Ghost Hunt: Panic in the Country

Ghost Hunt: Panic in the Country
Vol. 0: I Lost | 11. Bena vs Tiora



Mereka telah berada di depan gedung bertingkat yang terlihat sangat tua. Mereka berjalan melewati pintu gerbang dan bertemu dengan sang pemilik bangunan. Sang pemilik sedikit menjelaskan mengenai permasalahan gedung. Bahkan terdapat beberapa komplain dari penyewa apartemen. Sebagian dari penyewa juga memilih untuk pindah dari tempat tersebut, tetapi masih terdapat pula yang bertahan tinggal. Setelah penjelasan yang panjang mereka segera masuk ke gedung apartemen.


Semua terasa sangat sunyi tanpa sebuah pencahayaan yang terang. Lampu-lampu menyala dan kembali mati secara bergantian. Semua orang telah berada di kediaman masing-masing dan memilih untuk mengistirahatkan diri. Bersama dengan kedua temannya, Rei menyusuri setiap lantai apartemen. Mereka juga menempelkan sebuah kertas berisi tulisan mantera, agar para roh tidak mengganggu apartemen yang terdapat penghuninya.


Beberapa menit berlalu dan mereka telah menempelkan semua mantera. Mereka mulai berpencar untuk mencari sosok hantu yang suka mengganggu. Di tengah-tengah kesunyian malam dengan sesekali terdengar suara kendaraan. Rei berada di lantai 10 dan seorang diri. Mereka saling berkomunikasi dengan menggunakan headset HT berwarna hitam yang terpasang di telinga masing-masing. Beberapa menit telah berlalu, tetapi yang ditunggu belum juga muncul hingga udara sekitar seketika berubah menjadi sedikit panas.


Rei memberikan instruksi kepada kedua temanya untuk lebih berhati-hati dan meningkatkan kewaspadaan, hingga suara langkah kaki sangat menggema di tengah kesunyian ini terdengar. Rei berjalan menjauh dari tempatnya berdiri menuju sebuah anak tangga. Menaiki anak tangga satu per satu dengan pelan sambil mendengarkan langkah kaki yang terdengar seperti menjauh dari lantai 11 dan terus naik hingga berada di lantai empat belas. Suara langkah itu seketika tidak terdengar dan hanya udara kecil yang menyentuh kulit tangan Rei. Rei melihat sekeliling yang telah dipenuhi dengan kabut hitam sedikit keabu-abuan. Rei bersiap dengan pedang yang berada di tangan kirinya dan akan ditarik oleh tangan kanan.


Tidak berselang lama, terlihat sosok bayangan besar berwarna hitam tengah berjalan menuju lorong tempat Rei berdiri. Sosok tersebut berhenti tepat di jarak 10 meter dari Rei yang tengah berdiri. Rei memperhatikan sosok itu dengan wajah serius dan memberikan informasi kepada kedua teman satu timnya. Rei mulai menarik pedang dari tempatnya dan akan bersiap untuk menyerang. Akan tetapi, sosok tersebut menghilang dengan cepat. Kini telah berada tepat di depan Rei yang hanya berjarak 30 centimeter saja.


Dengan hitungan detik, sosok tersebut mengarahkan tangan kanan yang mengepal tepat berjarak 1 centimeter dari perut Rei. Hal itu membuat Rei terpental jauh dari tempatnya berdiri, hingga terbentur dinding baja dan terjatuh dengan memegang perut yang kesakitan. Suara kedua teman Rei terdengar begitu sangat mengkhawatirkannya. Dengan sangat sulit Rei mencoba untuk berdiri. Rei menarik pedang dengan cepat, sebuah pedang berwarna perak dan begitu menyilaukan di tengah gelapnya malam. Sosok tersebut seketika berubah diri menjadi menyerupai manusia.


“Sepertinya dia berada di level 2,” ucap Rei yang tetap berdiri dengan penuh kewaspadaan.


“Aku tidak dapat ke sana, di sini juga ada satu sosok.” Salah satu dari mereka menjawab di tengah-tengah pertarungan.


“Di sini juga,” jawab yang lainnya.


“Ha, aku kira yang akan datang lebih kuat dariku. Ternyata kamu masih di bawahku,” ucap sosok tersebut.


“Kalau begitu, aku minta maaf karena tidak sesuai dengan ekspetasi kamu, tapi bukankah kamu terlalu meremehkan lawanmu.” Rei berucap dengan begitu tenang dan mencoba menghilangkan ketakutannya.


Saat pedang perak itu berkilau, tiga sosok berbeda muncul dan berdiri tepat di belakang Rei. Dengan gerakan cepat mereka berdua saling menghunuskan pedang secara bersama. Rei memanggil nama salah satu dari sosok yang membuat kontrak dengannya yaitu Emily. Sosok perempuan berusia 16 tahun yang memiliki kemampuan untuk mengikat musuh menggunakan akar pohon. Dalam hitungan detik Emily telah menjadi satu dan berada di tubuh Rei. Mereka saling memberikan serangan tanpa ada yang mengalah hingga Rei kembali terhempas mengenai dinding. Rei kembali berganti cepat dengan Hugo, sosok laki-laki berusia 20 tahun yang memiliki kemampuan dimensi dan waktu.


Hal itu membuat semua orang di apartemen dipindahkan, hanya bangunan yang tersisa dan menjadi arena pertarungan. Hugo kembali bertukar dengan sosok bernama Riano yang berusia 20 tahun dan memiliki badan kekar. Mereka berdua kembali bertarung hingga membuat dinding-dinding menjadi rusak. Untuk kesekian kalinya, Rei kembali terlempar sangat jauh hingga menembus beberapa dinding pembatas. Dengan penuh luka di badan Rei berusaha untuk berdiri kembali. Hal tersebut membuat Emily, Hugo dan Riano menghilang seketika. Tawa sosok di depan Rei terdengar sangat keras dengan mulai berjalan pelan mendekatinya. Sosok tersebut menghilangkan pedang dan mengulurkan tangan.


Sebuah cahaya merah keluar dengan cepat mengarah menuju Rei, tetapi saat jarak menipis. Rei melihat sosok anak kecil berdiri di depan dirinya. Dalam seketika dia terlapisi sebuah pelindung bersama anak kecil itu. Rei memasang wajah terkejut dengan mata yang melebar. Saat melihat sosok anak kecil di depannya dengan usaha untuk melindungi Rei dari serangan tersebut. Ledakan besar menggema bersama cahaya merah yang terang. Satu detik kemudian beberapa dinding hancur berkeping-keping.


“Apa kakak terluka?” tanya anak laki-laki tersebut.


“Satu pengganggu datang,” ucap sosok yang melawan Rei.


“Tiora, maaf karena aku telah mengganggu. Akan tetapi, aku memiliki tujuan muncul di sini.” Anak laki-laki tersebut berjalan menjauh dari Rei dan masih mempertahankan lingkaran pelindung. Anak laki-laki tersebut berubah diri menjadi sosok dewasa dengan pakaian serba hitamnya.


“Ha, kamu datang untuk menjaga perempuan lemah itu. Ini lucu, kamu bersepakat untuk gabung dan ternyata kini menjadi pengkhianat. Apa kamu juga akan memusnahkan ku?” ucap Tiora dengan memberikan satu pertanyaan.


“Itu bukan urusanmu,” jawabnya singkat.


“Kamu benar-benar Bena .... Baiklah, aku akan serius melawanmu. Meski sebenarnya kamu hanya seorang anak kecil.” Tiora berucap dengan senyum simpul di wajahnya.


Namun, Bena sama sekali tidak membuka suara. Bena hanya memasang wajah tanpa ekspresi dengan memunculkan sebuah pedang perak di tangan kanannya. Pedang tersebut bersinar untuk beberapa detik. Setelahnya muncul kembali mereka, yaitu Emily, Hugo, dan Riano. Senyum kecil terlukis di wajah Tiora saat melihat kembali mereka bertiga.


“Ah, jadi, kamu pemegang kontrak asli.” Tiora berucap dengan senyum senang, tetapi terlihat mengerikan. Beberapa saat kemudian Tiora mengeluarkan tawa ngerinya.


Satu detik kemudian, mereka berdua beradu pedang bersama hingga mengakibatkan angin di sekelilingnya muncul. Mereka saling bertarung dengan sangat serius tanpa peduli pada kerusakan yang dibuat.  Sedangkan Emily, Hugo, dan Raino memiliki tugas untuk tetap berada di dekat Rei. Dalam seketika Bena dapat menghindari serangan tinju dan tendangan dari Tiora. Pedang di tangan kanannya menghilang dalam sekejap mata, hingga sebuah akar muncul di kedua tangan Bena. Dengan cepat memanjang dan mengikat tubuh Tiora, tetapi semua itu tidak berguna karena Tiora dapat melepaskannya tanpa kesulitan sama sekali.


Bena tetap menyerang Tiora tanpa menyerah, hingga seluruh badannya terlihat sangat kelelahan dan penuh luka-luka. Napas Bena terdengar begitu terengah-engah dengan badan setengah membungkuk. Tubuh sosok dewasanya menghilang seketika dan kini Bena berubah menjadi anak kecil berusia 14 tahun. Begitu pula dengan Tiora yang tengah berdiri setengah tegap. Napas Tiora terdengar kasar dan terus naik-turun untuk mencoba menormalkannya, hingga merasa sedikit lebih baik. Tiora memasang senyum tipis di wajah dengan memberikan tatapan kepada Bena yang masih bergelut dengan napas lelahnya.


“Kamu memang terlihat kuat, tapi kekuatanmu itu sudah mencapai batasnya. Menyerahlah dan minggir dari hadapanku. Jangan menghalangi jalanku,” ucap Tiora berjalan untuk melewati Bena. Akan tetapi, saat Tiora telah berada satu langkah di belakang Bena. Sebuah pola terlukis dan bersinar melingkari mereka berdua.


“Aku memang kelelahan, tapi aku masih memiliki energi terakhirku.” Bena berucap dengan begitu santai.


“Apa ini tujuanmu, ikut dalam pergerakan ini. Semua yang kamu lakukan menjadi sia-sia,” ucap Tiora dengan wajah seriusnya.


“Sejak aku meninggal, kalian bahkan telah mengambilku. Memanfaatkan kekhawatiranku terhadap kedua kakakku untuk kepentingan kalian. Kalian mengikatku dengan perasaanku. Setidaknya, sebelum aku pergi. Aku dapat melihat kakakku.” Bena mengeluarkan suara dengan wajah datarnya. Bena berjalan keluar dari lingkaran dengan langkah pelan.