
Matahari telah menyapa dengan penuh kehangatan. Suara ramai para tetangga, kendaraan-kendaraan yang keluar–masuk pekarangan apartemen membuat Astan menggeliat. Astan melirik jam dinding yang terpasang dengan kaku dan menunjukkan pukul 06:00 pagi. Astan keluar dengan handuk di leher, baru saja dia menutup pintu kamar, dirinya teringat akan Rei. Saat Astan mengecek ke kamar Rei, dia sama sekali tidak menemukan apa pun. Astan menutup kembali pintu dan menjauh, bersiap diri dengan rutinitas pagi. Setelah selesai Astan pergi untuk bekerja. Di sepanjang perjalanan, Astan terus memandangi jalanan yang padat oleh kendaraan.
Beberapa menit telah berlalu, bus yang dinaiki Astan berhenti di halte Distrik C-3. Seperti biasa Astan membersihkan seluruh kantor. Setelah selesai, Astan terduduk dengan wajah lemas karena masih mengkhawatirkan Rei. Di saat Astan terdiam dalam lamunan, Endra telah berdiri di depan dirinya. Dengan menyender ke dinding dan kedua tangan yang saling melipat. Endra berdehem dengan suara keras hingga membuat Astan tersadar dari lamunan.
“Ada apa?” tanya Astan.
“Harusnya aku yang bertanya, kenapa kamu memasang wajah seperti itu dan melamun? Apa terjadi sesuatu?” tanya Endra dengan rasa khawatirnya.
“Tidak ada apa-apa, aku hanya mengkhawatirkan Kak. Rei. Itu saja,” jawab Astan yang mencoba untuk tersenyum.
“Ah, baiklah kalau begitu. Bisakah kamu membantuku?” tanya Endra lagi. Dengan senang Astan berdiri dari duduknya, “Apa itu?” tanya Astan.
Endra meminta Astan untuk mengikutinya ke meja kosong. Endra memberikan sebuah amplop berwarna cokelat kepada Astan yang memasang wajah bingung. Endra menjelaskan dengan singkat mengenai situasi kantor dan karyawan yang telah habis kontrak. Dia memberikan penjelasan dan memberikan kertas berisi alamat dari penerima amplop cokelat tersebut. Tidak lupa Endra memberikan sebuah kunci kendaraan dan memberi tahu letak penyimpanannya. Astan berdiri di depan sebuah motor skutik berwarna cream dengan box hitam. Dua warna yang sama sekali tidak masuk, tetapi itu bukanlah masalah. Astan bergegas menuju kendaraan motor, memasukkan amplop cokelat ke box hitam, menyalakannya dan melesat pergi.
Di perjalanan Astan berusaha untuk menyalip kendaraan-kendaraan lain. Tidak lama Astan telah sampai di depan sebuah gerbang gapura, tulisan besar terlihat jelas, yaitu 'Distrik D-6'. Astan berjalan mendekati pos satpam untuk memberikan identitas dan pengecekan. Setelah selesai, dia melanjutkan perjalanan melewati bangunan-bangunan yang tidak terawat dan sangat tua. Dinding beton penuh oleh coretan tinta berbagai warna, orang-orang berpakaian dengan sangat nyentrik dan bebas. Alasan mereka berpenampilan seperti itu karena daerah D-6 sangatlah bebas, berisi mafia, preman, prostitusi, dan masih banyak lagi. Astan telah menemukan sebuah bangunan sederhana nan tua yang merupakan rumah makan. Astan berjalan masuk, disapanya seorang laki-laki dan perempuan yang telah berusia sekitar 50-an.
Terlihat jelas, kedua orang tersebut sangat menanti kedatangannya. Astan memberikan amplop cokelat dan menunggu beberapa detik hingga mereka membukanya. Setelahnya, Astan berpamitan. Akan tetapi, sang perempuan memintanya untuk menunggu sejenak. Tidak perlu menunggu lama, sang perempuan kembali dengan membawa kantong berbahan kain. Dengan senyum canggung Astan menerimanya dan lekas berpamitan. Tanpa terasa Astan telah berada di tempat parkir gedung perkantoran, bergegas menuju kantor, memberikan bingkisan tersebut kepada Endra yang berada di tengah ruangan bersama karyawan dan bos. Mereka semua memasang wajah suram dan menundukkan kepala tanpa berani untuk mengangkatnya. Astan yang heran dengan para teman kerjanya, hanya dapat memberikan tatapan tanya pada mereka. Tiba di saat Astan melihat Hendrik yang terduduk dengan wajah sedih.
Tanpa sadar air mulai berjatuhan dari pelupuk mata Astan. Sepasang mata Astan melihat senyum manis perempuan di dalam bingkai photo. Satu kalimat meluncur dari mulut Astan, “Maaf.” Itulah satu kata yang keluar dengan suara lirihnya. Saat Astan menatap tepat di kedua mata Rei, dia membuangnya dan mencoba untuk tidak menangis. Akan tetapi, Astan terkalahkan oleh perasaan sedih, marah, dan rasa bersalah dirinya. Menangis sejadi-jadinya, jatuh bersimpuh dengan kedua tangan yang memegangi lutut. Di Saat itu pula seorang perempuan yang merupakan kembaran Rei memeluk Astan dengan wajah pucat dan terlihat lelah. Tangis keduanya pecah dan memenuhi seluruh ruangan. Sekarang mereka telah berada di sebuah tanah pemakaman, semua diam dengan wajah bersedih.
Namun, tidak dengan Astan yang hanya berdiri dengan wajah tanpa ekspresi, matanya terlihat begitu dingin. Setelah acara pemakaman usai semua berhamburan pergi, sedangkan Astan bertahan beberapa menit untuk menatap gundukkan di depannya. Astan bahkan diam saat sebuah tangan menyentuh pundak kirinya, tetapi beberapa detik kemudian dia menoleh. Melihat Endra dengan pakaian serba hitam dan membawa tas ransel di tangan kirinya. Untuk beberapa saat mereka terdiam, sampai Astan berbalik dan pergi. Tanpa berkata apa pun, Endra mengikuti Astan hingga mereka telah berada di dalam sebuah mobil. Tidak membutuhkan waktu yang lama mereka telah berada di apartemen tempat Astan tinggal. Tanpa berkata, Astan hanya masuk ke kamar dan menguncinya.
Astan tidak memedulikan Endra, dia hanya menidurkan diri dan menutup seluruh badan dengan selimut. Dengan tidak bersuara Astan kembali mengeluarkan air mata terlalu banyak hingga lupa dan tertidur. Malam telah menjemput, birunya langit tidak lagi terlihat. Dengan pelan Astan mendudukkan diri, melihat seluruh penjuru kamar yang sunyi. Meski suara kendaraan menusuk telinga, tetapi Astan merasa sunyi. Dengan langkah pelan Astan keluar dan mendapati makanan di meja. Seorang perempuan berjalan dengan membawa mangkuk besar dan menaruhnya di meja. Perempuan tersebut memberikan senyum kepada Astan yang masih berdiri. Astan berjalan pelan mendekat dan duduk dalam ketenangan, tanpa membalas senyuman Rui.
Astan mulai menyantap makan malam dalam diam, hanya suara detik jarum jam, nyanyian sendok, dan napas mereka berdua. Setelah makan malam selesai, Astan pergi tanpa sepatah kata pun. Akan tetapi, langkah Astan terhenti saat Rui memintanya untuk meluangkan waktu sebentar. Tanpa menolak Astan kembali duduk dan menunduk dengan begitu dalam. Hal tersebut karena Astan enggan untuk menatap wajah Rui. Rui menatap lembut Astan yang menyembunyikan wajahnya.
“Kakak tahu, kamu merasa sedih dan bersalah. Tapi, kamu tidak bisa terus seperti itu. Aku juga merasa kehilangan, tapi jika kita terlalu jatuh. Maka akan sulit untuk berjalan. Aku yakin, Rei juga ingin kamu terus berjalan.” Rui berucap dengan merogoh tas selempang miliknya. Mengeluarkan sebuah kotak hadiah berwarna biru muda dan amplop putih.
“Tadi, aku masuk ke kamar Rei dan menemukan kontak beserta amplop putih. Sepertinya itu untukmu, aku sudah membersihkan kamar Rei. Jadi, kamu bisa memilih barang yang akan disumbangkan atau disimpan.” Setelah itu Rui berdiri untuk membersihkan meja makan.
Astan yang mendengar semua itu hanya diam dengan sesekali melirik kota biru dan amplop putih di depannya. Cukup lama Astan hanya memandangnya, hingga beberapa menit kemudian. Astan mengambilnya dan bergegas masuk ke kamar Rei yang telah diterangi oleh lampu. Astan melihat seluruh penjuru ruang kamar, melangkah mendekati tempat tidur dan duduk dengan tenang. Perlahan Astan membuka kotak hadiah, jam tangan berwarna silver tertangkap oleh penglihatan Astan. Dia mengambil dan membuka amplop putih yang berisi sebuah surat berwarna cokelat. Membaca surat dalam diam dan fokus. Meski ingin menangis lagi, tetapi dia urungkan dan terus menahannya.