Ghost Hunt: Panic in the Country

Ghost Hunt: Panic in the Country
Vol. 1: Destiny | 29. Penyelidikan



Setelah kepergian Arieli, mereka semua terdiam dan mendengarkan perkataan dari sang laki-laki tua yang merupakan tetua di palau tersebut. Aruna yang menjadi target mulut mereka, hanya diam. Menikmati sarapan, menghilangkan suara-suara ribut mereka. Ketika Aruna telah menghabiskan makanan di piring, dia bergegas pergi. Kembali ke ruangannya dengan wajah yang dipenuhi oleh kekesalan. Saat Aruna terduduk di meja riasnya, seseorang mengetuk pintu beberapa kali. Aruna membukanya dengan wajah kesal, tetapi saat dia melihat wajah orang yang dikenal. Aruna terkejut dan menarik orang tersebut, menutup pintu dengan rapat.


“Kenapa kamu di sini?” tanya Aruna.


“Aku menjalankan sebuah pekerjaan, tapi yang harus aku musnahkan adalah roh leluhur kita. Apa yang sebenarnya terjadi? Apa ada yang membuka segelnya? Seharusnya tetap di sana,” tanya Synta.


“Beberapa waktu yang lalu, aku pergi untuk mengecek dan segelnya sudah tidak ada. Ada satu orang yang aku curigai, yaitu Arieli. Sudah tiga bulanan, sikap dia aneh. Apalagi jika aku membahas tentangmu yang memiliki kemiripan dengan nenek leluhur. Dan tentang kamu yang lebih cocok sebagai tetua daripada dia,” cerita Aruna.


“Ah, baiklah. Apa ada keanehan lain? Seperti orang berjubah hitam dan menggunakan topeng?” tanya Synta lagi.


“Aku belum pernah melihat, tapi sejak tiga bulan ini. Banyak sekali tamu-tamu asing yang bertemu dengan Arieli,” jawab Aruna.


“Baiklah, aku kan bertanya kepada Arieli. Aku pergi dulu,” ucap Synta, pergi dari ruangan milik Aruna.


Saat Synta berjalan di lorong menuju ruangan Arieli. Synta bertemu dengan Astan yang tengah membawa setumpuk buku bersama Arieli. Dengan berjalan memutar, Synta lebih dulu sampai di ruangan milik Arieli. Di saat Arieli masuk, dia terkejut saat melihat Synta. Begitu pula Astan yang baru saja menaruh bubu-buku tersebut di meja. Tanpa menunggu aba-aba, Astan keluar dengan diam dan berdiri di depan ruangan Arieli. Astan hanya berdiri dengan memainkan ponsel pintarnya. Mengirim pesan kepada Endra dan tentang situasi sekarang. Beberapa menit telah berlalu, saat Astan tengah sibuk dengan ponselnya. Seorang perempuan mengenakan gaun yang terbuka dan terkesan mewah, berdiri di depan Astan.


“Aku adalah perempuan pesanan tuan Arieli,” ucap perempuan tersebut.


“Apa maksud nona?” tanya Astan.


“Ah, apa kamu pegawai baru? Aku tidak pernah melihatmu,” tanya sang perempuan.


“Iya, saya pegawai baru.” Astan menjawabnya dengan cepat.


“Apa dia sedang ada tamu? Biasanya, dia tidak pernah meminta seorang pegawai untuk menjaga ruangannya. Minggir,” ucap sang perempuan, meminta Astan untuk menyingkir dari depan pintu.


Namun, saat Astan akan membuka suara. Pintu besar itu terbuka dan menampakkan Arieli yang menyuruh Astan untuk pergi, tentunya dia juga diminta menutup mulut. Dengan mengangguk, Astan pergi untuk mencari keberadaan Synta. Akan tetapi, saat Astan melewati lorong bercabang. Seseorang menariknya menuju lorong kiri, sepasang mata Astan melebar terkejut ketika mengetahui bahwa itu Synta. Kini mereka telah berada di sebuah bangunan yang berbentuk seperti kuil. Mereka dapat masuk hanya dengan Synta yang menunjukkan kartu identitasnya.


Saat mereka telah berada di dalam, Astan terkejut dengan arsitektur bangunan tersebut. Astan berjalan dengan terus mengamati bangunan hingga tidak sadar mereka telah berada di depan sebuah pintu besar. Astan hanya melihat Synta yang tengah memasukkan beberapa digit angka. Beberapa detik kemudian, pintu terbuka dengan sendirinya. Mereka masuk dan segera mengecek tempat yang menjadi penyegelan leluhur Synta.


“Ada yang membukanya, apa tujuannya dan untuk apa? Arieli tidak mungkin, Aruna juga tidak mungkin. Lalu siapa?” ucap Synta bertanya kepada diri sendiri.


“Dalam keadaan seperti ini, siapapun dapat menjadi tersangka. Bahkan orang terdekatmu,” ucap Astan, menjawab pertanyaan Synta.


“Masalahnya, hanya ada satu orang yang bisa membuka. Tetua, tapi buat apa dia melakukan itu. Ah, kenapa ini jadi membingungkan? Apa alasannya?” ucap Synta lagi dengan mempertanyakannya.


“Bertanya kepada tetua?” tanya Synta lagi.


“Iya, jika dia tidak melakukannya. Itu artinya, ada orang lain yang melakukannya.” Astan kembali menjawabnya dengan santai.


“Apa kamu tidak gelisah, gugup, atau takut? Kamu mengatakannya dengan santai.” Synta kembali bertanya.


“Aku harus bagaimana? Bukankah itu yang harus dilakukan dalam keadaan seperti ini?” tanya Astan balik.


Dengan wajah kesal, Synta mengiyakan apa yang dikatakan Astan. Mereka pergi dari bangunan tersebut dan sekarang telah berada di ruang kerja milik tetua. Dengan Synta yang telah mengenakan pakaian rapi nan elegan. Sedangkan Astan hanya berdiri tepat di belakang Synta, dia berperan sebagai pengawal pribadinya. Beberapa menit kemudian, mereka telah selesai saling berbincang. Sekarang Astan tengah berada di ruang kamar Synta. Berdiri dengan diam, mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut Synta. Wajah kesal dapat dilihat jelas oleh Astan, tetapi dia tidak menimpali semua ocehan Synta.


“Kenapa kamu hanya diam?” tanya Synta.


“Aku harus bagaimana? Apa aku harus menginterogasi semua anggota keluargamu? Bukankah tetua mengatakan bahwa mereka kecolongan. Kita hanya perlu menyelesaikan pekerjaan,” jawab Astan.


“Bukan itu, ancaman yang mereka berikan. Apa yang harus aku lakukan?” tanya Synta lagi.


“Itu bukan tugasmu, kenapa harus memikirkannya?” tanya Astan.


“Apa kamu punya kepribadian ganda? Hari ini A, besok B.” Synta kembali  mengoceh dengan wajah kesal.


“Ah, kamu ingin aku melakukan apa?” tanya Astan.


“Tidak ada,” jawab Synta, pergi meninggalkan Astan sendiri. Sedangkan Astan hanya mengembuskan napasnya kasar dan terlihat frustasi dengan tingkah Synta.


Astan mengambil ponsel dan segera melakukan panggilan telepon ke Endra. Astan melaporkan semua yang terjadi, dia juga menjelaskan beberapa hasil prediksinya.  Mengenai konflik yang tengah terjadi di keluarga Synta. Ketika Astan mendengar suara pintu kamar terbuka, dia mematikan ponsel dan memasukkannya kembali. Astan yang melihat Synta hanya mengenakan handuk, memalingkan kepala dan pergi dari kamar. Menunggu diam di depan pintu dengan mengetuk lantai dengan kakinya. Tidak lama setelahnya, Synta keluar dengan pakaian pelayan. Kini mereka harus meninggalkan pulau karena terdapat banyak pekerjaan menunggu.


Ketika mereka telah berada di perahu kecil yang akan membawa pulang. Aruna bersama dengan beberapa pelayan pribadinya datang. Meminta kepada Synta untuk tidak pulang karena ayahnya akan datang. Dengan wajah bingung Synta bertanya, “Apa yang kamu katakan itu serius?” Aruna menjawab dengan cepat. Dengan cepat dan berceloteh menyumpah, Synta keluar dari perahu. Diikuti Astan yang hanya mengekor di belakang Synta. Menjadi pengamat dan menuruti semua yang dikatakan Synta. Sekarang Astan telah berada kembali di kamar Synta, duduk diam dengan secangkir teh dan cemilan kecil. Astan hanya menyeruputnya sedikit saja, dia memperhatikan Synta yang terlihat gugup.


“Apa kamu gugup?” tanya Astan.


“Tidak, aku baik-baik saja. Aku tidak gugup sama sekali,” jawab Synta yang menaruh cangkir teh itu. Mendengar jawaban Synta, Astan hanya mengangguk pertanda paham. Akan tetapi, Synta membuka mulutnya. Menceritakan tentang hubungan dirinya dengan sang ayah, tanpa ada yang tertinggal sama sekali.