GERLANDBELL

GERLANDBELL
bab 11



Plakkk


Tamparan keras kini mendarat di pipi mulus Bella, tangan Gerland bahkan tak segan-segan memukul wajah rupawan Garis tersebut. Netra Gerland menatap Bella tajam, tatapan jika di artikan yaitu tatapan ingin mencabik-cabik seperti elang yang mengcabik ayam.


"Puas?" Teriak Gerland mengema di setiap sudut kamar.


Bibir Bella begitu kelu, rasa nya ia tak bisa berbicara untuk satu kata, ia hanya bisa menundukan kepala nya menatap bawah sana, sungguh sekarang Bella tak berani untuk menatap mata elang Gerland.


"Lo udah puas, semua hancur karena lo, sekarang lo mau apa? Ketawa? Nangis? *****!" Bentak Gerland mengepalkan tangan nya geram.


Ia mengambil pistol yang berada di laci nya, lalu memasukan tiga butir peluru. Tangan Gerland mengarah pada kepala Bella, tepat nya tangan yang memegang pistol itu mengarah pada pertengahan antara kepala Bella.


Bella memutar bola mata nya kini bertatapan dengan mata Gerland, badan nya tersungkur karena tak sanggup untuk menompang tubuh nya sendiri.


"Cih, nangis?"


Gerland menarik kembali pistol nya, ia tersenyum misterius, lalu ia meletakan pistol itu kembali ke dalam laci, entah lah mungkin sekarang Gerland berubah fikiran untuk tidak membunuh Bella dan membiarkan wanita itu hidup di dunia sengsara ini.


Kaki nya melangkah mendekati tubuh Bella, berjalan pelan sangat pelan, bibir nya masih menyunggingkan senyuman yang amat mengerikan, mimik wajah Gerland pun sama, sangat mengerikan.


Bella terdiam binggung sedangkan ia sendiri binggung kemana ia harus menghindar saat melihat langkah Gerland mendekati tubuh nya?


Usapan Gerland mampu membuat Bella sedikit tenang, namun lima detik kemudian usapan itu menjadi jambakan di ikuti dengan tangan kiri Gerland menjepit pipi Bella.


"Sakit Gerl." Ringkih Bella.


Tangan Bella tak tinggal diam, ia menarik baju Gerland kuat. "Lepasin, Sakit." Bella sedikit meraung-raung, ia lemah sungguh, ia kuat di luar dan lemah di dalam.


Situasi sekarang benar-benar tidak mengenakan, Bella harus tetap kuat walaupun rasa nya begitu rapuh seperti tikus yang berusaha mengerigiti hati nya.


"Sakit? Hmm?" Nada bicara Gerland pelan, namun bagi Bella suara Gerland adalah nyayian kematian dan ajakan untuk meninggalkan dunia yang tak adil ini.


Bella menutup mata nya pelan, ia menarik nafas secara perlahan, Bella mencoba menetralkan detak jantung nya dan membuang rasa takut nya walaupun kepala dan pipi nya terasa sakit dan begitu ngilu, karena jambakan dan jepitan kuat dari kedua tangan Gerland.


"Kenapa ngancurin rencana gw?!" Teriak Gerland sambil terkekeh pelan, ia agak menjauhkan kedua tangan nya dari pipi dan rambut milik Bella.


Bella membuka mata nya, ia mendongak menatap Gerland dalam.


Sekarang bukan waktu nya untuk menjadi lemah dan rapuh, Bella sungguh tak ingin lelaki yang ada di hadapan nya terus bermain layak nya bocah.


"Tapi ga gini Gerl, lo ngancurin hidup Aleera! Jangan fikir kalau lo berhasil ngerebut mahkota Aleera, Aleera bisa cinta sama lo? Engga! Yang ada Aleera malah makin benci sama lelaki ga norma kaya lo!" Perubahan sikap Bella, yang tadi nya takut kini ia berani, karena ketakukan hanya akan membawa petaka bagi nya, sekarang ia harus berani menghadapi Gerland walaupun nyawa nya adalah taruhan.