Ghost Hunt: Panic in the Country

Ghost Hunt: Panic in the Country
Vol. 0: I Lost | 1. Datang Lagi



Suatu hari, di malam yang dingin. Di bawah hujan, seorang perempuan berambut panjang terurai, mengenakan kaos biru dan celana hitam panjang, berlari terburu-buru dengan menggendong anak laki-laki di punggungnya. Melewati jalanan kecil dengan tanah yang mulai melunak, pohon-pohon menari ketika angin mengeluarkan musiknya. Sesekali sang perempuan menengok ke belakang, memastikan bahwa sosok laki-laki dewasa yang mengejarnya tidak terlihat. Bahkan, terkadang dia menginjak ranting kering, tetapi tetap berlari meski kakinya berdarah.  Dia terlihat begitu berantakan dengan napas tersengkal-sengkal dan rasa lelah membuat langkahnya tidak benar. Hal itu membuat anak laki-laki tersebut sedikit bergerak.


“Tenanglah, semua akan baik-baik saja.” Dia berkata dengan menepuk punggung belakang sang anak laki-laki.


Samar-samar, suara laki-laki berusia sekitar 40 tahun terdengar memanggilnya. Akan tetapi, dia tetap berlari sekuat tenaga hingga melihat jalanan aspal di depan sana. Dia menghentikan langkah saat menginjak jalanan aspal. Dia mengembuskan napas perlahan untuk menenangkan diri. Setelah tenang, dirinya berjalan tanpa menoleh sedikitpun ke belakang. Dia berjalan hingga dapat menangkap sebuah rumah besar nan tua. Dia berjalan mendekati rumah tua yang terlihat seram dengan sedikit penerangan. Besi tua melengkung terpasang dengan papan kayu yang bertuliskan 'Panti Asuhan Mawar'. Perlahan diturunkannya anak laki-laki itu dari gendongan dan mulai mengubah posisi berdiri, membuat kedua lutut sebagai tumpuan. Tangan kanannya terulur untuk menyentuh kepala anak laki-laki. Senyum terlukis di wajahnya saat menatap anak laki-laki yang mengucek mata.


“Lihat Ibu, Astan harus masuk ke rumah besar itu. Nanti, Ibu akan menyusul. Astan mengerti?” Dia memegang wajah Astan—nama anak laki-laki itu. Astan hanya menganggukkan kepala sebagai tanda mengerti.


Perempuan yang merupakan Ibu Astan berdiri dari duduk bersimpuh. Menatap dengan lembut sepasang mata Astan. Dengan erat dia menggenggam tangan Astan yang kecil nan lembut. Berjalan mendekati gerbang besi, dia perlahan membuka gerbang besi yang tidak terkunci hingga derit nyaring terdengar di tengah hujan. Beriringan dengan suara laki-laki yang terus memanggil namanya. Dengan napas tersengkalnya, dia menyuruh Astan untuk masuk. Dia menutup rapat gerbang besi dengan terus meminta Astan untuk menjauh. Dia yang melihat Astan mulai menangis, membuatnya duduk bersimpuh di depan gerbang. Memasukkan tangan melewati celah di gerbang. Untuk kedua dan terakhir kali. Dia mengusap kepala Astan lembut.


“Astan harus berhenti menangis. Ibu janji, Ibu akan kembali,” katanya pelan dengan senyum kecil di wajah.


“Ibu janji?” Astan bertanya dengan menghapus air mata menggunakan kedua tangan.


“Ya, ibu janji.” Setelah mengucapkan itu, dia berdiri dan menjauh dari gerbang besi. Akan tetapi, dia menyadari bahwa sosok laki-laki itu telah berdiri di belakang dirinya.


Dalam satu detik, sebuah benda tajam dapat dirasakannya, menembus kulit perut belakang hingga bagian depan. Cairan merah nan segar keluar begitu deras dari perut dan mulut. Dengan perasaan terkejut dan takut, Astan masih berdiri dengan tubuh bergetarnya, keringat dingin mulai bermunculan. Air bening kembali keluar dari pelupuk mata tanpa menimbulkan suara. Astan dapat melihat dengan begitu jelas, garis melengkung di wajah sang perempuan. Bibir yang penuh oleh cairan merah itu bergerak.


“Kamu harus lari,” ucapnya dengan suara lemah.


Cairan merah kembali keluar saat benda tajam itu ditarik. Tanpa memiliki tenaga lagi, tubuhnya jatuh seketika dengan senyum di wajah. Astan hanya dapat terdiam dalam tangis tanpa mengeluarkan suara sama sekali. Dengan takut Astan mendongak pelan, hingga samar-samar dia melihat wajah sosok laki-laki yang menusuk ibunya. Mata mereka saling bertatap satu sama lain untuk sesaat. Udara bertiup pelan, membuat rambut sedikit panjang sang laki-laki bergerak. Astan terkejut saat laki-laki itu mengeluarkan sesuatu dari saku celana.


Rasanya Astan ingin berlari menjauh, tetapi itu sulit dilakukan. Dia tetap berdiri dalam diam saat sebuah pistol diarahkan kepadanya. Sang laki-laki menarik pelatuk pistol membuat suara kerasnya terdengar jelas oleh Astan. Dia terdiam dalam seribu bahasa, Astan tidak bergerak dari tempatnya. Suara ketukan pintu menusuk kedua alat pendengarannya. Dia menggerakan kepala ke kanan dan kiri mencari suara, tetapi tidak menemukan apa pun. Hanya suara perempuan yang terus memanggil namanya beberapa kali lalu menghilang. Sesaat kemudian terdengar lagi suara perempuan memanggil namanya. Tanpa sadar peluru pistol telah berada di depan mata. Matanya menatap penuh keterkejutan. Akan tetapi, suara perempuan yang memanggil namanya terus terdengar.


Ketika Astan merasakan tangan menyentuh pundak, dia terbangun dengan wajah terkejut dan napas yang tidak beraturan. Beberapa detik dia mengatur napasnya dengan mata yang tertutup. Ketika membuka kedua mata, Astan menangkap sosok perempuan berambut panjang, berwajah oval, dan mata cokelat gelap, berdiri di samping kanan tempat tidur.


“Iya," jawab Astan singkat dengan wajah tidak bersemangat karena mimpi buruknya. Meski dia sudah berusia 18 tahun, kenangan dan mimpi buruk selalu mendatanginya. 


“Cepatlah keluar, ini waktunya sarapan.” Dia lekas pergi dan menutup pintu kamar.


Kalender yang terpasang di dinding membuat Astan menatapnya kosong. Dia bergegas menuju kalender berwarna biru muda, berdiri dan terus memperhatikannya. Tertera jelas empat angka tertulis di bagian atas kanan yaitu '2027'. Astan mengembuskan napas sedikit kasar, dia berjalan menuju pintu, mengambil handuk putih dan pergi ke kamar mandi. Dia menaruh handuk di cantelan berbahan plastik. Dengan cepat Astan membuka seluruh penutup tubuh dan memutar kran, seketika air hangat mengguyur dirinya.


Tidak lama pintu kamar mandi terbuka, menampakkan Astan yang menggunakan handuk di pinggang. Dia berhenti saat melihat sosok perempuan yang sedang memasak. Suara jendela terbuka membuatnya berpaling dan menatap kain gorden yang bergerak. Sosok perempuan berpakaian putih dengan rambut panjang tengah duduk di jendela yang terbuka, memainkan gorden bercorak bunga-bunga. Dengan kesal Astan menutup jendela, tetapi sosok itu masih dapat memainkan gorden. Kepergian Astan setelah menutup jendela membuat sang perempuan kebingungan.


Astan berjalan menuju lemari dan mengambil satu set pakaian. Kemeja putih panjang dipadukan dengan celana hitam yang sedikit di atas pergelangan kaki. Dia mengenakannya bersama dasi berwarna biru gelap. Pantulan dirinya terlihat di cermin, Astan menarik kedua sudut bibir dengan terpaksa. Dia menarik dan mengembuskan napas agar dirinya tenang. Setelah merasa tenang, dia membukanya dengan sorot mata semangat.


Kaki lebarnya pergi menuju pintu kamar dan mengambil tas ransel berwarna hitam. Dia bergegas keluar dan duduk di meja makan. Dengan wajah seksama Astan memandangi hidangan di meja. Ada sekitar lima macam lauk untuk dua orang, Astan berpikir bahwa itu sangat berlebihan. Akan tetapi, semua jenis masakan sang perempuan yang selalu membuat Astan tidak dapat menahan diri untuk menghabiskan semuanya. Pandangan Astan berpaling dari meja dan memberikan perhatian ke perempuan yang membawa tempat berisi nasi. Dia berdiri dan mengambil alat berisi nasi dari kedua tangan mungil sang perempuan. Menaruhnya di tengah-tengah meja dan mereka mulai menyantap sarapan dalam diam.


“Apa kamu makan obatnya?” tanya sang perempuan dengan mengunyah makanan di mulut.


“Iya," jawab Astan cepat.


“Nanti, Kak. Rui akan datang. Pulanglah lebih awal, jangan terlalu malam.” Dia berkata dengan sedikit penekanan di akhir kalimat.


“Aku tahu," jawab Astan dengan mengunyah makanan. Dia mengangkat kepala dan memamerkan senyum tipis di wajahnya, tetapi sedikit dipaksakan.


“Ingat! Jam 06:00 sore harus sudah ada di rumah. Jika telat satu menit saja, kamu akan mendapatkan akibatnya.” Dia kembali menekan setiap kata yang diucapkannya.


“Aku tahu aku tahu. Aku tidak akan pulang telat.” Astan berucap cepat dan melanjutkan kegiatan sarapannya.