Ghost Hunt: Panic in the Country

Ghost Hunt: Panic in the Country
Vol. 0: I Lost | 2. Angka Kesialan



Tidak lama Astan telah menghabiskan makanannya dan berpamitan pergi untuk melakukan wawancara kerja. Dia sudah berada di Kota Jayapa selama tiga bulan dan belum mendapatkan pekerjaan sama sekali. Astan merasa di umur delapan belas tahun hanya menjadi pengangguran, meski dia baru saja lulus dari akademi 4 bulan yang lalu. Dia berjalan menuju lift, mengambil lorong sisi kanan dari posisi pintu apartemen. Kelap-kelip lampu tidak membuat Astan takut karena itu sudah makanan sehari-hari. Dia berhenti di depan lift, menunggu hingga suara bunyi ‘ting’ terdengar dan dirinya bergegas masuk. Terdengar suara perempuan pemandu, bersamaan dengan lift yang bergerak. Astan hanya terdiam menunggu sampai di lantai satu, tetapi dia baru menyadari sesuatu. Lift terus naik hingga berhenti tepat di lantai 24, dia mencoba untuk menenangkan diri dan mengatur napas. Kepalanya tertunduk dengan memainkan kaki di alas besi, mengetuk lantai hingga beberapa orang masuk. Jumlah orang yang berada di lift menjadi 5 orang. Semua terdiam dan berdiri di tempat masing-masing. Astan masih menundukkan kepala, tetapi dia tidak menutup matanya. Dia memperhatikan salah satu kaki seseorang yang terlihat begitu membiru, hingga lift berhenti di lantai satu.


Astan berjalan menjauh dari bangunan tinggi, besar nan  tua itu. Sebuah bangunan yang tidak terawat, warna dinding memudar, dan putihnya tidak lagi secerah 20 tahun silam. Setelah melewati pekarangan apartemen yang luas, terdapat beberapa kendaraan mobil pribadi, taxi, motor, dan sepeda. Astan mengambil jalan kanan menuju tempat pemberhentian bus. Sepanjang perjalanan, banyak kendaraan berlalu-lalang tidak ada henti. Suaranya begitu menusuk alat pendengaran, tetapi dia hanya menghiraukan semua suara-suara itu. Menikmati suasana pagi dengan langkah kecil, tanpa terasa halte pemberhentian bus telah di depan mata. Orang-orang telah memenuhi tempat duduk, beberapa lagi terpaksa berdiri untuk menunggu kedatangan bus. Astan berdiri dengan sesekali melihat sekeliling dan kepada sosok yang tadi berada di lift. Sosok itu berdiri di sisi jalan dengan sekujur tubuhnya yang membiru. Pakaian sekolahnya begitu basah, rambut berantakan, kedua kaki yang terluka, dan darah keluar dari kepala. Tatapan sosok perempuan itu begitu dingin dan sama sekali tidak memiliki emosi.


Dengan mencoba untuk tidak merasa takut Astan memperhatikannya dengan begitu serius. Akan tetapi, dia baru sadar akan sesuatu. Jumlah orang yang berada di lift bukanlah lima, tetapi hanya ada empat orang. Ditambah sosok perempuan berseragam sekolah itu. Dia terdiam sejenak saat mengingatnya, tetapi suara kendaraan bus berhenti terdengar. Astan berpikir bahwa sosok itu manusia, ketika di lift. Dikarenakan dia pernah melihat anak-anak remaja di apartemen itu tengah melakukan cosplay menjadi karakter Hium. Mereka semua berjalan masuk dengan memasukkan 5 Weal ke sebuah kotak. Astan duduk tepat di dekat jendela dengan tenang, menaruh tas ransel di atas pangkuannya. Setelah semua penumpang masuk, bus mulai meninggalkan halte. Akan tetapi, Astan masih sempat memperhatikan sosok perempuan itu hingga tidak lagi terlihat.


Dirinya menatap lurus ke depan, suara klakson memenuhi jalanan, mereka semua seakan tidak sabar dan terburu-buru untuk bekerja. Bus berhenti beberapa kali untuk mengambil penumpang hingga semakin sesak dan panas. Pendingin ruangan tidak lagi terasa membuat oksigen di dalam menipis. Tanpa disengaja Astan menangkap sosok aneh, gadis kecil yang berlumuran darah dengan membawa sebuah boneka di tangan. Gadis itu duduk di kursi berseberangan dengan dirinya. Astan berdiri ketika sepasang mata hitam gadis kecil itu menatapnya tajam. Untuk menghindari sang gadis, Astan berjalan menuju pintu dan menunggu pemberhentian berikutnya. Bus pun berhenti, membuat pintu kaca terbuka dengan otomatis. Orang-orang berhamburan keluar, melangkah dengan hati-hati. Sejenak Astan berdiri dan menatap bus berwarna biru muda. Dia menghela napas setelah bus pergi, seakan telah terbebas dari sesuatu.


Astan bergegas pergi ke sebuah gedung tinggi yang memiliki sekitar 60 lantai. Dengan penuh kepercayaan diri, Astan membuka pintu kaca dan masuk. Dia berdiri tepat di depan lift dengan memainkan kaki, mengetuk-ngetuk lantai berwarna cream. Dua menit kemudian terdengar suara pintu terbuka. Astan melangkah ke lift yang sunyi, menekan angka 44 dan melesat naik dengan cepat. Hanya perlu beberapa menit, Astan telah berada di lantai yang ditujunya. Astan melesat keluar berjalan menuju ruangan kantor perusahaan desain. Meski sedikit kebingungan, tetapi Astan dapat menemukan perusahaan tersebut. Didorongnya pelan pintu kaca yang tebal. Astan masuk dan bergabung dengan beberapa orang yang tengah terduduk.  Mereka hanya duduk dalam diam begitu pula dengannya. Astan bahkan tidak bergerak sama sekali, hingga terdengar suara perempuan memanggil namanya. Astan berdiri, mengikuti perempuan dengan pakaian rapi dan rambut panjang menjuntai.


Dia duduk di depan seorang laki-laki yang tengah fokus dengan berkas lamaran miliknya. Untuk beberapa detik, tidak ada suara dari mereka berdua. Hanya detik jarum jam dan udara dari alat pendingin ruangan yang terdengar. Astan duduk dengan tenang, ditaruhnya kedua tangan di atas paha. Sepasang mata cokelat kehitaman Astan memperhatikan laki-laki di depannya, hingga suara berat terdengar.


“Iya, Pak.” Dengan cepat Astan menjawabnya. Siap menjawab semua pertanyaan wawancara hingga sepuluh menit berlalu. Astan keluar dengan perasaan lega, berjalan menuju kursi dan mengambil tas ransel berwarna hitam, pergi dari perusahaan tersebut.


“Nanti Bapak dapat menunggu telepon dari kami. Jika Bapak diterima kerja di sini,” ucap laki-laki itu. Saat di dalam ruangan, Astan dapat menebak jawaban yang akan dilontarkan sang laki-laki.


Setelah meninggalkan gedung, sekarang Astan tengah duduk di halte bus dan tidak tahu harus ke mana. Astan hanya duduk dengan menatap lantai beton dan sesekali mengetukkan kaki, hingga seseorang memanggil namanya. Membuat Astan berhenti mengetuk lantai beton, mendongak dan mendapati seorang laki-laki berdiri tepat di depan dirinya. Laki-laki dengan wajah lonjong, berkulit tan, bibir tebal, tetapi tipis, dan mata cokelat gelapnya.


“Iya, siapa ya?” Astan menjawab dengan wajah penuh tanda tanya.


“Masa kamu tidak ingat denganku. Aku ini temanmu, Endra Julistian. Kita satu kelas saat di ATS ( Akademi Tingkat Satu).” Endra menjawab cepat dan duduk tepat di samping kiri Astan yang tengah berusaha mencari ingatan masa lalu.


“Ah, aku ingat. Kenapa kamu ada di sini?” Astan bersuara dengan penuh gembira dan wajah yang penuh tanda tanya.


“Aku bekerja di dekat sini. Bagaimana denganmu?” jawab Endra dan kembali melayangkan pertanyaan kepada Astan.


“Aku ada wawancara kerja hari ini dan sepertinya aku tidak akan diterima.” Astan menjawabnya dengan suara pelan dan menundukkan kepala lagi.


“Sudahlah, bagaimana jika kita cari tempat untuk makan?” tawar Endra dengan senyuman lebar di wajah.


Saat kendaraan yang ditunggu telah tiba, mereka memasuki bus berwarna biru. Keadaan bus tidak begitu padat, tetapi semua bangku terisi. Mereka duduk dengan saling bercengkrama ria. Beberapa menit kemudian bus berhenti tepat di halte berikutnya. Sebagian penumpang turun, begitu pula dengan mereka berdua. Berjalan meninggalkan halte, hingga mereka berada di depan cafe yang memiliki dekorasi serba bunga-bunga. Keduanya masuk dan memilih sebuah meja dekat kaca. Sesaat setelah duduk, seorang pelayan perempuan mendekat. Membawa buku menu beserta sepasang alat tulis, pelayan itu mulai menulis di atas note kecil dengan cepat. Setelah selesai sang pelayan lekas meninggalkan meja.