Ghost Hunt: Panic in the Country

Ghost Hunt: Panic in the Country
Vol. 0: I Lost | 4. Cakara



Sebuah cahaya putih bergerak menjauh lalu berhenti. Ketika Astan mendekat, cahaya itu bergerak. Akan tetapi, saat Astan berhenti cahaya itu pun tidak bergerak. Dia kembali mendekat dan mengikutinya hingga pintu yang terbuat dari kayu tua terlihat. Cahaya itu menghilang begitu saja, setelahnya suara-suara aneh mulai terdengar, menangis, meminta tolong, berteriak, dan tertawa. Udara dingin bertiup sedikit kencang bersamaan dengan suara-suara aneh yang masih terdengar bahkan semakin banyak. Astan mencoba melangkah, tetapi itu terasa berat.


Keringat dingin mulai bermunculan seiring Astan yang telah dapat melangkah. Suara-suara aneh semakin bertambah banyak, bahkan dia melihat beberapa sekelebat sosok yang tengah menatap dan menonton dirinya dengan menggunakan mata lebar nan seram. Bersusah payah Astan menggapai kenop pintu, dia masih bertahan dan berusaha menggapainya. Dia melangkah lagi, membuat jarak terkikis yang hanya tersisa 30 centimeter. Astan mengerahkan tenaga hingga tangan kanannya dapat menyentuh kenop pintu. Dia memutarnya sekali dan membuat suara derit terdengar.


Dirinya kembali melangkahkan kaki kiri hingga telah berdekatan dengan kaki kanan. Ketika pintu terbuka, sebuah cahaya dapat ditangkapnya lagi. Astan melangkah dengan tenaga terakhir, saat benar-benar melewati pintu. Suara-suara aneh tidak lagi terdengar dan pintu menutup dengan sendirinya. Astan terkejut saat melihat anak tangga yang begitu panjang dan menjalar ke bawah. Dengan pelan dia melangkah melewati anak tangga satu per satu, hingga berhenti dan dihadapkan dua pintu dengan warna berbeda, merah dan biru.


Otaknya berpikir keras untuk menentukan pintu mana yang harus dibuka. Beberapa detik berlalu, Astan berjalan mendekati pintu berwarna biru dan membukanya cepat. Akan tetapi, dia kembali melihat tangga menuju arah bawah. Dengan sedikit kesal Astan tetap berjalan menuruni anak tangga hingga berakhir di sebuah ruangan dengan pintu besar. Dia berjalan mendekat, membuatnya melihat jelas ukiran-ukiran unik di pintu yaitu lengkungan yang saling terhubung satu sama lain.


Bentuk bunga teratai terukir indah di tengah-tengah garis yang memisahkan pintu besar tersebut. Astan mengarahkan pandangan menuju pintu, berjalan mencari sesuatu untuk membukanya. Dia berhenti di depan sebuah layar kecil, berada tepat di samping kiri sisi pintu. Layar tersebut memiliki tombol-tombol angka layaknya sebuah apartemen yang harus memasukan sandi. Astan berpikir sejenak untuk menemukan beberapa digit angka. Sudah kesekian kalinya Astan mencoba, tetapi semua angka yang dimasukkan selalu salah. Kemudian dia teringat akan tanggal lahir seseorang, Astan menekan beberapa digit angka di atas layar dan senyum senang terlukis di wajahnya.


Dalam hitungan detik pintu besar itu terbuka, Astan berjalan menuju pintu. Berdiri tepat di depan dengan wajah antusias, berharap dapat pergi dari alam mimpi. Dengan pelan Astan melangkah masuk hingga pintu tertutup perlahan. Astan hanya dapat melihat beberapa pepohonan dan bunga-bunga bermekaran dengan begitu kabur. Kabut putih menutupi seluruh wilayah sekitar, seakan melarang siapapun untuk melihat. Langit biru itu tertutup oleh awan yang berwarna abu-abu, udara dingin sangat terasa hingga membuat Astan memeluk tubuh sendiri dengan kedua tangan. Hanya gemericik air yang tertangkap oleh pendengarannya.


Detik jarum jam terus berjalan seperti biasa, tetapi Astan sama sekali tidak bergerak dari tempat berdirinya. Dengan perlahan kabut semakin menipis, menghilang tanpa mengatakan satu kata pun. Langit cerah menampakkan diri dengan udara yang bernyanyi, membuat pepohonan dan bunga-bunga menari bebas. Kupu-kupu berdatangan karena terpancing akan harumnya para bunga.


Astan menatap kagum pemandangan sekitar, berjalan tanpa sadar mengikuti jalan kayu di depannya. Seketika Astan berhenti melangkah saat melihat sebuah rumah sederhana yang terbuat dari kayu. Samar-samar Astan mendengar suara kayu yang terpukul oleh benda tajam, dia berjalan menuju sumber suara dengan penuh rasa penasaran. Dia berhenti saat melihat seorang laki-laki dengan rambut putih pendek.


Sosok laki-laki itu hanya mengenakan kaos oblong dan celana panjang hitam. Astan kembali melangkah mendekat dan menyapanya. Sosok itu berhenti dari kegiatan membelah kayu dan menatapnya. Astan melihat jelas mata yang berwarna biru, berkulit putih, dan wajah lonjongnya.


“Apa saya boleh bertanya?” tanya Astan.


“Apa itu?” Sosok itu kembali bertanya.


“Ini di mana?” Astan bertanya dengan senyum yang tidak pernah pudar. Sosok itu hanya dapat tertawa kecil dengan sedikit decakan.


“He, kau benar-benar tidak tahu? Ini ada di alam mimpimu.” Sosok itu menjawab dengan nada sedikit kesal. Astan hanya diam dan tersenyum kecil mendengar jawaban. Padahal bukan itu maksud dia, dirinya mengetahui bahwa ini mimpi.


“Ha, ternyata membutuhkan waktu lama agar kau sampai di sini.” Sosok itu kembali berucap.


“Tapi, siapa kamu?” tanya Astan.


“Sepertinya kau sama sekali tidak ingat apa pun. Nama saya Cakara, memiliki arti yang melindungi.” Sosok itu menjawab dan memperkenalkan diri dengan senang hati.


“Apa kau bilang? Jelek? He, kakek buyutmu yang memberikan nama itu.” Cakara bersuara dengan mengeluarkan kekesalan, atas apa yang Astan katakan.


“Aku minta maaf. Omong-omong, kenapa kamu menggunakan bahasa yang terlalu kaku?” tanya Astan.


“Memang seperti ini, cara saya berbicara dengan kakek dan ayahmu.” Cakara menjawab dengan tersenyum.


“Jika denganku, bicara menggunakan bahasa teman dekat saja dan juga. Bisakah kamu menjelaskan lebih detail tentang semua ini?” ucap Astan.


“Baiklah. Saya ... maksudku, aku akan menjelaskannya. Aku adalah seorang yang melindungimu sementara. Tempat ini adalah tempat yang berada di antara kenyataan dan alam bawah sadar. Seharusnya aku menjelaskan soal beliau juga, tapi sepertinya akan lebih baik jika beliau yang menjelaskannya sendiri. Jadi, sekarang aku akan menceritakan tentang diriku, mulai dari awal hingga aku menjadi sekarang." Cakara mulai berjalan menuju tempat duduk dari kayu dan diikuti oleh Astan.


Cakara mengambil gelas berisi air putih dan minumnya dengan sekali teguk.  Membuat Astan bingung karena gelas itu tiba-tiba muncul dan menghilang dengan sendirinya. Cakara menghela napas sejenak sebelum bercerita. Dirinya mulai menceritakan tentang dirinya, ingatan akan masa lampau mulai berdatangan. Setelah kejadian pada tahun 2017, hari itu hujan turun dengan sangat derasnya. Sebuah organisasi besar mulai terbentuk, entah apa yang akan mereka lakukan. Ayah Cakara yang merupakan jurnalis dari salah satu stasiun televisi nasional memutuskan untuk menyelidikinya.


Ayah Cakara berpikir bahwa itu merupakan berita besar dan akan membuat dirinya mendapatkan keuntungan. Akan tetapi, semuanya tidak berjalan sesuai perkiraan. Pemimpin dari organisasi tersebut mengetahui yang Ayah Cakara lakukan hingga mengakibatkan sebuah kematian. Organisasi itu mengincar Ayah Cakara dan dirinya, tetapi mereka berakhir dalam kondisi berbeda. Kematian Ayah Cakara dinyatakan sebagai bunuh diri, tetapi berbeda dengan Cakara. Cakara kehilangan kesadaran karena sebuah kecelakaan mobil dan seseorang telah menabrak dirinya, kejadian itu menyebabkan luka yang amat sangat serius.


Hal yang tidak terduga terjadi, roh Cakara tidak dapat pergi ke atas sana. Dengan alasan masih terdapat sesuatu yang menjadi misteri. Cakara berjalan tanpa arah, melewati jalanan gelap nan dingin. Terkadang terdapat pencahayaan, tetapi itu tidak terjadi setiap saat. Hari itu tiba, saat Cakara memilih jalan setapak yang salah dan membuatnya terjebak di dalam lingkaran. Cakara sama sekali tidak dapat keluar dari lingkaran, dia terjebak di sana selama 3 tahun. Tanpa dapat keluar melewati garis batasan hingga sosok itu menemukannya dan menolong tanpa pamrih. Dengan perasaan senang Cakara menawarkan diri untuk menjaga semua keturunan dari sosok itu. Di samping itu, Cakara masih mencari-cari sesuatu yang masih mengganjal. Seakan tersembunyi di lautan gelap dan enggan untuk berenang ke atas.


“Itulah kisahku, untuk kisah yang lain. Akan aku ceritakan lain kali karena waktu hampir habis,” ucap Cakara. Mengakhiri kisah singkat pertemuannya dengan sosok penolong.


“Jadi, kamu hantu!” Astan berucap dengan penuh keterkejutan dan sedikit berteriak.


“Kenapa? Apa kamu takut?” Cakara kembali bertanya.


“Tidak. Aku hanya sedikit terkejut, aku kira mimpi hanyalah mimpi dan tidak mungkin kalian masuk,” jawab Astan. Kembali mengarahkan pandangan menuju pepohonan di depan sana. Astan memberikan satu pertanyaan kembali, padahal dia mengetahui jawabannya.


“Ini adalah alam mimpimu. Bagaimana bisa kamu tidak mengetahui cara keluar? Ah, maksudku bangun.” Cakara menjawab dengan nada sedikit kesal dan tidak percaya. Meski kesal, Cakara tetap memberitahukan jalan keluarnya.


“Melewati jalan dan tangga yang gelap itu?” Astan bertanya kembali untuk mendapatkan jawaban yang pasti. Cakara mengiyakan dengan cepat. Dirinya melambaikan tangan dengan memasang senyum di wajah dan menghilang.