
"Tadi aku telat mengikuti upacara mam." Jawab Gerland dengan kekehan pelan.
"Hah... Baik lah, yang terpen-" Sebelum Ferrena menyelesaikan ucapan nya terdengar jika headphone Gerland yang berada di atas ranjang berdering dengan begitu kuat sama seperti alarm yang nyaring bisa membuat mata langsung terbelak.
"Sebentar mam." Cicit Gerland.
Tangan nya merayap mengambil headphone nya, di tatap nya nama orang yang telah menganggu waktu Gerland, dengan malas Gerland menekan tombol hijau menandakan jika Gerland menerima panggilan tersebut.
Gerland mendekatkan headphone itu pada telinga kanan nya."Woi Land! Datang ke tongkrongan, gw mau tawuran!" Teriak Kenzo yang membuat Gerland langsung menjauhkan headphone nya dari telinga, Gerland hanya takut gendang telinga nya akan rusak jika mendengar teriakan Kenzo yang begitu memekik telinga, tidak nada dering, alarm, dan suara Kenzo sama aja bisa membuat rusuh.
"Ada masalah?" Tanya Gerland pada Kenzo.
"Gw mau tawuran sama curhat, ga ada penolakan datang ke tempat biasa nya!" Ketus Kenzo di sebrang sana dan langsung mematikan panggilan secara sepihak.
"Ga waras emang si Kenzo." Gumam Gerland menatap headphone nya yang telah memperlihatkan jika panggilan telah di putuskan.
Ferrena melihat mimik wajah Gerland."Kenapa sayang? Teman kamu telfon?" Tanya Ferrena.
Kepala Gerland mengangguk."Iya, Kenzo." Ujar Gerland malas.
"Kenzo? Dia kenapa, terlibat masalah?" Tanya Ferrena tersenyum.
Tentu nya Ferrena tau siapa Kenzo, berhubungan ayah Kenzo adalah rekan bisnis perusahaan utama, dan cukup lama perusaan mereka saling berkerjasama hingga Ferrena telah mengenal baik keluarga Kenzo.
"No mam." Seru Gerland menggeleg,"Hmm mam, seperti biasa anak tampan mu akan kelayapan malam ini. "Lanjut Gerland, lagi pula sekarang otak Gerland benar-benar pusing mungkin dengan keluar dan bermain sebentar akan menenangkan fikiran nya.
Gerland segera berdiri, ia mengambil jaket hitam dengan logo gambar elang dan di bibir elang tersebut menjunjung sebuah tulisan 'King Erisain Ganda' setelah memakai jaket, Gerland mengambil sepatu hitam untuk ia kenakan.
"Ah mam, aku rasa nanti akan pulang larut malam, jangan menunggu ku." Ujar Gerland berpamitan tak lupa sebelum itu ia juga mengecup pipi Ferrena dan segera melangkahkan kaki nya keluar.
Ting....
Lift yang Gerland naiki telah sampai di lantai dasar, ia terus berjalan hingga tak sengaja berpaspasan dengan Daddy nya.
"Daddy?" Ucap Gerland menatap Daddy nya, pasal nya terlihat jika Daddy nya sedang mencari sesuatu dan sorot mata nya seperti khawatir.
Dia adalah Barron Frederick Adiputra ayah kandung Gerland.
Barron langsung berlari menuju kearah Gerland."Nak, apakah kamu melihat mommy mu?" Ujar Barron bertanya ketika Barron sudah berada di hadapan tubuh sang anak.
"Kenapa memang nya dad?"
Lebay sekali, tidak liat tubuh nya yang berotot itu?
Gerland hampir tersedak oleh deru nafas nya sendiri."What do you say dad, you okey?" Daddy nya terlalu lebay.
Tangan Barron menjitak kepala Gerland kasar."Tentu nya dada daddy mu ini sakit, separuh jiwa daddy menghilang." Seru Barron dengan tangan yang mengelap air mata nya, pelan.
"Kenapa daddy sangat lebay?" Tanya Gerland memijat pelipis nya pelan, jika melihat tingkah daddy nya ini Gerland hanya bisa tersenyum paksa.
"Lebay katamu!? Kamu belum merasakan apa yang daddy rasakan bocah! Huh." Barron menatap kesal Gerland sedangkan, Gerland hanya tersenyum bodoh, Barron bersedekap dada layak nya bocah yang sedang ngambek.
"Mommy ada di kamar ku tadi dad."
Barron yang tadi nya terkesan dengan tampang wajah sedih bercampur ngambek, sekarang malah menjadi tampang menunsuk, "Apa yang kau lakukan pada istri ku, ingin merebutnya!?" Teriak Barron pada Gerland.
Gerland tersentak, ia menghela nafas, kumat lagi ini daddy nya."Mommy kan wanita yang melahirkan ku dad mana mungkin aku akan merebut nya dari mu, kenapa aku memiliki daddy yang tak waras?"
Barron tetap saja menunjukan ekspresi kemarahan."Kau ini sudah besar, kenapa begitu manja!" Pekik nya dengan tatapan tajam.
"Daddy juga sudah besar, kenapa masih manja dengan mommy?" Gerland bertanya balik, ingin melihat bagaimana jawaban dari daddy nya yang telah menyumbangkan kecebong pada Ferrena hingga sekarang Gerland tumbuh dan berkembang.
Tangan Barron kembali menjitak kepala Gerland."Masih bertanya kau! Tentu saja aku ini suami nya." Kesal Barron.
"Dan aku anak nya!" Ketus Gerland, pada akhir Gerland ikut kesal.
Bodyguard maupun maid yang berjaga-jaga ataupun lewat hanya menahan tawaan. Begini lah ketika Barron dan Gerland bertemu, Barron yang cemburuan dan Gerland yang terkadang suka memancing Barron agak memarahi nya, namun jika dua lelaki itu sudah sampai di titik emosi paling atas sudah di pastikan tawuran nya bukan main-main.
"Gerland kenapa masih di sini sayang?" Celetuk Ferrena yang sudah berada di pertengahan antara Gerland dan Barron.
Barron menoleh terlebih dahulu tatkala ia mendengar suara wanita yang begitu ia cintai, dengan cepat Barron langsung memegang tangan Ferrena dengan begitu lembut."Sayang, kamu mau selingkuh dengan anak mu sendiri ya?" Ucap Barron dengan mata sendu.
Gerland menatap Daddy nya dengan tatapan ingin mencabik.
"Kau gila? Mana mungkin aku selingkuh dengan anak yang aku lahirkan?" Jawab Ferrena terkejut akan ucapan Barron.
"Lalu kenapa kamu pergi ke kamar Gerland?" Tanya Barron mongat-mangut kesal.
Gerland yang sudah muak dengan tingkah laku daddy nya segera pergi dari mansion nya dengan hentakan kaki kesal, sudah cukup Gerland rasa nanti daddy nya akan terus memojokan diri nya.
"Gila, semoga gw ga kecipratan sifat bapa gw." Gumam Gerland.