Ghost Hunt: Panic in the Country

Ghost Hunt: Panic in the Country
Vol. 1: Destiny | 26. Kesalahan Di Masa Lalu



Ribuan tahun yang lalu, perang besar terjadi di sebuah pulau. Penyebabnya berawal dari seorang laki-laki yang tengah berpetualang, tetapi mereka tidak disambut baik oleh sang tetua pulau tersebut. Dengan terpaksa mereka pergi meninggalkan pulau. Setelah kepergian para petualang, seorang anak perempuan berambut putih panjang berlari menaiki pegunungan. Sesampainya di rumah, anak perempuan itu bercerita kepada sang kakek. Tentang kedatangan petualang dan kerennya sang tetua dalam mengusir mereka.


"Nanti jika aku sudah besar, aku akan menjadi seperti tetua. Itu keren sekali," ucap anak perempuan dengan senangnya.


"Apa kamu serius, Nariti?" tanya sang kakek.


"Ya. Aku akan menjadi tetua yang baik dan tegas." Nariti menjawab dengan wajah berserinya. Mereka melanjutkan obrolan tersebut.


Setelah obrolan yang panjang, Nariti selalu berlatih sihir setiap hari. Bahkan dirinya diberkati oleh para dewa dengan memiliki kemampuan lain. Antara cahaya dan kegelapan, kemampuan yang sangat jarang dimiliki oleh setiap orang. Nariti juga merupakan orang pertama yang memiliki dua kemampuan itu sekaligus.


Tepat 30 tahun kemudian, Nariti telah menjadi seorang tetua yang sangat dihormati oleh seluruh rakyatnya. Nariti hidup bahagia bersama rakyatnya, hingga suatu hari. Salah satu rakyatnya menemukan seorang laki-laki yang tidak sadarkan diri di tepi pantai. Dengan kemurahan hati, Nariti bersama beberapa orang merawatnya. Membiarkan sang laki-laki tersebut tinggal dalam waktu lama, hingga membuat Nariti merasa nyaman dan jatuh cinta. Dengan pikiran yang matang Nariti memutuskan untuk menikahinya. Akan tetapi, pernikahan tersebut membawa sebuah tragedi yang mengerikan.


Setelah satu tahun pernikahan, hari dimana Nariti tengah menidurkan sang buah hati. Terjadi pembunuhan massal dan pengambilan kekuasaan oleh sang suami, bersama dengan beberapa kapal yang datang dari daratan lain. Tentu hal tersebut membuat Nariti marah besar. Terjadi sebuah pertarungan yang amat sengit, tetapi sang suami Nariti dapat menyelesaikannya. Satu kata yang keluar dari mulut Nariti, sebelum dia pergi, "Jangan bunuh anakku, tolong rawat dia." Itulah kalimat terakhir yang didengar sang suami.


Laki-laki tersebut berjalan menuju tempat tidur berwarna biru muda. Dengan pakaian yang penuh darah, dia menggendong seorang anak perempuan. Yang baru berusia dua bulan. Meninggalkan pulau tersebut, membiarkan para bawahannya untuk mengurus para mayat. Setelah sang laki-laki mendapatkan pulau yang sangat sulit ditembus tersebut. Banyak rumor yang beredar mengenai penduduk pulau itu. Menurut rumor, terdapat beberapa yang masih hidup dan akan terus menyimpan dendam. Hal tersebut berdampak kepada anak perempuannya, hasil dari dia menikahi Nariti.


Rumor tersebut terus terjadi hingga beberapa ratus tahun. Bahkan, ejekan dan hinaan terus didapatnya. Keturunan dengan rambut putih akan membawa petaka, menurut cerita yang turun temurun di Kerajaan Marhara. Pada suatu hari, datang seorang pengembara Laki-laki berambut putih. Setelah kedatangannya banyak hal buruk terjadi tanpa henti. Hal tersebut membuat rakyat Marhara sangat benci dan trauma terhadap Suku Paua yang meninggali Pulau Peolani. Berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun, Kerajaan Marhara memcari suku tersebut dan keinginan mereka tercapai.


Itu merupakan sebuah sejarah singkat yang tengah dibaca oleh Astan dan beberapa temannya.


"Wah, mereka sangat kejam. Seharusnya, mereka mencari jalan keluar. Bukannya membunuh mereka semua, atau mereka bisa marah kepada Dewa. Setiap orang ingin hidup, kenapa sampai seperti itu?" celoteh Seya dengan rasa kesal yang tidak dapat dibendung.


"Buku sejarah ini sangat langka. Jika ketahuan, akan dihukum dan bukunya juga akan dibakar. Aku mendapatkannya dengan penuh perjuangan," ucap seorang laki-laki berambut pirang dan kacamata tebalnya.


"Apa orang yang menulis ini sangat dapat dipercaya?" tanya Seya lagi.


"Tentu saja, bahkan aku bertemu dengan orang yang menulisnya. Dia merupakan seorang penduduk pulau yang selamat. Sekarang, pulau tersebut menjadi tempat tinggal bagi keturunan mereka yang memiliki rambut putih. Mereka seakan menjadi terasing secara paksa," ucap laki-laki tersebut.


"Ada satu hal yang ingin aku tanyakan. Apa Synta merupakan keturunan mereka?" tanya Astan.


"Sebenarnya, ini bukan lagi rahasia umum. Dia terus memberontak dan tidak ingin diasingkan. Di dalam sini dia berani untuk menunjukkan penampilan asli, tapi saat keluar. Dia akan menggunakan rambut palsu, jadi, tidak akan ada yang tahu. Karena kalian anggota baru selama satu tahun. Jadi, wajar jika belum tahu. Ini seperti peraturan tidak tertulis, jika ketahuan. Kita semua juga akan kena imbas," jawab sang laki-laki begitu panjang. Astan hanya mengangguk paham mendengar penjelasan sang laki-laki.


"Lalu, apa kalian pernah protes? Seperti, meminta dia untuk pergi atau meminta ketua untuk menolaknya?" tanya Seya lagi.


"Itu pernah terjadi, tapi setelah kita mendengar penjelasan dan mengetahui informasi tentang sejarah kelam itu. Kami menjadi merasa iba," jawab Gabe.


Di saat tengah asyik dalam obrolan, Endra menghampiri meja mereka. Meminta izin untuk meminjam Astan dan Gabe. Kini Endra, Gabe, dan Astan telah berada di ruang ketua, bersama dengan satu orang perempuan berambut putih. Dengan singkat Adli menjelaskan tentang kasus di pekerjaan pertama bagi Astan. Setelah paham akan situasi kasus, mereka lekas pergi ke tempat kejadian. Sebuah asrama bagi mahasiswa, mereka selalu mendapat teror, seperti rambut putih yang berserakan di setiap lorong. Tidak tertinggal pula, suara menangis dan tertawa secara bersamaan. Di Asrama tersebut juga sering sekali terjadi hilangnya para siswa laki-laki.


Lebih dari sebulan, asrama itu menjadi lebih menakutkan. Bahkan semua penghuni asrama telah pergi dan memilih untuk mencari tempat sewaan lain. Sesampainya di depan gerbang masuk asrama, mereka telah merasakan aura yang menakutkan. Dengan udara malam yang membuat bulu kuduk berdiri.


"Kenapa sepi banget? Bulu kudukku berdiri semua, tempat ini terlihat menakutkan." Gabe berbicara di tengah-tengah keheningan dengan memeluk diri sendiri.


"Apa kamu takut?" tanya Astan.


"Aku, takut? Tidak, aku tidak takut. Aku ini pemberani, hal seperti ini sangat biasa untukku. Mana mungkin ...." Gabe berteriak saat mendengar suara gerbang yang terbuka dan tidak melanjutkan ucapannya.


Seorang penjaga laki-laki berjalan mendekati mereka dan mempersilahkan untuk masuk. Setelahnya, gerbang kembali tertutup. Membuat Gabe mengoceh kesal karena suaranya yang nyaring.


"Kalian jangan salah paham, aku ini orangnya sangat mudah kaget. Ini bukan karena aku takut," ucap Gabe mencoba untuk menjelaskan. Akan tetapi, mereka sama sekali tidak mendengarkannya dan Astan dengan senyum kecil mengajak Gabe untuk menyusul kedua teman setimnya yang telah pergi terlebih dahulu.


Mereka telah berada di koridor asrama dengan penerangan yang cerah. Akan tetapi, aura seram dan menakutkan masih terasa. Endra yang dipercaya menjadi ketua tim memberikan pengarahan untuk berpencar. Mengecek setiap lantai dengan teliti, mereka memang memiliki kemampuan untuk melihat hal tidak kasat mata. Akan tetapi, penglihatan mereka tidak dapat menembus tembok.