Ghost Hunt: Panic in the Country

Ghost Hunt: Panic in the Country
Vol. 0: I Lost | 13. Rasa Bersalah



Suara bising kendaraan menjadi musik indah di setiap pagi hari. Astan baru saja keluar dari kamar dengan pakaian rapi. Sejenak Astan memandang pintu kamar Rei yang masih tertutup sangat rapat. Dirinya menghampiri lemari es, mengambil empat buah telur, nasi, daun bawang, dan serta beberapa rempah-rempah untuk memasak nasi goreng. Dengan tangan yang lihai Astan memotong rempah-rempah dan memasakkannya. Tidak memerlukan waktu banyak, Astan telah menyelesaikan kegiatan memasaknya. Memindahkan nasi goreng ke piring dan menaruh wajan di tempat pencucian.


Astan mendekati pintu kamar Rei, dia mengetuk dan memanggilnya, tetapi tidak ada sahutan dari sang empu. Astan memutuskan untuk menyantap makan pagi seorang diri. Setelah satu porsi nasi goreng tidak tersisa, Astan berdiri dan menyempatkan diri untuk mengetuk pintu kamar Rei lagi. Setelah mengeluarkan beberapa kata patah, Astan pergi dari apartemen. Di sepanjang perjalanan Astan hanya duduk diam dengan sesekali melihat tangan kiri yang terdapat jam tangan berwarna silver, tidak berselang lama bus pun berhenti. Astan bergegas pergi menuju kantor. Sesekali dia memberikan pandangan menuju sekeliling, melihat yang tidak dapat dilihat oleh orang biasa. Meski Astan berada di luar ruangan, tetapi rasanya sangat sesak dan padat oleh orang-orang. Udara yang bebas seakan menjadi rebutan dan akan habis. Tatapan roh-roh di sekitar membuat Astan menundukkan kepala dan mempercepat langkahnya hingga berada di dalam lift.


Dalam hitungan detik, Astan telah berada di lantai 4 dan berjalan menuju kantor. Dia melakukan beberapa pekerjaan, salah satunya membersihkan seluruh ruangan yang berada di kantor. Tidak lama para karyawan mulai berdatangan dan Astan memulai pekerjaan lain. Beberapa dari mereka meminta tolong untuk membelikan sarapan. Dengan senang hati Astan melakukan pekerjaan tersebut. Meski Astan merasa kurang nyaman dengan situasi di luar gedung, tetapi dia tetap pergi. Tidak membutuhkan waktu lama, Astan kembali dengan dua kantong plastik di tangan. Astan berjalan mendekat dan menaruh bubur ayam, tetapi ketika dia akan pergi Endra memintanya untuk bergabung. Dengan penuh keterpaksaan Astan mendudukkan diri tepat di samping Endra.


Mereka sarapan bersama dengan senyum dan tawa, saat sebuah lelucon kecil terdengar hingga suara hendrik membuat semua terdiam seketika. Setelah kepergian Hendrik, mereka membersihkan meja yang penuh makanan dan kembali bekerja. Begitu pula dengan Astan yang berada di dapur, memisahkan sampah-sampah sesuai jenis dan memasukkannya ke plastik berwarna hitam. Dia berjalan keluar gedung dengan dua tangan yang membawa plastik sampah ke belakang gedung perkantoran. Sebuah tempat pembuangan sampah, dia menaruh dua kantong plastik sesuai tempatnya. Setelahnya Astan bergegas pergi, tetapi suara seorang perempuan yang memanggil namanya. Membuat Astan menghentikan langkah dan mencari sumber suara hingga dia melihat seorang perempuan.


Seorang perempuan berambut cokelat panjang dengan kuncir kuda dua, duduk di dinding pembatas setinggi 5 meter. Senyum lebar mengembang di wajah sang perempuan saat Astan menemukannya. Pakaian kurang bahan sang perempuan membuat Astan memalingkan wajah dengan cepat. Akan tetapi, suara sang perempuan membuat Astan mendongak.


“Kamu sudah besar, dulu kamu sekecil ini. Seorang anak laki-laki yang malang,” ucap sang perempuan.


“Siapa kamu?” Astan bertanya dengan wajah yang serius dan memberikan tatapan tajamnya.


“Seseorang dari masa lalu yang membuatmu kehilangan kedua orang tua,” jawab sang perempuan dengan masih tersenyum kecil.


“Aku tidak akan percaya," balas Astan.


“Jangan-jangan kamu mengingat semuanya, benarkah?” Sang perempuan bertanya dengan raut wajah yang berpura-pura terkejut.


“Apa kamu kira aku ini bodoh? Hingga tidak mengingat masa lalu sendiri.” Astan kembali berkata dengan wajah seriusnya.


“Itu bagus jika kamu ingat, biasanya jika seorang anak kecil mengalami masa lalu yang pahit. Mereka cenderung sulit melupakannya, bahkan ada yang lebih memilih untuk memendamnya. Aku suka tipe yang kuat sepertimu,” ucap sang perempuan dengan senyum nakalnya dan pergi begitu saja.


Membiarkan Astan yang berpura-pura ingat itu semakin penasaran akan dirinya. Astan meninggalkan tempat pembuangan sampah dan kembali bekerja hingga matahari telah menuju peraduannya. Astan pulang dengan penuh pikirkan hingga dia tidak sadar telah berada di apartemen. Dia menangkap Rei yang tengah duduk dalam diam. Astan mendekati meja makan dan duduk di depan Rei. Untuk beberapa saat mereka berdua saling diam hingga Rei bersuara dengan wajah serius. Hal tersebut membuat Astan sangat terheran-heran dan tidak percaya akan apa yang Rei katakan.


“Kakak bercanda bukan, apa alasan Kak. Rei melarangku untuk bekerja di tempat itu? Kenapa?” tanya Astan dengan napas yang memburu.


“Cari pekerjaan yang lain, aku punya firasat buruk.” Rei menjawab dengan cepat pertanyaan yang dilontarkan oleh Astan.


“Dari dulu kakak memang selalu seperti ini, melarangku untuk melakukan apa pun. Aku sudah besar dan bisa mengurus diri sendiri.” Astan berkata dengan sedikit kesal.


“Aku hanya khawatir, hanya itu saja.” Rei kembali membalas ucapan Astan.


“Kakak percaya berita tidak benar di luar sana, bahkan tidak ada bukti apa pun kalau organisasi G-Hunt jahat. Semua hanya teori saja dan juga, Endra tidak mungkin bergabung dengan organisasi tersebut. Dia bahkan tidak memiliki kemampuan seperti itu,” ucap Astan segera pergi dari hadapan Rei dan menuju kamar tidurnya.


Astan menutup pintu dengan keras, melempar tas ke tempat tidur dan mendudukkan diri dengan kasar. Dia mencoba untuk mengatur napasnya yang terlalu menggebu-gebu oleh emosi sendiri. Di saat Astan tengah menenangkan diri, Cakara dan Yeni berjalan menghampirinya. Astan kembali menghela napasnya pelan dan menceritakan apa yang terjadi. Setelah mendengar penuturan Astan, mereka mengerti keadaan saat ini. Cakara duduk di sebelah kiri Astan, tangannya menepuk pundak Astan pelan. Dengan segenap hati, Cakara mencoba untuk mengeluarkan pendapatnya dan memberikan beberapa penjelasan kepada Astan.


“Sekarang kamu sudah mengerti bagaimana kekhawatiran Kak. Rei, itu bukan hanya semata takut bahwa kamu akan bergabung dengan G-Hunt.” Cakara kembali berkata dengan suara pelan.


“Meski seperti itu, Astan yang akan menentukan perjalanan masa depannya. Memang benar, energinya tidak begitu kuat, tapi untuk ukuran sebesar itu. Bagaimana kamu dapat berbicara dengan Cakara?” Yeni berucap dengan begitu panjang, tetapi hanya memberikan satu pertanyaan.


“Ah, itu. Kamu tidak perlu tahu,” jawab Cakara dengan senyum kecil di wajah.


“Lagian, Astan juga sudah besar. Sudah waktunya untuk menjalani pertumbuhan dewasa,” ucap Yeni lagi.


“Sebenarnya, seperti apa G-Hunt itu? Kenapa Kak. Rei selalu membuatku menjauh dari semua hal?” tanya Astan di tengah-tengah pembicaraan Cakara dan Yeni.


Dengan jujur Yeni menceritakan semua tentang G-Hunt dan informasi yang diketahuinya. Ditambah mengenai pemerintah berwenang yang menangkap semua orang dengan kemampuan ini, tetapi Yeni tidak memberitahu alasan mereka melakukan hal tersebut. Tentu karena sebelum Yeni mengetahuinya, dia telah meninggal dibunuh.


“Sekarang, apa yang akan kamu lakukan? Kamu tahu bukan, ayah dan ibumu dianggap bunuh diri. Aku tidak tahu, sebelum itu apa yang terjadi. Aku berharap kamu bisa mengingatnya dan menyelesaikan masalah dirimu sendiri,” ucap Cakara dengan sebuah selipan pertanyaan.


“Aku akan meminta maaf kepada Kak. Rei. Setelah itu, aku akan menuruti semua yang Kak. Rei inginkan. Aku tahu, aku harus menyelesaikan masalahku, tapi aku tidak ingin terlibat apa pun dan aku ingin hidup seperti biasa.” Astan menjawab pertanyaan Cakara dan keluar untuk menemui Rei, tetapi Astan sama sekali tidak menemukannya. Bahkan Rei tidak ada di kamarnya, tentu itu membuat Astan sangat Khawatir.


Dengan langkah cepat Astan keluar, berjalan di malam yang mulai dingin. Hanya dirinya yang sama sekali tidak menggunakan jaket. Bahkan Astan menanyai setiap orang yang ditemuinya, tetapi semua sia-sia. Meski seperti itu, Astan sama sekali tidak menyerah dan kembali mencari di setiap sudut distrik kompleks B-4 hingga malam semakin menjadi. Astan memasang wajah frustasi dan duduk di pinggir jalan. Setelah Astan merasa tenang, dia segera pulang. Sesampainya di apartemen, Astan berjalan menuju kamar Rei dan berdiri di sana sejenak. Setelah merasa puas, Astan kembali ke kamar dan beristirahat, tetapi dia sama sekali tidak dapat memejamkan mata hingga lupa dan membuatnya tertidur pulas.