
"Gerland!" Teriak Bella, Gerland menoleh ia langsung terkejut, bagaimana bisa Bella datang? Gerland menjauhkan tubuh nya dari tubuh Aleera, namun terlihat Aleera malah menarik ujung baju Gerland.
"Sebentar sayang." Ujar Gerland tersenyum, ia mengusap pelan kepala Aleera.
Kaki Gerland berjalan mendekati Bella, sekarang Bella kalang kabut panik, tanpa fikir panjang Bella mengambil vas bunga hitam lalu melemparkan vas itu kearah Gerland.
Tepat sasaran, vas bunga itu mengenai kepala Gerland, darah bercucuran keluar, mata Gerland membulat, ia mengepalkan tangan nya geram, jika di tanyakan sekarang keadaan Gerland adalah hati yang begitu murka dan amarah yang tidak bisa dikendalikan.
Namun sedetik kemudian, kepala nya terasa pusing, Gerland yang tak mampu menompang tubuh nya terjatuh kebawah dengan darah yang terus keluar.
"Biada*." Umpat Bella pelan, Bella segara membalikkan tubuh nya lalu mengkunci pintu.
"Aleera."
Kaki jenjang Bella mendekat pada ranjang milik Gerland, di sana ada Aleera, keadaan Aleera mampu membuat Bell tersenyum miris, segara saja Bella menepuk pipi Aleera kasar, agar Aleera tersadar.
"Panas Bell." Ujar Aleera dengan gelisah.
"Panas?"
"Tolongin gw Bell."
"Lo kenapa!?"
"Bella tolong."
"Udah Ra, sekarang kita mikir gimana cara nya kita keluar sebelum Gerland sadar."
Di balik jendela kamar Gerland terjadi keributan, di sana ada Sean dan Arga yang mencapai puncak jendela, mereka mencoba membobol jendela itu, Bella yang sadar segara berlari lalu membuka jendela yang Sean dan Arga ingin di coba untuk di bobol.
"Arga, Sean!" Ujar Bella tersenyum, akhirnya yang di tunggu-tunggu benar-benar datang, Bella bersyukur setidaknya mereka datang sebelum Gerland sadar.
Sean menatap sang kekasih dalam, ia mengepal kan tangan nya geram, cukup ini sudah melewati batas apa yang ia fikir kan, apa yang sebenarnya Gerland fikirkan? Apakah dengan mengambil mahkota wanita, Gerland bisa mendapatkan wanita itu? Menjijikkan.
"Makasih Bell, mungkin kalau ga ada lo, Aleera udah kehilangan mahkota nya." Ujar Sean.
"Sekarang ga ada waktu lagi Sen, kita pergi sebelum Gerland sadar!" Jawab Bella.
Sean dan Arga segara turun lalu memapah tubuh Aleera yang terus bergeliat seperti ular kepanasan.
"Lo pake helikopter?" Ujar Bella cengo.
"Kalau ga pake helikopter, lo udah mati, bego banget jadi cewe, udah cepet ayo masuk, gw ga bawa bodyguard banyak kemungkinan kita bakalan kalah lawan bodyguard Gerland." Seru Sean sembari menyodorkan tubuh Aleera pada bawahan nya agar Aleera bisa masuk ke perut helikopter.
"Lo dulu Ga." Tangan Bella mempersilahkan agar Arga terlebih dahulu yang keluar dari kamar Gerland melalui jendela, Arga hanya menurut ia mendahului Bella.
"Sekarang lo, sini tangan nya biar ga jatuh." Ujar Arga menyodorkan tangan kiri nya.
Lengkungan muncul di bibir Bella, ia sedikit tersenyum lalu menerima sodoran tangan Arga, kaki nya mulai melangkah, namun ia terkejut saat kaki nya terasa begitu berat.
Mata Bell bergerak liar, mata nya jauh pada Gerland yang sudah sadarkan diri dan memegang kedua kaki nya dengan erat.
"Ger-lan-d." Bella berucap dengan berbata-bata, nafas nya terdengar begitu tercekat, jantung nya tidak bisa ia kondisikan dengan baik, kali ini Bella mungkin akan mati di tangan Gerland.
"Mau kabur hmm?" Celetuk Gerland di imbagi dengan senyuman iblis.
Bella menelan ludah kasar, badan nya bergetar hebat, Arga yang tau segara menarik kuat tangan Bella, namun sedetik kemudian pintu terdengar di dobrak, pendengaran Bella yang masih berfungsi segara menatap Arga.
"Cepat pergi Ga! Sebelum bodyguard Gerland masuk!" Bentak Bella mencoba menghempaskan tangan Arga.
"Engga Bell, gw ga bakalan ninggalin lo." Kali ini Arga membentak Bella, ia takut kehilangan Bella, sungguh kehidupan Arga mungkin akan hancur ketika Bella pergi, dan mungkin Gerland tak akan melepaskan Bella karena telah berani mengusik rencana nya.
"Lo pergi sekarang Ga! Selametin Aleera!" Tegas Bella dengan tatapan membunuh.
Nyata nya Arga tetap kekeh dengan pendirian nya."Di sana ada Sean yang bisa tangani Aleera!"
"LO JANGAN EGOIS!" Teriak Bella kancang.
"LO YANG EGOIS BELLA, SEKARANG KITA PERGI BARENG! GW GAMAU LO KENAPA-NAPA!"
Pintu berhasil di dobrak, mau tak mau helikopter yang Arga tumpangi mulai berjalan mening6alkan Bella, sekarang Bella sendiri, ia menjadi pusat perhatian, tatapan membunuh Bella dapatkan dari Gerland maupun para bodyguard Gerland.
"Tuan!" Teriak Xeider, Xeider ingin memapah tubuh Gerland, namun Gerland tak butuh bantuan, ia bisa berdiri sendiri mengunakan kedua kaki nya.
"Anda mengalami pendarahan Tuan." Ujar Xeider pelan.
"Pergi!" Bentak Gerland dengan mata yang masih menatap Bella tajam.
Xeider mengisyaratkan agar mereka pergi, para bodyguard yang paham akan isyarat mata Xeider segara pergi dari kamar Gerland, namun sebelum Xeider pergi, mata menik Xeider menatap Bella dengan tatapan datar.
Pintu benar-benar tertutup menyisakan Bella dan Gerland.
Gerland lelaki itu segara berdiri, Bella sama sekali tak bergeming sedikit pun, ia mematung dengan wajah yang begitu tak enak di pandang.
"Bagus-bagus." Seru Gerland bertepuk tangan, lamunan Bella puyar ia menatap takut Gerland.