
Ga ah, gw mau bolos aja, sekali-kali bolos." Jawab Gandhi dengan pandangan mata yang menatap Noah, wajah nya sangat santai sama seperti ekspresi nya, bak air yang terus mengalir.
"Lo mah bukan sekali-kali, tapi berkali-kali." Kesal Arga sinis.
"Sekarang upacara bego! Ini hari senin!" Ucap Noah hampir menangis ketika menyaksikan kebodohan kawan-kawan nya, padahal ini sudah menujukan pukul tujuh lebih. Pantas saja kawan-kawan nya masih berada di sini karena lupa sekarang adalah hari senin dan waktu nya untuk berupacara, lantas apa guna nya almamater yang mereka gunakan?
"Heh senin? Anjirrr." Pekik Sean menutup mulut nya, ia segera berlari menuju arah di mana lapangan berada.
Seorang wanita tua datang kearah tempat Gerland berada, mata nya mengunakan kaca mata yang hampir melorot jatuh kebawah, tubuh nya pendek dan gemuk, rambut nya di gulung menjadi satu, dan lagi wajah nya yang amat menyeramkan.
"Mau kamana kamu!" Tegur nya melototkan mata nya pada Sean yang tengah berlari.
"Mau ikut upacara bu." Jawab Sean dengan nada bicara selemah dan selembut mungkin, tidak ingin membuat guru bk nya ini marah.
"Siapa yang nyuruh kamu ikut upacara?!" Tegas Bu Zara guru Bk.
"Yaelah bu, ini kah mau ikut ucapan masih mending ini." Ketus Gandhi yang datang bersama, Arga, Kenzo, Gerland, dan Noah.
Spontan kepala Bu Zara menoleh menatap Gandhi, jujur saja sebenernya Bu Zara sangat malas meladeni Gandhi."Kamu kalau mau bolos, ya sana! Ibu ga peduli, ujung-ujungnya nanti juga ga mau salah kamu!" Ujar Bu Zara.
"Etdah di izinin bolos, tau ini gw juga bolos aja." Gumam Kenzo menatap melas Bu Zara, heh rasa nya Kenzo iri dengki pada Gandhi yang di izinkan membolos, tau begini ia akan terus membolos saja agar di izinkan membolos.
"Kami akan upacara bu, jangan menghalangi langkah saya!" Tegas Gerland yang dari tadi terdengar terus berdiam.
"Tapi ini demi kebaikan sekolah untuk menatatertibkan murid-murid." Jawab Bu Zara yang berani menatap Gerland tanpa ada rasa takut sedikit pun.
"Yasudah, apa hukuman yang akan Ibu berikan?" Tanya Sean pada Bu Zara, tak guna juga berdebat.
"Setelah upacara selesai, kalian akan tetap berdiam di tempat sampai jam pertama waktu untuk istirahat, dan sekarang kalian harus ikut upacara!" Tegas Bu Zara membalikan badan nya lalu segera menghilang dari pandangan Gerland serta kawan-kawan nya yang masih menatap punggung Bu Zara.
"Stress anjirr di kira ikan asin apa? Gila gw ga mau kulit gw nanti kebakar." Lebay Gandhi histeris.
"Si goblok! Udah lakuin aja dari pada dapet masalah!" Seru Arga menepuk pundak Gandhi kasar.
"Yaa, setidaknya gw ada temen buat di kasih hukuman bareng-bareng, ga sia-sia gw berangkat kesiangan." Gumam Noah pada diri nya sendiri.
***
"Anjir lah, gw mau pura-pura pingsan." Keluh Gandhi sambil menggerakkan tangan nya kedepan, bibir nya mongat-mangut kesal untung saja barisan Gandhi di ujung hingga Osis nya di suruh Bu Zara untuk mengawasi mereka tidak melihat pergerakan Gandhi.
"Diem woi, lo mau hukuman kita di tambah? Bentar lagi jam 9!" Ketus Sean yang mendengar ucapan dari lontoran mulut Gandhi.
Sebenernya yang Gandhi rasakan di rasakan oleh teman sejejeran nya, keringat terus keluar membanjiri muka mereka tak henti-henti butiran netral itu bahkan sampai menetes kelatar lapangan.
"Etdah, tau gini gw bolos sekolah aja dah, mending nonton anime." Sahut Arga mengusap keringat nya, ia mencium telapak tangan nya sendiri lalu menggelapkan telapak tangan nya yang tadi ia gunakan untuk mengusap keringat nya pada seragam Kenzo.
"Bau anying, ga guna gw pake parfum!" Kesal Kenzo melirik Arga sinis.
Lima belas menit berlalu, hingga sekarang menunjukan pukul 11.00.
"Hukuman kalian sudah selesa, kalian di persilahkan untuk istirahat. " Ujar sang osis dengan intonasi tinggi, osis tersebut langsung melangkah kan kaki nya pergi.
"Kamu gapapa sayang?" Ucap Aleera berlari kearah Sean yang tengah membukukan badan nya, Aleera memberikan sebotol air mineral pada Sean. Terlihat Sean tersenyum lalu menerima botol mineral tersebut.
Bella menghela nafas pelan, ia memberikan botol mineral yang masih di segel pada Gerland, sedikit merasa kasian ketika ia melihat wajah Gerland penuh keringat.
"Ga butuh." Ketus Gerland.
Bella tersenyum kecil."Minum Gerl, gw tau lo haus, minuman nya masih di segel kok." Jawab Bella.
Gerland mengalihkan pandangan nya kearah lain dengan cara memutar bola mata nya."Punya telinga?" Tegas Gerland.
Bella menarik tangan nya, ia membuka segel botol yang berisi air mineral, lalu di serahkan pada Gerland.
"Ga!" Seru Gerland.
Wajah Bella menekuk, ia akhirnya menutup kembali botol itu, Bella membawa dua botol mineral berniat untuk memberikan pada Arga dan Gerland, namun pupus saat Gerland tak menerima botol mineral yang ia bawakan, hingga kaki Bella melangkah mendekati Arga.
"Nih minum!" Ujar Bella menyodorkan botol mineral itu pada Arga, Arga tersenyum manis berniat untuk menerima botol mineral yang di berikan Bella untuk pada nya, namun terhentikan ketika sebuah tangan langsung menyahut botol mineral tersebut.
Sontak mata Arga langsung menatap pemilik tangan tersebut."Lo apa-apaan sih?!" Ketus Arga kesal ketika mata nya bertemu dengan lirikan mata tajam Gerland.
Gerland terkekeh pelan, tangan nya kembali menyahut botol mineral yang ada di tangan Bella, lalu langkah nya menuju kearah kiri tepat nya di mana tong sampah berada, sebelum membuang botol itu terlihat Gerland meminum satu botol mineral yang tadi nya Bella sengaja bukakan walaupun terkesan hanya sedikit.