
Pagi telah menyapa kembali, Astan telah berpakaian rapi dan pergi untuk bekerja. Sesampainya Astan di kantor, dia duduk di depan Hendrik dan membicarakan beberapa hal. Bahkan, para pekerja berdiri di depan ruang hanya untuk mencuri-curi dengar. Berbeda dengan Endra yang hanya duduk di tempat kerja dan memainkan game di komputer. Tidak berapa lama, pintu terbuka. Membuat para pekerja berhamburan dan kembali di tempat masing-masing.
Sekarang giliran Endra yang menghadap Hendrik untuk membicarakan sesuatu. Sedangkan Astan duduk di sofa dengan kembali mengenakan jaket hitam dan tas ransel. Astan hanya duduk menunggu dengan wajah diam dan melamunnya. Di saat Astan menghela napas dengan kasar, pintu ruangan Hendrik terbuka. Astan berdiri dari duduknya dan berjalan menghampiri Endra.
Endra mengambil tas ransel hitam miliknya dan berjalan pergi bersama Astan. Dengan tangan kiri Endra yang merangkul Astan. Mereka telah berada di depan sebuah gedung yang memiliki 10 lantai, warna dinding telah menua, terdapat beberapa bagian yang retak, dan diselimuti oleh lumut.
Tidak lupa, di pintu masuk juga terdapat poster-poster yang tertempel apik. Mereka berjalan masuk ke gedung dengan disapa oleh para anggota G-Hunt. Astan yang terkejut hanya memasang senyum di wajah. Astan selalu membungkukkan badan sedikit, saat melihat wajah orang-orang yang tersenyum memandanginya. Astan juga tetap tersenyum meski mendengar obrolan orang-orang itu tentang dirinya. Mereka berjalan melewati anak tangga yang begitu banyak hingga berada di lantai sepuluh.
Sekarang keduanya berada di ruangan milik sang ketua dari organisasi G-Hunt yang baru saja menjabat selama dua tahun. Mereka duduk di sofa dalam ketenangan untuk beberapa saat, hingga seorang perempuan berambut pirang pendek datang dengan membawa amplop cokelat. Setelahnya, sang perempuan berdiri tepat di samping kanan ketua tersebut. Beberapa detik setelah Astan menyelesaikan pengisian formulir. Mereka kembali berbincang dalam waktu yang cukup lama.
Beberapa menit telah berlalu, Endra dan Astan telah berada di lantai dasar. Astan berkenalan satu per satu kepada semua orang yang berada di lantai dasar. Astan juga tengah mengobrol dengan anak-anak yang sangat penasaran terhadap dirinya. Akan tetapi, perhatian Astan teralihkan ketika mendengar suara gebrakan meja. Astan memperhatikan dengan wajah terheran, melihat pelaku yang menggebrak meja.
Seorang perempuan berambut hitam panjang mengoceh dengan kesal, mengeluarkan semua keresahan mengenai timnya. Akan tetapi, semua orang mendengarkannya dengan memasang senyum dan tertawa kecil.
“Kak. Synta selalu seperti itu. Anggota timnya tidak ada yang benar,” ucap anak laki-laki yang berdiri di samping kanan Astan dan dia hanya mengangguk paham. Akan tetapi, ingatan Astan berputar saat dia kembali ke kota kelahirannya.
Setelah Synta tenang dan tidak lagi mengoceh. Semua orang kembali ke kegiatan masing-masing. Sedangkan Astan meninggalkan anak-anak dan menuju Endra yang tengah duduk dengan ponsel di tangannya. Astan sudah bersiap untuk duduk, tetapi diurungkannya karena Endra mengajak pergi ke suatu tempat. Mereka berjalan melewati jalanan yang ramai. Setelah melewati beberapa belokan gang, mereka berada di depan sebuah kedai mie tua dan sepi. Hanya terdapat tiga orang yang tengah menyantap mie. Mereka berdua duduk di depan meja yang terdapat seorang laki-laki berambut putih pendek, tubuhnya terlihat membungkuk.
Astan memperkirakan usia laki-laki tersebut telah melewati 40 tahun. Astan memalingkan kepala saat mendengar Endra yang berdehem keras. Tidak lama setelahnya, sang laki-laki yang tengah memasak mematikan api dan membalikan badan cepat. Dengan suara yang mulai renta itu, sang laki-laki memberikan ocehan bermacam-macam kepada Endra. Dengan tidak dapat menahan emosinya, Endra membalas setiap sang laki-laki berkata.
Astan yang bingung akan melakukan apa, hanya diam tanpa bergerak hingga salah satu pelanggan laki-laki tua menghampirinya. Laki-laki tua tersebut juga memberikan senyum tipis dan meminta Astan untuk tidak khawatir. Sang laki-laki menarik telinga kiri Endra keras. Hal itu membuat Endra kesakitan dan memohon maaf. Setelah kejadian tersebut, sekarang mereka berempat tengah duduk saling berhadapan. Untuk beberapa saat, tidak ada satupun yang membuka suara hingga Endra memberitahukan tujuannya.
“Aku kesini karena ingin meminta bantuan Guru untuk melatih Astan. Dia baru saja bergabung dengan G-Hunt, jadi, kemampuannya masih di bawah. Mohon bantuannya.” Endra berkata dengan membungkukkan kepala.
“Sudahlah Bhiaka, jangan berlagak keras. Dia ini anak dari temanku, apa aku perlu membayarmu?” tanya laki-laki tua yang duduk di depan Astan.
“Apa kamu punya teman? Bukankah temanmu hanya aku. He, apakah kamu mengkhianatiku, Hestamma?” tanya pemilik kedai yang bernama Bhiaka.
“Dia ini anaknya Gamya,” jawab Hestamma yang membuat Astan memasang wajah terkejut dan ingin melontarkan pertanyaan.
Mendengar jawaban Hestamma membuat Bhiaka memasang wajah serius dan terus memandangi Astan dengan lekat-lekat. Bhiaka memamerkan senyum manis di wajah dan melontarkan beberapa kata patah. Memberikan persetujuan untuk melatih Astan kedepannya.
Setelah mengatakan beberapa kata, Bhiaka berdiri dan mengajak Endra untuk menjauh. Akan tetapi, Endra terus meracau. Bahkan Endra berkata, “Kamu bukan guruku, aku juga bukan muridmu. Aku tidak mau memasak!” itu merupakan hubungan yang hangat antara murid dan guru. Setelah Bhiaka dan Endra menjauh dari meja tersebut. Hestamma mulai menyesap air teh mawar hangat dan menaruhnya kembali.
“Saya tahu kamu pasti terkejut, dulu kamu sangat manis dan lucu. Pasti kamu bertanya-tanya, dari mana saya mengetahui ayahmu. Dulu kami berteman dekat, meski kami tidak memiliki usia yang sama. Saya pernah berjanji kepada ayahmu untuk menjaga dan menjadi walimu, tapi Rei bersikeras untuk merawatmu," jelas Hestamma.
“Apa anda tahu kejadian sebenarnya, hari itu? Tentang kematian ayah dan ibuku. Saya sangat sering bermimpi, tetapi tidak ingatan apa pun. Saya hanya ingat saat bermain bersama mereka. Saya juga sudah menyelidikinya diam-diam tanpa sepengetahuan Kak. Rei, tapi tidak menemukan apa pun juga.” Astan memberikan pertanyaan yang selama ini ingin diketahuinya.
“Lebih baik jika kamu mengingatnya sendiri. Seberapa keras kamu menyelidikinya, tidak akan menemukan apa pun. Saat ini, berlatih dalam meningkatkan kemampuan diri adalah yang paling utama. Saya juga tengah melakukan penyelidikan terkait peristiwa 11 tahun silam, saya harap kamu bersabar,” jelas Hestamma.
“Anda benar,” timpal Astan setelah mendengar penjelasan dari Hestamma.
“Kamu sangat mirip dengan ayahmu,” ucap Hestamma dengan senyum di wajah.
Setelah perbincangan itu selesai, kini Astan berada di dalam ruangan yang penuh rak-rak buku. Bersama dengan Endra, Astan harus membaca sejarah tentang dunia roh, dari awal hingga sekarang. Astan duduk dengan tenang bersama buku-buku di meja, berbeda dengan Endra yang hanya berbaring dan pergi ke alam mimpi. Mereka menghabiskan 5 jam di perpustakaan dan Astan baru menyelesaikan setengah dari banyaknya buku yang harus dibaca. Akan tetapi, cacing di perut tidak dapat lagi ditahan. Astan membangunkan Endra dengan pelan dan mengajaknya untuk makan siang.