
Bersamaan dengan Bena yang mengatakan selamat tinggal, sebuah cahaya berkumpul di dalam lingkaran, membuat Tiora kesakitan dan berteriak. Hanya dalam hitungan detik, cahaya itu menghilang layaknya ditelan oleh sang bumi beserta Tiora. Begitu pula yang terjadi di lantai tempat kedua teman Rei bertarung, kedua sosok tersebut merupakan bagian dari Tiora. Maka mereka juga akan menghilang. Setelah menghilangnya Tiora yang menjadi debu halus, Bena lekas berjalan menghampiri Rei, sang kakak. Dengan langkah lemah dan tertatihnya, Bena telah berada di depan Rei.
Bena mengulurkan tangan kanan hingga menyentuh lingkaran pelindung. Dalam seketika pelindung dengan warna biru yang bercampur putih itu hilang. Bena mulai memposisikan diri dengan berjongkok di depan Rei yang tengah menatapnya dengan mata berbinar dan tidak dapat berkata-kata untuk saat ini. Melihat hal tersebut, Bena hanya memasang senyum manis di wajah tanpa menunjukkan rasa kesedihannya.
“Apa Kak. Rei baik-baik saja?” tanya Bena dengan masih memasang senyum di wajah.
“Ya,” jawab Rei dengan suara sedikit bergetar.
Bena memberikan tangan kanan untuk membantu Rei berdiri dari duduknya. Dengan sedikit kecanggungan Rei menerima uluran tangan Bena dan berdiri. Tidak lama setelahnya kedua teman Rei telah tiba di lantai empat belas. Mereka cukup terkejut saat melihat Rei dan Bena, tanpa bertanya lebih lanjut, Rei meminta Hugo untuk mengembalikan para pemilik apartemen. Sekaligus membenarkan dinding dan barang-barang yang tidak lagi berbentuk sempurna. Setelah semua kembali seperti semula, mereka keluar dari gedung dan bertepatan dengan tengah malam yang telah berlalu.
Jam menunjukkan pukul 03:00 pagi. Mereka memutuskan untuk kembali ke markas dan melaporkan hasil dari pekerjaan. Di markas Rei tengah berada di ruang pemimpin dan memberikan laporannya. Setelah selesai melapor, Rei menuruni anak tangga dengan langkah cepat. Rei melihat beberapa anggota organisasi yang tidak bekerja tengah mengelilingi Bena. Dengan berjalan cepat Rei menarik Bena dari gedung dan pulang. Sesampainya di apartemen, Rei masuk ke kamarnya. Melepas semua pakaiannya dan dengan sangat jelas Bena melihat luka-luka kecil menggores kulit putih Rei. Bena mendekati Rei dan meraih tangan kanannya, dengan penuh kebingungan Rei mengeluarkan suara untuk bertanya.
“Apa yang kamu lakukan?” tanya Rei.
“Menyembuhkan luka-luka di tubuh Kak. Rei,” jawab Bena dengan begitu santai.
“Energimu telah terkuras, aku bisa menyembuhkannya sendiri.” Rei membalasnya dengan menarik tangan dari genggaman Bena. Rei menuju sebuah meja kecil, menarik laci dan mengambil obat untuk menyembuhkan luka-luka di tubuhnya.
Rei duduk di tempat tidur dan dengan gerakan pelan dia mengoleskan obat berbentuk pasta itu. Rei menahan rasa perih, sakit, dan tidak menunjukkan ekspresi di wajah hingga olesan terakhir, dia menyimpan obat di laci meja kecil. Rei memutar badan dan memposisikan diri menghadap Bena yang tengah duduk di depannya. Untuk beberapa detik mereka saling bertatapan satu sama lain, hingga Rei menghela napas dengan pelan.
“Apa kamu bisa menceritakan semuanya?” tanya Rei dengan memberikan tatapan seriusnya.
“Ya, mungkin ini akan menjadi sangat panjang sekali.” Bena berkata dengan sangat antusias.
Hanya dalam hitungan detik, kilas balik dari kisah masa lalu Bena berputar dan dia mulai menceritakannya. Di mulai dari hari di mana Bena meninggal hingga pada akhirnya menjadi tawanan. Saat itu tepat pada tahun 2016, tepat Bena berusia 14 tahun dan baru masuk ke Akademi Tingkat Satu(ATS). Bena tengah berada di angkutan kota yang dipenuhi penumpang, udara di dalam sangat panas, sesak, dan bau, tetapi Bena telah terbiasa dengan hal itu. Tidak berselang lama, angkutan kota berhenti di pinggir jalan yang ramai. Dengan langkah hati-hati Bena turun dan memberikan 3 Weal, dia berjalan menjauh hingga melewati beberapa perumahan dan toko-toko kecil. Bena berhenti di depan rumah yang berukuran kecil, dindingnya berwarna putih kusam dengan gerbang besi berkarat. Halaman rumah tersebut terlihat kecil, tetapi masih bisa untuk menaruh alat penjemur pakaian. Dengan pelan Bena mendorong gerbang besi yang memunculkan suara derit nyaring.
Dengan langkah pelan Bena masuk ke rumah yang terlihat sepi. Dia terus memanggil nama kedua kakak perempuannya, tetapi tidak ada sautan sama sekali. Bena menuju kamar tidurnya dan menaruh tas ransel hitam di kursi belajar. Setelahnya, Bena keluar dengan sebuah handuk putih di pundak. Dia memutar gagang pintu kamar mandi dan matanya menangkap sosok perempuan yang berusia sekitar 16 tahun tengah merendamkan diri di bak mandi berwarna putih. Sang perempuan terkejut saat matanya menangkap Bena yang berdiri di ambang pintu. Sosok perempuan itu menghilang dari kamar mandi tanpa membersihkannya. Dengan tidak mempedulikannya, Bena masuk dan melakukan kegiatan mandi. Tidak lama Bena keluar dengan handuk di tubuh. Bena kembali ke ruang tidur dan mengenakan setelan pakaian serba hitam.
“Kalian tahu kan, pergerakannya akan dimulai. Meski aku termasuk anggota baru dan masih muda, tapi aku tetap harus menjalankan pekerjaan ini. Aku juga mendapatkan uang dan bisa meringankan sedikit biaya sekolahku.” Bena berkata begitu panjang dengan memasukkan barang keperluan untuk pekerjaannya.
“Sudahlah Emily, kita tidak bisa membuat Bena mengubah pikirannya,” ucap seorang laki-laki yang memiliki badan kekar dan tinggi. Dengan menghela napas kasar, Emily hanya dapat pasrah tanpa berkata-kata lagi.
Setelah Bena menyelesaikan persiapannya. Mereka keluar dan Bena menaruh kertas yang bertuliskan sebuah pesan. Senyum terpaksa terlukis jelas di wajah Bena, tetapi kemudian menghilang dan senyuman dengan ekspresi serius nan dingin. Mereka telah berada di depan bangunan apartemen sederhana. Dengan langkah pelan Bena masuk melewati halaman, hingga melihat pintu yang bertuliskan ‘Customer Service’. Bena berjalan mendekat dan mengetuk pintu beberapa kali. Pintu terbuka dan menampakkan seorang laki-laki dengan rambut yang telah memutih. Bena duduk saat sang laki-laki memintanya. Kedua matanya mengabsen ruangan yang penuh dengan rak buku itu.
Tidak berselang lama sang laki-laki memberikan air mineral kemasan dan Bena meminumnya cepat. Mereka berbicara terkait pekerjaan yang akan Bena lakukan. Setelah pembicaraan selesai, Bena menerima surat yang berisi sebuah izin untuk bekerja serta penjelasan singkat mengenai kemampuan Bena. Ketika di tengah perjalanan terjadi percekcokan antara tiga sosok yang memiliki kontrak dengan Bena, tetapi dia sama sekali tidak memusingkannya. Bena berhenti saat sampai di depan sebuah rumah. Dirinya menekan tombol bel hingga seorang perempuan berambut panjang membukakan gerbang. Bena berjalan mengekori sang perempuan hingga ke dalam rumah dan terduduk di ruang tamu. Tidak lama sang perempuan kembali bersama anak laki-laki di samping kirinya dan satu lagi berbadan tinggi nan kekar.
Mereka duduk di depan Bena dan mulai berbicara dengan bahasa formal. Bena hanya mengangguk mengerti. Setelahnya, sepasang suami-istri tersebut meninggalkan sang anak laki-laki bersama Bena. Anak laki-laki tersebut diam dan sibuk mobil mainannya. Bena berusaha untuk mengajak sang anak berbicara dan berkenalan.
“Namaku Bena, kalau kamu?” tanya Bena.
“Astan Putra Ugraha,” jawab anak laki-laki.
Dengan tersenyum, Bena mendekat dan bermain bersama Astan. Tidak terasa waktu berjalan cepat, langit biru telah berubah menjadi gelap. Di saat mereka tengah duduk dan masih bermain, suara pintu terbuka membuat Bena mengalihkan pandangan. Dengan tergesa-gesa, seorang perempuan masuk dan menggandeng tangan Astan. Bena juga mengikutinya tanpa diintruksi. Akan tetapi, tiga orang berpakaian serba hitam telah menunggu di depan rumah. Dengan cepat Bena bersiap untuk melawan. Tiga orang itu terlihat sangat meremehkan Bena. Tanpa bergerak dari tempatnya, salah satu dari mereka menyerang. Akan tetapi, Bena dapat menahannya dengan sihir akar yang merupakan milik dari Emily. Sebuah pelindung akar melingkari Bena, Astan dan ibunya. Bena keluar dari lingkaran pelindung dari celah-celah, dia berdiri dengan tangan kanan yang bersiap untuk menarik pedang di tangan kirinya.
Namun, ketika Bena baru saja menariknya sedikit. Sebuah serangan tepat mengenai dirinya dan terasa di seluruh tubuh. Darah segar dapat terlihat keluar dari mulut Bena yang sangat terkejut. Dalam seketika Bena ambruk bersama hilangnya pedang perak di tangan kiri Bena. Begitu pula dengan tanda kontrak di tangan kanan Bena yang tertutup oleh pakaian, tetapi cahaya redup masih dapat menembus kain tebal.
“Seperti itulah aku meninggal,” ucap Bena mengakhiri kisah pendek dari kematiannya.
“Kamu meninggal karena bunuh diri,” ucap Rei menyangkal penjelasan Bena. Bena yang terkejut akan perkataan Rei, hanya dapat diam dengan ketidak percayaannya. Rei meyakinkannya dan bahkan menunjukkan vidio berita kematian Bena.
“Kita lanjutkan besok saja. Aku ingin tidur,” ucap Rei mematikan ponsel dan menidurkan diri.