Ghost Hunt: Panic in the Country

Ghost Hunt: Panic in the Country
PROLOG




Sejak pertama kali diciptakan, dunia ini memiliki sihir dan dua kehidupan: makhluk hidup (tumbuhan dan hewan) dan roh, hingga tatanan berubah. Manusia pertama datang dan membangun kehidupan. Para manusia itu membuat kehidupan di dunia semakin berwarna.


Hidup berdampingan dengan para roh membuat kehidupan mereka harmonis dan mencapai kejayaan, hingga para manusia-manusia itu termakan oleh keserakahan. Membuat para roh geram dan memutuskan untuk memisahkan diri, membatasi kehidupan, bersembunyi dalam diam nan sunyi. Menciptakan dinding yang membuat para manusia tidak dapat melihat mereka.


Namun, beratus-ratus tahun kemudian. Lahirlah manusia dengan kemampuan cahaya dan kegelapan. Kemampuan ini membuat manusia tidak dapat menggunakan sihir. Akan tetapi, mereka dapat melihat para roh dan saling terhubung. Anak manusia laki-laki ini diasingkan seperti sampah oleh keluarganya, tetapi dia tidak menunjukkan emosi yang dimiliki. Dia hanya terus berjuang agar tidak diasingkan, hingga suatu hari, saat berusia 15 tahun dia sadar, bahwa dirinya tidak harus dilahirkan.


Dengan semua emosi yang selama ini tersembunyi, dia melakukannya di depan seluruh keluarga setelah mendengar perbincangan mereka mengenai  rencana untuk mengirim ke panti asuhan atau hilangkan nyawanya. Sesudah dia mengeluarkan semua isi hatinya. Dia berlari ke arah hutan terlarang yang amat sangat lebat, hingga dia menemukan satu batu besar dan mendudukinya. Dia mengatur nafasnya dan setelah tenang, wajah itu berubah menjadi sangat sedih.


"Dewa, kenapa aku hidup? Apa aku hidup hanya untuk dihina dan direndahkan seperti ini? Tidak bisa menggunakan sihir dan mendapatkan kekuatan yang tidak pernah dimiliki orang lain. Kenapa harus aku? Para manusia itu bahkan menyuruhku mati, kenapa kau tega sekali melakukan ini? Seharusnya, aku tidak dilahirkan." Dia menumpahkan seluruh isi hatinya dengan isak tangis yang mengikuti.


Namun, tangisnya terhenti saat mendengar suara kayu kering terinjak. Dia melihat sosok seorang laki-laki dewasa dengan rambut putih pendek berjalan ke arahnya. Dengan sigap dia mengambil pedang kecil dan mengarahkannya menuju laki-laki dewasa itu. Akan tetapi, sang laki-laki dengan santai menanyakan namanya.


"Saya yang melindungi hutan ini dari manusia-manusia serakah itu, lalu, kamu sendiri kenapa di sini?" tanyanya kembali.


"Itu bukan urusanmu," ucap Reu yang berjalan pergi, tetapi langkahnya terhenti saat mendengar perkataan laki-laki itu.


"Saya tidak memaksamu percaya, jika kamu masih mempercayai manusia, pergilah." Laki-laki itu pergi setelah mengatakan beberapa kata patah.


Dengan masih menyimpan rasa percaya kepada para penduduk di desanya. Reu kembali ke desa, tetapi dia tidak disambut dengan hangat, tatapan-tatapan itu seolah menginginkannya hilang. Saat Reu masuk ke rumah, dia terkejut melihat ayah, ibu, dan adik-adiknya tergeletak dengan berlumuran darah. Reu menghampiri tubuh ayah dan ibunya, terduduk dengan air mata yang tumpah, tetapi dia sama sekali tidak bersuara. Saat Reu menyentuh wajah sang ibu, dia dapat melihat kejadian yang sebenarnya.


"Aku akan membunuh kalian semua," ucap Reu dengan wajah dinginnya.


Saat malam semakin larut dan seluruh penduduk desa tertidur, Reu diam-diam menyiramkan minyak ke seluruh rumah-rumah, menyalakan api di setiap sudut dan rumah. Setelahnya, dia pergi begitu saja tanpa mengatakan apa pun. Sedangkan para penduduk desa mencoba untuk mematikan api yang merambat dan membesar.