Ghost Hunt: Panic in the Country

Ghost Hunt: Panic in the Country
Vol. 0: I Lost | 6. Kebohongan



Astan berjalan melewati lorong-lorong sepi, dia bergegas masuk dan menuju kamar tidur tanpa membersihkan diri terlebih dahulu. Dia mendekati tempat tidur dan berbaring dengan memainkan ponsel. Bahkan Astan menghiraukan suara-suara yang terus terdengar, hingga langit biru menjemput sang jingga. Dia mematikan ponsel cepat dan menatap sosok perempuan berwajah pucat yang berdiri tepat di depan Astan. Dia melihat wajah pucat pasi perempuan tersebut dengan penuh kasihan.


“Apa itu? Kamu mau minta tolong tentang apa?” tanya Astan dengan memasang wajah serius.


“Tolong beritahu keluargaku untuk mengikhlaskan aku," jawab perempuan itu pelan.


“Lalu, bagaimana cara kamu meninggal? Apa hanya karena itu?” tanya Astan kembali.


“Aku tidak ingat sama sekali, tapi mereka selalu merasa sedih setiap hari. Aku harus bagaimana?” ucap sang perempuan dengan tangis yang mulai terdengar. Astan hanya diam saat mendengar jawaban perempuan tersebut.


“Wa, kamu sudah mulai mahir.” Suara laki-laki terdengar dengan begitu jelas. Membuat mereka mengalihkan perhatian menuju sang laki-laki yang tengah terduduk di meja belajar.


“Aku tidak mahir melakukan hal-hal ini, aku hanya bertanya.” Astan menimpali ucapan laki-laki itu dengan cepat.


“Dulu, saat pertama kali kamu dapat melihat lagi. Kamu terlihat masih ketakutan, sepertinya sekarang sudah tidak lagi,” ucap laki-laki tersebut.


“Siapa dia?” tanya perempuan itu.


“Namaku Cakara, aku adalah penjaga anak ini.” Cakara menjawab dengan cepat, membuat perempuan itu hanya menganggukkan kepala pelan.


“Siapa namamu? Pasti ingat kan?” tanya Cakara.


“Namaku Yeni.” Yeni menjawab dengan senyum di wajahnya.


Mereka bertiga terhanyut dalam obrolan yang sangat seru hingga waktu berlalu dengan cepat, Astan turun dari tempat tidur bergegas untuk membersihkan diri sekaligus mengisi perut kosongnya. Tidak berselang lama, Astan kembali hanya mengenakan handuk di pinggang. Membuat setengah bagian tubuhnya terlihat, roh perempuan bernama Yeni itu memandang tanpa berkedip. Dengan sedikit merasa tidak nyaman, Astan memakai pakaian cepat. Dia berjalan menuju tempat tidur, merebahkan badan dengan senyaman mungkin. Akan tetapi, dia mendudukkan diri kembali dan memberikan tatapan kepada Yeni.


“Kenapa kamu menatapku seperti itu?” tanya Astan dengan masih menatapnya.


“Karena kamu terlihat mempesona dengan bentuk tubuh yang bagus.” Yeni menjawab dengan memasang senyum genit di wajahnya. Seketika tawa Cakara pecah saat mendengar perkataan Yeni.


“Kenapa? Apa itu salah?” tanya Yeni, membuat Cakara berhenti tertawa.


“Kamu harus ingat, bahwa kamu itu hantu. Yeni, ingat itu.” Cakara menjawab dengan senyum yang menahan tawa.


“Aku hanya suka bentuk tubuhnya,” ucap Yeni kemudian.


“Asal kamu tahu, dia sejak kecil selalu dijauhi oleh setiap perempuan. Bahkan sampai sekarang, tapi dia disukai oleh sosok hantu.” Cakara berbicara dengan diakhiri tawa keras.


“Bisakah kalian diam! Aku ingin tidur.” Astan berucap tanpa adanya senyum. Dirinya membaringkan tubuh dan mengeratkan selimut. Mereka berdua seketika terdiam di tempat masing-masing. Tidak ada satu pun yang bergerak atau pergi menjauh hingga dengkuran lembut terdengar oleh keduanya.


“Aku tahu kamu ingat semuanya, kenapa kamu berbohong padanya?” Cakara bertanya dengan wajah serius dan dinginnya.


Yeni hanya dapat diam dalam beberapa detik dia menundukkan kepala saat mendengar pertanyaan tersebut hingga sebuah senyuman kecil terlukis di wajahnya. Dirinya mengangkat kepala dan memberikan tatapan kepada Cakara.


“Sepertinya kamu tidak perlu mengetahuinya.” Yeni berucap dan akan segera pergi dari kamar tersebut.


“Karena kamu meminta bantuannya, aku harus mengetahui alasanmu berbohong.” Cakara menimpalinya dengan cepat, membuat Yeni mengurungkan niat perginya.


“Dia hanya perlu membuat keluargaku untuk tidak lagi bersedih. Untuk sisanya, aku akan mengurusnya sendiri.” Yeni membalas lagi ucapan Cakara dan bergegas pergi. Cakara memberikan tatapan kepada Astan yang telah tertidur pulas.


Dengan pelan angin membuat jendela kamar sedikit berderit. Kain gorden bergerak untuk beberapa saat, Cakara berjalan menuju jendela dan menutupnya tanpa menyentuh. Sepasang mata Cakara menatap gelapnya langit, tanpa ada satu pun bintang yang menemani sang bulan. Cakara dapat merasakan angin berembus dengan sedikit besar. Petir datang bersama dengan suara gemuruh, perlahan air hujan turun begitu deras. Hal itu membuat Astan mengeratkan selimut yang dikenakan. Cakara melihat Astan sebentar dan menutup kain gorden dengan rapat. Cakara pergi dari kamar untuk mengistirahatkan diri.




Mentari menyapa dengan hangat, Astan telah mengenakan pakaian rapi dan menghabiskan sarapan. Setelah berpamitan, dia bergegas pergi dari apartemen bersama Yeni untuk menemui adiknya. Astan menaiki bus yang sama untuk menuju Akademi Santya. Tidak berselang lama bus berhenti, Astan keluar dan memasuki universitas. Astan bertanya kepada beberapa orang mengenai adik perempuan dari Yeni dan dia harus ke perpustakaan. Ketika Astan sampai di depan perpustakaan. Dengan sedikit kikuk, Astan masuk ke perpustakaan, menyapa terlebih dahulu sang penjaga. Dia juga menuliskan nama di buku daftar tamu dan mendapatkan beberapa pertanyaan.



Setelahnya, dia menyusuri rak-rak. Astan membaca setiap judul buku yang ditemui, senyum kecil dapat terlihat jelas di wajahnya. Meski Astan sangat gemar bermain game, perpustakaan merupakan tempat kesukaan kedua setelah Cafe Internet. Astan berhenti melangkah saat berada di depan rak buku khusus Ilmu Psikologi. Dia ambil salah satu buku dengan sampul putih. Astan menjauh dan mencari tempat duduk yang kosong, hingga tidak sengaja menangkap seorang perempuan. Perempuan tersebut duduk sendiri bersama beberapa buku di meja. Astan berjalan menghampirinya dan meminta izin  untuk duduk di meja yang sama.



Saat mendapatkan izin, Astan duduk tepat di depan sang perempuan. Astan mulai membuka lembar per lembar buku tersebut. Membaca setiap kalimat dengan sangat fokus, hingga Cakara dan Yeni terus berbicara tepat di kedua telinga. Astan menutup buku yang terlihat sedikit tebal itu, dia menatap perempuan di depannya dengan sedikit lama. Hal itu membuat sang perempuan membalas tatapan Astan.



“Ada apa?” tanya sang perempuan dengan wajah tanpa ekspresi, membuat Astan hanya terdiam dan tidak bersuara.



“Dari tadi kamu menatapku, apa ada yang salah?” ucap sang perempuan memberikan pertanyaan kembali.




“Siapa kamu? Kenapa kamu mengenal kakakku?” Sang perempuan sama sekali tidak menjawab dan memberikan sebuah pertanyaan.



“Aku hanya seorang kenalan dan aku mendengar bahwa Yeni telah tiada. Sebenarnya apa yang telah terjadi?” Astan menjawabnya dengan suka rela, tanpa mempermasalahkan sikap perempuan itu.



“Dari mana kalian kenal?” tanya perempuan itu tanpa memberi Astan sebuah jawaban.



“Media sosial," jawab Astan.



“Oh, siapa namamu?” tanyanya kembali.



“Astan,” jawab Astan dengan senyum kecil.



“Lebih baik kita berbicara di tempat lain. Namaku Nika,” jawab perempuan bernama Nika yang tengah membereskan buku-bukunya.



Dengan senyum tipis Astan membantu Nika membereskan buku-buku. Menaruh di masing-masing rak sesuai dengan judul buku dan jenisnya. Setelah selesai berurusan dengan buku, mereka segera keluar. Tanpa berkata apa pun, Astan mengikuti langkah Nika. Melewati lorong yang mulai ramai hingga mereka telah berada di taman belakang kampus. Meski Astan tidak mengerti kenapa harus berbicara di taman yang sunyi.



“Apa kamu benar-benar teman Kak. Yeni? Bicaralah yang jujur.” Nika kembali bertanya kepada Astan.



“Ha, sebenarnya aku tidak boleh mengatakan ini. Aku bisa melihat mereka dan Kak. Yeni salah satunya. Maaf telah berbohong sebelumnya.” Astan berucap dengan pelan dan penuh rasa sesal di hati.



“Apa kamu serius? Kamu benar-benar bisa melihat?” tanya Nika kembali.



“Ya,” jawab Astan singkat.



“Baiklah, aku akan menceritakan kematian kakakku. Ini sekitar dua bulan yang lalu, kakakku ditemukan di kamar kostnya dengan pakaian serba hitam. Rambutnya pun sangat berantakan, wajahnya sangat pucat, dan menurut dokter. Serangan jantung adalah penyebab kematiannya, tapi kakakku sama sekali tidak memiliki riwayat penyakit apa pun.” Nika menghentikan cerita sejenak, mengambil tas ransel di belakang punggungnya. Nika mengeluarkan sebuah buku note kecil dan memberikannya kepada Astan.



“Itu adalah milik kakakku. Semua tulisannya berisi sandi, tapi aku sama sekali tidak bisa memecahkannya. Aku juga memiliki seorang teman yang sepertimu. Dia mengatakan, bahwa kakakku meninggal karena hal yang tidak wajar. Sayang sekali dia tidak bisa menolongku. Apa kamu bisa menolong kami? Cari tahu siapa yang melakukan itu? Dan tolong katakan kepada kakakku, bahwa aku benar-benar minta maaf.” Nika berbicara dengan panjang lebar dan hanya dibalas oleh senyuman tipis Astan.



“Kakakmu bilang, agar kalian tidak bersedih lagi dan menerima kematiannya. Kamu juga tidak perlu meminta maaf, itu bukan salahmu. Itulah yang dikatakannya,” ucap Astan. Dengan senyum tipis di wajahnya. Nika yang mendengar hal itu mulai memasang senyum di wajahnya dan menghela napas lega.



“Terimakasih, aku akan membicarakan ini dengan ayah dan ibuku. Sekali lagi ....” Suara dering ponsel membuat Nika tidak melanjutkan ucapannya. Nika merogoh saku kecil di tas ransel itu, mengambil ponsel berwarna hitam. Nika mengangkat telephone tersebut dan segera menyelesaikannya dengan cepat. 



“Maaf, aku harus pergi sekarang.” Nika berucap dengan wajah tidak enaknya.



“Baiklah,” ucap Astan.