Ghost Hunt: Panic in the Country

Ghost Hunt: Panic in the Country
Vol. 1: Destiny | 27. Sosok Leluhur Synta



Astan berada di lantai tujuh yang sangat sunyi dengan lorong panjangnya. Astan berjalan dengan pelan dan mengecek setiap kamar, hingga dia berada di ruangan paling ujung. Ketika Astan telah membukanya, seorang anak laki-laki tengah meringkuk di sudut ruangan. Dengan menenggelamkan kepala di sela-sela lekukan tangan dan kaki. Astan mendekat lalu berjongkok di depan anak laki-laki tersebut. Dengan suara pelan, Astan memberikan pertanyaan kepada sang anak.


"He, kenapa di sini sendiri?" tanya Astan, tetapi tidak ada jawaban dari anak tersebut. Lalu Astan kembali bertanya mengenai sosok yang tengah dicarinya. Sebuah entitas yang terus-menerus meneror asrama mahasiswa. Hal tersebut ternyata membuat anak laki-laki mengangkat kepala, menatap Astan, dan akhirnya mau bersuara.


"Dia jahat. Tante itu datang ke sini beberapa bulan yang lalu. Seorang laki-laki menaruh dan meninggalkannya begitu saja. Bahkan, kakek yang tinggal sudah lama di sini tidak berani dengannya. Lebih baik kakak pergi," ucap anak laki-laki tersebut.


"Sekarang, dia di mana?" tanya Astan lagi, menghiraukan kata terakhir yang memintanya untuk pergi, tetapi anak tersebut hanya menggelengkan kepala.


Dengan penuh kesabaran, Astan bertanya lagi dan lagi. Membujuk sang anak untuk memberitahukan keberadaan sosok entitas tersebut. Dengan suara bergetar ketakutan, anak laki-laki itu memberitahu Astan tempat di mana sang sosok entitas berada. Setelah Astan berterimakasih atas bantuan sang anak laki-laki itu, dia bergegas menuju lantai atap yang biasa menjadi tempat menjemur kan pakaian, tetapi kini tidak terdapat apa pun.


Sesampainya di lantai atap, Astan dapat melihat dengan sedikit lebih jelas. Sosok perempuan berambut putih panjang dengan pakaian merahnya, tengah berdiri di sisi bangunan. Kepalanya memandangi langit malam yang dipenuhi bintang-bintang. Astan menghentikan langkahnya saat sosok tersebut tertawa kecil. Akan tetapi, Astan merasakan emosi yang bercampur menjadi satu. Sedih, amarah, dendam, kekecewaan, cinta, sakit, dan kasih sayang. Emosi tersebut seakan memancing Astan dan menghipnotisnya. Tanpa sadar, kedua mata Astan mengeluarkan cairan putih.


"Kenapa kamu menangis?" tanya sosok entitas perempuan tersebut, memutar posisi sehingga membuatnya dapat melihat Astan.


"Aku tidak membutuhkan semua perasaanmu, tetapi hanya satu yang dapat kamu lakukan. Mendekatlah," ucap sosok perempuan tersebut.


Astan berjalan mendekat, seakan dia terkena hipnotis. Saat Astan hanya perlu satu langkah lagi, suara perempuan memanggilnya. Membuat Astan berhenti melangkah dan membalikkan badan, hingga dia dapat melihat teman-temannya yang terengah-engah. Ketika Astan hendak melangkah, dia sama sekali tidak dapat bergerak dari tempatnya berdiri.


"Dasar pengganggu," ucap sosok entitas itu yang sekarang telah turun dan berdiri tepat di samping kiri Astan.


"Sudah berbulan-bulan aku di sini, tapi baru kali ini aku mendapatkan sesuatu yang sangat lezat. Aku biasanya makan yang rasanya buruk, tapi aku sudah mendapatkan yang terbaik." Sosok entitas tersebut tertawa kecil dengan mengelus kepala Astan.


"Kenapa? Kenapa kamu di sini?" tanya Synta dengan wajah serius.


"Tadinya aku tidak ditempatkan di sini, tapi dia mengganti posisi. Di tempat sebelumnya, aku hanya bisa makan makanan yang tidak enak. Di sini, mereka sangat lezat. Itu alasanku," jawab sosok tersebut.


"Hentikan dan kembali ke tempatmu!" perintah Synta.


"Ah, aku tidak menerima perintah dari orang lain. Meski kamu memiliki rambut yang sama denganku," ucapnya.


"Ini tidak seperti nenek. Kenapa, nenek mau bergabung dengan mereka?" tanya Synta lagi.


"Hentikan Synta, dia sama sekali tidak akan ingat. Entitas lain sudah memakannya, jika ingin, kita harus memisahkan nenek moyangmu dan entitas jahat itu. Tapi ini akan sulit," ucap Gabe dengan wajah seriusnya.


"Aku tahu," ucap Synta.


"Ya," jawab Gabe. Setelah Gabe menjelaskan tentang rencananya, dia berjalan mundur. Membiarkan Synta dan Endra yang mengambil ritme pertama. Sekarang Endra dan Synta telah bersiap dengan senjata masing-masing.


Hanya dalam hitungan detik, mereka telah terlibat bertarung. Dengan Synta dan Endra yang saling bergantian menyerang sosok entitas tersebut. Sedangkan Astan masih berada di tempatnya berdiri, sama sekali tidak bergerak satu inci pun. Meski Astan sudah berusaha dengan keras untuk bergerak. Astan berhenti untuk berusaha bergerak saat mendengar suara Sakhasi.


"Kamu di mana?" tanya Astan dengan suara lirih.


"Aku ada di tempatku. Sepertinya, kamu tidak bisa melakukan apa pun. Apa kamu butuh bantuan?" tanya Sakhasi.


"Tentu. Apa ada cara untuk membuatku dapat bergerak?" tanya Astan lagi.


"Beri aku tempat yang luas," ucap Sakhasi. Yang tiba-tiba telah berada di dalam tubuh Astan. Dengan mudah, Sakhasi bisa bergerak. Tentu menggunakan tubuh Astan.


"Bagaimana bisa?" tanya Astan yang tengah berdiri di samping Sakhasi.


"Itu mudah untuk dilakukan. Ha, ok. Sekarang, mari kita mulai." Sakhasi telah bersiap untuk bergabung, tetapi dia mengurungkan niatnya saat melihat sosok entitas itu.


"Kenapa dia di sini? Seharusnya, dia ada di pulau itu." Karena merasa ada yang aneh, Sakhasi menggunakan kemampuan mendeteksi aura. Saat Sakhasi melakukannya, dia melihat dua aura yaitu positif dan negatif.


"Apa kamu kenal dengannya?" tanya Astan.


"Ya, tapi bagaimana bisa dia termakan oleh roh gelap. Sudah begitu, Level 2. Ah, bahkan level 5 saja sudah sulit untuk manusia. Bagaimana dengan level 2, aku tidak akan ikut campur. Biarkan mereka menyelesaikannya sendiri. Kamu lihatlah bagaimana mereka melakukannya, itu bagus untuk pembelajaran. Maka dari itu, aku melarang mereka untuk ikut denganmu," ucap Sakhasi, berbicara kepada dirinya sendiri dan memilih untuk duduk santai. Sedangkan Astan tidak dapat menolak setelah mendengar beberapa penjelasan dari Sakhasi.


Astan dapat melihat keadaan Endra dan Synta yang kelelahan. Akan tetapi, sedetik kemudian. Beberapa lambang muncul di setiap arah, barat, timur, selatan dan utara, masing-masing juga memiliki warna berbeda. Dari balik lambang tersebut, muncul empat sosok entitas laki-laki dengan penampilan berbeda. Saat keempat sosok tersebut menggerakan mulut, mengeluarkan doa-doa. Sang entitas perempuan merasa kesakitan, hingga sisi gelapnya mulai keluar.


Namun, hal tersebut tidak berjalan lancar. Saat beberapa orang berjubah hitam mengganggu dan menggagalkannya. Para orang berjubah itu, membawa sosok entitas perempuan pergi. Setelah kepergian mereka, Gabe terus mengeluarkan sumpah serapahnya. Sedangkan Astan hanya memberikan sedikit tepukan di punggung.


"Ini salahmu juga, Astan. Aku tahu, kamu selalu ikut hanya untuk magang, tapi .... Ah sudahlah," ucap Gabe berpasrah diri.


"Tidak perlu salahkan Astan, dulu saat kita masih magang juga seperti itu. Kalau Astan terluka, emang kamu mau kena semprot. Dia juga belum mendapat lencana sebagai pekerja, hanya sebagai anggota." Endra membalas perkataan Gabe dengan memberikan satu pukulan di kepala.


"Aku tahu. Maaf, aku hanya kesal. Perjuanganku, energi yang aku keluarkan percuma." Gabe kembali mengeluarkan sedikit kekesalannya lagi.


"Sudahlah, kita hanya perlu memasang batas pengaman dan berjaga untuk beberapa hari. Ayo," ucap Endra dengan senyum di wajah.