
Sekarang jam menunjukkan pukul 05:00 pagi, tetapi Rui masih terjaga dengan tetap duduk di samping kiri tempat tidur Astan. Memandangi wajah Astan yang sangat tentram dalam tidurnya. Tidak berapa lama, pintu ruang inap terbuka dan menampakkan Endra. Yang membawa kantong plastik di tangan kanannya. Endra memberikan kantong plastik tersebut.
“Pulanglah, keluarga kamu pasti tengah menunggu. Itu makanan untuk mereka, istirahatlah. Biar aku yang menjaganya,” ucap Endra. Setelah kepergian Rui, Endra hanya duduk dengan memainkan ponsel pintarnya.
Membacakan sebuah komik yang memiliki genre action. Sudah beberapa kali Endra mengganti komik bacaan, hingga sang fajar telah menyapa. Endra mematikan ponselnya dan membiarkan perawat untuk memeriksa keadaan Astan. Saat perawat memeriksanya. Perlahan Astan membuka kelopak matanya. Endra yang melihatnya, segera menelepon Rui Akarina. Setelah beberapa menit, Rui tiba bersama dengan keluarga kecilnya. Melihat Astan yang tengah terduduk dengan memandangi tirai jendela. Tatapan matanya nampak kosong dan tidak bersemangat.
Astan dapat mendengar, tetapi dia sama sekali tidak ingin membalas. Kini Astan kembali teringat akan perkataan Sakhasi saat menemukan dirinya. ‘Sekarang, kamu tahu seberapa besar perbedaan dirimu dengan mereka. Banyak yang menunggumu kembali, satu hal lagi. Jika kamu ingin membalas mereka, tingkatkan kekuatanmu lagi. Jangan kabur.’ Itulah kata yang kini menusuk pikirannya. Membuat Astan berpikir keras untuk apa yang akan dilakukan hingga dia mendengar suara Rui. Yang mulai terisak kembali saat melihat keadaan Astan.
"Janganlah menangis, aku baik-baik saja." Astan memutuskan untuk bersuara, membuat Rui tersenyum dengan air mata yang masih mengalir.
Mereka berbicara hingga matahari telah berada di atas kepala. Astan meminta untuk mengunjungi pemakaman Rei Akarina. Tentu Rui dengan cepat menyetujuinya, tetapi mereka akan ke sana setelah Astan sudah lebih baik. Mendengar hal tersebut, Astan mengiyakan dan dia menghabiskan waktu beberapa hari untuk istirahat. Tiga minggu setelah Astan beristirahat total dan kondisinya sudah sangat baik. Termasuk juga mental dirinya. Kini Astan tengah terduduk di kursi koridor rumah sakit, menunggu Rui menyelesaikan Administrasi. Saat Astan tengah melihat sekeliling, dia tidak sengaja menangkap punggung yang familiar bagi dirinya. Akan tetapi, Astan menghilangkan pikiran tersebut saat Rui selesai dengan urusannya.
Setelahnya, mereka pergi dan menuju kediaman Rui yang berada di Distrik A-1. Sebuah Distrik mewah dan tempatnya para kaum elit. Tidak perlu membutuhkan waktu lama dari rumah sakit tempat Astan dirawat. Sesampainya, Astan melihat-lihat kamar yang akan ditinggali. Astan mengecek lemari pakaian, meja, rak buku, bahkan meja gamenya.
"Mereka membawa semua barangku," ucap Astan. Setelahnya, Astan keluar dari kamar. Menghampiri Rui yang tengah mempersiapkan makan siang. Astan bertanya mengenai barang-barang Rei. Setelah mendengar jawaban, dia segera menuju gudang yang berada di lantai bawah.
Di dalam gudang, Astan menemukan kotak persegi panjang dan saat dia membukanya. Semua barang yang digunakan Rei untuk bekerja sebagai pemburu hantu, tersimpan dengan rapi. Astan tersenyum dan membawa barang-barang tersebut. Menyimpannya tepat di bawah tempat tidur. Suara Rui yang memanggilnya, membuat Astan segera menyahut dan turun menuju ruang makan. Mereka makan siang dalam diam, hingga semua selesai. Rui baru mengeluarkan suara, mengatakan beberapa hal kepada Astan. Memberinya sebuah pilihan, tetap tinggal di sini dan berhenti sebagai anggota G-Hunt atau sebaliknya.
"Aku belum memutuskan, setelah dari pemakaman. Aku akan memberikan keputusanku," ucap Astan berjalan pergi meninggalkan ruang makan dan mempersiapkan diri.
Setelah semua telah siap, mereka segera pergi menuju tempat pemakaman Rei. Di sana, Astan hanya diam mematung seorang diri. Sedangkan, Rui dengan keluarga kecilnya menunggu di pintu masuk.
"Aku sudah memilih jalan ini, jadi, aku harus terus berjalan. Kak. Rui juga memberiku pilihan, tapi aku tetap di jalanku ini. Apa Kak. Rei juga satu pemikiran denganku?" tanya Astan yang tersenyum sedikit. Setelah selesai mengutarakan semua isi hati dan pikirannya, Astan berjalan keluar dari tempat pemakaman tersebut.
Sesampainya, Astan hanya menutup diri di kamar tidur. Terduduk di depan komputer yang menyala, Astan hanya menatapnya dengan diam. Beberapa menit kemudian, Astan membuka sebuah software untuk mengetik. Astan menghela napas pelan dan mulai mengetik dengan cepat. Astan mengklik tombol enter dan keluar kertas putih dengan tinta hitam di atasnya. Astan segera mengambilnya, melipat dengan rapi dan memasukkannya ke amplop kecil berwarna putih. Setelahnya, Astan mengenakan pakaian serba hitam. Astan pergi dari distrik tersebut dengan membawa tas berisi barang-barangnya.
Dengan penuh perjuangan, Astan telah berada di dalam taxi mewah. Melewati jalanan malam yang ramai, meski jam telah di atas pukul 10.00 malam. Kini Astan telah berada di Distrik A-5, dia mencari penginapan murah dan beristirahat. Lima jam kemudian, Astan membuka kembali mata. Pergi dari distrik tersebut, sebelum sang kakak mencarinya. Setelah melewati banyaknya pemberhentian bus, Astan telah berada di Distrik C-4, dimana Endra tinggal. Saat Astan berjalan keluar dari bus, dia melihat Endra yang tengah menunggunya. Mereka segera meninggalkan halte bus dan menuju apartemen tempat Endra tinggal. Sesampainya mereka di apartemen, Astan hanya duduk diam dengan menatap gelas berisi air.
"Minumlah, jangan hanya ditatap seperti itu." Endra memecah keheningan di tengah-tengah mereka.
"Maaf, aku sedang banyak hal yang dipikirkan," ucap Astan, dia meneguk air tersebut.
"Aku tahu, ini sulit untukmu. Tapi, inilah hidup. Setiap orang memiliki kesulitan masing-masing," ucap Endra. Mereka mengobrol begitu banyak hal hingga matahari telah terbit dengan terang.
Kini mereka telah berada di kantor. Astan tengah berada di dalam ruang atasannya. Duduk diam mendengarkan celotehan Rui yang sudah sangat kesal.
"Ini adalah pilihanku. Aku akan mengurusnya sendiri, Kak. Rui tidak perlu khawatir dan jangan menghubungiku. Mungkin itu akan membahayakan Kakak dan keluarga," ucap Astan dengan menundukkan kepala.
"Katakan itu lagi dengan tatap muka kakak!" ucap Rui dengan penekanan, dia hanya ingin memastikan keputusan Astan. Meski dia berharap Astan tetap tinggal bersamanya.
Dengan senang hati Astan mengikuti apa yang Rui katakan. Menatap mata dan wajah Rui, kembali mengatakan beberapa kata. Sesudah melihat kesungguhan Astan, Rui memahami dan meninggalkan kantor pengacara tersebut. Setelah kejadian tersebut, Astan hanya fokus pada dirinya sendiri. Berlatih meningkatkan kemampuan bersama sang guru, bekerja dengan keras. Yang terakhir, mencoba untuk tidak menghubungi sang kakak. Meski Rui selalu menyempatkan diri untuk mengunjunginya saat bekerja. Tidak mungkin bagi Rui untuk melepas keluarga satu-satunya.