Ghost Hunt: Panic in the Country

Ghost Hunt: Panic in the Country
Vol. 0: I Lost | 9. Dimulai



Dengan senyum Endra membalas sapaan setiap orang, berjalan lebar hingga berada di depan sebuah gedung bertingkat. Dia bertemu dengan beberapa anak-anak yang tengah bermain. Tangan kanannya terangkat ke atas dan memberikan lambaian kepada anak-anak. Endra berjalan masuk dan menyapa beberapa orang yang ditemuinya. Dia naik menuju lantai sepuluh dan masuk ke sebuah ruangan dengan pintu besar. Seorang laki-laki dengan pakaian rapi terduduk bersama berkas-berkas di tangan. Sang laki-laki duduk di depan Endra yang masih berdiri dengan menyalakan satu batang rokok. Dia memberikan amplop cokelat itu kepada sang laki-laki.


“Sepertinya membuat dia mendekat sangat mudah,” ucap sang laki-laki.


“Kita hanya sedang beruntung, dia juga tengah membutuhkan pekerjaan. Kita hanya perlu membuatnya bergabung dan menjelaskan semua.” Endra membalas ucapan sang laki-laki.


“Saya harap kamu bisa menjaganya, hingga waktu yang tepat untuk memberitahukan semua.” laki-laki itu berbicara dengan menaruh amplop cokelat itu di atas meja.


“Baiklah Pak Adli. Saya pergi dulu,” ucap Endra. Berdiri dari dan berjalan keluar dari ruangan.


Dia berhenti di depan sebuah pintu berwarna cokelat kayu. Endra memutar knop pintu dan melangkah masuk, mengudarakan pandangan, mencari seseorang yang menjadi satu tim dengannya. Saat Endra menangkap sosok temanya, dia berjalan menghampiri mereka dan duduk bersama. Mereka mengobrol bersama dengan santai hingga tiga anak-anak menghampirinya. Senyum anak-anak itu terlihat sangat lebar hingga gigi putihnya terlihat sangat jelas. Mereka mengajak Endra bermain game console, tentu untuk membalaskan kekalahan anak-anak tersebut.


Dengan sangat bersemangat Endra menyetujui ajakan anak-anak. Mereka pergi menuju lantai tiga dan berada di ruangan dengan dinding penuh warna berbeda layaknya pelangi. Mereka mulai permainan game console dengan tema bertarung. Setelah menghabiskan satu jam bermain game, tetapi tidak akan mengubah apa pun. Anak-anak tetap tidak mendapatkan kemenangan dari tangan Endra. Endra cukup mahir dalam bermain game dan hanya Astan lah yang dapat mengalahkannya dalam berbagai permainan. Wajah Endra terlihat senang saat salah satu anak memberikan protes tidak adil, hingga dering ponsel terdengar oleh kedua telinganya. Dia mengangkat telepon dan menjawabnya cepat. Terdengar jelas suara perempuan yang memberikan omelan untuknya.


Endra baru saja mengingat janji temu dengan orang lain, dia mematikan ponsel dan pergi tanpa mempedulikan anak-anak yang tengah saling beradu mulut. Dia berada di sebuah bus yang memiliki tujuan menuju Distrik D-5. Beberapa menit kemudian bus berhenti, Endra keluar dari bus dan mengangkat kepalanya. Melihat langit cerah itu mulai menghitam secara perlahan. Endra berjalan menuju salah satu minimarket terdekat dan membeli sebuah jas hujan berwarna hitam. Dengan cepat dikenakannya jas hujan tersebut, Endra mengedarkan penglihatan ke sekeliling. Semua terlalu sibuk dan tidak memiliki waktu untuk memperhatikan hingga putihnya awan telah menghilang. Rintikan air pun berjatuhan dari langit yang mendung. Para kerumunan orang di jalanan mulai berhamburan mencari tempat berteduh.


Namun, berbeda dengan Endra yang telah mengenakan jas hujan berwarna hitam. Dia berjalan dengan pelan, meninggalkan minimarket dan melewati garis putih untuk tempat penyeberangan. Kepalanya sedikit menunduk, tetapi Endra masih dapat melihat sekeliling. Sepasang mata cokelat gelap itu mengeluarkan beribu-ribu aura yang begitu dingin. Kedua tangannya tersimpan di saku jas hujan. Bibir tebal nan kecil milik Endra bergerak, terlihat seperti tengah berbicara seorang diri.


Kakinya berhenti sejenak saat berada tepat di pijakan sisi jalan, terdiam cukup begitu lama. Endra mengamati sekeliling jalanan hingga dia kembali melangkahkan kaki menuju arah kanan dari tempat berdirinya. Endra melangkah pelan di bawah hujan yang semakin lebat dengan ditemani awan-awan hitam dan gelegar sang guntur. Endra berhenti di depan sebuah cafe tua yang menjadi satu-satunya cafe berdesain bangunan kuno.


Endra berjalan menuju pintu cafe dan membukanya. Dia melangkah masuk dan mencari sosok yang akan ditemuinya. Matanya menangkap sosok laki-laki berumur 50-an tahun. Dia berjalan mendekati sebuah meja di pojok kiri cafe, tepat berdekatan dengan dinding kaca depan. Dirinya duduk di depan laki-laki, mengeluarkan suara serak dan sedikit berat. Laki-laki yang telah memiliki kulit berkerut dan menua itu memalingkan wajah dari pemandangan hujan di luar sana. Senyuman tipis terlukis di wajahnya.


“Sepertinya, semuanya telah dimulai.” Laki-laki itu berucap begitu santai, tetapi tidak dengan wajahnya yang memasang wajah penuh amarah dan pikiran.


Hujan dan awan gelap itu tidak ingin pergi begitu saja. Kabut-kabut dengan berbagai warna bermunculan tanpa henti, mereka berterbangan tidak menentu. Entah apa yang para kabut itu cari. Mereka semua memiliki banyak hal perbedaan. Mulai dari warna, arti, tujuan, dan tingkah. Beberapa detik setelah Endra duduk, seorang pelayan berjalan mendekati meja mereka. Memberikan satu gelas kopi untuk dirinya dan kembali menjauh dari  meja. Endra mengambil cangkir kecil, mengangkatnya hingga menyentuh bibir. Dia menyesap kopi panas dengan pelan. Setelah Endra merasakan kopi yang memiliki rasa pahit dengan sedikit asam, dia menaruh kembali cangkir kopi berwarna putih. Endra memberikan tatapan kepada laki-laki di depannya yang tengah melihat air hujan.


“Tidak akan ada yang tahu, bagaimana masa depan akan berubah.” Laki-laki berumur itu kembali berkata dengan menyesap secangkir kopi hitam panasnya.


“Ha, kamu benar. Omong-omong, menurutmu Astan itu seperti apa?” tanya sang laki-laki.


“Dia baik, cukup ceria, meski suka murung begitu saja.” Endra menjawab dengan menatap hujan di luar sana.


“Ah, aku baru ingat kalau kamu berteman sejak kecil. Aku harap kamu bisa menjaganya dan menjadi teman untuknya,” ucap sang laki-laki kembali.


“Tenang saja, Paman Hestamma.” Endra menjawab dengan senyum di wajah.


Mereka melanjutkan acara minum kopi dengan mengobrol sebentar. Setelahnya, Endra pergi dari cafe. Hujan telah reda sejak beberapa menit lalu, Endra melipat jas hujan dengan rapi dan meminta plastik hitam kepada kasir cafe. Endra menuju halte dan menaiki bus yang baru saja berhenti di depannya. Duduk dalam diam, menatap jalanan yang masih ramai oleh kendaraan ataupun orang-orang. Mendengarkan dengan penuh penghayatan suara-suara kendaraan hingga bus berhenti dan Endra keluar, melangkah lebar menuju gedung tempat bekerjanya.


Endra tengah menunggu lift datang hingga seorang perempuan berdiri di sampingnya. Detik berikutnya, suara lift terbuka terdengar sangat jelas. Mereka masuk, Endra menekan nomor 14 dan lift seketika bergerak. Dia hanya terdiam dan memperhatikan gerak-gerik sang perempuan yang terlihat ingin bertanya kepada dirinya. Lift pun berhenti, Endra keluar begitu saja, meninggalkan perempuan tersebut yang memasang wajah kecewa.


Sekarang dia berada di ruang kantor atasannya untuk melaporkan pekerjaan. Setelah menyelesaikan laporan, Endra berjalan menuju dapur untuk bertemu dengan Astan. Saat Endra telah berada  di ambang pintu, terlihat Astan yang tengah membersihkan peralatan makan. Endra mendekati Astan dan memberikan rangkulan kecil di pundak. Hal itu membuat Astan sedikit terkejut, tetapi mereka memamerkan senyum lebar di wajah masing-masing. Dengan senang hati Endra memberikan tawaran untuk membantu. Meski terjadi sedikit adegan penolakan dan saling bersikeras dengan perkataan masing-masing hingga Astan menyerah untuk beradu. Membuat Endra membantu Astan dalam membersihkan peralatan dapur. Astan bertugas untuk membersihkan dengan spons sabun, sedangkan Endra membilas semuanya.


Tidak berselang lama, mereka telah selesai membersihkan semuanya. Mereka keluar dari dapur dan bergabung bersama dengan karyawan lain yang tengah membereskan meja kerja masing-masing. Beberapa menit berlalu, mereka telah siap untuk pergi. Mereka bergegas pergi saat Hendrik keluar dari ruangannya. Senyum riang tergambar di wajah mereka yang tengah berjalan keluar dari gedung. Bergegas pergi menuju resto yang telah dipesan untuk menyambut kehadiran karyawan baru. Mereka menuju resto dengan menggunakan kendaraan pribadi dan pergi bersama-sama. Melewati jalanan padat oleh kendaraan umum maupun pribadi. Suara mesin beserta klakson memenuhi seluruh sudut jalanan.


Dengan penuh kesabaran, mereka akhirnya dapat melewati jalanan padat. Astan keluar bersama Endra yang memasang wajah lelah. Mereka berdua bergegas masuk ke resto bernuansa warna cokelat. Kayu menjadi ornamen penting di resto tersebut, terdapat pula beberapa patung hewan di pintu depan. Astan memasang mata untuk menjelajahi ornamen, mulai dari lukisan, patung, dan ukiran-ukiran unik di kayu penyangga.


Mereka duduk dengan tenang di atas bantal kecil. Resto ini memiliki konsep lesehan yaitu duduk tanpa menggunakan kursi. Tidak berselang lama, dua pelayan telah datang dengan membawa nampan berisi makanan. Sang pelayan menaruh piring dengan pelan di meja. Mereka memasang wajah berbinar, melihat seberapa banyak dan menggiurkan makanan-makanan itu. Terdapat ikan goreng, ayam bakar, daging dan bersama dengan sayur pendamping. Setelah pelayan selesai menaruh semua makanan, Hendrik memberikan beberapa kata patah dan pertanyaan kepada Astan.


“Bagaimana perasaanmu di hari pertama bekerja?” tanya Hendrik. Setelah selesai menyampaikan beberapa kata untuk menyambut Astan.


“Saya sangat senang karena mendapatkan pekerjaan, dan saya juga tidak perlu meminta uang kepada kakak.” Astan menjawab pertanyaan dengan senyum gembira di wajah.


Saat Hendrik bersiap untuk memberikan pertanyaan kembali, tetapi dia mendapatkan protes dari para karyawannya. Bahkan meminta dirinya untuk diam dan menyantap makan malam ini sambil mengobrol. Dengan penuh perhatian Hendrik mempersilahkan untuk makan. Mereka semua menyantap dengan penuh suka cita, saling melempar senyum dan tawa lepas. Bercerita tentang diri masing-masing tanpa menutupi apa pun, hingga waktu berlalu sangat cepat. Bintang-bintang bersinar tanpa malu-malu, tetapi mereka menghilang dengan cepat. Kabut hitam yang pekat seakan membuat bintang ataupun bulan takut untuk bersinar.