Ghost Hunt: Panic in the Country

Ghost Hunt: Panic in the Country
Vol. 0: I Lost | 5. Perempuan Berwajah Pucat



Beberapa kali Astan menarik dan mengembuskan napas, dia bergegas pergi dari rumah itu. Semakin mendekati pintu keluar, kabut putih nan tebal datang dengan cepat menutupi semua pemandangan indah. Astan berdiri tepat di depan pintu yang terdapat sebuah ukiran tangan kanan. Tanpa berpikir panjang, Astan menaruh tangan kanan di ukiran itu. Dalam hitungan detik pintu terbuka dengan perlahan dan dia berjalan keluar. Pintu-pintu dan tangga yang panjang kembali harus dilewati hingga Astan berada di ruangan terakhir. Dengan sangat jelas Astan dapat mendengarkan suara-suara seram, tetapi dia tetap berjalan tanpa menoleh ke kanan maupun kiri, mencoba untuk mengabaikan semua itu. 


Namun, ketika Astan telah berada di depan pintu terakhir. Suara perempuan yang familiar terdengar, tanpa berpikir panjang Astan perlahan membalikan badan. Dengan jelas Astan dapat melihat sosok perempuan berambut hitam panjang. Keduanya beradu tatapan beberapa detik, tetapi sebuah cairan merah seketika keluar dari perut sang perempuan, merembes hingga membuat kain putih itu menjadi memerah darah. Napas Astan mulai terengah-engah, seakan kehabisan oksigen untuk dihirup, benih-benih keringat berjatuhan dari pelipisnya. Suara tawa semakin terdengar keras, begitupun dengan suara tangis.


Dalam seketika Astan terbangun dari tidurnya dan melirik jam walker di atas meja. Jarum jam telah menunjuk angka 07:00 pagi. Astan bergegas melakukan rutinitas pagi, mandi, memasak, dan sarapan. Setelah semua terselesaikan, dia beranjak pergi meninggalkan perabotan dapur di tempat pencucian. Dengan penuh kepercayaan diri Astan pergi menuju Distrik B-3, di mana Akademi Santya berada. Dengan memasang senyum Astan berjalan masuk hingga terlihat sebuah taman yang dipenuhi oleh meja dan orang. Dia berjalan mendekati taman dengan wajah berseri, Astan berkeliling untuk memilih perusahaan hingga menangkap sosok laki-laki familiar bagi ingatannya, yaitu Endra. Astan berjalan mendekati Endra dan menyapanya terlebih dahulu. Untuk beberapa detik mata mereka saling bertatapan, mereka tersenyum lebar penuh kesenangan.


“Apa yang kamu lakukan di sini? Apa kamu mau melamar di kantor kami?” tanya Endra dengan wajah senang.


“Iya," jawab Astan dengan senyum canggung.


“Tidak perlu canggung seperti itu, taruh saja di meja.” Endra berucap dengan memberikan kertas dan bolpoin kepada Astan.


“Isi dulu kertas formulirnya,” ucap Endra dengan senyuman di wajah. Astan mengisi formulir cepat dan memberikannya kepada Endra.


Setelahnya Astan kembali melanjutkan mencari beberapa perusahaan yang  sesuai dengan kualifikasi dirinya. Beberapa jam telah berlalu, matahari telah berada di tengah. Membuat cacing di perut Astan bernyanyi, dia melihat beberapa meja yang mulai merapikan barang. Dengan sedikit malu-malu Astan memberanikan diri untuk bertanya kepada salah satu orang yang mengenakan jas almamater Akademi Santya. Astan segera pergi ke kantin. Dia menaruh tas ransel di meja, membuka resleting dan mengambil botol minuman berwarna biru muda. Dia meneguknya cepat untuk menghilangkan haus. Dirinya pergi ke kasir untuk memesan makanan. Tidak berapa lama, pesanan Astan telah selesai dibuat dan dia mengambil nampan berisi mangkok putih dan segelas es teh manis. Astan kembali ke meja tempatnya duduk dan menyantap mie instan rasa ayam bawang dengan toping bakso ayam dicampur beberapa jenis sayuran segar.


Saat tengah menyantap makan siangnya, sesekali Astan melihat sekeliling kantin. Tidak sengaja dia melihat sesosok perempuan yang mengenakan pakaian putih dan berwajah pucat mengikuti laki-laki asing. Astan masih terus memperhatikannya hingga laki-laki itu mendudukkan diri. Sosok perempuan itu hanya berdiri di belakang orang yang diikutinya. Memeluknya dengan kedua tangan yang pucat pasi hingga beberapa detik kemudian, sesuatu terjadi kepada orang itu. Orang-orang memberikan perhatian dan saling berbisik satu sama lain.


Bahkan tidak ada satu pun yang berniat untuk menolong, hingga beberapa orang berpakaian rapi datang dengan membawa seorang laki-laki berwajah datar. Laki-laki itu terlihat melakukan sesuatu yang membuat sosok perempuan keluar dari tubuh sang laki-laki. Kedua mata Astan tidak sengaja bertabrakan dengan perempuan berwajah pucat itu. Untuk beberapa detik mereka saling bertatapan hingga sebuah tangan menepuk pundak Astan. Astan segera menengok ke kiri dan Endra telah berdiri di dekatnya. Dengan wajah seriusnya Endra menonton sisa dari kejadian tersebut.


“Apa yang terjadi?” tanya Endra dengan wajah penasarannya.


“Oh,” ucap Endra mendudukkan diri bersama Astan. Endra mengambil gelas berisi es teh manis dan meminumnya hingga tidak tersisa satu tetes pun. Astan yang menyadarinya hanya dapat diam dan memberikan tatapan kesal.


“Kenapa kamu minum es teh manisku?” tanya Astan.


“Aku haus," jawab Endra dengan senyum yang memamerkan gigi putihnya.


“Tenang, aku akan membelikanmu.” Endra kembali berucap dan lekas berdiri dari duduknya.


Endra berjalan menuju kasir untuk memesan. Setelah selesai dengan pesanan, Endra membawa nampan berisi satu piring dan dua gelas dan kembali menuju meja, duduk tepat di samping Astan. Mereka menikmati makanan bersama hingga tidak ada yang tersisa sama sekali. Setelah selesai, mereka berpisah dan di lorong yang masih ramai Astan berjalan seorang diri. Sekarang dia berada di halte menunggu beberapa menit hingga bus datang. Dia masuk dan duduk di tempat yang paling belakang dan menyenderkan kepala ke kaca.


Perlahan Astan memejamkan kedua mata, tetapi hal tersebut membuat suasana sekitar menjadi lebih buruk. Tidak ada suara apa pun yang dapat didengarnya. Akan tetapi, satu detik kemudian. Suara bisikan seorang perempuan terdengar di telinga kanan Astan.


“Kamu mau apa?” tanya Astan, membuka kedua matanya dengan cepat. Semua kembali normal, suara dan suasana sekitar. Bus yang mulai ramai oleh beberapa penumpang, jalanan juga dipenuhi oleh kendaraan-kendaraan.


“Tolong aku,” jawab sosok perempuan dengan suara pelan.


Ketika mendengar jawaban perempuan berwajah pucat itu, Astan terdiam beberapa saat hingga bus berhenti. Astan mendekati pintu keluar dan memberikan 5 Weal kepada sang asisten supir dan berjalan menjauh dari halte hingga melewati sebuah gapura dengan tulisan ‘Selamat Datang Di Distrik B-4’. Dirinya masih betah mendengarkan permohonan perempuan berwajah pucat, tetapi dia hanya diam dan tidak menimpali. Astan hanya melayangkan pandangan pada bangunan-bangunan di setiap sisi jalan yang terlihat menua karena memudarnya warna cat.


Distrik B-4 lebih banyak dihuni oleh orang-orang berpenghasilan di bawah 2500 Weal. Bangunan seperti tempat tinggal, sekolah, dan sebagainya pun terlihat tidak sebagus dulu dengan warna yang cerah nan bersih. Bangunan-bangunan itu terlihat tua dengan dinding yang mengelupas dan warna putih kusam. Astan berjalan masuk ke minimarket, menuju lemari es yang menyimpan berbagai jenis minuman. Diambilnya satu botol kecil kopi rasa moccha dan bergegas membayar. Astan berjalan pelan hingga melewati gerbang sebuah apartemen. Dia berdiri di depan lift hingga pintu terbuka dan lekas masuk. Ditekannya sebuah angka dan segera meluncur ke atas. Ketika lift akan berhenti di lantai 14, Astan meneguk habis kopinya.