubuh ini ke rumah sakit,” ucap Sakhasi. Beberapa detik kemudian, Bena muncul dan berdiri di sampingnya. Sakhasi membuka jalan portal berbentuk pintu besar dan pergi menuju rumah sakit di perbatasan Kota Jayapa.


Setelah Astan dibawa ke rumah sakit, dia telah tidak sadarkan diri selama lebih dari 5 hari. Tentu hal tersebut membuat Rui sangat khawatir. Apalagi saat Rui mendengar penjelasan dari Endra. Entah mengapa, Rui ingin sekali melarang Astan untuk bergabung dengan Organisasi G-Hunt. Akan tetapi, Rui tersadar kembali dengan keadaan. Bahwa Astan telah tumbuh dewasa dan harusnya mendapatkan kesempatan untuk memilih jalan sendiri.