GERLANDBELL

GERLANDBELL
bab 8



Namun ia hanya menemukan dompet kecil nya, Bella mengerutkan dahi nya heran tak mengerti bagaimana cara Headphone nya hilang. "Loh? Headphone gw ke mana?" Tanya nya pada diri sendiri.


Mata Bella menutup, ia mulai mengingat-ingat kemana pergi Headphone nya, lalu terselip dalam otak nya sedari tadi headphone nya masih berada di tangan Aleera.


Bella menghela nafas pelan di iringi dengan membuka mata nya secara perlahan. "Bisa-bisa nya gw lupa kalau headphone gw masih ada di tangan Aleera." Gumam Bella. Bella perempuan itu sedikit pelupa, ia tadi ke toilet karena merasa mulas dan menitipkan headphone nya pada Aleera, namun ia lupa untuk mengambil nya kembali, mungkin Aleera juga lupa jika Bella menitipkan headphone pada nya.


"Yaudah lah, ambil aja ke apartemen Aleera, belum terlalu malam juga." Ucap Bella memakai helm nya kembali lalu segara melajukan motor nya kearah apartemen Aleera.


Beberapa menit berlalu hingga Bella sudah sampai di kawasan apartemen khusus untuk Aleera sendiri, jika di ingat-ingat Aleera adalah orang kaya ralat bukan Aleera namun orang tua nya lah yang sangat kaya.


Alasan Aleera menyendiri di apartemen karena, apartemen yang Aleera tinggalin cukup dekat dengan sekolah LEISCESTERE, sekolah yang cukup besar dan elite tempat di mana Bella belajar.


Tetapi aneh nya mata Bella malah melihat bagaimana Aleera di bawa dan si paksa meminum obat, ia ingin membantu Aleera namun terasa tak begitu yakin karena banyak orang yang berlalu-lalang namun tidak peduli akan keadaan Aleera, apalagi ada pengawal yang berjejer.


"Ini apa-apaan sih? Orang sekitar engga peduli!?" Ujar Bella panik, ia meremas stang motor nya dengan kuat.


Sekarang mobil yang di tumpangi Aleera mulai berjalan, Bella perempuan itu mulai memikirkan cara, apa yang harus ia lakukan, tak ingin kehilangan jejak Bella mengikuti mobil yang Aleera tumpangi.


"Sial headphone gw ada di tas nya Aleera, gimana cara nya gw ngehubungin Arga!?" Ucap nya sedikit frustasi, ia mengerang kesal, bagaimana ini? Bella sungguh binggung namun ia tetap melajukan motor nya mengikuti mobil yang ada di depan motor moge nya.


"Oke, mungkin ini utusan orang tua Aleera buat jemput Aleera, tapi kenapa harus di paksa sama di kasih obat!?" Kesal Bella menerka-nerka.


Sekarang Bella sudah memasuki kawasan hutan yang rindang, Bella sedikit merinding karena hawa yang begitu dingin dan sepi tak ada kendaraan yang melaju, satu saja tidak ada hanya ada motor moge nya dan dua mobil yang sedang ia ikuti.


Bella segera menghentikan motor nya, ia menatap Vila yang begitu besar, di lingkari oleh bodyguard dan di depan pagar terdapat harimau putih berjumlah 2.


"Shitttt, gw ada di mana?" Tanya Bella pelan, sekarang Bella panas dingin, ia tak mengerti apa yang sekarang harus ia lakukan, Bella sekarang sungguh sangat panik, ingin meminta bantuan namun kepada siapa!?


Seorang lelaki datang menghampiri Bella, berpakaian serba hitam dan berwajah garang.


"Ohh sudah... Tamat lah riwayat ku." Gumam Bella ketika melihat orang itu berjalan mendekati Bella.


"Pakai lah pakaian yang saya bawakan, dan ambil lencana ini!" Lelaki itu berucap dengan tegas membuat Bella mematung tak mengerti.


"Siapa?"


"Cepat! Jika kau masih ingin menyelamatkan sahabat mu maka menurut lah apa yang saya kata kan."


"Tapi mengapa? Dan atas dasar apa saya harus percaya dengan anda!?" Seru Bella lantang, menatap tajam lelaki yang ada di hadapan nya, petang dan Bella tak mampu untuk melihat bagaimana rupa dari lelaki itu.


"Saya adalah orang pilihan, dan bertugas mengawasi Tuan Gerland, saya tau jika anda adalah sahabat yang Tuan Gerland cintai."


"Baiklah, katakan apa yang harus saya lakukan?" Ujar Bella mengalah, lagi pula saat ini begitu genting tak ada waktu untuk mencurigai seseorang, setidaknya Bella harus mempercayai lelaki itu dulu.


"Pakai pakaian yang saya bawa khusus untuk anda, dan jika di tanyakan siapa anda, maka tunjukan lancana ini." Ujar nya menyodorkan baju hitam.


Bella menelan ludah kasar."Apakah saya bisa meminjam headphone anda?" Tanya Bella meminta izin.


Lelaki tersebut mengangguk kan kepala nya, ia memberikan headphone nya pada Bella tanpa ada rasa curiga sedikit pun. Bella menarik bibir nya terseyum kecil, segera saja ia mengetik pesan pada seseorang. Telah usai menurut Bella, dengan segera Bella mengembalikan headphone pada pemilik headphone.


"Baiklah, saya harap saya bisa membalas kebaikan anda." Ucap Bella tersenyum, lalu ia segera menghilang dari pandangan lelaki itu untuk mengganti pakaian nya.


"Semoga saja nona ini bisa menyelamatkan Tuan Gerland." Gumam nya pelan dengan tatapan berharap.