GERLANDBELL

GERLANDBELL
bab 22



"Hahahha dark anjir." Celetuk Arga dengan tawaan yang menggelegar.


Lesta menelan ludah kasar."Maksud nya gw mau jadi mamak tiri lo! Tunggu aja sampe gw bisa nikah sama bokap lo! Gw pastiin lo bakalan tertekan!" Ketus Lesta yang langsung pergi dari hadapan mereka semua dan melangkahkan kaki nya keluar dari kantin.


Namun sebelum pergi ia sempat mendatangi Selena."Nanti malem gw tunggu!" Ujar nya lalu segera pergi di ikuti dengan anggukan kepala Selena sebagai tanpa jika Selena paham akan ucapan Lesta.


"Wahh bakalan punya nyokap baru nih lo Zo, besok jangan lupa sebarin undangan." Ucap Gandhi menepuk pundak Kenzo pelan, ia memang duduk di dekat kursi yang Kenzo duduki hingga ia begitu jelas melihat pertengkaran yang terjadi.


Kenzo memegang belakang leher nya segera refleks, merinding sudah."Stress anjir! Ngimpi dia mana bisa nikah sama bokap gw, di kira pedofil entar." Ucap Kenzo mengelus leher nya secara perlahan.


"Kita liat aja nanti malem, kalau lo beneran punya nyokap baru, gw ketawain paling depan." Celetuk Sean sambil menatap remeh Kenzo, dan ucapan Sean mampu membuat nya panik kalang kabut, bagaimana jika benar ada nya? Mungkin Kenzo akan langsung tobat dari sifat nya yang terus bergonta-ganti wanita.


***


Malam ini terlihat begitu indah, bulan yang memantulkan cahaya matahari dan bintang yang berkedap-kedip dengan cahaya nya sendiri, tidak terlalu dingin namun malah terasa gerah, entah lah padahal sekarang hari sudah gelap namun cuaca dingin sama sekali tidak menusuk pori-pori.


Di sini Gerland berada di sebuah mansion utama keluarga nya, ahh jika di ingatkan mungkin kalian belum mengenali siapa orang tua Gerland.


Gerland terbaring di atas ranjang nya, kepala bertumpu pada kedua tangan milik nya, mata tajam Gerland menatap langit-langit, namun tatapan nya sekarang berubah menjadi tatapan yang begitu teduh dan mampu membuat ketenangan batin.


Padahal interior tersebut adalah hiasan kuno, jika kembali di ingat mungkin harga nya benar-benar fantasis, dan dengan santai nya Gerland langsung menghancurkan hiasan itu.


"Sialan lo!" Teriak Gerland kembali merebahkan tubuh nya, ia memukul kepala nya pelan ketika Bella muncul di fikiran nya dan melayang-layang membayangkan sesuatu yang takĀ  bisa untuk Gerland jelaskan sendiri.


"Gerland, kamu belum tidur sayang, mommy boleh masuk?" Terdengar ucapan wanita dari balik pintu kamar Gerland.


Spontan Gerland menoleh menatap datar pintu itu, ia menghela nafas kecil, ketika ia mendengar ucapan dari sang wanita yang begitu ia cintai."Ya mam!" Ucap nya dengan sedikit berteriak.


Wanita itu yang tak lain adalah Ferrena ibu kandung Gerland. Kaki Ferrena melangkah mendekati Gerland, jika di deskripsi kan rupa dari Ferrena begitu cantik dan rupawan, umur nya baru 35 tahun, mengingat jika dulu Ferrena hamil Gerland pada saat berumur 17 tahun, kulit nya begitu mulus, dan tutur bicara nya begitu lembut.


Ferrena mendudukkan tubuh nya di samping ranjang di ikuti Gerland yang ikut duduk namun menyandarkan kepala nya di bagian atas ranjang.


"Kenapa belum tidur? Bukan kah sekarang sudah malam sweetheart?" Ucap Ferrena menatap Gerland lamat-lamat, intonasi nya begitu rendah namun masih bisa di dengarkan.


Gerland tersenyum kaku."Baru menunjukan pukul sembilan."


Kening Ferrena mengerut."Memang nya kenapa? Bukan kah besok kamu masih sekolah, dan tadi mommy dengar kamu di hukum ya?" Tanya Ferrena.