
Gerland memasuki salah satu pekarangan rumah nya, tidak bukan rumah namun mansion, ia terus berjalan menghiraukan sapaan dari bodyguard yang berjaga.
"Xeider."
Xeider lelaki dengan perawakan tinggi dan berwajah tampan datang menghampiri Gerland ketika nama nya di panggil, lelaki itu menatap Gerland datar, namun tak lupa ia juga menundukkan kepala dan setengah badan nya sebagai tanda hormat, atau bisa di bilang Xeider memberi bow.
Kepala Gerland menolah menatap Xeider. " Tagakan tubuh mu." Pinta Gerland dengan tegas. Xeider segera menegakan tubuh nya tak berani membantah ucapan Gerland.
"Apa semua sudah terselesaikan?" Tanya Gerland mengerutkan kening nya.
"Sudah Tuan, kita akan mengunakan Vila yang berada di berbatasan kota Y dan kota X." Jawab nya dengan suara pelan.
Seringai iblis muncul di ujung bibir Gerland, mata nya pun saja memancarkan tatapan iblis."Bagus-bagus." Ujar Gerland melambaikan tangan nya memerintahkan agar Xeider pergi dari hadapan nya.
"Maaf, sebelum saya pergi,saya ingin bertanya terlebih dahulu, apakah saya perlu mendekorasi? Saya rasa warna nya tidak cocok untuk ukuran seorang wanita." Tanya Xeider dengan pandangan menunduk tak berani menatap nyalang mata tajam Gerland.
"Benarkah? Jika begitu lakukan! Aku tidak ingin sampai ada kesalahan, jika ada kesalahan sedikit saja, maka kepala mu lah taruhan nya." Seru Gerland dengan memberikan tatapan membunuh, seolah-olah ia tak main main dengan ucapan nya.
Xeider meringis pelan, ia tak bisa membayangkan jika kepala nya di penggal oleh Gerland, "Baik, saya akan berusaha sebaik mungkin, jika ada sesuatu yang membuat Anda tidak merasa senang maka beritahu saya, saya izin mengundurkan diri Tuan." Jawab nya menunduk kepala lalu pergi dari hadapan Gerland.
Gerland terkekeh pelan namun lama-lama menjadi menjadi tawa yang mengerikan bak iblis, "Nikmati lah hidup mu sore ini sayang, sebentar lagi kau hanya bisa meradang." Ujar nya menatap bingkai foto yang terlihat jelas di ruang kepemilikan nya.
Kaki besar Gerland melangkah untuk duduk di sebuah kursi kebesaran nya, ia menyenderkan tubuh nya di kursi. "Milik ku? Yeahh, harus nya dia bukan menjadi milik ku."
"Menjijikkan sekali hahaha." Ujar nya di iringi dengan tawaan yang menggelegar.
Mata Gerland menatap sekitar, pandangan jatuh pada Headphone nya yang bergetar menandakan jika ada yang ingin menghubungi nya, ia mengerutkan dahi nya namun tetap saja tangan nya mengambil Headphone yang berada di atas buku dengan balutan hitam.
"Kendrick?" Gumam Gerland pelan, ia mengangkat tombol hijau, menerima telfon Kendrick, lalu menaruh kembali Headphone nya karena sekarang ia menggunakan headset bluetooth.
"Oy Broo, kau ini gila apa sinting!?" Teriak Kendrick kencang, Gerland spontan mencopot satu headset yang menempel di telinga nya, ia mengerang kesal karena Kendrick tiba-tiba langsung memarahi diri nya.
"Kenapa?"
"Kendrick jika kau masih mau melihat matahari terbit maka-" Sebelum Gerland menyelesaikan ucapan nya, Kendrick mencela nya terlebih dahulu.
"Aku harus diam dan tidak banyak bicara."
"GERLAND SIALAN! APA YANG KAU FIKIRKAN HAH!? KAU FIK-" Belum sempat mencaci-maki Gerland, terdengar jika Gerland langsung menyahut ucapan Kendrick.
"Telinga ku panas." Ketus Gerland mematikan telfon secara sepihak.
***
Sekarang Bella dan Aleera berada di sebuah pusat perbelanjaan, mereka sedari tadi memutari gedung namun nihil tak ada yang mereka beli.
"Lo sebenarnya mau beli appan Ra? Dari tadi muter-muter doang." Seru Bella dengan deru nafas yang sedikit tidak beraturan, ia menatap Aleera malas.
Aleera membalas tatapan Bella, ia tersenyum bodoh. "Gw kan niat nya cuma mau ngajak lo belanja Bell." Ujar nya dengan nada pelan.
"Pulang aja dah Ra, kita dari tadi cuma muter-muter doang kaga ada yang di beli." Jawab Bella mengibaskan rambut nya pelan, ia sedikit menarik Aleera agar tidak jauh-jauh dari nya.
Bibir Bella mendekat pada telinga kanan Aleera. "Di sini mahal-mahal, pulang aja deh Ra." Bisik Bella Pelan agar tidak ada yang mendengar, karena sesungguhnya Bella pasti akan malu jika seseorang mendengar ucapan nya, nanti di kira ia adalah orang miskin, walaupun benar ada nya.
"Gausah di fikirin harga nya Bell, gw yang traktir." Santai Aleera sembari menepuk pundak Bella pelan.
"Engga deh, gw lagi ga kepengen apa-apa, ayo pulang aja." Jawab Bella sambil menarik kedua tangan Aleera.
Pada akhir Aleera mengalah, ia mengikuti langkah Bella menuju parkiran khusus. Bella berjalan ke motor moge hitam nya, sebelum pergi ia juga berpamitan terlebih dahulu kepada Aleera.
Jika kalian bertanya dari mana Bella mendapat motor moge itu adalah, dari pemberian Arga, dulu Bella menginginkan motor moge berwarna hitam namun menurut nya ia tak akan mampu membeli nya hingga beberapa saat Arga tau jika Bella menyukai motor moge berwarna hitam lalu membeli kan nya, awal nya Bella ingin menolak namun Arga memaksa nya, hingga ia mau tak mau menerima motor moge yang Arga berikan kepada nya, dan bisa di bilang montor moge nya adalah hadiah pemberian Arga untuk ulah tahun nya ketika umur 16 tahun.
Bella mengendarai motor moge nya dengan kecepatan rata-rata, ramai banyak para pengendara yang berlalu-lalang, mengingat sekarang adalah hari sabtu, dan banyak anak muda keluar untuk memupuk rasa kebosenan.
Bella menghentikan motor moge nya di pinggiran jalan tak lupa ia juga mencopot helm yang menempel di kepala nya. Bella merasa ada yang kurang, lalu tangan nya menyelinap masuk kedalam kantong yang berada di depan celana jeans nya.